
"Wellcome back my readers yang super duper caem dan cakep. Selamat menikmati episode kali ini ya???.semoga enjoy... 😉.
Justin mengintip dari celah pintu yang sengaja ia buka pelan pelan di saat anak anaknya berada di ruang bermain dan sedang asyik menonton video tutorial dalam menyusun lego lego yang sengaja mereka serakkan ke lantai agar mudah dalam memilih nya.
Justin menutup kembali pintu tersebut. Dan berharap kedua anaknya bisa bermain dengan leluasa tanpa nantinya terganggu oleh suara perdebatan mereka berdua nantinya.
Kali ini ia ingin menasehati Midea lebih tegas akan adabnya pada papa kandungnya. Ia ingin wanita itu sadar bahwa apa yang di lakukan oleh wanita itu barusan adalah salah.
Meskipun Justin memaklumi jika Midea bersikap tak mengenali sang papa. Itu di karenakan wanita itu sedang bingung dengan keadaan dirinya yang sekarang. Yang memang hingga sekarang pun Midea belum memiliki gejala untuk mengingat kembali atas peristiwa masa lalunya.
Justin menyusul Midea ke dapur dan segera menutup pintu dapur agar suara mereka tak terdengar hingga di ruang bermain anak anak. Justin menatap mantan istrinya yang sedang memunggunginya dengan tangan yang sedang menggenggam sebuah mug gelas berisi lattenya.
"De".panggil Justin pelan pada wanita yang sedang menatap keluar jendela dapur yang ada di hadapannya.
Dea hanya bergeming sembari menyeruput lattenya tanpa menoleh Justin sedikit pun. Sungguh kedatangan orang tua itu kemarin pagi membuat moodnya jadi berantakan di tambah lagi kehadiran Justin ke rumah secara mendadak. belum lagi pake acara drama menginap tanpa ijin darinya. eh malah pria itu berulah dengan memaksanya harus menerima telpon dan berbicara pada pria asing yang datang datang mengaku sebagai orang tua kandungnya.
Sumpah dalam waktu bersamaan selalu saja dua pria yang sama merusak moodnya setiap kali bertemu.
"Midea!". Panggil Justin lebih keras saat ia tahu jika wanita itu memang sengaja mengabaikan dirinya.
"ya". Sahut Dea seraya melirik Justin sekilas.
"aku mau bicara". Ujar Justin.
"ya bicara aja. Memangnya mau bicara apa?!". Sahut Dea datar seraya melirik Justin sekilas lalu kembali menyeruput lattenya dengan santai.
"soal yang tadi". sahut Justin sembari menunggu responnya MiDea.
"yang mana?". Tanya Dea berpura pura tak mengerti arah pembicaraan Justin.
"jangan pura pura De. Aku rasa kamu cukup tau dan tidak berlagak pikun atau pun amnesia akan siapa yang aku maksudkan dalam pembicaraan kita ini". Ujar Justin.
Midea hanya bisa tersenyum miring dalam menanggapi setial kalimat yang di lontarkan justin barusan.
"bukannya kamu tau jika itu adalah tindakan yang tidak sopan terhadap orang tua. Apa lagi itu adalah papa kandung kamu De. Beliau pingin banget bisa ngobrol sama kamu, putri kandungnya". tegur Justin tegas pada wanita yang sedang menatap keluar jendela itu dengan santai.
"sudah kamunya tidak bisa di ajak pergi untuk menemaninya nyekar ke makam mama kamu tadi malam. setidaknya malam ini bisa lah beliau mendengarkan suara putri kandung nya meskipun hanya melalui telpon saja De". Lanjutnya
"mau ngobrol tentang apa?. Palingan Cuma mau kasih tau kalau bapak itu udah nyampe ke kota tujuannya. Sudah kan itu saja. Dan itu pun aku sudah tau". Sahut Dea santai tanpa ada merasa beban bersalah.
"De??!". Pekik Justin tak percaya jika Dea akan berkata sedemikian ketusnya terhadap papa kandungnya.
Justin pikir setelah ia memperingatkan akan kesalahan Dea. Wanita itu akan sadar dan merasa bersalah karena sikapnya barusan. Nyatanya Midea memang tak perduli sama sekali akan kekecewaan yang di alami oleh papa kandungnya itu akan sikap dan penolakan dari putri kandungnya sendiri.
"De. Itu Papa kamu. Orang tua kandung kamu yang masih ada satu satunya di dunia ini". Tegur Justin.
"itu bukan papa ku tetapi papanya Jasmine".bantah Midea.
"Midea!. Kamu ngomong apa?". Bisa bisanya kamu ngomong gitu. Jasmine itu ya kamu lah. Ya diri kamu sendiri". Justin kembali tegas mengingatkan Midea.
