
"Hai readers I am coming back. Selamat membaca kembali..
"De. please???. Justin memohon pada wanita itu yang kini menoleh padanya dengan tatapan heran dan bingung pastinya.
"benda ini sudah lama menunggu kamu" ucap Justin dengan nada membujuk.
Entah apa yang membuat Midea pasrah pada apa yang di lakukan justin padanya. pria itu mulai membuka sedikit kain hijab yang menyembunyikan daun telinganya. lalu ia hanya bisa terpaku diam saat mantan suami nya itu memasangkan anting itu di sana.
Justin tersenyum kecil saat merasa tak ada penolakan dari wanita cantik dan juga manis itu saat dirinya mencoba memasangkan anting di kedua telinganya Midea yang ter -sembunyi di balik kain hijab yang tertutupi selendang panjang yang menjuntai ke bawah lantai.
bukan hanya anting yang terpasang cantik di telinganya Midea. tetapi Justin mencoba memberanikan diri memakaikan kalung tersebut di leher indahnya Midea yang juga tertutupi oleh kerah baju pengantinnya.
sungguh, pengalaman manis seperti inilah yang baru Midea rasakan untuk pertama kalinya. ia pernah membayangkan ada di posisi ini dengan pasangannya.
kini keduanya sama sama di posisi diam seribu bahasa. dan hanya mampu mendengarkan detak jantungnya masing masing. sembari tangannya Justin yang terus bergerak memakaikan gelang yang ber tahta kan berlian di dalamnya ke tangannya Midea.
"Done". gumam Justin seraya menatap wanita pertamanya itu.
Midea Mematutkan dirinya di kaca dengan begitu lama. kini penampilannya agak berbeda serta lain dari biasanya. mungkin di karenakan perhiasan yang melekat padanya kini.
sementara Justin juga ikut menatap Midea dengan penuh takjub. apa lagi dengan gaun pernikahan yang simple tetapi terkesan mewah nan elegant ala asia selatan Itu yang terbalut begitu cantik di tubuhnya yang masih terlihat ramping meskipun telah beranak satu.
Justin mendekati Midea dan berdiri di belakang wanita itu seraya membisikkan sebuah kalimat.
"you are so beautiful De Jasmine". ucapnya seraya menatap wajah Midea melalui kaca meja rias yang di penuhi segala macam parfum dan juga alat alat kosmetik khusus pria.
Justin tersenyum kecil menatap wajah cantik nan manis milik wanita yang telah menjadi mantan istrinya itu.
"sayang. hubungan mereka hanyalah sebatas mantan istri dan mantan suami. jika saja
mereka berdua masih menjadi suami istri sudah pastilah ia akan membawa wanita ini naik ke atas ranjangnya dan menahannya di sana". pikirnya.
akan tetapi "akh sial". gerutunya seraya mengumpat kesal di hatinya lantaran dirinya sudah mulai di datangi sesuatu hal yang akan mungkin menyakitkan jika terus di biarkan.
sementara Midea sendiri yang masih betah dengan diamnya melirik pada jam dinding yang di mana ia telah berada di sini lebih dari tujuh menit yang lalu. itu artinya waktu yang kebersamaannya dengan Justin akan segera berakhir.
Midea menatap Justin yang juga menatap secara intens melalui kaca cermin yang ada di hadapan mereka. tak ingin hatinya di buai larut dalan tatapan yang pernah membuatnya terlena dahulunya.
"aku harus kembali".ucap Dea yang langsung menundukkan pandangannya.
"De". panggil Justin seraya membalikkan tubuh ramping itu ke hadapannya.
"ini sudah sepuluh menit justin. dan aku sudah di tunggu".ujar Dea datar seraya membalikkan tubuhnya dan berniat beranjak dari sana.
"masih ada tiga menit lagi De". bantah Justin.
iya benar. tapi itu sudah di hitung semenjak kamu menculik aku dari lift tadi". ujar Dea datar seraya menatap Justin lalu melirik sinis dengan ujung netranya.
Justin sedikit terkesiap atas jawaban cerdik Midea. ia tak menyangka jika wanita itu telah berhitung hitungan dengannya.
"besok lusa adalah hari ulang tahunnya Dee. aku dan keluarga sudah sepakat akan merayakannya di rumah bersama dengan seluruh anggota keluarga termasuk mereka yang ada di sini. dan mereka semua sudah setuju. tinggal kamu saja yang harus aku mintai pendapatnya secara langsung". tukas Justin menjelaskan pada Midea.
