
Wellcome back my readers yang super duper caem dan cuakep. Selamat menikmati episode kali ini ya???. semoga enjoy 😉.
Fajar menyingsing di belahan bumi sumatera barat. Supir taxi travel merasakan kelegaan saat minibusnya sudah memasuki sebuah kota yang amat di tunggu tunggu oleh salah satu penumpang kecil nya yang berceloteh dari selepas maghrib hingga melewati tengah malam. dan alhamdulilah sudah lima jam yang lalu bocah tampan itu tertidur pulas setelah selama terjaga mulut lucu bocah kecil itu berceloteh menanyakan kapan mereka akan tiba di rumah neneknya.
"alhamdulillah sudah sampai kita di kota pdg kak. Si kecil pasti senang kali begitu bangun udah sampek di rumah neneknya". Celetuk sang supir.
"oi bocah ganteng. Bangun kau udah sampek kita di rumah nenek kau ni bocah". seru sang supir saat melirik Dean dari kaca spionnya yang masih tertidur pulas di paha bundanya.
"ngantuk berat kayaknya dia ya kak" celetuk sang supir kembali memecah keheningan pagi.
"iya bang. tadi malam kan baru jam satu dia tidur lagi. wajarlah kalau jam segini dia masih mengantuk". Sahut Dea seraya tersenyum menatap putranya.
"iya juga sih". Sahut sang supir yang terus melajukan mini bus nya ke alamat rumah yang di sebutkan Midea barusan.
Selang beberapa menit kemudian mini bus tersebut pun memasuki kawasan perumahan sederhana yang bersih nan asri. Mini bus tersebut akhirnya berhenti tepat di depan sebuah rumah yang bernuansa putih dengan taman kecil sebagai penghias dari rumah yang di bangun di atas tanah seluas empat ratus meter persegi itu.
"udah sampek kak. Yang ini kan rumahnya?". Tanya sang supir tersebut.
"iya bang". sahut Midea.
Lalu sang supir tersebut menuruni barang barang milik Midea dan meletakkannya di depan pagar rumahnya Jasmine. Sementara Midea turun sembari menggendong Dean yang masih tertidur pulas.
"kak. aku tinggal ya. barang barang kakak cuma ini kan?".pamit sang supir tersebut.
"iya. Terimakasih ya". sahut Midea seraya masih menggendong Dean.
sepeninggalnya supir taxi travel tersebut Dea masih berdiri di antara dua rumah yang ia sendiri masih bingung mau memasuki rumah yang mana. Secara ia tidak memiliki kunci untuk memasuki rumahnya Jasmine.
Sementara tanpa Midea tau jika sepasang suami istri paru baya itu yang sudah terjaga semenjak subuh dan baru saja menyelesai kan jamaah fardhunya berdua saja, saat ini sedang memperhatikan Dea dari balik jendela gorden kamarnya.
Mereka adalah Danang dan Alma yang selama ini telah menolong Midea selama proses kehamilannya hingga wanita itu melahirkan.
"itu siapo ya yang dek. Kasihan jugo bawa bawa anaknyo". Ujar Danang pada istrinya.
"itu lah ambo juga lagi perhatikan itu siapo". Jawab Alma seraya terus memperhatikan dengan seksama wanita yang sedang menggendong seorang bocah laki laki yang berusia sepantaran dengan anaknya Jasmine.
Seketika pupil netranya melebar saat teringat akan putri angkatnya yang ia hubungi akhir akhir ini.
"Dea, Jasmine".pekiknya pelan seketika dengan hati penuh harap jika yang ia ucapkan memang benar adanya.
"siapo dek?". Tanya Danang penasaran saat mendengar pekikan istrinya.
"sepertinya itu Jasmine uda". Sahut Alma seraya beranjak keluar dari kamarnya dan berniat membuka pintu rumahnya.
"hah?. Yang banna dek?". Pekik Danang tak percaya.
"sepertinyo uda. Ayok lah. kito orang lihat dulu siapa yang berdiri di depan pintu rumah kito". ajak Alma pada suaminya agar mengikuti langkahnya.
tak ingin mengecewakan sang istri akhirnya pria paruh baya itu mengikuti langkah sang istri dan melihat sang istri membuka pintu depan rumah mereka lebar lebar. Lalu pasutri paru baya tersebut keluar dari rumahnya dan menghampiri Dea yang masih berdiri dengan kebingungannya menatap rumah Jasmine yang ada di hadapan rumahnya Alma.
