My D you are the first for me

My D you are the first for me
Menyalahi kesepakatan



Wellcome back my readers yang super duper caem dan cuakep. Selamat menikmati episode kali ini ya???. semoga enjoy terus 😉


kini kertas putih yang menempel di dinding itu telah berada di tangan nya bersamaan dengan mini kamera yang selama ini dengan bebas mengintainya di daam ruangan pribadi nya ini. ia meremas kuat wallpaper dan mini kamera tersebut dengan geram.


"Justin you are really bastard!!". desis Dea geram memaki mantan suaminya yang mulai kini akan ia anggap sebagai rivalnya. Justin memang sudah sangat keterlaluan kali ini.


rasanya ingin sekali ia maki maki lelaki itu secara langsung.


"akh... brengsek kamu Justin". pekiknya kesal.


"unda... unda... ".


suara Dean yang memanggilnya membuat Midea harus menghentikan kegiatan nya sejenak.


"ya Dee...kenapa sayang? ". tanya Dea saat bocah itu datang mendekat padanya.


"Dee.. mau mandi.. Dee kan beyum mandi unda. nih.. badan Dee bau". ujar Dean seraya mencium baju piyamanya.


Midea tersenyum lalu ia menggiring sang putra ke kamar mandi dan memandikan Dean di sana hingga selesai.


"kita jadi ke rumah nenek unda?". tanya Dean kembali saat bocah itu tak di antar sekolah hari ini.


"jadi sayang. tapi besok kita berangkatnya. jadi untuk hari ini kita harus cepat tidur biar besok pagi supir nya ga kelamaan nungguin kita karena kitanya terlambat bangun". jawab Dea seraya memijit mijit kepala Dean dengan minyak rambut khusus anak anak hingga selesai.


selesai ia membereskan penampilan sang putra. ia pun ke dapur untuk membuat kue dan cemilan ringan yang akan ia bawa untuk perjalanan nya besok. Dea sengaja memasak banyak cemilan untuk menghabiskan sisa bahan makanan yang tersedia di dapurnya.


tak lama kemudian Dean datang ke dapur dan mengambil beberapa bungkus cemilan ringan yang di simpan dalam lemari es. tak butuh waktu lama ia membuat cemilan dan juga kue yang berbahan dasar tepung tersebut.


satu harian ini mereka hanya menghabiskan waktu di apartemennya dan mempersiapkan segala sesuatunya untuk mereka berangkat besok pagi.


Satu harian itu adalah hari terakhirnya ibu dan anak itu menetap di kota ini. karena Midea telah memutuskan untuk pergi dengan cara menghilang dari pria itu. ia sengaja menyalahi kesepakatannya dengan Justin sama seperti Justin yang telah berulang kali menyalahi kesepakatan yang telah mereka buat selama ini.


jika di pikir pikir olehnya lebih banyak Justin yang menjadi penghianat di sini dari pada dirinya. karena itulah lebih baik ia tak usah. dan tak perlu lagi berhubungan dengan pria seperti Justin sekalipun dalam ikatan per- temanan.


Di sore ini Saat Dean lengah dalam menonton acara favoritnya di temani cemilan yang Dea buatkan dari sisa tepung yang ada untuk roti goreng yang di isi selai blueberry dan srikaya.


Dea menghabiskan seluruh bahan makanan yang ada


mulai sore ini ia mencobanya sekali lagi alat pendeteksi mini kamera tersebut di sebuah ruangan tamu yang ia perkirakan cctv rahasia itu pastilah mengarah ke pintu masuk dan keluar dari apartemen ini. dan benar saja alat tersebut bekerja dengan baik. ia menemukan kamera mini yang terpasang sama persis di kamarnya.


Dea mencabutnya dan mengumpulkan mini kamera tersebut dalam satu tempat dengan kamera mini yang tadi.


detik berlalu hingga waktu memasuki malam. Dea meminta Dean untuk tidur cepat malam ini.


"Dee.. ayok kita bobo. besok kan kita harus bangun pagi pagi. biar ga kesiangan sayang". Dea menghampiri Dean yang masih asyik bermain robot robotan nya di atas meja sofa ruang tv.


"iya unda.. ". sahut Dean patuh.


lalu bocah tampan itu memungut seluruh mainannya untuk di susunnya kembali masuk ke boxwarenya di mana terdapat mainan milik nya yang sudah di kemas rapi oleh Dea.


setelah selesai Dean menyusun kembali mainan miliknya barulah bocah itu meminta jatah susu malamnya pada sang bunda yang telah mempersiapkan sedari tadi.


