
Hai my readers Selamat menikmati episode kali ini ya???. semoga enjoy 😉.
"Daddy".
panggilan Dean menyentakkan lamunannya
"ayo Daddy. kita bleak hali ini". pinta Dean.
Justin hanya bisa tersenyum menanggapi permintaan dari putranya.
'iya kita break" sahut Justin pelan.
lalu pria tampan yang kini galau kembali itu mulai menstarter mobilnya dan kembali melajukan mobilnya kembali ke kota, tepatnya di mana Dean bersekolah.
"break". kata kata yang seharusnya tak ada lagi dalam kehidupan pribadinya setelah ia mengalami beberapa kali "break". di dalam hatinya.
Justin melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang seraya meremas kuat setir mobil yang di kendarainya. rasanya terlalu cepat waktu mengambil kebersamaan mereka berdua.
hingga mobilnya tiba di depan sekolah Justin belum mau membukakan pintu untuk putra semata wayangnya itu. Justin membuka safe bealtnya sendiri dan juga safebealtnya sang putra.
ia tersenyum menatap wajah lucu nan meng-gemaskan itu. lalu Justin memeluk erat tubuh putranya seraya menciumi ubun ubun kepala nya Dean. ia masih belum mau berpisah dari putranya itu. cukup lama pria tampan itu memeluk anak yang ia lewati masa kelahiran dan juga tumbuh kembangnya selama tiga tahun belakangan di karenakan konflik rumah tangga antara dirinya dengan ibu kandung dari putranya ini.
"Daddy". panggil Dean pelan saat bel sekolah nya berbunyi tanda jam pelajaran telah usai.
itu berarti sebentar lagi ia akan di jemput oleh atoknya, mengingat sang bunda yang masih di rawat di rumah sakit.
"sebentar sayang. sebentar lagi". bisiknya pelan seraya terus mendekap Dean erat.
"Daddy. nanti gurunya Dee khawatir karena Dee belum sampai ke kelas". Dean mengingat kan Daddynya kembali.
"ma..maaf".ucap Justin dengan tenggorokan nya yang tercekat.
akhirnya ia pun mengalah dan menurunkan sang putra dari mobilnya. ia mengantarkan Dean hingga di depan kelas untuk menunggu seseorang yang datang untuk menjemputnya.
"terima kasih pak Justin sudah mengantarkan Dean kembali tepat waktu". ucap guru yang bertanggung jawab di kelasnya Dean saat ini.
"sama sama bu. saya lah yang seharusnya mengucapkan terima kasih banyak pada ibu karena sudah di beri ijin untuk membawa Dee keluar di hari ini". jawab Justin dengan tulus.
guru itu tersenyum seraya mengangguk lalu ia sedikit berteriak saat melihat mobil Danang memasuki areal parkiran sekolahan.
"itu atoknya sudah datang Dee?? ". ayok siap siap untuk pulang".titah sang guru.
guru tersebut segera membantu Dean untuk membereskan perlengkapan sekolahnya bocah itu yang tadi tertinggal di kelas saat ia di bawa pergi oleh Daddynya.
Justin pamit pada sang guru. Lalu pada Dean
"Daddy balik ke mobil ya?". pamit Justin segera berlalu dari depan kelasnya Dean.
"iya Daddy". Sahut Dean seraya mengangguk kan kepalanya.
Justin pun bergegas melangkahkan kakinya untuk kembali ke parkiran saat seorang pria paruh baya yang pernah ia lihat wajahnya saat menjaga Dean di rumah sakit sedang turun dari mobil nya.
Kini pria galau itu memilih menunggu di mobilnya seraya melihat ke arah Dean yang saat ini di peluk oleh seorang pria paruh baya yang menjaga putranya di rumah sakit. hingga akhirnya ia menyaksikan sendiri dari kejauhan Dean di bawa masuk ke mobil oleh pria yang se umuran papanya dan langsung di bawa pergi.
