
#Wellcome back my readers yang super duper caem dan cuakep. Selamat menikmati episode kali ini ya???.semoga enjoy... 😉
"sepertinya ia gak nyaman dengan higheels nya Tin". ujar Indra saat memperhatikan gerak gerik Dea yang tak nyaman pada bagian kakinya.
"ya gue tau". sahut Justin yang semakin melajukan mobilnya memasuki kota yang sering di kunjungi para wisatawan tersebut.
Lalu Justin berniat mencari sebuah boutique atau pun toko sepatu untuk mencarikan Midea sebuah sandal yang datar, agar wanita itu nyaman dalam pekerjaannya.
kali ini ia tidak akan memaksa Midea untuk kembali pulang padanya malam ini. ia akan membiar kan wanita itu menyelesaikan tugasnya malam ini hingga selesai. ia ingin membuat wanita itu senyaman mungkin tanpa harus ada perasaan takut jika bertemu dengannya nanti.
Justin memarkirkan mobilnya pada sebuah boutique ternama di kota ini. ia masuk tanpa memperdulikan pandangan kagum beberapa wanita yang di tujukan padanya.
ia menemui sang punya boutique agar menunjukkan beberapa sandal datar yang mewah tetapi nyaman di pakai.
pemilik boutique sontak tersenyum senang. pasalnya ia baru saja memasang iklan di laman sosial miliknya tentang slipper terbaru nya yang sebenarnya hanya kalangan tertentu saja yang mampu membelinya.
Justin memperhatikan detail setiap sandal yang di tawarkan. akhirnya pilihannya jatuh pada sebuah sandal yang bertatakan Swarovski yang ia yakin jika Dea akan merasa nyaman dan juga terlihat cantik di kaki lentik wanita itu.
Justin segera kembali ke mobilnya dan melihat kembali ke arah layar ponselnya dan melihat Midea yang masih gelisah menahan sakit pada kakinya.
"ikuti dia ndra". titah Justin saat melihat Dea mulai berjalan keluar dari gedung.
"oke". sahut Indra yang juga berjalan mengikuti Dea dari jarak beberapa meter di belakangnya.
Justin kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar segera tiba di mana Dea kini sedang bekerja di sana.
"awas aja ya lu Andra. bisa bisanya lu kasih kerjaan untuk istri gue sebagai SPG". dumel Justin pada sahabatnya itu seraya melihat Dea yang berjalan tertatih tatih menahan sakit.
"eh Tin. si Andra ini ga tau kalau si Midea istri pertama lu". Ujar Indra mengingatkan Justin agar jangan terpancing amarah dan menyalah kan Andra yang menurutnya tidak tau apa apa.
Justin tak menanggapi komentar Indra. bagi nya melihat Midea yang menahan sakit saat berjalan membuatnya teringat pada peristiwa peristiwa di mana wanita itu selalu berakhir di rumah sakit selama berhari hari.
Justin segera membelokkan mobilnya memasuki parkiran yang telah di sediakan khusus tamu sepertinya. Justin bergegas keluar dari mobilnya seraya membawa sebuah bag paper yang berisi slipper mewah yang di belinya khusus untuk wanita yang sedang duduk sendirian di luar gedung pada sebuah bangku yang menghadap ke taman.
"Indra". panggilJustin saat dirinya melihat Indra yang sedang mengarahkan diam diam ponselnya ke seorang wanita yang sedang memijit mijit betis dan kakinya tanpa wanita itu tau jika aldua orang pria sedang memperhatikannya dengan rasa iba.
"ya Tin". sahut Indra yang terus mengarahkan ponselnya ke wanita tersebut.
"udah bisa lu matiin ponsel lu". titah Justin yang berada jarak beberapa langkah saja di belakang sahabatnya itu.
"oke". sahut Indra yang mengerti maksud Justin jika sahabatnya itu telah tiba di sini.
Indra membalikkan tubuhnya dan terlihatlah Justin dengan menenteng sebuah bag paper di tangannya. Indra berjalan menghampiri Justin dan berniat kembali ke dalam gedung untuk kembali bergabung dengan istrinya.
"good luck bro. gue tinggal ya". ucap Indra saat berpas pasan dengan Justin.
"thank you bro". sahut Justin tulus seraya tersenyum simpul.
