My D you are the first for me

My D you are the first for me
menginta dua D kembali 2



Wellcome back my readers yang super duper caem dan cuakep. Selamat menikmati episode kali ini ya???. semoga enjoy 😉


Di pagi buta,


di saat sebagian manusia masih terlelap dalam tidurnya. Justin kembali menghilang dari kamar hotel yang di naunginya bersama adek sepupunya. setelah ia melaksanakan fardhunya di sebuah masjid yang tak jauh dari lorong perumahan yang di diami dua D nya. pria itu kembali melanjutkan misi paginya hari ini sebelum kepulangannya kembali ke Mdn.


sebenarnya ia masih ingin tinggal di sini lebih lama lagi. akan tetapi jadwal kerja yang tidak bisa terelakkan lagi mengharuskan ia harus kembali sore ini. di karenakan besok pagi pagi ia harus bersiap siap berangkat dari Mdn untuk melakukan pertemuan dewan direksi di kantor pusat pada pukul sepuluh pagi.


kini sudah hampir satu jam Justin duduk di dalam mobil nya seraya memainkan ponsel nya. dan ia pun kembali mengaktifkan mode silent pada ponselnya agar tidak menimbul kan suara yang dapat di curigai oleh dua sosok yang ia tunggui saat ini.


beberapa menit kemudian..


suara gesekan pintu pagar dari rumah yang di diami oleh Dea dan Dean. ia melihat sosok kecil nan gembul keluar dari sana lalu berjalan dan menyebrang bebas ke rumah yang ada di hadapannya dengan riang.


"Dee??!". pekiknya pelan sembari tersenyum.


ia memperhatikan polah tingkah putranya yang lucu itu saat memasuki halaman rumah yang ada di hadapannya.


"Assallmualaikum nenek". teriak Dee saat berhasil membuka pintu rumah tersebut.


lalu putranya itu pun menghilang dari balik dinding rumah bertipe sama dengan rumah yang di diami Midea.


"apakah ini rumah mamanya Jasmine?". tanya nya di hati.


selang beberapa menit kemudian muncullah sosok cantik dan manis bahkan masih terlihat imut dalam balutan kemeja selutut dengan celana kain yang menguncup di ujung kakinya serta balutan hijab yang menutupi rambut asli Midea yang indah membuat wanita beranak satu itu seperti perempuan yang belum menikah saja.


Justin terpekur menatap wajah yang pernah ia kecup dalam tidurnya ketika mantan istri nya itu sedang di rawat di sebuah rumah sakit di kota Melbourne. bukan hanya itu saja, satu malam indah yang pernah ia lalui bersama Midea terngiang kembali di benak nya kini.


Justin membayangkan sesuatu yang indah dan juga sexy yang tersembunyi di balik kemeja putih milik mantan istrinya itu.


"akh.. ****.. ". makinya saat ia merasakan sesuatu bergerak bangun secara perlahan dan kini mengeras padat di bawah sana.


ia menarik dalam nafasnya untuk menetralisir hasratnya yang tiba tiba datang mengganggu saat ia melihat Midea pagi ini. apa lagi s ia melihat senyumnya Dea yang terlihat natural saat wanita itu melihat putranya keluar dari rumah yang ia teriaki nenek. wanita itu pun menghampiri sebuah mobil yang bergerak keluar dari rumah yang di masuki Dean tadi nya.


mereka memasuki mobil yang di supiri oleh seorang pria paruh baya yang berusia hampir sama dengan ayah mertuanya. Justin berfikir kemungkinan itu adalah suami dari si ibu yang duduk di samping pria yang sudah memasuki usia lima puluh tahunan itu.


setelah semua masuk ke dalam mobil. mobil yang di tumpangi Midea semalam bergerak perlahan meninggalkan dua rumah yang ber cat putih itu dalam keadaan kosong untuk sementara waktu.


Justin mengikuti mobil yang berwarna hitam tersebut sepanjang jalan hingga mobil ter -sebut berhenti di depan sekolah taman kanak kanak yang memiliki taraf standar terbaik di propinsi ini. ia melihat putranya itu memberi kan salam pada semua yang mengantarnya pagi ini.


