
Wellcome back my readers yang super duper caem dan cuakep. Selamat menikmati episode kali ini ya???. semoga enjoy 😉.
Justin dan Satria kembali ke hotel tempat di mana mereka menginap selama di sini.
setelah cukup lama Satria membujuk pria galau itu agar keluar dari tempat yang mem -buatnya bertambah sedih. ia ingin abangnya itu bisa tenang sejenak tanpa harus di risaukan akan masa lalunya dengan Midea.
sementara Justin sendiri memilih masuk ke kamar mandi untuk mendinginkan suhu hati dan kepalanya akibat terbakar cemburu pada pria muda yang sebaya Midea dalam menaklukkan hati dua D miliknya.
"aish. kenapa aku harus kalah sama pria yang umurnya di bawahku". keluhnya di hati.
...----------------...
tak puas hatinya dengan hanya melihat dua D nya dari kejauhan. maka malam ini tanpa sepengetahuan Satria. Justin pun melajukan kendaraannya ke restoran yang ia kunjungi bersama Satria tadi siang. ia berharap bisa melihat wajah putranya lagi sebelum ia kembali ke Mdn esok pagi.
sementara Satria yang tadinya masih saja aktif dalam video callnya bersama beberapa orang dalam staff direksi pabrik KBC tak mengetahui sama sekali jika ia di tinggal sendirian di dalam kamar mewah itu oleh Justin, hingga akhirnya ia sadar jika abang sepupunya itu tak lagi berada di ruangan itu lagi.
"bang"..panggil Satria saat ia selesai dengan panggilan video callnya.
"bang Justin". panggilnya kembali.
ia mencoba menghubungi Justin kembali melalui ponselnya. tak ada sahutan. entah sudah yang keberapa kalinya Satria mencoba menghubungi abang sepupunya itu. akan tetapi yang di hubungi tak juga mengangkat telponnya. akhirnya Satria memutuskan untuk menyusul sang abang ke tempat yang sudah bisa ia tebak ke mana abang sepupunya itu pergi.
sementara dari dalam mobilnya, Justin masih menatap ke luar ke arah Restoran yang mulai perlahan sepi dan di perkirakan akan tutup sebentar lagi. satu jam berlalu Justin masih saja terus menatap ke arah restoran. ia ber -harap seseorang yang ia tunggu selama ini keluar dari restoran itu.
hingga beberapa menit kemudian kelopak netranya melebar saat ia melihat dua orang yang di tunggunya selama ini keluar dari Restoran tersebut. ia terpekur menatap dua D nya dalam keadaan baik baik saja dan juga sehat. bahkan kini ia melihat keduanya sedang tersenyum bahagia tanpa beban dan tanpa tekanan.
"apakah sekarang kalian sudah bahagia jika tanpa aku?". gumam Justin dengan netra yang tak lepas dari dua D nya yang sedang bercanda di teras restoran sekarang ini.
"Dee. Daddy kangen sayang. Daddy kangen banget sama kamu sayang".ia berucap lirih.
sebuah mobil masuk ke halaman hotel dan berhenti tepat di depan restoran menutupi pandangannya dalam melihat dua D nya.
Justin menanti sejenak hingga mobil itu berlalu dari hadapannya.
"hah. mereka kemana?". gumam Justin saat ia ingin melihat dua D nya kembali.
Justin menghidupkan mesin mobilnya dan mendekati restoran yang telah tutup itu. instingnya mengatakan jika mereka telah pulang ke rumahnya dengan mobil tadi.
"akh. sial". umpatnya seraya memutar stirnya dan melajukan mobilnya ke arah jalanan.
untungnya supir mobil yang membawa dua D nya itu menggunakan kecepatan standar. sehingga ia masih bisa mengejar laju mobil tersebut. Justin terus mengikuti mobil yang di tumpangi oleh Midea dan anaknya sampai akhirnya mobil tersebut memasuki kawasan perumahan.
Justin pun menghentikan mobilnya tak jauh dari sebuah mobil yang ia ikuti semenjak dari restoran tadi. Justin melihat Midea dan putra nya itu turun dari mobil tersebut bersama dengan seorang wanita paruh baya. di mana ke duanya memasuki sebuah rumah yang ada di kiri dan kanan.
"jadi dia tinggal di sini?". gumam Justin saat ia memperhatikan sebuah rumah dengan tipe enam puluh itu. di mana terdapat sebuah pohon mangga yang di cangkok di sudut halaman dari rumah tersebut.
lampu rumah di matikan sebagian dari dalam sebagai pertanda jika penghuninya akan beristirahat. Justin kembali ke hotel setelah menunggu beberapa menit.
sesampainya di parkiran hotel ia mengecheck kembali ponsel yang ia setel dengan mode diam. puluhan panggilan dari adik sepupunya itu. Justin pun tak merasa heran jika adik selupunya itu akan melakukan panggilan telpon pada dirinya sebanyak itu. karena mengingat dirinya yang pergi tanpa pamit pada Satria.
lalu ia berinisiatif menelpon kembali adiknya untuk memberitahukan kabar dirinya yang menghilang selama hampir tiga jam.
