
Memasuki umur 3 tahun abang Ray mulai memberontak tidak suka karena banyak yang mengikutinya, bos kecil itu sudah bosan diikuti oleh para bodyguard daddy dan grandpa nya, brian dan deon memang memberikan kebebasan pada abang Ray untuk pergi kemanapun yang dia suka, namun sayang abang Ray benci di ikuti oleh para bodyguard, bos kecil itu saat ini sedang cemberut sambil bermain di ruangan yang dulu mommy dan uncle nya bermain, deon dan ara tidak pernah menghancurkan tempat permainan ay, al dan El saat masih kecil, hanya sedikit perombakan mengganti semua isinya karena sudah sangat tua dan rusak.
Ay datang dengan beberapa potong buah di dalam nampan yang dia bawa.
“Jagoan ganteng mommy, kok cemberut” goda Ay sambil menoel pipi menggemaskan abang Ray.
“mommy jangan pegang-pegang abang!” gerutu abang Ray kesal, bos kecil itu cemberut sambil melipat kedua tangannya. “abang bosan” tambah abang Ray lagi.
Ay tertawa pelan melihat tingkah menggemaskan putranya. “kalau bosan ayo kita main keluar” ajak ay, setelah lulus dari kuliahnya, ay menjadi ibu rumah tangga, dia ingin menggantikan waktunya dengan Ray yang terlewati karena masa kuliahnya, ay tau menjadi anak satu-satunya itu tidak seru, ay saja lahir kembar bersama saudaranya, jika tidak ada kedua saudaranya mungkin ay juga akan menjadi pemberontak seperti abang Ray.
“gak mau! Abang itu mau main sama teman-teman abang! Tapi karena bodyguard daddy mereka semua jadi takut main sama abang!” gerutu Abang Ray, sejak menginjak usia 2 tahun abang Ray sudah fasih dalam berbicara, otak bos kecil itu memang sangat cerdas dan cepat mencerna segala informasi.
“hmmm gimana y acara biar abang gak marah-marah?” ay bertopang dagu berpura-pura berpikir, dia tau putranya itu sesekali melirik dirinya berharap ay dapat memberikan ide padanya.
“aduuhhh ada apa sih ini?” Ara, datang sambil membawa susu coklat yang akan diminum abang Ray. “ini muka cucu kesayangan grandma kok cemberut” Ara ikutan duduk di sebelah ay berhadapan dengan bos kecil itu.
“mommy dan grandma tidak bisa membantu, huh!” gerutu abang Ray sambil memalingkan wajahnya kesal.
“ada apa?” bsik ara pada ay.
“fase memberontak mom, dia pengen jalan tanpa mengawalan” balas ay dengan berbisik juga.
“Sayang, abang tau kan kit aini bukan orang biasa, nanti kalau ada sesuatu yang terjadi pada abang kalau gak ada yang kawal gimana? Mommy, daddy grandma dan grandpa bisa sedih” ucap ay.
Tapi si bos kecil sama sekali tidak bergeming sedikitpun, dia terlalu bosan bermain hanya bersama mommy, uncle dan grandma nya, dia perlu teman yang lain, sementara ay belum mau hamil.
“Cucu grandma emang mau kemana sih?” tanya Ara lembut sambil mengelus puncak kepala abang Ray.
“taman bermain dan waterpark grandma” seru abang dengan rona Bahagia, dia tau grandma nya itu tidak akan membiarkan dia terus bersedih.
“mom, kak brian dan daddy akan marah nanti” bisik ay, dia tidak mau mengatakan dengan kuat takut putranya itu akan tersinggung.
“kalau sesekali tidak apalah, bagaimana kalau kita kabur tanpa sepengetahuan daddy brian dan grandpa?” usul Ara, jiwa pemberontak saat dia masih muda tidak akan pernah hilang.
“Ayo grandma!” seru ray Bahagia.
