My D you are the first for me

My D you are the first for me
saling intimidasi



Hai my readers Selamat menikmati episode kali ini ya???. semoga enjoy 😉.


di beberapa menit yang lalu...


Justin kembali ke rumah sakit dan langsung melangkah cepat ke kamarnya Dean. tetapi sampai di sana ia tak melihat Dean di kamar ini. Justin berinisiatif bertanya pada perawat jaga untuk mengetahui keberadaan sang putra.


"dek Dee nya di bawa atoknya ke kamar rawat Bundanya". jawab salah satu seorang petugas rawat yang bernama Intan.


"di kamar rawat bundanya?". tanya Justin sembari mengernyitkan dahinya tak mengerti.


"iya pak. di ruangan rawat inap khusus orang dewasa. ruangan Vvip satu pak". jawab Intan yang mengenal Justin karena sedari kemarin pria itu telah menjaga Dean dengan baik.


"ohh.. baik. terima kasih". sahut Justin heran sambil berlalu dari situ.


Sebenarnya ia ingin bertanya lebih jauh mengenai bundanya Dee yang secara tiba tiba berada di ruang rawat inap khusus orang dewasa itu. tetapi ia urungkan lantaran ia ingin cepat cepat melihat putranya pagi ini.


Justin melangkah ke ruangan kamar rawat inap di mana Midea dan Dean berada sesuai informasi yang ia dapatkan dari seorang perawat jaga yang kemarin telahberusaha mengusirnya secara halus atas arahan Rendy pastinya. tetapi itu tak menjadi soal baginya. yang penting pagi ini ia bisa melewati harinya lagi bersama sang putra.


Justin memperlambat langkahnya saat ter -dengar gelak tawa beberapa orang dewasa saat ia mendekati sebuah kamar yang berada di ujung koridor. Justin menyenderkan tubuh nya di sebuah tiang beton untuk menunggu putranya itu keluar dari kamar itu.


Justin sesekali tersenyum geli mendengar ocehannya Dean yang lucu dan polos. cukup lama juga ia berdiri dan bersembunyi di sana hingga akhirnya dua orang perawat masuk untuk mengecheck kondisi Midea kembali. dan seluruh anggota keluarga di minta keluar sebentar.


Justin juga melihat Qanita ada di sana lalu wanita paruh baya itu berpamitan pulang pada Alma karena hendak mengurus restoran mereka kembali. tak lama setelahnya Dean dan pria paruh baya itu kembali masuk ke kamarnya Dea setelah dua orang perawat tadi pergi dari situ.


Justin mengintip dari celah gorden jendela untuk melihat apa yang di lakukan oleh dua D nya di dalam sana. ia hanya bisa melihat dan mendengar dengan samar tentang celotehan dan tingkahnya Dean yang sudah kembali ceria hari ini. bahkan tak ada satu pun alat medis yang melekat di tubuh bocah tampan miliknya itu.


"jadi anak Daddy udah sembuh ya Dee?". gumam nya seraya terus mengintip kegiatan putranya itu di celah gorden jendela di mana ia juga melihat Midea yang sedang berbaring di headboard brankar dan tengah tersenyum kecil.


jika Justin memperhatikan dua D nya dengan cara mengintip dari celah gorden kamar rawat nya Dea, maka Rendy yang sedari lima menit yang lalu kini tengah berdiri santai seraya menyenderkan tubuhnya di salah satu tiang penyangga gedung rumah sakit tersebut dengan tangan yang sedang bersidekap.


"ehemmm". Rendy sengaja berdehem keras untuk menyadarkan pria tak tau malu ini.


sementara Justin yang tadinya larut akan acara drama intip mengintipnya pun akhirnya sadar jika ada seseorang di belakangnya yang tengah memperhatikan apa yang di lakukan nya saat ini.


ia pun mengalihkan pandanganya ke arah belakang di mana Rendy berdiri di sana dengan tatapan mengintimidasi dirinya. tetapi karena seorang Justin juga memilki tatapan yang tak kalah dengan Rendy pun akhirnya ia melakukan hal yang sama.


kini keduanya pun sama sama mengeluarkan tatapan saling mengintimidasi satu sama lain untuk beberapa detik. keduanya sama sama berfikiran buruk antara satu untuk yang lain nya.


"ngapain bapak kesini!?". tanya Rendy datar yang membuka pembicaraan pagi yang d awali ketegangan itu.


"hah. seharusnya saya yang bertanya begitu. kamu sendiri ngapain di depan kamarnya Midea"..jawab Justin sinis.


"hehe..saya mau mengantarkan ini untuk pasien saya". jawab Rendy sembari terkekeh sinis.


Justin memperhatikan satu plastik kresek kecil yang berlogokan lambang apotik dari rumah sakit ini. ia membuang pandanganya ke arah lain karena tak tau mencari alasan apa atas apa yang ia lakukan barusan di depan kamar rawat mantan istrinya sekarang ini.


"minggir". titah Rendy saat pria muda ini ingin masuk ke kamarnya Dea.


Justin pun terpaksa minggir dan membiarkan pria muda sok dewasa itu bertindak seperti layaknya seorang pria yang ingin melindungi keluarganya. Justin mengepal kuat tangannya sendiri saat Rendy telah masuk ke kamar mantan istri di mana anak mereka berada di sana.