"bang Justin! ". pekik Satria dari seberang ponsel.
"ya". sahut Justin.
"dari mana saja bang?. aku tu nyari nyari abang. abang tak bisa ku hubungi dari tadi". sahut Satria dengan nada yang terdengar khawatir.
"nyari angin"..dusta Justi datar.
"ya ampun. jadi kenapa tak bilang bilang bang. aku pikir abang..... "ujar Satria yang langsung menjeda kalimatnya.
"kamu pikir abang kenapa rupanya? ".hah? ". tanya Justin.
"ahh sudahlah bang. nanti lagu kita lanjutkan obrolan nya di kamar. tak etis rasanya kalau kita ngobrol di telpon. tak puas bang. ya udah aku balik ni. udah ya bang". balas Satria seraya pamit ingun mengakhiri percakapan ponsel
"aku masih di luar bang. ini lagi on the way ke hotel. udah ya bang. aku tutup dulu". sahut Satria seraya menutup ponselnya.
tak lama kemudian Justin mendengar suara pintu di buka dari luar. dan ia langsung jika yang datang itu adalah adik sepupunya yang baru saja tiba dari luar hotel.
"kamu ngapain di luar?". tanya Justin heran.
"abang ini aneh kalilah. abang yang bikin aku khawatir abang pulak yang nanyain aku ngapain aku di luar. ya buat nyariin abanglah". sahut Satria sedikit sewot.
"ciyah . ngapain aku nya di cariin. kayak anak kecil aja". sahut Justin sembari tersenyum kecil.
"gimana ga di cariin. abang pergi ga bilang bilang sama aku. hapenya di telpon ga di angkat angkat. gimana aku ga khawatir bang. ku pikir abang itu kenapa napa di jalan. apa lagi daerah ini bukan kota yang sering sering kita kunjungi kecuali undangan dari direktur rumah sakit sini. itu pun setahun sekalinya". tukas Satria lugas.
"bakalan menjadi salah satu kota yang akan abang kunjungi setiap minggunya. insya Allah " sahut Justin seraya mengedipkan sebelah matanya.
mendengar hal itu sontak membuat Satria berusaha melebarkan kedua kelopak matanya yang sipit. sebab ia tahu kemana arah pem-bicaraan abang sepupunya itu.
"bang".tegurnya.
"sebenarnya abang tadi kemana? ".jangan bilang abang nekat jumpai dua D abang lagi.
Justin tersenyum smirk lalu memalingkan wajahnya dan memutarkan tubuhnya meninggalkan Satria yang berdiri menatap dirinya dengan raut wajah penuh tanya.
"bang Justin". Satria memanggil abangnya seraya mengejar langkah Justin yang akan memasuki kamarnya.
"bang jangan nekat ya bang. kalau mereka lari lagi gimana?".abang sudah lihat sendirikan gimana bahagianya mereka di sini".tukas Satria tegas.
"ya"..sahut Justin singkat.
"jadi abang mau apa?? ". tak usahlah bang begitu. jangan di ganggu lagi lah bang . biar lah mereka bahagia. kan aku udah bilang sama abang. seharusnya abang ngertinya". ujar Satria.
"ya abang ngerti. yang mau gangguin mereka siapa? ". ga ada dan ga niat pun". sahut Justin datar.
"jadi??". abang mau ngapain?. tiap minggu ke sini?". apa ga capek?". ga mikir si keyra? ". tanya Satria penasaran dengan pernyataan abang sepupunya itu.
"gantian waktunya sama Keyra. selang seling. gampang kan? ". sahut Justin santai.
"hah?"..pekik Satria tak mengerti seiring pintu kamar Justin yang menutup rapat.
"bang. ehh bang..bang Justin. tunggu. aku belum habis bicara. buka dulu pintunya". titah Satria seraya menggedor pintu.
"besok pagi aja. udah malem tidur". titah Justin sembari berteriak dari dalam kamar nya.
Lanjut ke next chapter ya readers
...****************...
Hai readers...mohon dukungannya kembali untuk novel ku ini ya?? dengan memberi like,pp vote, poin, fav, dan share link nya ya readers 😉
Dan jangan lupa follow akun ku di
Noveltoon Hazhilka 279
facebook Hazhilka
#Hazhilka
Ig Hazhilka
youtubenya Hazhilka279
Terima kasih.