
Wellcome back my readers yang super duper caem dan cuakep. Selamat menikmati episode kali ini ya???. semoga enjoy 😉.
"berhenti lah mengejarnya Justin. beri dia ruang dan waktu untuk menenangkan gejolak bathinnya yang bergumul selama ini. karena aku yakin baik seorang Jasmine atau pun seorang Midea butuh waktu untuk mengenal siapa dirinya yang sebenarnya". tukas Andra tegas dan lugas.
sontak hal ini membuat Justin kembali ter- henyak kaget untuk kedua kalinya di karena kan harus mendengar pernyataan yang sama dari kedua sahabatnya itu. Justin semakin melebar kan pupil netranya sembari menatap Andra tak percaya pada apa yang di ucapkan oleh pria itu tentang mantan istrinya.
sementara Andra sendiri bersikap semakin tak perduli pada sikap Justin yang terlihat berang pada dirinya sekarang di karenakan ucapannya yang sengaja di tujukan untuk pria yang ada di hadapannya kini.
"semakin kamu mengejar wanita itu semakin jauh dia berlari dan di pastikan ia akan terus menghilang. dan kamu Justin ga akan dapat kan apa pun selain bayangannya yang ada di hayalan kamu itu". lanjut Andra tegas seraya menatap Justin secara intens.
"tetapi jika kamu tetap berada di tempat kamu sekarang ini. mungkin kamu bisa menikmati senyum indahnya setiap hari meskipun tanpa harus kamu miliki. tetapi setidaknya kamu bisa melihatnya setiap waktu tanpa harus mengganggu dan ia merasa terganggu karna kamu". gumam Andra di hatinya sembari ia mengenang kembali apa yang ia lalui saat memandang Jasmin dari kejauhan dulunya.
(baca kisah si Andra di novel pertamaku yang berjudul Jasminka/orchidea di eps mereka dan cinta rahasianya dan juga eps rahasia hati. dan jangan lupa tinggal kan jejak ya di sana jadi authornya bisa tau he he he.. ).
Andra berbalik menuju pintu dan melanjutkan Langkahnya untuk pergi dari ruangan itu. meninggalkan Justin yang sedang termangu dan menatap diam pada pintu yang menutup. kata kata Andra begitu menohok dirinya saat ini.
"berhenti mengejarnya. semakin aku yang mengejar dia. dianya semakin lari dan aku tidak akan mendapatkannya lagi selain bayangannya saja yang ada di hayalanku. benarkah seperti itu?.
kata kata Andra dan Indra terngiang ngiang di kepalanya. sejuta pertanyaan kembali muncul bersarang di kepalanya saat ini.
"benar kah wanita itu butuh waktu untuk menemukan dirinya yang sebenarnya?."
" bukankah dia sudah memutuskan untuk hidup sebagai Midea?"
"lalu mengapa harus lari dari aku jika hanya ingin menemukan siapa dirinya yang sebenarnya?"
bukankah aku juga bisa membantu dirinya untuk menemukan ingatannya yang hilang".
pertanyaan pertanyaan tersebut terus ber -munculan di kepanya Justin saat ini.
cukup lama ia terpekur di kursi kebesarannya dengan menyenderkan kepalanya pada sandaran kursi tersebut dan mencerna ulang dari setiap kata kata yang di lontarkan oleh kedua sahabatnya itu.
"sebaiknya lakukan saja kesepakatan yang pernah kalian buat bersama". ucap Indra saat beberapa waktu yang lalu.
pernyataan Indra seketika mengingat kan diri nya kembali akan kesepakatan yang pernah ia buat bersama Dea di malam perceraiannya dengan wanita itu. ia mengkaitkan kata kata nya Andra dengan janji kesepakatan dirinya dengan Midea.
seketika ia teringat akan kesalahan yang ia buat dan juga janji yang ia buat. bahwa diri nya tidak akan memunculkan dirinya lagi di hadapan wanita itu. jika pun suatu waktu mereka sengaja tak bertemu maka Justin harus buru buru pergi menghindari wanita itu.
