My D you are the first for me

My D you are the first for me
saling memuji



Hai readers I am coming back. Selamat membaca kembali..


"tosca??".Tanya Qanita untuk memastikan pendengarannya.


Ia menatap Midea yang mengangguk pelan seraya menunjukkan ke sudut ruangan di mana sebuah manikin yang menggunakan gaun pengantin rancangannya yang berwarna tosca yang sebenarnya belumlah begitu rampung.


di karenakan dirinya yang masih bimbang apakah rancangan tersebut tetap di tampilkan seperti itu saja tanpa harus di tambahkan pernak pernik yang lain sebagai penghias dari kain sutra yang berkualitas nomor satu itu. Atau ia harus menggunakan batu permata tambahan untuk semakin mempercantik kain sutra yang memang sudah cantik dari aslinya


"ohh itu??".gumamnya seraya menatap ke manikin yang di maksudkan Dea.


"sebenarnya gaun itu belum selesai karena masih banyak yang harus tante pasangkan payet atau batu hiasan di sana seperti di gaun gaun sebelumnya".tukas Qanita sedikit menjelaskan alasannya.


"oohh...". Sahut Midea singkat seraya manggut manggut dengan senyum kecilnya.


"kamu mau mencobanya?". Tawar Qanita tiba tiba pada Midea.


Entah kenapa ide barusan terlintas begitu saja di benaknya saat netranya melirik sekilas ke arah gaun yang di asingkan itu dan juga pada wanita yang sudah di anggap anak bagi nya meskipun wanita yang ada di hadapannya ini tidak pernah tau.


"hah?. maksud tante?". Tanya Midea tak yakin akan pendengarannya.


"yah gaun itu. Kamu mau mencobanya?". Jawab Qanita mengulangi lagi pertanyaan nya yang sama pada Dea.


"hah?"tante serius?". Tanya Dea memastikan.


"iya. Ayok sini". Sahut Qanita seraya mengajak wanita muda itu untuk mengikuti langkahnya mendekati gaun yang mereka bahas barusan.


"tapi tante gaun ini kan sudah ada fitingannya sendiri, dan yang pastinya bukan ukurannya tubuh aku ".sanggah Dea yang tak yakin akan ukuran tubuhnya yang sekarang.


Qanita tak menggubris perkataan nya Dea.ia terus fokus membuka gaun itu dengan hati hati dari manikin tersebut dan memberikan nya pada Dea yang masih mematung sembari menatap diri nya.


"ayok De Jasmine. ganti dulu bajunya dengan yang ini". titah Qanita.


Lalu wanita paruh baya itu menutup pintu ruang kerjanya dan menunggu Midea selesai memasangkan gaun itu di tubuhnya sendiri.


Qanita pribadi begitu mempercayakan gaun nya untuk di coba oleh Dea sendirian tanpa ia harus ikut campur memakaikannya pada Dea. mungkin karena pengalaman wanita itu yang memiliki masa lalu sebagai model meskipun rumor sebagai model plus plus.


Makanya ia yakin jika kebiasaan dari seorang Midea Hasxander akan bertindak secara profesional dan juga berhati hati dalam mem perlakukan produk yang di percaya kan pada nya.


Sedangkan Dea sendiri mengerjakan saja apa yang di perintahkan oleh Qanita. Memang tak butuh waktu lama untuk memakaikan gaun mahal itu ke tubuhnya sebab selain gaun ini begitu simple dan juga tak ribet dalam meng gunakannya sehingga Dea tak perlu meminta bantuan siapapun.


Dan benar saja gaun pengantin yang terbuat dari sutra berwarna tosca itu telah melekat di tubuhnya dengan mudah.


"selesai tante".ucapnya seraya memasangkan kerudung panjang berwarna senada dengan gaunnya yang menjuntai ke bawah hingga menyentuh lantai yang di pijakinya.


Ia berdiri menghadap ke arah Qanita yang tengah memandang pada dirinya dengan rasa kaget.


"Masya Allah De Jasmine". gumamnya kaget.


"Masya Allah cantiknya???". gumam Qanita kembali dengan takjub pada apa yang di lihatnya saat ini.


"gimana tante?". Tanya Midea penasaran dengan hasilnya.


"luar biasa De. Kamu cantiiiiik sekali dengan gaun ini. cocok sekali sama kamu". Jawab Qanita jujur.


