My Little Girl

My Little Girl
96. Hamil?



Shasa pulang dalam keadaan sedih dan marah, karena Dicky sama sekali tidak membantunya padahal dia sudah memberikan semuanya, Dicky juga sama sekali tidak menahan dia.


"Loh sha kok udah pulang?" tanya bunda shasa begitu melihat putrinya tegak didepan pintu.


"si meli tiba-tiba ada urusan mendadak jadi shasa pulang aja" celetuk nya asal. Dia melangkah memasuki kamarnya masih dengan emosi yang tinggi.


"hiks hiks sial*n Dicky jahat! brengs*k" Shasa meredam tagisnya dengan menggunakan bantal entah kenapa dia merasa sangat sedih tidak mendapatkan pembelaan dari Dicky.


...🐣🐣🐣🐣🐣...


Satu bulan berlalu sejak hari dimana Shasa diusir dari apartemen milik Dicky, saat ini shasa berada dikamar mandi sekolahnya, sejak pagi tadi dia muntah-muntah dan wajah gadis itu juga terlihat pucat.


"Sha lu gak papa?" tanya meli khawatir.


Shasa menggeleng pelan, "Gue gak tau, gue merasa pusing seliap mencium bau menyengat" rintih shasa begitu dia keluar dari bilik wc.


Saat ini kondisi kamar mandi hanya ada mereka berdua jadi mereka sengaja tidak mengatur volume suara mereka.


"Sha lu minumkan obat yang gue kasih?" tanya meli cepat.


"obat?" shasa berpikir sebentar lalu mengangguk pelan, "Aku selalu rajin minum setelah berhubungan, tapi ada sekali aku tidak meminum obat itu, tapi itu tidak mungkin kan?" Shasa cepat-cepat berpikir positif, dia sakit seperti ini pasti karena terlalu kelelahan belajar, karena mereka sedang menjalani ujian tengah semester dan beberapa bulan lagi mereka akan ujian akhir.


"Sha tidak ada sesuatu yang tidak mungkin! kau harus segera periksa!" Meli sedikit histeris menjelaskan pada shasa.


"Gak mungkin Mel, kemarin itu aku dan kak Dicky gagal mendapatkan pelepasan, kami saja sudah digebrek sama kedua orang tuanya, aku yakin aku cuma kecapean karena belajar terus, aku tidak mau kalah lagi dari wanita malam itu" ucap Shasa setengah yakin.


"Benarkan kak dicky belum mendapatkan pelepasannya" batin shasa.


"Aku sarankan sebaiknya coba diperiksa saja dulu, jika terlalu lama akan sulit menggugurkan janin mu" ucap meli.


"Tapi mel, aku takut ke rumah sakit orang akan berpikir negatif padaku, Mel, bisakah kau membelikan test peck pada temanmu yang memberikannya obat itu" shasa mengeluarkan lima lembar uang merah pada Meli.


Meli tentu saja mengambil uang itu dengan senang, "ya udah nanti pulang sekolah kau ikut denganku pulang ke rumah" putus meli, dia senang karena shasa memberikan uang yang banyak hanya untuk membeli test peck.


.


"Kamu tidak apa sha?" tanya Ella begitu melihat shasa sudah kembali duduk di kursi.


"Gak apa cuma masuk angin, karena terlalu lelah belajar" bohong shasa.


"ya ampun kasian banget kamu sha, udah usaha sekeras ini, tapi di kalahkan oleh orang yang membeli lembar jawaban" Ella menatap sinis Ara yang sedang belajar bersama teman-teman nya.


"gak apa aku yakin aku bisa kok, nanti akan ketahuan juga keburukan si ara" shasa ikut-ikutan menyinggung ara.


"Semoga cepat ketahuan siapa sebenarnya korban disini!" suara teriakan putri terdengar sampai satu kelas, hingga membuat semua mata menatap kearahnya.


"Ngapain sih teriak-teriak put" tegur salah satu teman sekelas mereka.


"Ada orang merasa korban padahal dia sebenarnya penjahat!" sindir putri sambil melirik pada Shasa.


'puk' ara memukul pelan bahu putri, sahabatnya itu memiliki sifat yang sama dengan Juan, jika dia marah akan langsung dia sampaikan, seperti tadi, dia tidak suka orang-orang itu membicarakan ara, makanya dia menyindir secara tidak langsung.


"apa maksudmu put!" Shasa sudah tegak dikursinya menatap sinis putri.


"ohh merasa tersindir? berarti benar dong!" gelak tawa putri terdengar berbarengan trio badboy.