"oh... ya rabbi. kenapa harus seperti ini kisah percintaan ku dengan wanita. di saat aku mencintai seseorang dan bahagia dengan memilikinya lalu Engkau dengan cepat mengambilnya dalam sekejap.
sekarang di saat aku sudah mulai menerima nya dan ingin memulainya dari awal malah Engkau juga yang menakdirkan kami harus berpisah, pada hal Engkau tahu kan ya Allah bahwa dialah perempuan yang aku cari cari selama ini. kenapa ya Allah. kenapa????". pekik Justin di hatinya.
"kenapa tak kau biarkan kami bersatu hingga hidup kami pun harus berlalu di suatu waktu?. kenapa tak kau biar kan hati wanita itu tetap mencintaiku seperti dahulu. Saat ia mengejar ngejar aku untuk mendapatkan cintaku??. Lalu sekarang kenapa tak kau berikan aku kesempatan untuk membahagiakannya ya Allah??? ". kembali Justin membathin miris di hatinya.
tanpa terasa dua titik bening bertengger di kedua sudut netranya. rasa sesak kembali menyeruak di dadanya saat mengingat kejadian kejadian yang tak pernah memberi nya kesan indah di hatinya mau pun di hati wanita itu. setiap perjumpaannya dengan wanita itu selalu saja berakhir tragis dan miris untuk keduanya.
"fine. mungkin dan memang aku yang salah sedari awal. tapi bagaimana aku harus mem-perbaiki semua kesalahan ini ya Allah??". tanyanya di hati.
Justin kembali membathin.
"apakah aku harus membebaskan dua D itu pergi kemana mereka suka hingga mereka menemukan titih jenuh dan ingin kembali pulang. Apakah harus begitu ya Allah??".
"lalu bagaimana dengan Keyra ya Allah? ". anak itu juga butuh adek dan juga bundanya".
"apa yang yang harus aku lakukan ya Allah?". bathinnya menjerit seraya menundukkan wajahnya seraya ******* ***** rambut nya dengan kedua tangannya.
Kini dua bulir yang bertengger di kedua sudut netranya akhirnya luluh juga dua tetes ke atas meja kerjanya. Rasanya di saat ini seperti ada beban berat yang berjuta juta ton tengah menghimpit kepala dan dadanya.
Justin beranjak dari kursi kebesarannya dan melangkah pelan menuju kamar pribadi nya yang ada di ruangan itu. ia memasuki kamar yang telah ia dekor ulang persis seperti kamar pribadi yang ada di kantor pusat demi menyambut Midea saat itu.
ia pikir Dea akan berkesan dengan apa yang di ingatnya saat satu malam indah mereka di mana Dean tercipta dari sana. Dengan begitu setidaknya Dea akan sedikit luluh padanya dan mau melanjutkan pernikahan mereka yang sempat terbengkalai.
Tapi nyatanya saat ini Justin hanya menatap hampa ruang kamar yang berdominasi warna putih tersebut. Warna favorit mereka berdua.
Justin menghela nafasnya sejenak sebelum merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang berukuran size king tersebut untuk merileks kan tubuh dan fikirannya yang semrawut saat ini.
Ia meletakkan lengan kanannya di atas ber- harap rasa penat yang menghimpit di kepala nya akan segera lenyap. netra terpejam seraya membayangkan dua D nya. saat ini ia seperti seorang pecundang yang kalah bertarung dalam memperebutkan hati dua orang yang ia sayangi sekaligus.
"baiklah De. Jika itu yang kamu mau De."
"Baiklah aku akan membebaskanmu sesuai keinginan hatimu. Tetapi jika kamu sudah mulai jenuh dengan pencarianmu. Ku mohon kembalilah padaku". gumamnya di hati.
"De, Jasmin". Desisnya dengan lirih.
Kini kepalanya semakin berat sehingga membuat kelopak matanya Justin tak mampu membuka. Ia masih memejamkan matanya dengan masih membayangkan dua D nya hingga entah detik ke berapa pria beranak dua itu benar benar terbawa mimpi dalam tidur nya efek dari rasa lelah karena mengejar dua D nya.
...**************...
Hai readers...mohon dukungannya kembali untuk novel ke empatku ini ya?? dengan memberi like, vote, poin, fav, dan share link nya ya readers 😉
Dan jangan lupa follow akun ku di
Noveltoon Hazhilka 279
facebook Hazhilka
#Hazhilka
ig Hazhilka279
.
Terima kasih.