Justin hanya bisa menatap dengan perasaan masygul sampai mobil itu menghilang dari hadapannya barulah ia pergi dari situ dengan tujuan ke rumah sakit di mana Rendy bekerja.
setiba nya di sana Justin langsung mencari Rendy di salah satu instalasi rumah sakit di mana pria itu di tugas kan.
Justin bertanya ke pada salah satu pegawai rumah sakit yang masih ada di sana tentang keberadaan Rendy saat ini.
"pak Rendy sepertinya ke ruang kamar rawat temannya pak". sahut pegawai tersebut.
"baik. terima kasih". balasnya begitu ia tau siapa temannya Rendy yang di maksudkan oleh pegawai tersebut.
Justin segera menyusul ke ruangan di mana Midea sedang di rawat saat ini. akan tetapi baru ia mau memasuki ruangan tersebut Rendy berjalan keluar dari ruangan tersebut bersama dengan seorang Dokter.
Justin mengikuti langkah kedua orang itu hingga mereka berpisah di tikungan koridor di mana sang Dokter memilih masuk ke ruangan prakteknya sedangkan Rendy di perkirakan akan kembali ke ruang kerjanya.
"Rendy". panggil Justin.
seketika itu juga Rendy menoleh ke padanya. Justin berjalan menghampiri pria muda itu sembari menatap pria yang juga menatap diri nya dengan dingin.
"bisa kita berbicara sebentar". ucap justin mengajak Rendy untuk membahas yang berkaitan dengan dua D nya.
"sekarang?". tanya Rendy datar.
"ya. sekarang". jawab Justin yang tak kalah datar.
Rendy tersenyum lalu berkata". bagaimana jika saya tidak bisa?".
"apa maksud kamu?. kamu menolak saya? ". tanya Justin yang masih berusaha menahan sabar menghadapi bocah yang ada di depan nya kini.
"saya harus kembali bekerja pak Justin". sahut Rendy seraya menunjukkan angka satu di jam tangan digitalnya.
Justin tersenyum miring seraya membuang wajahnya ke arah lain.
"bukankah biasanya kamu sedang istirahat di jam segitu?".cibir Justin, karena ia memang tak percaya atas alasan yang di berikan pria muda itu padanya.
"hari ini saya harus menghadapi orang orang dari dinas BPOM pak. jadi saya harus kembali ke ruangan saya". jawab Rendy santai seraya mengembangkan senyumnya lalu menarik nya kembali menjadi datar.
sementara Justin hanya bisa bergeming mendapatkan jawaban yang memang masuk akal baginya. ia mengerti jika dinas dinas terkait akan melakukan inspeksi mendadak pada setiap instansi terkait di setiap tri semesternya.
"apakah pembicaraan ini penting?". tanya Rendy seraya menatap pria yang sepertinya berharap pada dirinya.
"jika memang sekiranya penting. Bapak boleh menunggu saya di kantin satu jam lagi. saya akan menyusul bapak setelah pekerjaan saya selesai". ucap Rendy memberikan jalan alternatif pada pria itu.
"baik".sahut Justin datar.
"oke. saya balik ke ruangan saya sekarang". pamit Rendy singkat seraya angkat kaki dari hadapan pria yang terlihat galau itu.
sementara Justin hanya bergeming menatap punggung Rendy yang kini menghilang di tikungan koridor. Justin memilih menunggu Rendy di kantin rumah sakit seperti yang di minta bocah sok dewasa itu.
Ia memilih duduk di sudut ruangan yang di samping jendela seraya memandang keluar memperhatikan orang orang berlalu lalang dengan segala macam kesibukannya di gedung berdominan warna putih ini.
Yok ke next chapter ya reader..
...****************...
Hai readers...mohon dukungannya kembali untuk novel ku ini ya?? dengan memberi like,vote, poin, fav, dan share link nya ya readers 😉.