"aku ga ngerasa". Sahut Dea datar.
"oh ya??!. kalau gitu kenapa kamu dulunya bersikukuh mengaku ngaku padaku jika kamu adalah Jasmine saat aku menemukan fakta tentang Jasmine dan meminta kamu untuk mengakui segala nya. Sekarang kenapa kamu memungkiri segalanya De". jelas Justin panjang lebar.
"Seharusnya kamu bersyukur masih di beri kesempatan untuk bertemu dan mengetahui siapa orang tua kandung kamu De". Justin kembali memperingatkan wanita itu kembali.
Midea bergeming mencerna kata katanya Justin barusan. Sebenarnya Ia masih bingung dengan keadaan dirinya sekarang ini. Keadaan di mana ia di paksa untuk menerima sesuatu yang tidak bisa di terima di fikiran dan hatinya saat ini.
"De. Jika kamu belum bisa membahagiakan beliau setidaknya jangan bersikap kasar atau acuh padanya. Berbasa basilah meskipun hanya sekedar menanyakan keadaannya". Ujar Justin menasehatinya kembali.
Justin masih melihat Midea masih terdiam dan belum menunjuk kan reaksi apa pun terhadap pernyataan. entah Mungkin wanita itu sedang berfikir akan nasehatnya dan juga menyadari akan kesalahannya. Justin pun berharap demikian.
"setidaknya minta maaflah pada papamu malam ini. Bicaralah padanya agar ia bisa menyampaikan sesuatu di makam mamamu besok tentang anaknya". pesan Justin.
Lalu Justin mengeluarkan ponselnya dan berniat menelpon Jason. Agar ayah dan anak itu bisa saling berbicara meskipun hanya melalui ponsel.
"ini papamu. Bicaralah padanya. Dan minta maaf sebelum kamu menyesal kemudian De". Titah Justin seraya mendekati Midea yang masih bergeming menatap ke arah luar jendela dapurnya.
"jangan sampai nanti kamu menyesalinya". Lanjut Justin memperingatkan Dea kembali.
"De". Panggil Justin seraya memberikan ponselnya.
akan tetapi langsung di tolak oleh Midea saat itu juga.
"jangan paksa aku Justin". Ketusnya.
"aku ga maksa De. Tapi aku mohon untuk kali ini aja. katakan sesuatu pada papamu De. Dia butuh kata kata dari kamu untuk bisa ia sampaikan pada makam mamamu De. tolong De. Aku melakukan ini untuk mengingatkan kamu agar Setidaknya kamu jadi anak ga durhaka durhaka banget." bujuk Justin pelan.
"hah?". Apa ?". Durhaka?". tunggu maksudnya gimana aku ga ngerti. Beneran sumpah?". Tanya Dea tak mengerti akan tetapi ia tau maksud dari kata durhaka.
"aku rasa kamu sudah cukup mengerti apa yang aku maksudkan De. Dan kita jangan ber debat lagi. Setidaknya kita mengalahlah pada mereka meskipun terkadang kita masih sulit menerimanya. lagian papa kamu telah kehilangan anak anaknya. Karena itu saat ia menemukanmu papa kamu sangat bahagia De". Justin menjelaskan panjang lebar.
"oh ya???. Benarkah begitu??" tanya Midea seraya memicingkan kedua netra pekatnya.
"ya. dan itu terlihat di matanya saat aku melihat beliau memberikan kesaksian atas kasusmu dan juga setiap bertemu dengan papamu dan membicarakan tentang kamu. Dan yang terakhir. Di saat aku mengantarkan bunda Astrid ke terminal untuk menyusul beliau. Netranya terpancar rasa kecewa saat ia gagal membujuk kamu untuk ikut bersama nya hanya demi berziarah bersama di makam nya mama kamu".jelas Justin panjang lebar.
"semua itu menunjukkan jika beliau bahagia bertemu dengan kamu De".
"oh begitu" sahut Midea seraya tersenyum miring.
"lalu bagaimana jika saat itu putrinya yang lain masih hidup? tepatnya Namira?". Apakah perlakuan kalian ke aku apakah akan sama?. Hah?". cetus Midea yang dengan sengaja memojokkan Justin seraya menatap ke netra Justin untuk melihat kejujuran di netra yang sama dengan putranya.
"Midea". Desis Justin dengan pupil netraya yang melebar.
...**************...
Hai readers...mohon dukungannya kembali untuk novel ke empatku ini ya?? dengan memberi like, vote, poin, fav, dan share link nya ya readers 😉
Dan jangan lupa follow akun ku di
Noveltoon Hazhilka 279
facebook Hazhilka
#Hazhilka
ig Hazhilka279
.
Terima kasih.