My D you are the first for me

My D you are the first for me
Dua D yang doyan martabak



Wellcome back my readers yang super duper caem dan cuakep. Selamat menikmati episode kali ini ya???. semoga enjoy 😉


Rendy memperhatikan tiga porsi martabak ala khas asia selatan itu. Seketika itu juga ia pun tersenyum geli dan terkekeh kecil sembari geleng geleng kepala. Sedangkan Arjun dan Sagita langsung melirik Rendy dan serentak bertanya mengenai tingkah Rendy saat ini.


"kenapa Ren?". Tanya keduanya.


"aku ingat si dua D". jawab Rendy singkat.


Ia tersenyum lebar menatap kedua temannya yang masih memasang raut wajah keheranan melihat dirinya saat ini.


"si Dea sama si Dee?". Tanya Arjun untuk memastikan.


"iya". Sahut Rendy.


"memangnya kenapa Ren? ". tanya Sagita penasaran.


"aku pernah ngajak si Jasmine itu sama anak nya makan kayak di kedai kopi kek gini juga. aku pesankan martabak juga buat kami selain makanan berat lah". ujar Rendy.


"aku pikir si Dee makan satu porsi martabak nya bakalan cukup. Eh ga tau nya si bocah malah minta tambah lagi". Lanjutnya.


"cuma waktu itu karena aku ajak mereka pas waktu weekend emang. Rame kali lah yang datang. Ngantri pulak lagi pesanannya. Tak sabaran dia. Dia Minta pulak punya aku yang masih utuh. Pada hal sebelumnya si bunda nya udah di tawarin punya dia untuk si Dee juga. Tapi karena di lihatnya punya bundanya udah setengah tak mau lah dia hahahaha. lebih milih ambil punya aku dari pada punya bundanya". Kekeh Rendy menjelaskan secara detail peristiwa minggu lalu.


Mwndengar cerita Rendy tentang tingkahnya Dee tentu saja sontak membuat keduanya tertawa geli secara bersamaan.


"ya ampun. itu bocah doyan apa laper ya?". Kok bisa ya dua porsi ukuran normal dari martabak di habisinnya sendiri". Celetuk Gita geli saat membayangkan gimana penuhnya mulut bocah yang berusia tiga tahun itu dengan makanannya.


"entah. aku pun heran. Mungkin karena dulu si bundanya makan dua porsi martabak kali saat ngidam dulu". sahut Rendy.


"iya. Itu memang betul kali Ren. Dulu waktu hamilnya si Dee. Si Dea sukak kali makan dua porsi martabak tiap kali aku buat martabak di restorannya tante Alma". Timpal Arjun mem -benarkan kalimatnya Rendy.


"oiya..iya...iya...aku ingat ..aku ingat ...waktu itu aku pernah ngajak dia jalan jalan habis tutup restoran sampe tengah malam kek gini lah. aku ngajak dia di tempat martabak yang satu lagi itu Jun". Ujar Rendy.


"oo yang di M A ??".tanya Arjun memastikan.


"iya..iya.. betul. Aku pesankan untuk dia martabak khas dari resto itu juga. Aku pikir si Dea cukup makannya satu porsi. Eh tak tau nya dia minta satu porsi lagi malam itu. Yah aku maklumin aja lah mungkin karena lagi berselera dianya makan kek gitu di tambah saat itu Dea lagi hamil". Tukas Rendy lugas seraya tersenyum lebar.


"wah patutlah si bocah doyan martabak". Celetuk Gita menimpali obrolan dua pria muda itu.


"ngomong ngomong kenapa tak kau ajak si Midea gabung sama kita malam ini? ". tanya Sagita.


"ada tadi ku tanyain juga. cuma jawabannya lama kali. aku pikir karena tak mungkin juga lah dia tinggalkan si Dee sendirian di rumah. sayang kalilah. terbangun dia tengah malam tak ada orang nangislah dia". ungkap Rendy.


ia teringat saat Dee menangis keluar dari kamar hotel sendirian lantaran di tinggalkan Midea yang harus berbelanja memenuhi kebutuhan Restoran lantaran tante Alma sedang pergi memenuhi undangan teman sejawatnya dulu di luar kota.


"iya pulak sih". sahut Arjun membenarkan saat teringat Dean yang pernah di diamkan oleh salah satu pengunjung restoran saat itu yang ternyata adalah nenek kandung dari bocah itu sendiri.


(baca kisah selengkapnya di novel kedua ku yang berjudul She is my Dea ( mengejar istri gila). eps pandangan pertama, ketika Dean bertemu..., dua nenek cantik yang kepo. jangan lupa tinggalkan jejak ya di sana)


"jadi Dee kalau bangun tidur harus ada seseorang yang di sampingnya dong". timpal Gita.