"apa?!". sejak kapan kamu membuat kesepakatan dengan mereka sementara aku ga tau apa pun". tanya Midea penasaran sembari memicingkan kedua netranya.
"tadi pagi aku dan keluargaku menjumpai neneknya Dee di hotel. kami mengobrol bersama untuk membicarakan hal ini. kalau kamu ingin tau lebih lanjut kamu bisa tanya kan pada neneknya Dee. beliau sudah setuju asalkan aku harus bicarakan lagi padamu". ujar Justin menjelaskan panjang lebar.
"De. datanglah bersama mereka. kami se -keluarga menunggumu. ada Keyra juga. dia sering bertanya tentang kamu. dia juga kangen sama kamu selain dia kangen sama adeknya. apa kamu ga kangen sama dia De?". tanya Justin bernada lirih.
"Keyra". desisnya tak bersuara menyebutkan nama bocah cantik itu.
"De. jika pun kamu keberatan berkumpul dengan kami setidaknya datanglah demi anak yang berusia lima tahun. yang melewatkan hari ulang tahunnya tanpa orang yang di rindu kannya. yaitu kamu". ungkap Justin kembali untuk meyakinkan wanita yang ada di depan nya kini.
Midea bergeming seraya melirik kembali ke arah jam dinding. ia teringat pada janjinya dengan Qanita bahwa ia harus segera berada di sana. karena giliran timnya akan di mulai setelah peserta ketiga. dan kini ia masih di sini melebihi dari waktu yang di janjikan Justin.
"aku belum bisa menjawabnya sekarang. permisi. aku udah terlambat". jawab Dea datar sembari berlalu dari kamar pria yang pernah ia cintai.
Midea berjalan dengan tergesa meninggalkan Justin sendirian dengan hati yang sulit ia ungkapkan perasaannya. antara sedih, kesal kecewa dan entah apa lah. ia terlalu berharap jika Midea akan luluh dan menyetujui rencana nya karena Keyra.
Justin tau bahwa hati Midea bisa saja luluh jika sudah menyangkut dengan Keyra. mengingat bagaimana akrabnya wanita itu dengan putrinya dulu. tapi nyatanya ia salah. Midea telah berubah. wanita itu seolah tak mau tau lagi soal Keyra. makanya Midea pergi begitu saja tanpa memberikan jawaban pasti akan rencananya.
"maaf sayang sepertinya kamu tidak bisa bertemu dengan bunda kamu lagi". gumam nya merasa bersalah pada Keyra karena telah gagal membahagiakan putrinya itu.
sementara di dalam lift yang bergerak turun Midea terus memikirkan kata katanya Justin mengenai bocah cantik yang telah di anggap sebagai anak perempuan baginya.
"haruskah aku kembali ke rumah mewah itu. sementara aku tak memiliki kesan apa pun pada rumah itu".pikirnya.
bahkan di rumah itulah harga dirinya di jatuh kan di depan semua orang. bahkan pembantu di rumah itu saja mrniliki martabat yang lebih tinggi di bandingkan dirinya dulu yang tak pernah di anggap sebagai menantu.
lift berhenti di lantai yang 27 di mana event yang di laksanakan pada ballroom hotel itu berada. Midea segera keluar dari lift untuk menemui Qanita segera.
ia tau jika dirinya sudah terlambat beberapa menit dari yang di janjikan sebelumnya.
"tante". panggil Midea yang akhirnya ia tibai di sebuah ruang ganti artis.
"ohh syukurlah kamu udah nyampe di sini".ucap Qanita penuh syukur.
"fuull terus ya liftnya?". tanya Qanita yang menduga duga tentang kondisi lift yang sedari tadi memang full.
Midea tersenyum simpul menanggapi dari pertanyaannya Qanita. ia membiarkan saja wanita paru baya cantik itu berspekulasi dengan pemikirannya sendiri. ia tak akan mencerita kan apa yang terjadi sebenarnya pada dirinya di sepuluh menit yang lalu saat bersama dengan pria yang membuat hatinya berdebar itu.
"siap siap ya sayang. satu putaran lagi untuk tim tersebut. langsung lanjut ke tim kita". Qanita mengingatkan Midea.
'iya tante". sahut Midea.
the next chapter...
*Midea yang tiba tiba di serang oleh sesuatu.
apakah itu?
Tetap stay terus ya readers..
Yok kita ke next chapter ya reader..
****************
Hai readers...mohon dukungannya kembali untuk novel ku ini ya?? dengan memberi like,vote, poin, fav, dan share link nya ya readers 😉.