
Wellcome back my readers yang super duper caem dan cuakep. Selamat menikmati episode kali ini ya???. semoga enjoy terus 😉
Degup jantung Justin berdetak kencang seiring darahnya berdesir saat ia melihat sebuah video yang di kirimkan oleh Midea padanya saat ini.
"Midea".desisnya pelan saat melihat raut amarah di video tersebut.
Justin menatap tak percaya pada apa yang di lakukan oleh Midea di video tersebut.
"wanita ini benar benar bikin aku.... akh.. ". pekik Justin seraya bangkit dari sofa sembari mengambil jas kerjanya yang tersangkut di kursi kebesarannya.
Indra yang melihat reaksi Justin yang secara spontan di barengi dengan mimik wajahnya yang menegangkan membuat Indra menjadi penasaran pada Justin.
"ada apa Tin? ". tanya Indra yang juga ikutan panik saat melihat Justin yang sedang buru buru mau pergi.
"Midea Ndra. gue ga ngerti jalan pikirannya". sungut Justin seraya berlalu dari situ.
"Justin. mau kemana?. tunggu. gue ikut lo!". setengah berteriak ia menyusul Justin seraya menyambar jas kerjanya yang ia sangkutkan pada sebuah hanger di ruangan tersebut.
Indra terlambat sedikit saja masuk ke dalam lift sehingga ia gagal ikut bersama dengan Justin dalam satu mobilnya.
"akh... sial". umpatnya saat melihat mobil Justin yang telah melintas di jalan.
sementara Justin mencengkram stirnya dengan erat. dalam keadaan cemas Justin terus melajukan mobilnya ke luar dari per- batasan kota Mdn menuju ke kota di mana Midea tinggal.
dengan kecepatan tinggi Justin mengendarai mobil sportnya untuk bisa segera tiba di apartemennya dari wanita itu. entah mengapa ia merasakan ada yang tak beres setelah ia menerima dan melihat Midea di video tersebut. instingnya mengatakan jika wanita itu telah merencanakan sesuatu yang akan membuat dirinya khawatir.
"Midea.. Midea". setengah berteriak Justin memanggil wanita itu seraya menggedor gedor pintu apartemen di mana Dea tinggal.
tetapi tak ada sahutan. bahkan nomor yang ia tuju untuk menghubungi wanita itu dalam keadaan mati atau di luar jaringan. Justin masih berfikir positif dengan mencari Midea di kantin perusahaannya Andra.
setibanya di sana ia langsung ke kantin untuk menjumpai Midea secara langsung, akan tetapi Justin tak menemukan Midea di sana yang ada staff kepala kantin yang mencoba beramah tamah padanya karena pria paruh baya tersebut mengenal Justin saat di acara ulang tahun perusahaan.
"pak Justin ada yang bisa saya bantu pak?"
"saya mau ketemu Midea eh maksud saya ibu Jasmine". sahut Justin seraya menelisik ruangan kantin tersebut.
"maaf pak ibu Jasmine sudah resign dari perusahaan ini dua hari yang lalu". sahut pria paruh baya tersebut.
"apa?!. resign?!".pekik Justin kaget.
"kenapa?!". desak Justin.
"wah itu saya kurang tau pak. ibu Jasmine tidak menceritakan alasannya". sahut pria tersebut.
Justin menarik dalam nafasnya lalu pamit pergi mencari Midea kembali ke apartemen nya. sesampainya di sana kembali Justin mendapatkan kekecewaan mantan istri dan anaknya tetap tidak ia temukan.
Justin pun berinisiatif menanyakan pada Cindy teman dekatnya Dea selama ini.
*
"Jasmine ga ke sini. dia cuma bilang ke aku dan mas Andra kalau dia punya job di luar kota. jadi dia mutusin buat resign dan pindah ke luar kota." ungkap Cindy jujur saat ia di desak oleh Justin yang menanyakan kabar Midea padanya.
"masa dia ga menceritakan apapun padamu sebelum dia resign?!".desak Justin tak percaya.
"enggak. dia ga menceritakan apa pun. dia datang kesini setelah resign hanya untuk menyerahkan keycard apartemennya mas Andra kembali. cuma itu". sahut Cindy datar dan jujur.
"tolong hubungi saya jika nanti Jasmine menghubungi kamu ya?". pesan Justin pada Cindy seraya berpamitan.
"ya. insya Allah". sahut Cindy sembari menunggu Justin pergi dari hadapannya.
"apa karena cctv itu makanya Midea pergi dari apartemennya Andra". gumam Justin saat pria itu sedang memasang safebealtnya.
seketika ia teringat tentang pesan masuk dari Dea yang menyatakan kemarahannya yang di tujukan pada dirinya. di tambah lagi Midea menatap ke arah cctv rahasia yang memang sengaja di pasang di apartemennya Dea dan Dean tinggal.
Justin mengingat bagaimana marahnya wanita itu saat mengambil cctv rahasia yang ada di kamarnya. yah, rahasia Justin yang di simpan selama ini untuk mengetahui aktifitas dari dua D nya melalui cctv rahasia akhirnya ketahuan juga oleh Midea.
"akh.. kemana lagi aku harus mencari mereka kembali. sial. bagaimana bisa cctv mini itu bisa terlihat oleh Dea". gumam Justin geram seraya mencengkram kuat setirnya.