"seandainya Daddy memiliki kesempatan lagi untuk bisa mengantarkan kamu ke sekolah di setiap paginya. betapa beruntung dan senang nya hati Daddy sayang". gumamnya seraya menatap langkah kecil sang putra yang memasuki kelasnya dari kejauhan.


Justin menghela nafasnya sesaat untuk menetralisir perasaan hatinya yang mulai melow. ia melajukan kembali mobilnya ke sebuah hotel di mana Satria menunggunya dengan wajah dingin dan datar.


"udah ga usah di tekuk gitu wajahnya. jelek tau. ni makan rotinya dulu buat mengganjal perut. abang mandi dulu ".komentar Justin pada Satria seraya meletakkan satu paket roti siap saji beserta dua hot cup coffe.


"lain kali ponselnya di angkat kenapa sih bang kalau aku telpon".ujar Satria datar.


Justin melirik Satria sekilas lalu menjawab


santai dengan kata "iya". dan menghilang di balik pintu kamarnya. sementara Satria hanya menatap jengkel pada abang Sepupunya yang saat ia kecil menjadi salah satu panutan hidupnya hingga saat sebelum terungkap kasusnya Midea Jasmine, mantan istrinya.


"puff.. gitu lagi.. gitu lagi". dumelnya kesal.


lalu ia melirik ke sebuah bungkusan plastik yang berisi makanan berupa kopi dan roti. sebenarnya yang ia inginkan adalah sarapan berupa yang berbahan dasar dari beras entah itu berupa nasi, bubur atau pun lontong sayur.


Tetapi karena perutnya sudah keroncongan sedari tadi akhirnya ia mengganjal perutnya dengan menyantap sebuah roti yang berisi kan selai kacang merah di dalamnya.


"hehehe.. laper berat ya dek?. maaf ya kalau abang kelamaan". ucap Justin terkekeh.


"ayok kita ke bawah". ajak Justin pada Satria.


"sebenarnya abang kemana sih tadi. pagi pagi udah menghilang aja".tanya Satria penasaran.


"terus katanya abang mau lanjutin soal cerita yang sengaja abang gantungin semalam. mana??. malah abang pergi pagi pagi". lanjut nya sewot.


Justin tersenyum kecil mendengar omelan adik sepupunya.


"oiya kamu mau sarapan di mana? ". di tempat kemaren atau kita ke Sumatera aja langsung". tawar Justin yang sengaja mengalihkan pem -bicaraan.


Satria berdecih kesal.


"iss apaan sih ni orang. kita lagi ngomongin yang semalam juga malah di alihkan ke topik yang lain". dumel Satria di hatinya.


beberapa saat kemudian...


Satria dan Justin duduk berhadapan pada sebuah kantin sekolah di mana beberapa guru muda tengah melirik dan tersenyum senyum sipu pada mereka karena seumur umur baru kali ini kantin mereka kedatangan tamu pria yang tampan dan rapi jeli seperti bos bos di serial drama korea dan turki yang mereka ikuti.


"amboi.. rancak banna tu si uda uda. kayak aktor luar negri sajo". celetuk salah satu guru yang baru saja menyelesaikan tugas kurikulumnya .


"iyo uni. kiyut banna yo unni". timpal lainnya.


meskipun mereka menggosipkan dua abang beradik itu dalam mode bisik bisik tetangga, akan tetapi cukup di dengar oleh Justin dan Satria.


sementara Satria melirik ke arah guru guru muda tersebut seraya memberikan sedikit senyuman serta anggukkan sebagai tanda penghormatan terhadap sesama pengajar. sedangkan Justin justru menilai hal tersebut lain di matanya.


"nanti abang adukan ke Retha ya. kalau kamu tebar tebar pesona di sini". ancam Justin seraya menatap datar pada adiknya itu.


sontak hal tersebut membuat Satria langsung mendelikkan kedua netra sipitnya dan berkata kesal.


"apaan sih bang!".


.Lanjut ke next chapter ya readers


...****************...


Hai readers...mohon dukungannya kembali untuk novel ku ini ya?? dengan memberi like,pp vote, poin, fav, dan share link nya ya readers 😉


Dan jangan lupa follow akun ku di


Noveltoon Hazhilka 279


facebook Hazhilka


#Hazhilka


Ig Hazhilka


youtubenya Hazhilka279


Terima kasih.