"ya begitulah". sahut keduanya.


"tapi itu anak emang lucu. menggemaskan". celetuk Sagita jujur.


ia teringat saat pertama kali bertemu Dean di acara syukuran keluarga Ardiansyah dan mengenalkan MyKehl Deansyah sebagai bagian dari anggota keluarga.


"hehe iya". Sahut keduabya.


lalu mereka saling diam dan memilih untuk menikmati makanan mereka masing masing.


akan tetapi tanpa mereka semua ketahui jika ada dua orang pria dewasa yang sedari tadi mencuri dengar obrolan mereka. di mana salah satunya tengah mengepal erat kedua tangannya menahan amarah yang semakin bergejolak dalam dadanya.


Flashback satu jam yang lalu...


Justin dan Satria berjalan kaki dengan santai untuk menikmati Suasana di tengah malam dari kota yang mereka pijaki kini.


"mau makan di mana bang dan mau makan berat apa ringan atau setengah berat. Hehe?". Tanya Satria seraya terkekeh.


Ia mencoba mengeluarkan kata kata guyonan untuk mencair kan suasana yang di rasanya kaku karena sedari tadi berjalan mereka hanya terdiam dan sesekali Justin bertanya


"itu tempat apa ?" saat pria itu melihat sebuah bangunan yang belum di beri nama.


"itu mau di bangun apa?". Saat abangnya melihat sebuah bangunan proyek yang masih dalam tahap pengerjaannya.


"dan hingga akhirnya berapa sering kamu dulunya ke sini sama Retha?". Saat abangnya mendengar ia pernah ke sini dengan Retha saat tiga tahun yang lalu.


"terserah kamu aja deh" sahut Justin datar seraya terus melangkah ke arah mana yang ia suka.


"ya udah kita makan martabak aja ya. Sambil ngopi di ujung jalan ini". Ujar Satria.


"mmm". jawab Justin malas.


Satria menaggapinya dengan senyuman lalu berjalan hingga mentok di ujung jalan perempatan di mana mereka di hadapkan pada jalan raya yang mulai lengang di karena kan jam yang mulai memasuki dini hari.


akan tetapi di karenakan besok sudah mulai memasuki masa masa weekend maka segelintir anak anak muda, mahasiswa atau pun para jomblo berumur memilih keluar rumah di jam segini untuk mencari suasana baru dan melepaskan rasa penat di kepala mereka akibat terlalu banyak menggunakan otaknya dalam bekerja. Mereka adalah sekelompok para pekerja yang bekerja menggunakan laptop dan segala macam atribut lainnya yang berhubungan dengan ide ide mereka.


Sehingga tidak heran jika di setiap kafe kebanyakan di isi oleh orang orang yang selalu membawa catatan digitalnya ke mana pun mereka berada.


"ayok bang". Ajak Satria pada abang sepupu nya yang lagi galau itu ke sebuah kedai kopi yang bangunannya terdiri atas dua lantai dari dua toko yang di jadikan satu untuk di jadikan tempat usaha makanan dan minuman ala ala khas asia dan juga eropa seperti ini.


Mereka naik ke lantai dua di mana tempat duduk yang ternyaman adalah di balkon yang di mana tempat duduknya menghadap ke luar jalan raya. Mereka mengambil di sudut balkon. Sementara satu sisi balkon di sebelah kanan mereka yang menghadap jalan yang mereka lalui tadi telah di isi oleh beberapa anak muda yang mungkin sedang menanti pesanan mereka juga.


"abang ku pesanin apa ni?" tanya Satria.


"terserah apa yang enak di sini"..jawab Justin datar.


"martabak isi dagingnya dua denggan banyak cincangan cabe lalu saosnya di buat pedas dan manis ya". Ucap Satria membuat pesanan untuk mereka berdua dan juga minuman hangat yang cocok di makan bersamaan dengan makanan khas asia itu.


Justin menatap ke arah jalan di mana kini hanya beberapa kendaraan saja yang lewat di jalan raya. Saat mereka masih menantikan pesanan mereka tiba tiba dari arah kanan mereka terdengar riuh di karenakan pesanan mereka telah sampai.


Satria dan Justin mendengar obrolan mereka yang awalnya mengenai harumnya minuman yang mereka pesan hingga akhirnya mereka mendengar dua nama yang mereka cari selama ini di sebutkan oleh salah satunya.


.Lanjut ke next chapter ya readers


...****************...


Hai readers...mohon dukungannya kembali untuk novel ku ini ya?? dengan memberi like,pp vote, poin, fav, dan share link nya ya readers 😉


Dan jangan lupa follow akun ku di


Noveltoon Hazhilka 279


facebook Hazhilka


#Hazhilka


ig Hazhilka279


Terima kasih.