
Ara tidak menyadari bahwa dirinya berjalan-jalan terlalu lama, sekarang dia berada di taman bermain, menatap berbagai macam wahana permainan dimana dia dulu mainkan setiap sedih atau dalam mood yang tidak baik.
Selama perjalanan ara di taman bermain, gadis itu sama sekali tidak sadar, satu persatu pengunjung mulai hilang dan dia tidak sadar Deon sudah mengikuti dirinya sejak dia masuk kedalam taman bermain.
"Clara Shahnaz Zoya" panggil Deon dengan kuat.
Ara segera berbalik badan, dia tidak menyangka suami tampannya sedang berada di dekat nya.
Perlahan Deon mulai mendekati Ara, saat sudah mencapai ara, pria itu berlutut didepan ara,
"Clara Shahnaz Zoya, sudah satu tahun lebih kita bersama, dan semakin bertambahnya waktu bersamamu, aku semakin jatuh cinta padamu, Maukah kau menikah dan hidup bersama diriku selamanya, hingga kita menua bersama?" Deon berlutut di depan Ara sambil memberikan sebuah cincin yang sangat indah.
Ara tersenyum melihat suaminya berlutut, "bukankah kita sudah menikah?" tanya ara sedikit dengan tawa.
"Kita memang sudah menikah, tapi bukankah itu pernikahan paksa? Sekarang aku meminta mu untuk menjadi istriku tanpa paksaan dan dari hatimu sendiri"
Ara menjulurkan tangan kanannya pada Deon, "Aku tidak pernah dipaksa, aku memang mencintai kakak sangat cinta sampai aku takut kehilangan kakak, jadi pakaikan padaku dan kitab menikah lagi"
Deon memakaikan cincin itu pada jari manis Ara, "Dengan senang hati istri kecilku".
Deon memeluk Ara dan mencium kening Ara. gadis itu membiarkan Deon melakukan hal itu, dia tidak malu mendapatkan perlakuan manis dari Deon, dia sudah terbiasa dengan kecupan dan ciuman yang Deon berikan secara mendadak di depan Orang-orang.
"Apa aku masih terlihat seperti anak kecil?" tanya Ara dengan wajah berbinar.
'Cup' Deon mengecup sekilas bibir Ara, "bagi kakak, kamu selalu masih menjadi anak kecil sayang".
Ara mendekatkan bibirnya pada telinga Deon, " tapi anak kecil ini bisa membuat kakak puas di ranjang, dasar Om mesum" bisik ara, dia melepaskan pelukannya dan berlari meninggalkan Deon.
...🐣🐣🐣🐣🐣...
Ara menatap dirinya yang sedang menggunakan lingerie yang begitu sexy, dirinya merasa merinding mengenakan pakaian sexy itu.
Perlahan tapi pasti Ara menghampiri Deon yang masih sibuk dengan pekerjaan yang memang sengaja pria itu bawa pulang.
"Kak, masih lama kerjanya?" tanya Ara sambil memegang bahu Deon.
Deon menurunkan kacamata nya dan beralih menatap Ara, 'glek' dia langsung menelan air ludahnya melihat istrinya yang sedang berpakaian sexy.
"Yang, jangan goda kakak dong, nanti kalau kakak kelepasan gimana"
Bukannya pergi Ara malah duduk di pangkuan deon.
"Kelepasan gimana?" goda Ara.
"Sayang, jangan menggoda dong, kakak udah bersabar ni" Deon sengaja tidak memandang Ara, dia mengantisipasi akan tergoda oleh istrinya.
"Emang Ara niatnya menggoda kakak"
"Sayang, kakak sedang gak punya pengaman, kakak ingat janji kakak sama papi, jadi jangan dulu ya"
"Kakak berarti udah gak sayang sama Ara, gak mau lagi sama Ara ya" Ara menundukkan kepalanya berpura-pura menangis.
"bukan! bukan kakak tidak mau, kamu tau kakak udah puasa sangat lama, dan kakak gak akan cukup kalau sekali atau dua kali, jadi bisa bahaya jika kamu hamil sayang" Deon akhirnya menatap istrinya, dia mengangkat dagu istrinya agar menatap dirinya.
'Glek' lagi-lagi Deon menelan salivanya ketika melihat belahan Dada istrinya.