"jangan tersinggung sha, putri bukan membicarakanmu! tapi kalau kau tersinggung berarti benar dong yang dikatakan putri" juan ikutan menyindir shasa.


Shasa semakin emosi, dia hendak menghampiri kursi ara dan teman-temannya, tapi lengannya ditahan oleh Ella dan yang lainnya.


"Bahaya, kau bisa dikeluarkan jika berurusan dengan ara, aku sudah mendapat peringatan dari keluarga Allinsky" ungkap Ella.


Shasa akhirnya pasrah dan kembali duduk di kursi nya.


...🐥🐥🐥🐥🐥...


"Bagaimana?" tanya meli.


"a-a-aku ha-hamil mel" setetes air mata meluncur indah di pipi shasa. dia kini menangis terisak setelah memberitahu meli kenyataan yang terjadi.


Meli yang mendengar itu terdiam sebentar, tapi setelah itu dia mengambil test peck di tangan shasa dengan cepat, dia ingin memastikan apa yang dikatakan Shasa memang benar.


Saat meli melihat dia buah garis di hasil test peck itu, meli hanya bisa menutup mulutnya berusaha meredam pekikan suaranya.


"Ayo kita gugurkan, masih belum terlambat sha"


"bagaimana? bagaimana caranya? aku takut mel, aku takut hiks hiks" tangis Shasa semakin keras, dia tidak menyangka bahwa dia akan hamil, padahal dia hanya sekali tidak memakan obat itu.


"kita cari dokter, atau bidan, atau dukun beranak, pasti bisa, umurnya pasti belum mencapai dua bulan, dan aku yakin kau pasti bisa" bujuk meli.


"Aku takut mel, aku takut!" isak shasa, tubuhnya bergetar dan dia menangis kencang.


Meli juga ikut menangis melihat shasa yang seperti itu.


"kita bilang dulu pada kak dicky tentang kehamilan mu, setelah itu baru kita cari ide yang bagus, sekarang kita fokus ujian saja dulu, karena jika mau digugurkan kau mungkin harus di rawat" usul meli, shasa mengangguk cepat dan memeluk meli, menumpahkan semua tangisnya pada meli.


...🐤🐤🐤🐤🐤...


Waktu ujian berlalu dan saat pengumuman nama yang juara, semuanya menunggu wali kelas membacakan peringkat pertama.


"Peringkat pertama, sepertinya masih belum berubah, Clara shahnaz zoya, silahkan kedepan dan mengambil lapor nya" ucap wali kelas.


Ara segera tegak dan mengambil lapornya.


"Selamat ya clara" ucap wali kelas sekali lagi.


"Terima kasih bu" jawab ara dengan sopan. Ketika berbalik Ara tersenyum kepada keempat sahabatnya.


.


"Baik sekarang di posisi nomor dua, sepertinya ada perubahan ya, Putri agneza silahkan maju, kamu mendapatkan posisi kedua".


" Wahhh sibocil ternyata pintar" pekik juan.


'Plak' Putri memukul kepala juan yang baru saja mengejeknya. Dia segera berjalan mengambil rapor nya.


"Selamat ya putri".


" Terima kasih bu" jawab putri.


Ditempat duduknya shasa menggenggam tangannya dengan kesal, posisinya kembali jatuh, kali ini bukan hanya ara, tapi putri juga sudah mengambil posisi miliknya.


"Dan juara ketiga ditempati oleh Shasa Yulia Citra".


Shasa maju dengan senyum yang dipaksakan, dia sudah berusaha keras tapi kenapa posisinya kembali jatuh dan sekarang direbut oleh putri.


" Jangan berkecil hati ya, kamu sudah hebat mendapatkan posisi ini, nanti temui ibu di ruang guru ya" wali kelas itu berkata sambil mengelus tangan shasa dengan lembut.


"Baik bu" Shasa menunduk hormat, dia berusaha menahan tangis nya, ini pertama kalinya di mendapat posisi tiga, tempat yang dia anggap posisi hina.


"Sabar sha, itu pasti karena ara bagi-bagi lembar jawaban miliknya" meli mengelus punggung Shasa dengan lembut.


Mungkin karena kondisi nya Shasa menjadi lebih melankolis, dia masih belum menggugurkan bayinya dia masih berharap dicky mau menerima nya, selama beberapa minggu ini Dicky berada diluar kota, akibat hukuman yang dia Terima, jadi dia belum bisa bertemu dengan shasa, shasa juga belum memberitahu kabar kehamilan dirinya pada dicky.


...🐥🐥🐥🐥🐥...