"Dea, Jasmine". Alma memanggil perempuan yang ada di hadapannya.
Midea memalingkan wajahnya ke arah suara yang menyebut dua nama yakni dirinya dan Jasmine. Ia melihat tante Alma sedang ber -diri menatap diri nya seraya tersenyum dari teras rumahnya di susul Danang di belakang nya yang memandang heran pada dirinya.
"De Jasmine". Alma memanggil putri angkat nya kembali dengan nama tersebut dengan tersenyum haru.
"mama Alma. Papa Danang?!". Desisnya pelan dan nyaris tanpa bersuara sembari netra nya yang menatap rindu pada dua orang tua yang telah berbuat baik pada dirinya selama ini.
"De Jasmine". Alma memanggilnya kembali dengan netra yang mulai mengkristral.
"awak pulang nak?. Sini". Ucapnya sembari membuka lebar kedua tangannya menyambut wanita yang sudah di anggap anak baginya.
Dea menanggapi pertanyaan Alma dengan menganggukan pelan kepalanya sembari terus menatap wanita yang menjadi malaikat pertama yang menolongnya di saat ia sedang mengalami masa sulit dan sendirian.
Alma dan Dea saling mendekat lalu Alma dengan cepat merengkuh tubuh wanita yang masih menggendong bocah lucu yang masih tertidur pulas itu.
"Midea.....Jasmine ambo". Ucapnya untuk wanita yang ada di pelukannya.
Kali ini Alma sengaja memanggil Midea dan di ikuti dua kata tersebut. Agar wanita yang ada di pelukannya kini bisa merasakan bahwa pelukan dan juga kasih sayang yang ia beri kan saat ini adalah murni karena Alma benar benar tulus menyayangi wanita ini.
Bukan karena Jasmine atau pun Midea. Alma memanggil nama keduanya karena ia ingin Dea tau bahwa yang ia panggil saat ini sama berartinya dalam hidupnya.
"aduh Dee. sudah besar dia rupanyo. makin ganteng banna". Ucap Alma gemas sembari mengelus dan mencium ubun ubunnya Dean serta menoel gemas pipi gembulnya.
Sementara Danang yang sudah datang mendekat sedari tadi hanya bisa menunggu dua perempuannya yang saling melepas rindu dengan saling memeluk satu sama lain, meskipun sebagian tubuh cucu gantengnya terhimpit di antara dua perempuan yang sama sama saling mendekap haru itu.
Tentu saja hal ini membuat Dean merasa tak nyaman dan ia secara perlahan membuka sedikit kelopak matanya untuk mengintip apa yang terjadi di dunia nyata setelah ia keluar dari dunia mimpi.
Dean menggeliatkan tubuhnya di gendongan sang bunda saat ada seseorang yang menoel pipinya. Ia membuka matanya untuk mencari tau siapa yang telah berani mengganggu tidur nya yang terasa nyaman dalam dekapan sang bunda.
Saat ia membuka matanya, Seketika itu juga netranya menangkap sebuah wajah yang dulu nya paling suka membawanya ke sebuah peternakan kuda milik temannya dan melihat lomba balap kuda di even tertentu.
Dean mengangkat kepalanya hanya untuk memastikan penglihatannya dan ia juga turut memperhatikan pada apa yang terjadi di sekelilingnya saat ini yang keadaannya tiba tiba berubah yang dari sebelumnya ia berada di dalam mobil dan sekarang di hadapannya ada dua orang yang dulunya sering hadir menemaninya melangkah, mengajarinya bersepeda roda tiga. Mengajaknya ke kebun binatang dan juga mengajaknya berbelanja.
Dean mengucek ucek sendiri netra birunya untuk memastikan penglihatannya. Dean menatap sang bunda yang netranya tampak berair lalu ke Alma yang juga menampilkan netranya yang sama sama berair dengan sang bunda.
Kemudian ia menatap ke arah Danang yang tersenyum sumringah padanya. Dean pun memperhatikan keadaan di sekelilingnya untuk memastikan kembali bahwa ia telah kembali pulang ke rumah nenek dan atok nya.
"nenek. atok ". Panggilnya kepada Alma dan Danang.
...**************...
Hai readers...mohon dukungannya kembali untuk novel ke empatku ini ya?? dengan memberi like, vote, poin, fav, dan share link nya ya readers 😉
Dan jangan lupa follow akun ku di
Noveltoon Hazhilka 279
facebook Hazhilka
#Hazhilka
ig Hazhilka279
.
Terima kasih.