
"Hai readers I am coming back. Selamat membaca kembali..
Beberapa menit yang lalu adalah masa masa kebahagiaan miliknya Qanita dan juga timnya yang telah berhasil menampilkan karya karya nya dari beberapa karya terbaiknya pada dunia. tinggal satu hari lagi langkah Qanita untuk bisa di katakan berhasil seratus persen menuju pengakuan dunia akan karya karya nya itu.
akan tetapi siapa sangka jika setelah ini. Qanita harus di hadapkan kembali dengan situasi yang membuatnya harus kembali di resahkan atas insiden ini.
"uni". Panggil Alma kembali pada wanita itu.
"ya ma. gimana kakinya Nesha?". Tanya Qanita kawatir.
"Nesha harus di rawat uni. Dia mengalami keseleo. Liat tu kakinyo sajo sudah bengkak begitu". Ujar Alma saat melirik ke arah Nesha yang masih mengeluh rewwl karen Kakinya.
"ya udah lakukan saja yang terbaik ma". Ucap Qanita.
"tapi ambo perlu perban elastis". Ujar Alma.
"biar aku carikan tante". Jawab Arjun dan langsung pergi ke apotik untuk mencari perban yang di minta Alma.
Lalu Alma kembali ke kamarnya untuk mengambil kotak p3k miliknya yang sengaja ia bawa dari rumah untuk persediaan di saat hal hal begini. tak lupa ia mengecheck Dean yang masih tertidur pulas di sana untuk me -mastikan bahwa keadaannya baik baik saja selama ia tinggali beberapa menit yang lalu.
Alma kembali ke kamarnya Qanita untuk mengobati kakinya Nesha dengan mengolesi kembali gel pereda nyeri dan membalutnya denga perban elastis sebelum di bawa ke rumah sakit untuk di periksa lebih lanjut oleh Dokter yang bersangkutan.
Sementara Midea sedang di rundung gelisah saat tak satu pun dari nomor yang ia hubungi mau mengangkat telponnya.
"duuh mama kemana sih?". Knp ga bisa di hubungi ya. Si Arjun pun sama?". Tanyanya di hati sembari mem bolak balikkan ponselnya.
***
di ruangan dokter ortopedi
"rehat dulu ya barang seminggu". Ucap sang dokter.
"hah??. Seminggu dok??". Pekik semua yang hadir menemani Nesha.
"ya". Sahut Dokter tersebut.
"termasuk saya juga dok?". tanya Neeha yang juga merasa harus di istirahatkan oleh dokter tersebut.
"oh kamu...ya engggak. Kan cuma sakit di pinggangnya aja kan. Itu pun karena ketimpa sama kakak kamu kan?". Ucap sang Dokter yang sebelumnya menanyakan kronologi kejadiannya sebelum ia memeriksa lebih lanjut.
"iya dok". Sahut Neeha.
"apa ga ada obat yang bisa bikin aku cepat jalan dok?".tanya Nesha tiba tiba.
Tentu saja ia merasa kecewa akan keputusan dari dokter tersebut.
"ya istirahat seminggu". tukas sang dokter ortopedi tersebut menegaskan pada pasien nya itu.
Tentu saja hal ini membuat Nesha dan lain nya merasa kecewa. terutama Qanita yang ikut menemani Nesha ke dokter saat ini. yang sedari tadi merasakan gelisah karena insiden yang terjadi pada Nesha.
Ia merasa kecewa atas vonis dokter yang mengharuskan gadis itu beristirahat selama seminggu. Itu artinya ia harus kehilangan salah satu model terbaiknya saat ini yang di mana model tersebut menggunakan gaun per nikahan yang berwarna berbeda dari warna gaun yang hampir senada dengan gaun per -nikahan pada umumnya yang berasal dari Negaranya.
"aunty gimana ini aunty?". Rengek Nesha pada auntynya itu.
"ya udah sabar aja ya dulu". sahut qanita untuk menenenangkan ponakannya itu.
Meskipun saat ini ia tengah memikirkan cara untuk menyelesaikan permasalahan ini. sementara Arjun tau jika auntynya itu saat ini tengah lagi di rundung gelisah. Bahkan Sepanjang perjalanan kembali ke hotel aunty nya itu lebih banyak diam dari biasanya.
Sepeninggalnya Qanita dan Arjun ke rumah sakit untuk membawa Nesha. Alma kembali ke kamar untuk melihat Dean kembali. Dan syukurlah balita itu masih saja tidur dengan pulasnya.
Suara dering ponselnya Alma kembali ber - dering panggilan masuk dari Midea membuat nya segera menerima telpon dari anaknya itu.
