
#Wellcome back my readers yang super duper caem dan cuakep. Selamat menikmati episode kali ini ya???.
selama dalam perjalanan pulang ke rumah Justin memikirkan tentang kepergian Dea yang tiba tiba membawa putranya pergi. ia tak habis pikir kenapa Midea harus kabur lagi jika telah bertemu dengan Dean.
"Dea.. Dea.. kenapa harus pake kabur segala sih. kenapa ga kita bicarakan ini baik baik sih. ada apa Midea??? ". gumamnya kesal seraya netranya terus fokus ke jalanan.
sesampainya di rumah. Mona dan Arfan yang telah menunggunya sedari Justin menelpon langsung membuka pintu dan menyambutnya
Arfan langsung membuka pintu mobil di mana ia mendapati Keyra yang terlelap tidur di samping Justin yang sedang melepaskan safebealtnya Keyra.
"biar papa yang bawa Keyra ke dalam kamar". ucap Arfan seraya menggendong cucu perempuannya itu.
"Justin". panggil mamanya dengan tatapan iba melihat wajah sang putra yang gusar.
"gimana bisa Dee di bawa sama Jasmine kabur?". tanya Mona penasaran.
"aku ga tau ma. ini aku mau cari tau melalui taxi yang membawa Dea dan Dee pergi. aku pergi dulu". sahut Justin yang menstarter mobilnya kembali.
"tunggu papa Justin. biar kamu di temani papa. jangan pergi sendiri". ujar Mona yang melarang putranya itu pergi sendirian di tengah malam begini.
"biar Justin pergi sama saya saja". Jason tiba tiba muncul dari arah belakang Mona di ikuti Astrid yang menemani suaminya itu.
"ayah". pekik Justin
"Jason". pekik Mona pelan.
"mau sampai kapan kalian menutupi dari kami tentang masalah ini hah? ". dumel Jason seraya memasuki mobil setelah melirik besan nya itu
"ayok Justin". ajak Jason datar.
sementara Astrid mendekati Jason lalu berkata
"hati hati ya yah. kasih kabar kalau ada apa apa".
"iya bunda. bunda istirahat aja dulu jangan tungguin ayah. nanti bunda sakit". sahut Jason dan juga mengingatkan istrinya itu agar jaga kesehatan.
"Justin. tolong hati hati ya?". pesan Astrid pada mantunya itu.
"iya bunda". sahut Justin.
akhirnya keduanya pun pamit pergi meninggalkan dua wanita paruh baya cantik itu di garasi menuju tempat perkumpulan taxi.
selama dalam perjalanan kedua pria beda generasi itu memilih diam dan bergelut dengan pemikiran nya masing masing. hingga tiba di tempat perkumpulan taxi kedua pria itu turun dan menemui pemilik nomor yang di sebutkan Justin.
dari nomor tersebut di ketahui identitas supir taxi yang membawa Dea dan Dean. Justin menanyakan perihal istri dan anaknya kepada supir taxi tersebut. awalnya supir taxi tersebut bingung dengan pertanyaan Justin hingga Justin menunjukkan photo Midea di dalam ponselnya pada supir taxi tersebut barulah supir taxi tersebut mengingat wajah penumpang yang menaiki taxinya malam ini.
"oh yeah.. I'm taking them to the airport tonight. ""maybe by now the plane had taken off" (oh..iya..saya yang mengantar mereka ke bandara malam ini. mungkin sekarang pesawatnya sudah lepas landas) "sahut sang supir tersebut.
"thank you sir". ucap Justin pada supir taxi itu
dan segera berlalu dari situ di ikuti Jason di belakangnya yang juga ikutan masuk ke dalam mobil.
"bagaimana bisa Midea pergi membawa kabur Dee menggunakan pesawat. sedang kan wanita itu tidak memiliki uang sepeser pun. bahkan dirinya pun belum sempat membuatkan Midea kartu Atmnya yang baru". fikirnya seraya menyetir.
"apa kalian tak menganggap kami keluarga lagi? sementara yang kabur anak kandung saya". Jason tiba tiba mengeluarkan statementnya.
Justin terhenyak menatap sang mertua. sementara Jason mengkodekan pada Justin agar lihat ke jalan.
"fokus saja menyetir". titah Jason datar.
sementara Justin mempererat genggaman tangannya pada stir kemudinya seraya terus menatap jalan. ucapan ayah mertuanya tadi benar benar menohok dirinya. Justin merasa tak enak hati saat ini karena masalah Midea adalah masalah yang seterusnya akan melibatkan ayah mertuanya juga.
"ya Allah.. kenapa lagi dengan Midea. apa yang salah denganku sehingga wanita itu pergi membawa kabur putra kami". keluh Justin di hatinya.