"aishh... ni anak. kalau bukan di rumah sakit aja pingin kali rasanya ku jitak jitak pala nya. dasar songong lu. sok gede". dumel Justin seraya ingin meninju pintu kamar dan meng gedor gedor kuat untuk memberitahukan pada semua orang kalau dirinya lah yang berhak ada di dalam sana bukan pria muda yqng sok dewasa itu.


untuk saat ini Justin membiarkan mereka ada di dalam sana. berkumpul dan bercerita entah apa yang mereka suka candakan. yang jelas Justin lebih memilih untuk pergi dari sana menunggu saat yang tepat untuk bisa bertemu dengan Dean nantinya.


Justin keluar dari ruangan tersebut menuju kantin rumah sakit dan memesan satu gelas ice coffee untuk menutupi rasa gerah yang tiba tiba datang menyelimuti hatinya saat ini. Justin menunggu lebih dari dua jam lamanya di sana.


hingga akhirnya ia pun memutuskan kembali ke ruang rawat anak di mana sebelumnya Dean di rawat di sini. karena biasanya di jam segini Dokter kembali mengecheck kondisi anaknya. ia yakin jika Dean sudah di antar balik ke ruangannya untuk di periksa kembali.


Justin melihat seorang perawat jaga yang tadi pagi memberikannya informasi tentang keberadaan Dean keluar dari kamar dengan beberapa sampah dari alat medis yang sudah di pakai.


"ya pak. ada apa ya?". tanya Intan.


"Dee kemana? ". tanya justin seraya menelisik ke dalam kamar.


"bukankah seharusnya jam segini ia di check ulang oleh Dokternya? sekarang dia ke mana?". kenapa barang barang miliknya sudah tak ada lagi di kamar ini?". tanyanya lagi.


"lalu kenapa kalian membiarkan seseorang masuk ke kamar anak saya tanpa seijin dari yang punya kamar? "Justin mencercai ber bagai pertanyaan pada perawat muda itu yang terlihat seperti sedang mengintimidasi seseorang yang tengah melakukan tindakan kriminal. apa lagi saat pria itu melihat seorang cleaning service membereskan kamar anaknya.


awalnya Intan tersenyum sinis saat mendapat kan sikap orang yang terlalu awal menjudge orang lain tapi akhirnya ia pun sadar jika sikap orang ini pastilah sedang mode salah paham.


"pak. adek Deenya sudah bisa di pulangkan siang ini. tadi pagi Dokteenya udah berpesan ke pada saya jika kondisinya Dee stabil maka ia sudah bisa di pulangkan hari ini juga". jawab Intan seraya tersenyum lebar.


"ohh... maaf". jawab Justin kikuk.


"iya pak. ga apa apa". balas Intan mencoba bersikap ramah.


akhirnya Justin kembali ke kamar rawatnya Dea untuk memastikan keberadaan sang putra di kamar rawat sang bunda. dan benar saja ia melihat putranya itu sedang duduk bersender di sofa kamar menemani sang bunda yang terbaring dan tengah menghadap ke dinding kamar.


Justin menguak gorden jendela kamar dan memanggil nama sang putra dengan nada terendah.


"Dee. husssst... ". panggilnya kembali pada bocah tampan yang sedang mencari cari arah sumber suara yang memanggil dirinya.


"Daddy". pekiknya pelan saat melihat sang Daddy yang melambaikan tangannya dari celah gorden jendela kamar rawat sang bunda.


ia tersenyum dan mendekati Justin serta melebarkan sedikit kaca jendela serta menyibak sedikit lebih lebar gorden dari jendela itu.


"Dee udah boleh pulang dari rumah sakit ya sayang?". tanya Justin berbisik seraya menangkup sebelah pipi kanan sang putra.


"udah Daddy". sahut Dean yang juga ikut berbisik.


"ikut Daddy sebentar yuk? ". bunda lagi tidur kan? ". tanya Justin.


"kemana?".tanya Dean ragu.


"jalan jalan". jawab Justin.


"besok aja ya Daddy". sahut Dean seraya tersenyum.


"kenapa harus besok? "tanya Justin Penasaran.


"besok Dee mulai sekolah. jadi besok kita bisa ketemu pas Dee lagi istirahat sekolah. Daddy boleh datang ke kantinnya pak Amat kayak biasa ya". ucap Dean memberikan saran pada Daddynya itu.


"ya udah deh. besok ya? ". balas Justin menyetujui rencananya Dean.


"iya Daddy". sahut Dean seraya mengangguk pelan.


Justin tersenyum puas lalu mencium gemas pipi gembul milik buah hatinya bersama wanita yang Sebenarnya sudah ada di hatinya dulu. hanya saja waktu lah yang telah memisahkan mereka sehingga cukup banyak kesalah pahaman yang terjadi di antara mereka.


hingga akhirnya di saat mereka bertemu kembali keduanya pun sama sama memilki sikap arogansi bahkan saling mengintimidasi satu sama lain hingga saat ini.


*


yok ke next chapter ya reader..


...****************...


Hai readers...mohon dukungannya kembali untuk novel ku ini ya?? dengan memberi like,vote, poin, fav, dan share link nya ya readers 😉.