Justin berdecak pasrah dan gelisah saat ini. ia menyetir mobilnya seraya terus berfikir untuk meemukan dua D nya kembali.
satu hari pasca pertengkarannya dengan Justin. Midea merasa tak nyaman lagi untuk tinggal di sini. seluruh ruangan telah di awasi oleh Justin melalui kamera pengintai rahasia yang entah pria itu selipkan di mana.
Dea berniat untuk keluar dari apartemen ini dan berencana untuk mencari sebuah rumah sederhana yang nyaman untuk di tinggali mereka berdua saja nantinya.
dering ponsel Midea berbunyi nyaring. ia melihat sebuah nomor yang belum memiliki nama kontak di ponselnya. karena di liputi rasa penasaran akan nomor tersebut maka Midea menerima panggilan telpon tersebut.
"hallo. Assaallmualaikum Jasmindea?".sapa seseorang dari seberang ponselnya.
"waalaikumsalam". sahut Midea tak percaya pada apa yang di dengarnya.
"suara ini seperti suaranya tante Alma". gumam Dea di hatinya.
"apo kabarnyo Jasmindea?". tanya Alma saat wanita cantik paru baya itu mendapatkan balasan atas sapaan dari putri angkatnya.
"b..baik.. tante. tante sendiri apa kabarnya? ". sahut Dea dengan rasa canggung.lalu ia mencoba menanyakan kembali pertanyaan yang sama pada wanita yang pertama kali menolongnya dalam keadaan rapuh, putus asa bahkan terpuruk serta terdampar di kota yang sama sekali ia belum pernah sekalipun ia menginjakkan kakinya ke kota itu.
"Alhamdulilah tante baik baik sajo begitu juga om Danang". sahut Alma yang begitu terharu bisa mendengar suara dari perempuan yang telah menghabiskan hari hari bersamanya selama hampir tiga tahun.
"awak apo indak kepingin pulang ke rumah sini nak?". tanya Alma yang mencoba mem -beranikan diri menyebutkan kata nak untuk putri angkatnya itu di kalimat terakhir.
Midea bergeming sesaat. ada rasa rindu yang datang tiba tiba memenuhi relung hatinya saat Alma menyebutkan kata pulang, rumah dan nak. sungguh Dea kangen pada masa masa di mana ia mengalami fase di beri rasa sayang. rasa cinta, rasa perhatian dan juga rasa khawatir terhadap dirinya yang terlihat tulus. yang tak pernah ia dapatkan selama ia berada tinggal di Jkt.
seketika ia teringat kisah tiga tahun hidupnya selama tinggal bersama dengan Alma. Midea merasakan bagaimana di hargai dan bahagia meskipun saat itu mereka menganggapnya sebagai Jasmine.
akan tetapi rasa seperti itulah baru kali itu ia rasakan di dalam hidupnya. tanpa terasa air matanya mengalir begitu saja karena rasa rindu yang tiba tiba menyerang di relung hati nya.
"Jasmindea". Alma sengaja memanggil bunda nya Dee itu dengan sebutan dua nama.
karena ia tak ingin Jasminenya yang kini masih menganggap dirinya adalah Midea Hasxander merasa tak di inginkan hanya karena ia berfikir dirinya bukan Jasmine. Alma memberanikan diri menelpon Jasmine yang masih menganggap dirinya Dea. agar wanita itu masih merasa memiliki hak untuk pulang ke rumahnya sendiri.
"Jasmindea. apo awak menangis?". Alma bertanya saat mendengar deru nafas Jasmine yang sudah ia hafal betul saat gadis itu menangis dalam panggilan video callnya ketika dulunya ia menanyakan kabar mama nya.
"eh.. eng....eng...enggak". jawab Midea gelagapan saat dirinya yang ketahuan menangis saat telpon masih berlangsung.
Alma tersenyum getir menanggapi jawaban dari Jasmine yang memberinya jawaban bohong.
"oh.. jadi mengapo awak banyak diam?". tanya Alma kembali.
"ga apa apa tante". sahut Dea yang tak tau lagi harus mengungkapkan apa.
keduanya pun saling diam. sampai akhirnya ia tak tahan lagi untuk berlama lama di telpon karena ia merasakan haru yang luar biasa saat mendengarkan tutur lembut wanita yang sudah ia anggap sebagai orang tua kandung nya selama ini.
"pulanglah jika sekiranyo awak ingin pulang. ambo tunggu". ujar Alma saat komunikasi itu harus di akhiri oleh putri angkatnya itu.
"ya. insya Allah". hanya itu yang bisa Dea ucap kan saat sambungan telpon itu ia putuskan.
Midea segera berlari ke kamar mandi untuk menumpahkan seluruh air mata yang ia tahan tadinya. ia ingin sekali pulang dan menghabis kan sisa hidupnya di sana. dan tak akan mau kemana mana lagi.
"aku kangen... aku pingin pulang". desisnya pelan dengan nada terisak.
...**************...
Hai readers...mohon dukungannya kembali untuk novel ke empatku ini ya?? dengan memberi like, vote, poin, fav, dan share link nya ya readers 😉
Dan jangan lupa follow akun ku di
Noveltoon Hazhilka 279
facebook Hazhilka
#Hazhilka
ig Hazhilka279
.
Terima kasih.