"Ara siap hamil, tapi kakak harus tanggung jawab kalau ara ham__"
Belum sempat Ara melanjutkan ucapannya, badanya sudah terangkat oleh Deon, pria itu tersenyum nakal pada istri kecilnya, "Baiklah, jangan pernah meminta berhenti, kamu tau konsekuensi telah membangun kan harimau yang sedang tidur".
Jadi malam itu ara dan Deon bergulat panas, subuh hari baru keduanya terkapar.
...🐤🐤🐤🐤🐤...
Deon mengecup kening istrinya yang masih terlelap, Deon memang benar-benar menepati ucapannya, istri kecilnya itu kewalahan harus meladeni hawa nafsunya.
perlahan mata Ara terbuka, "Pagi.. jam berapa kak?"
"Pagi sayang, jam 8 pagi sekarang".
Dengan cepat Ara duduk di kasur, " akkhhh" ringis gadis itu.
"Sayang kenapa kok mendadak gitu duduknya" kekeh Deon.
" Gak apa, cuma sehari, lagi pula alasannyakan melayani suami".
'Cup' Deon kembali mengecup bibir Ara,
Semburat merah muncul dari pipi Ara, gadis itu tertunduk malu, padahal ini bukan pertama kalinya mereka melakukannya tapi Ara masih saja malu.
"Kak Ara lapar" rengek Ara.
Deon menunjuk makanan yang sudah dia letakkan di meja, "mau makan sekarang atau mandi dulu".
Ara melirik suaminya, dia tau dia akan kembali dihajar di kamar mandi oleh suaminya, " Ara makan dulu " pilih gadis itu.
Dengan senang hati Deon mengambil meja kecil untuk diletakkan di dekat ara.
"Nanti mandi bersama ya" Deon menyelipkan rambut ara di daun telinga nya.
"Iya, tapi ara isi tenaga dulu" Ara sudah bertekat akan memberikan apa pun yang Deon inginkan karena Deon juga seperti itu.
"Iya sayang, kita hari ini quality time berdua aja, nonton TV atau yang lainnya hanya berdua" ucap deon lagi.
Ara hanya mengangguk tangannya sibuk menyuap makanan ke dalam mulutnya.
...🐥🐥🐥🐥🐥...
'cup cup cup' berkali-kali Deon terus mengecup pipi Ara, gadis itu membiarkannya saja.
Suaminya sedang ingin bermanja sepertinya.
"Kak, Ara boleh tanya gak? " suara ara akhirnya keluar.
"Tanya apa sayang?"
"kakak benaran gak mau sembuh dari phobia kakak?" Ara berusaha menatap Manik mata suaminya itu.
"Apa kamu gelisah karena itu?"
Ara mengangguk pelan.
"Kakak terserah pada istri kakak, jika istri kakak takut kakak sembuh, maka kakak tidak akan mau sembuh, ketenangan mu adalah ketenangan kakak, kebahagiaan mu adalah kebahagiaan kakak, dan kebahagian kakak cukup bersama denganmu" ucap Deon lembut sambil mengelus pipi Ara dengan sayang.
"Kakak tidak akan meninggalkan Ara setelah sembuh kan?"
'cup cup cup' Deon berkali-kali mengecup wajah Ara, dan berakhir di bibir.
"istri secantik dan se sexy ini kakak tinggalkan? wahhh kakak berarti orang bodoh yang telah membuang berlian, dan mencari bongkahan batu biasa" ucap Deon.
"Kalau gitu gimana kalau kakak lanjutkan pengobatannya? Ara ingin kakak sembuh, kan bisa bahaya jika kita punya anak cewek kakak gak bisa gendong" ledek ara.
"kamu yakin? kamu sudah mau percaya dengan kakak?" tanya Deon sekali lagi untuk menyakinkan Ara.
"Ara yakin" jawab ara dengan pasti.
"Sayang, kakak sembuh itu bukan mudah, butuh waktu bertahun-tahun, dan kamu mau menunggu kakak sampai kakak sembuh? mungkin juga akan banyak halangan dalam penyembuhan itu, apa kamu masih tetap yakin?
Ara mengangguk sekali lagi, " Ara yakin kak"
...🐣🐣🐣🐣🐣...
Bonus pict biar makin baper
Jangan lupa like, komen dan vote nya ya ❤❤❤❤