"apakah begitu mendendamnya dia padaku sehingga ia tak mau tinggal bersamaku dan memulai semuanya dari awal kembali". lanjutnya di hati.
Mobil masuk ke halaman rumah yang masih di tutupi salju itu. Jason dan Justin turun. dari mobil dan masuk ke rumah di mana seluruh anggota keluarga masih menunggu mereka.
"gimana Justin?. udah tau mereka kemana?". tanya Mona penasaran.
"hah. beneran si Jasmine kabur lagi? ". pekik Mona keras.
"astafirullah Jasmine". Astrid berucap resah.
"kalian istirahat aja biar saya dan Justin yang mengurusi hal ini. kamu udah hubungi Alan agar menunggu mereka di bandara".ucap Arfan.
"apa papa yakin mereka kaburnya ke sana?". tanya Mona kurang yakin.
"dia mau kemana lagi ma? ". keluarga dan sahabat yang benar benar tulus sama dia cuma ada di Indonesia". ucap Arfan.
"ya Arfan benar. tepatnya dia ke Sumatra". naluri Jason berkata sebagai seorang ayah.
"kita selidiki saja kapan dia beli tiket dan tepatnya kemana agar kita tidak menduga duga". ucap Arfan.
"ya pa. aku hubungi Alan dulu agar mencegah Dea di bandara sana. besok pagi aku akan menyusul mereka ke sana". ucap Justin.
"ayah juga ikut pulang ke Indonesia". ucap Jason.
"bunda juga ya yah". ucap Astrid.
"biar aku aja yang menyusul Jasmine ke sana nanti aku kabari segera jika udah ketemu mereka. ini rumah tangga aku. jadi biarkan aku yang menyelesaikannya sendiri ya? ". pinta Justin.
lalu ia pun pamit dari para orang tua itu yang hanya menatapnya menuju ruang kerjanya. ia langsung menghubungi Alan dan mencerita kan kejadian malam ini. setelahnya ia mengetikkan pesan pada Milie agar sementara ini menghandle pekerjaan yang di toko karena besok ia akan berangkat ke Indonesia.
Justin memesan tiket dengan class business seperti biasanya. dan meminta data terakhir dari tranksaksinya seminggu ini. tak lama kemudian muncullah notifikasi data transaksi yang di minta Justin. seketika itu juga pupil netranya terbuka lebar tatkala membaca transaksi yang di minta.
"Midea...". desisnya dengan hati yang tak karuan.
antara kesal, kecewa. karena tindakan nekat dari seorang Midea. mau marah tapi tak bisa marah karena apa yang di lakukan Midea juga karma dari dirinya juga yang mengabaikan istrinya itu selama ini. sehingga seorang Dea bertindak liar dan lancang seperti ini.
seketika ia teringat kisah paginya yang manis
bersama anak anak dan Dea untuk pertama kalinya. ia tertawa kecil menertawakan kebodohannya karena berhasil di bodohi oleh wanita itu.
"pantesan aja dianya baik banget sama aku. rupanya.... akh... Dea... kamu...memang bener bener bikin aku pusing... ". dumel Justin seraya mengacak acak rambut ikal lembut nya.
"pufff... Midea... Jasmine". desahnya untuk melepaskan rasa penat di otaknya.
ia menghela nafasnya sesaat. ia teringat jika Dea tak memiliki uang sepeserpun. ia yakin bisa menemukan istri dan anaknya dengan cepat. karena pastilah Midea meminta bantuan pada orang orang yang ia kenal tepat nya yang ada di Sumatra.
atau jika pun tidak ada Dea di sana pastilah wanita itu bersembunyi di apartemen rahasia nya. mengingat barang barang branded milik istrinya itu ada di sana. dan ia yakin pastilah Dea akan menjual salah satunya untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari hari.
Justin tersenyum smirk karena merasa sudah mengetahui rencana di otak pintarnya dari seorang Midea atau Jasminka.
"fine sayang.. kamu mau main umpet umpetan kan sama aku. baiklah aku akan mengikuti permainan kamu". ucap Justin tersenyum lega.
lalu Justin keluar dari ruangan tersebut berniat ke kamar untuk mengistirahatkan tubuhnya. ia pun teringat pada paperbag yang belum ia turunkan dari mobilnya. ia pun segera ke garasi dan mengambil beberapa paperbag milik Midea yang ia hadiahi untuk istrinya itu yang ada di jok belakang.
...***************...
Hai readers...mohon dukungannya kembali untuk novel ke empatku ini ya?? dengan memberi like, vote, poin, fav, dan share link nya ya readers 😉
Dan jangan lupa follow akun ku di
Noveltoon Hazhilka 279
facebook Hazhilka
#Hazhilka
ig Hazhilka279
.
Terima kasih.
.