Indra mengangguk pelan lalu segera berlalu dari situ meninggalkan Justin dan wanita yang selama ini ia cari.
sepeninggalnya Indra Justin menatap sendu pada wanita itu. ia mengeluarkan slipper tersebut lalu berjalan perlahan menghampiri Dea yang terus membungkuk kan tubuhnya untuk bisa menggapai betis dan kakinya seraya memijit mijitnya.
entah karena rasa sakitnya atau wanita itu memang tak perduli pada keadaan di sekitar nya sehingga Dea tak menyadari sama sekali jika Justin telah berdiri di hadapannya seraya membungkukkan tubuhnya hingga Justin berjongkok di hadapan Dea untuk meletakkan slipper tersebut di samping kaki Midea yang sedang di pijitnya sendiri.
Justin melihat istrinya itu hanya menatap diam pada sepasang sandal datar yang bertatakan batu Swarovski di sandal tersebut. Justin mendengar detak jantungnya Midea yang berdegup kencang.
entah karena wanita itu shock karena kedatangannya yang secara tiba tiba muncul di hadapannya atau wanita itu takut karena pelariannya telah berakhir malam ini karena ia telah menemukan Midea dan otomatis pasti ia akan menemukan putranya juga.
sementara Midea sendiri masih terpaku menatap pada sandal tersebut. sementara ia merasakan nafas hangat seseorang itu yang berhembus hangat di sela sela kain hijabnya. menembus hangat hingga terasa di daun telinganya. jantungnya berdegup kencang seiring darahnya yang berdesir hebat.
Deg.
jantungnya Midea semakin memacu cepat saat mendengar suara yang tak asing sama sekali di telinganya. Dea mengangkat wajah nya perlahan untuk memastikan pendengaran nya.
"Justin". desisnya di dalam hatinya yang bergetar.
keduanya saling menatap dalam diam. Ada rasa rindu menyeruak di hati keduanya. terlebih di hati Justin yang menatap rindu pada wanita yang sedari dulu ia cari cari jauh sebelum ia mencintai Namira. dari dalam gedung di mana pesta berlangsung sayup terdengar senandung lirih dari lirik lagu "tentang Rindu - Virzha" yang di nyanyikan salah satu karyawan yang memiliki bakat terpendam.
mereka masih menatap dalam diam untuk beberapa menit bahkan hingga lagu itu berakhir pun Midea dan Justin masih membisu. hawa dingin mulai berhembus pelan ke arah mereka. barulah Justin melirik ke arah kakinya midea yang tadinya di pijit pijit oleh Dea.
Justin mengambil kaki kanannya Midea dan meletakkannya di atas pahanya untuk di pijat nya perlahan. sementara Midea hanya bisa terdiam menatap apa yang di lakukan Justin padanya malam ini.
"kenapa harus memaksakan diri untuk memakai higheels jika ujung ujungnya bisa menyakiti diri sendiri". Justin berkomentar pelan.
"aku ga apa apa kok". sahut Dea datar.
Justin menghentikan aktifitasnya sesaat saat mendengar perkataan Dea. lalu ia melanjut kan kembali seraya berkata.
"ya. karena belum berdarahkan?".cibir Justin.
"dan karena belum kamu lempar ke orang lain atau pun aku mungkin agar kamu bisa kabur lagi". Justin melanjut kan cibirannya di dalam hatinya.
sebab ia takut jika Midea bersikeras akan menolak memakai slipper yang ia belikan khusus untuk wanita yang keras kepala itu.
Midea bergeming merasakan pijatan lembut di betis dan kaki kanannya yang terasa lebih sakit di bandingkan dengan kaki kirinya.
"sampai jam berapa kamu disini? ". tanya Justin basa basi yang sebenarnya ia sudah tau jika istrinya itu akan pulang larut malam sesuai dengan kontrak kerjanya sebagai SPG.
"belum tau". sahut Dea datar yang memang tidak tau harus pulang jam berapa khusus malam ini.
Justin menghela nafasnya sesaat untuk menenangkan hatinya yang mulai gerah karena mendengar ketidak pastian jadwal kerja sang istri. apa lagi jika istrinya itu bekerja otomatis Dean di rumah sendirian tanpa ada orang dewasa yang menjaganya.
sementara Justin yang menahan rindu lebih dari sebulan yang lalu ingin sekali bertemu dengan putranya. hanya saja ia mencoba menahan keinginannya, agar Dea merasa nyaman dengan dirinya sekarang. hal ni ia lakukan agar wanita itu jangan sampai kabur lagi darinya.
sungguh rasanya kepala ini mau pecah rasanya jika harus kehilangan jejak mereka lagi.
...**************...
Hai readers...mohon dukungannya kembali untuk novel ke empatku ini ya?? dengan memberi like, vote, poin, fav, dan share link nya ya readers 😉
Dan jangan lupa follow akun ku di
Noveltoon Hazhilka 279
facebook Hazhilka
#Hazhilka
ig Hazhilka279
.
Terima kasih.
.