"ma". Panggil Dea saat wanita paruh baya itu mengangkat ponselnya.
"Ya De". Sahut Alma.
"tantemu ada masalah De?". Jawab Alma.
"masalah apa?". Tanya Dea penasaran.
"itu si Nesha sama adeknya jatuh. Jadi kaki nya keseleo gitu lah". jawab Alma.
"ohh..sudah di bawa ke dokter merekanya tante?". tanya Dea perhatian.
"sudah De. Mungkin sebentar lagi mereka pulang ke hotel". jawab Alma.
"ohh.. Syukurlah mereka tak apa apa". Sahut Dea.
***
sesampainya di hotel. Qanita dan Arjun membawa ponakannya itu untuk beristirahat di kamarnya masing masing. Qanita kembali ke ruang Family suitnya di susul Arjun di belakangnya.
Ia hanya mengikuti langkahnya Qanita memandangi gaun yang berwarna tosca terpasang pada sebuah manikin lengkap dengan selendang yang menjuntai ke bawah yang bisa jadi akan menyapu lanta.
Selendang panjang yang tadinya masih banyak ruang yang kosong kini telah terisi penuh dengan hiasan payet yang berwarna senada dan campuran kuning keemasan yang menambah eksotik pada kain sutra yang menyejukkan mata.
"pada hal gaun ini akan menjadi salah satu gaun terbaikku besok di mana aku mencurah kan seluruh tenaga dan pemikiranku di sana". gumamnya sendu di dalam hatinya.
"haruskah gaun ini aku simpan di butik ku untuk selamanya?. tanpa ada yang tau jika ia ada. hanya bisa terpajang di sebuah manikin dan terpampang dalam sebuah butik biasa". desahnya resah.
Ia menghirup dalam dalam oksigennya untuk melegakan pernafasannya yang kini terasa sesak. tak sanggup menahan, ia menunduk dan menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"aunty". Arjun memanggil adik dari ibunya itu seraya merangkul membawanya untuk duduk di sebuah sofa yang berada dekat dengannya
"duduklah aunty. tenangkan diri aunty dulu". titah Arjun seraya menuangkan air putih dalam gelas yang telah di sediakan pihak hotel.
"minumlah aunty". titah Arjun seraya memberi kan gelas yang berisi air putih tersebut pada auntynya.
Qanita mengambil gelas yang berada di tangan Arjun alu meminumnya perlahan hingga habis.
"makasih Jun". Ucapnya seraya memberikan gelas itu kembali pada ponakannya.
"aunty. aunty harus tenang ya. kita coba cari solusinya besok". Ujar Arjun menenangkan hati tantenya itu.
"sekarang ini aunty lagi bingung. Anty ..aunty ga tau harus ngapain lagi besok Jun. apa aunty menyerah saja pada gaun yang satu itu?". ia meminta pendapatnya Arjun.
"apa aunty yakin?". Bukannya kemarin itu aunty bela belain membeli kain sutra mahal itu hanya untuk di tampilkan khusus acara besok?". tanya Arjun memastikan.
Sebab ia sangat menyayangkan atas apa yang di dengarnya barusan. Kain sutra yang begitu halus nan eksotik itu adalah kain sutra yang tergolong langka jika menyangkut warna nya. dan bahkan jarang jarang di gunakan untuk sebuah gaun pernikahan khas asia selatan yang nota benenya keseringan kain saree yang berwarna merah menyala.
"ya awalnya memang begitu jun. dan itu pun fitingannya hanya ukuran tubuhnya Neesha. gimana coba aunty ga panik saat ini". sahut Qanita lemas seperti hilang semangat.
"hemm...susah juga ya aunty. Kecuali ada seseorang yang ukuran tubuhnya sama seperti si Neesha ya aunty". Desah Arjun yang juga seperti pasrah tapi belum menyerah.
mereka berdua terdiam sejenak dengan pemikiran yang sama sama mencari solusi untuk penampilan besok. Lalu tiba tiba kedua nya teringat pada seseorang dan..
"De Jasmine???!". Pekik keduanya dengan saling menatap satu sama lain.
Yok ke next chapter ya reader..
The next chapter
Abang Justin yang tanpa sengaja bertemu dengan Midea kembali. Apakah ia akan menghindari Midea?. Demi janjinya pada wanita itu dan juga putranya. Atau ia nekat menyapa Midea seolah tak pernah terjadi apa apa pada hubungan mereka?
****************
Hai readers...mohon dukungannya kembali untuk novel ku ini ya?? dengan memberi like,vote, poin, fav, dan share link nya ya readers 😉.