"hehe..masa iya sih.. kan ini bukan fitingan aslinya tante. masa iya begini di bilang cantik sih tante". Kekeh Dea yang tak lagi memiliki kepercayaan pada dirinya dalam dunia fashion ini.


"iya beneran loh De. Sini tante tunjukin ke kamu ya?". Ujar Qanita seraya menarik lengan nya Dea untuk menghadap ke sebuah cermin yang besar.


Midea mengikuti titahnya Qanita dan sontak membuat Midea termangu saat melihat diri nya dengan balutan gaun yang telah menarik perhatiannya.


Ia masih saja terpaku menatap dirinya di dalam kaca. entah mimpi apa ia semalam bisa menggunakan gaun pengantin indah seperti ini.


"cantik kan De?". Ucap Qanita memastikan penglihatannya pada wanita muda ini.


"iya".desis Midea menganggukkan kepalanya.


cukup lama dua wanita beda generasi yang sama sama memiliki paras wajah yang cantik nan eksotik itu berpatut pada kaca cermin di hadapannya dengan masing masing hati yang saling memuji satu sama lain.


jika Qanita memuji kecantikan pada diri seorang Midea yang berbeda dari wanita lain nya di tambah dengan balutan gaun hasil karyanya yang tengah melekat di tubuh wanita beranak satu itu saat ini.


"ternyata gaun itu cocok juga sama kamu Jasmine". gumamnya di hati.


Qanita teringat jika fitingan dari gaun yang di gunakan Dea saat ini adalah dari tubuh milik ponakannya yang lain yang juga ikut ber -partisipasi membantunya sebagai model untuk gaun gaunnya selama ini.


Sementara Midea memuji kepiawaian dari ibu cantik ini dalam menciptakan rancangan gaun pengantin yang se indah dan se unik ini.


setelah cukup lama menikmati rasa nyaman dari gaun yang di cobanya, akhirnya wanita beranak satu itu pun cukup tau diri dan ia pun segera melepaskan gaun indah yang bukan miliknya untuk di kembalikan pada sang empunya.


"terima kasih tante udah di kasih kesempatan buat nyobain karyanya tante yang satu ini". Ucap Midea tulus dan merasa puas atas pengalaman yang di dapatnya hari ini.


Yah, paling tidak seumur hidupnya ia pernah merasakan menggunakan gaun pengantin meskipun hanya sekali dan sementara saja.


"kamu ga ikut memberikan semangat dari dekat untuk tante De?".tanya Qanita yang ber niat mengajaknya secara tak langsung seperti ponakan ponakan lainnya yang ia bawa serta untuk membantunya sebagai model gaun nya di sana.


Jujur saja untuk membayar seorang model profesional saat ini, Qanita belum mampu mengocheck dompetnya lebih dalam lagi.


mengingat dirinya hanyalah seorang desainer yang masih hitungan amatiran dalam dunia fashion meski pun telah banyak karya yang ia ciptakan.


Akan tetapi di mata dunia. Qanita bukanlah siapa siapa.


"ehh..ga mungkinlah tante. Dee sama mama Alma gimana?. apa lagi sekarang Restoran juga lagi butuh orang kan?. Aku cuma bisa mendoakan tante dan memberikan semangat dan dukungan dari ini aja ya tante?". Tolak Dea secara halus yang langsung mengerti kemana arah tujuan pembicaraan dari Qanita.


"ya sudah tak apa apa". Sahut Qanita dengan senyuman.


"semoga usaha tante lancar lancar saja dan berhasil untuk mencapai salah satu gelar juara internationalnya ya tante". Ucap Midea tulus.


"Aamiin...makasih ya sayang". Balas Qanita seraya tersenyum.


"iya tante ..sama sama". Balas Dea dengan senyumnya.


NB to Next chapter:


Arjun begitu panik saat Usaha Qanita hampir mengalami kegagalan. Arjun dan Qanita mencoba mencari solusi untuk masalahnya. Apa yang akan mereka lakukan???


The next chapter


Abang Justin yang tanpa sengaja bertemu dengan Midea kembali. Apakah ia akan menghindari Midea?. Demi janjinya pada wanita itu dan juga putranya. Atau ia nekat menyapa Midea seolah tak pernah terjadi apa apa pada hubungan mereka?


Yok ke next chapter ya reader..


...****************...


Hai readers...mohon dukungannya kembali untuk novel ku ini ya?? dengan memberi like,vote, poin, fav, dan share link nya ya readers 😉.