"makacih unda.. nih ". ucap Dean sembari memberikan kedua pipi gembulnya untuk di ciumi Dea.


"mmuach...gemes deh sama anak bunda". ucap Midea seraya menoel hidung mancung sang putra.


dengan perlahan Dea bangun dari sisi bocah itu seraya membawa keluar botol susunya dari kamar dan langsung membersihkan botol tersebut dahulu sebelum ia kembali melanjutkan misi misinya kembali.


malam ini Dea berencana menuntaskan apa yang akan menjadi niatnya jauh jauh hari. jika dulunya Dea di persilahkan masuk ke dalam apartemen ini dalam keadaan semuanya masih rapi meskipun kotornya debu tak bisa menutupi sebuah bangunan yang di tinggal lama oleh pemiliknya.


maka ketika ia keluar dari apartemen ini pun ia harus merapikannya terlebih dahulu ter- masuk kamera kamera mini yang terpasang pada seluruh ruangan di apartemen ini.


akhirnya Midea menggunakan kembali alat pendeteksi tersebut untuk mencari kamera mini yang tersisa pada ruangan lainnya yang belum Dea periksa hari ini. Dea menargetkan malam ini ke seluruh ruangan dari apartemen ini haruslah benar benar bersih tanpa ada satu pun kamera pengintai yang tersisa.


Semua ruangan ia periksa dengan mengguna kan alat tersebut di ruang tv, di ruang bermain nya Dean bahkan di ruang dapur pun Dea dapati kamera pengintai tersebut.


"memang gila kamu Justin". gumam Dea di hatinya.


sebab ia tidak habis pikir pada pria itu karena di dapur pun bisa bisanya Justin memasang kamera pengintai ini di ruangan yang sering ia habiskan setiap waktu dan saat ia pulang bekerja.


itu berarti selama ini tak sehari pun dirinya bebas dari pengintaian Justin. seluruh kegiatannya dalam apartemen ini sudah di awasi oleh pria bengsek itu. Midea semakin meradang tatkala melihat sekumpulan mini kamera tersebut di dalam sebuah keranjang sampah.


ia membawa keluar keranjang sampah yang berisi kamera mini tersebut ke arah balkon lalu mengumpulkannya menjadi satu di sudut balkon tersebut. dengan kesal ia memukul mukul mini kamera tersebut di ujung teras balkon dengan menggunakan palu kecil.


Dea meluapkan amarahnya ke tumpukan mini kamera tersebut. bahkania pun tak lupa untuk merekam kegiatannya saat ini dengan ponsel nya. rasa benci, kesal dan amarah meluap menjadi satu saat ia memukul mukul kamera tersebut hingga hancur berkeping keping tanpa ada sisa sedikit pun untuk bisa di guna kan atau pun perbaiki lagi.


Midea sudah merasa muak dengan apa yang di lakukan Justin selama ini. pria itu sedari dulu memang tak pernah memberikannya sedikit pun rasa aman apa lagi nyaman dalam hidupnya.


"brengsek kau Justin". makinya saat kamera terakhir telah berhasil ia hancurkan menjadi kepingan yang terkecil.


lalu ia memandang murka ke arah ponsel yang sedang merekam dirinya sendiri. Midea mengacungkan satu jari tengahnya pada kamera ponselnya.


"you are son of ***** Justin". ( kamu bajingan Justin)". ucap Midea dengan sinis.


tugasnya selesai malam ini. seluruh ruangan telah ia sterilkan dari kamera pengintai yang di pasang Justin. sisa sisa wallpaper coba ia rapikan kembali dengan mengecat dinding itu kembali dengan menggunakan cat dinding sisa yang tersimpan di ruang laundry.


untunglah seluruh ruangan di apartemen ini menggunakan warna senada. sehingga Dea tak perlu repot repot lagi harus membeli atau pun mengecat dinding dinding yang sompel karena ulah mantannya itu. ia hanya cukup mempolesnya di bagian sompel tersebut.


"selesai". desisnya saat di bagian terakhir ruangan telah ia rapikan.


setelah selesai ia merapikan seluruh ruangan akhirnya ia pun memilih untuk mengistirahat kan tubuhnya sebab ia harus bangun pagi pagi untuk berkemas pergi dari sini secepat mungkin.


...**************...


Hai readers...mohon dukungannya kembali untuk novel ke empatku ini ya?? dengan memberi like, vote, poin, fav, dan share link nya ya readers 😉


Dan jangan lupa follow akun ku di


Noveltoon Hazhilka 279


facebook Hazhilka


#Hazhilka


ig Hazhilka279


.


Terima kasih.