Ay hanya bisa menggelengkan kepalanya pasrah, mommy nya kalau sudah membuat keputusan maka tidak aka nada yang bisa menghalanginya, keputusan itu selalu mutlak dan yang bisa menggantikannya hanya mommy ara sendiri setelah dibujuk dengan sangat lama dari banyak orang.
“kalau gitu ayo kita siap-siap!” seru ara.
Abang Ray langsung tegak dan menuju kamarnya yang ada dirumah kakek nenek nya itu. Dia sudah berlari untuk bersiap-siap.
“kamu tega, liat wajah abang yang sendu dan merajuk seperti itu, hanya beberapa jam, mommy rasa tidak akan da apa-apa, kasian Ray, dia kesepian” ujar ara.
“kesepian apanya, ay selalu menemani dia kok” balas ay tidak mau kalah.
“sayang beda rasanya bermain dengan orang seumuran dan dengan orang tua sendiri, biarkan abang tertawa Bahagia sebentar saja, tidak masalah dia bermain bersama teman seumuran dengannya” nasehat ara.
“iya ay tau, tapi bagaimana caranya?” tanya ay.
Ara mendekatkan wajahnya ketelinga ay, dan membisikkan cara kabur yang dulu selalu dia gunakan untuk kabur dari rumah saat masih muda, “sesekali saja sayang”
“bagaimana jika ketahuan?” tanya ay.
“tinggal pakai plan B, kita ancam gak boleh gulat di tempat tidur” ujar ara cepat, dia kasian dengan cucunya yang sangat ingin bermain diluar tanpa pengawalan.
Ay hanya bisa berdoa dalam hati tidak terjadi apapun.
.
Setelah abang Ray selesai mommy ara dan ay berjalan menuju belakang rumah, ay dan Ray bersembunyi saat Ara memberikan minuman yang berisikan obat tidur pada pelayan yang menjaga, sebelum itu juga ay menelpon El untuk membuat error pada alat pelacak lokasi yang ada pada barang-barangnya dan juga Ray, untung saja EL mau diajak kerja sama karena dia juga kasihan melihat Ray yang sendirian ingin mencari teman.
Ara memberi kode pada Ay dan ray untuk segera jalan mendekat kearahnya begitu para penjaga sudah lumpuh, mereka keluar menggunakan pintu belakang dan tanpa kawalan siapapun, ara berhasil mengelabui semua penjaga.
.
“HORE! ABANG BEBAS!” teriak Ray begitu dirinya telah sampai di sebuah taman yang cukup ramai, ay dan ara membawa ray menuju taman bermain dimana tempat orang-orang sering kumpul, ray berlari kesana kemari sangat riang ay sampai tidak tega melihat ray yang tertawa Bahagia seperti itu harus dibawa pulang lagi. Mungkin karena anak tunggal ray menjadi sedikit berontak, dia tidak punya teman seusia dirinya, dan saat ini ray terlihat tertawa puas sambil bermain bersama teman seusia dirinya.
“liat apa kamu tega menghancurkan tawa itu?” tanya mommy ara.
Ay menggeleng pelan.
“Ray itu sendiri sayang, dia butuh teman seusianya, kalau kamu kapanpun kamu mau kedua abang kembarmu dulu selalu menemanimu bermain apapun itu kan? Kalau abang ray sendirian, makanya cepat buatkan cucu baru lagi buat mommy biar abang gak sendirian sayang” ledek mommy ara.
“Sayang, udah mainnya? Katanya mau menuju waterpark” teriak ay pada ray yang tampak sedang bersenang-senang bersama teman-temannya.
Ray langsung berlari kearah ay dan ara dengan senyum lebar di bibirnya, “ayo mommy, grandma!” seru ray Bahagia. Ay sama sekali tidak tau bahwa hanya dengan bermain seperti ini dia melihat tawa Bahagia ray yang sekarang jarang sekali keluar.
...🐺🐺🐺🐺🐺...