
Deon menatap heran mobil-mobil mewah yang berhenti di depan rumahnya, apalagi Ara dan keluarganya menyambut didepan pintu rumah.
Saat melihat putra pertamanya turun mata deon langsung melotot. “Hey daddy ganteng, mommy cantikku i miss you full” Al langsung berlari memeluk mommy ara, dan mencium pipinya.
Mata deon semakin terbuka lebar saat melihat putra keduanya keluar dari mobil satu lagi. El turun tanpa mengeluarkan suara dia hanya memeluk mommy nya dan mencium kedua pipi wanita itu, dan memeluk oma opa serta kedua eyangnya.
Dan untuk ketiga kalinya deon hampir oleng saat melihat brian turun dari mobil dan membukakan pintu sampingnya, disana ay keluar sambil tersenyum canggung pada daddynya itu.
“Dad, mom” ucap Ay.
Ara tidak menjawab dia hanya merentangkan tanganya agar langsung dipeluk oleh putri satu-satunya itu.
“Sa-sayang apa maksudnya ini?” ucap Deon gusar.
“Kita masuk dulu baru menjelaskan semuanya” ucap Ara, “masuk nak brian” ajak mommy ara.
“I-iya mom, sebentar daddy ku masih dalam perjalanan bersama semua hadiah lamaran” ucap brian.
“masuk saja, nanti daddymu bisa menyusul” ucap Ara.
“baik mom” angguk brian.
Deon masih menatap brian dengan pandangan sinis.
“Daddy ingat jika menggagalkannya” ucap ara sebelum dia masuk kedalam rumahnya.
Deon mendengus dan masuk kedalam rumahnya tanpa mengeluarkan suaranya, dia tidak menyapa brian sedikitpun, mata daddy deon masih menatap sinis ke arah brian.
.
Brian duduk dengan canggung di sofa. Dia masih menunggu daddynya untuk hadir, karena acara lamaran akan terus direndahkan oleh daddy deon jika tidak sempurna.
“mau apa kamu kesini?!” tanya Deon dengan sinis.
Di ruang tamu hanya ada mommy ara, deon, Ay, brian, opa, oma dan kedua eyang ay, sedangkan keluarga yang lain mengintip dari jauh.
‘Tittt tiittt’ bunyi klakson mobil dari arah luar.
Tidak lama setelah itu masuklah seorang pria berbadan tegap bersama beberapa anak buahnya. “maaf ya aku terlambat” ucap daddy George ketika masuk ke dalam rumah Deon.
Dibelakang daddy george banyak sekali barang-barang mewah yang di bawa oleh para anak buah daddy george.
“Letakkan semuanya disana” ucap daddy george pada para bahannya itu.
“kami tidak meminta membelikan itu” ucap ketus daddy Deon.
Daddy george hanya tertawa, “aku membawa itu semua untuk melamar Ay, aku ingin dia menjadi menantuku” ucap Daddy George.
Suasana tampak tegang dengan adanya Daddy deon dan daddy George yang saling beradu argumentasi.
“Mommy, daddy, brian kesini ingin melamar putri kecil kalian, brian sangat mencintainya, selama brian hidup, tidak pernah ada satupun Wanita yang hadir dalam hidup brian, tolong mommy percaya, brian mohon bisakah brian menikah dengan Danaya” ungkap brian, dia mengatakan semuanya dengan lembut di hadapan keluarga ay.
“Gak boleh” jawab Deon cepat.
‘PUK’ Ara menepuk paha Deon dengan kuat.
“Sayang! Kenapa aku dipukul” ujar Deon tidak terima mendapatkan pukulan dari ara.
“masih mau berdebat lagi, kemarin udah janji sama mommy tidak akan membatalkan acara mommy” ucap Ara pada suaminya itu.
“Aku gak bakal hancurin, tapi aku tidak akan menyetujui pengantin nya adalah ay dan Brian! Aku tidak setuju” ucap Deon, pria itu memang keras kepala.
“kalau boleh saya tau, apa yang membuat anda menolak anak saya?” tanya daddy George dengan santai.
“Dia mafia, hidup ay akan dalam bahaya selamanya” ucap Deon.
“Tapi sayang, ay itu masih kecil, dia baru 18 tahun” kali ini Deon berusaha mencari ide lain.
“18 tahun? Kamu tidak ingat kita menikah umur berapa? Perlu aku tanya papi umur berapa aku menikah? 17 tahun kak! Dan aku hamil anak-anak di umur 18 tahun masih mau membantah apa lagi kamu kak?” ara sudah tidak mau memanggil suaminya itu dengan sebutan daddy, emosi Wanita paruh baya itu mulai naik Ketika deon mengatakan tentang umur, ya memang semua Wanita selalu sensitive tentang umur.
Daddy George hanya menahan senyumnya mendengar perdebatan suami istri itu.
“Banyak yang gak setuju sayang, zaman kita sama zaman sekarang itu berbeda” bantah Deon lagi.
“Siapa? Siapa yang tidak setuju katakana sekarang? Mami dan papi kamu setuju?” tanya Ara pada kedua orang tuanya.
“Setuju” jawab mami dan papi ara.
“Ayah sama bunda setuju?” tanya ara lagi pada kedua orang tua Deon.
“Ayah setuju, ayah bahkan sudah tidak sabar melihat cicit ayah lahir, dan kakek buyut sama nenek buyutnya masih muda begini” kekeh ayah allinsky.
“AL! EL KALIAN SETUJU?!” teriak Ara pada kedua putra kembarnya yang sedang mengintip dari jauh.
“AL SAMA EL SETUJU!” jawab AL juga dengan berteriak.
“ABANG AXEL! KAKAK JENNY KALIAN SETUJU?” teriak Ara lagi pada abang dan kakak iparnya.
“SETUJU!” balas Axel juga dengan teriakan.
Kini Ara menatap Deon lagi, “sekarang siapa yang kamu bilang ada yang tidak setuju? Zaman sekarang sama zaman dulu berbeda dari mananya? Justru zaman sekarang jika kita tidak segera menikahkan mereka, akan terjadi hal yang tidak diinginkan sebelum menikah!” Jelas Ara.
Deon terdiam dia menatap satu persatu keluarganya yang masih menatap dirinya, setitik air mata jatuh dari mata pria berumur itu tapi dengan cepat dia hapus, “tapi ay bilang daddy yang nomor satu” Deon menatap langit-langit rumahnya, air mata pria berumur itu mulai jatuh.
Ara tersenyum melihat tingkah menggemaskan suaminya, dia memberi kode pada ay untuk memeluk daddynya itu.
Melihat kode dari Ara, ay langsung memeluk daddy kesayangannya itu, “dad, your still my number one, your my hero, your my first love, I still love you dad” Ucap ay pada Deon.
Deon tidak bersuara dia hanya membalas pelukan ay, tapi ay tau daddy nya itu sedang menangis di bahunya.
Ara geleng-geleng kepala melihat tingkah Deon, dia tau Deon adalah daddy yang sangat over protective pada putri kecilnya, sejak kecil Ay selalu dia manjakan dengan semua yang dia miliki, seperti kata orang bilang, seorang ayah adalah cinta pertama, bodyguard, sekaligus rompi pelindung bagi putrinya, dia yang akan maju duluan untuk melindungi putrinya.
“Jika pria itu memukulmu dan memarahimu segera beritahu daddy” ucap Deon dalam pelukan Ay.
Ay mengangguk pelan, “iya” jawab ay dengan lembut, dia mengelus punggung daddy nya itu berharap pria itu sudah tenang.
Deon mengambil nafas Panjang dan yakin air matanya sudah tidak jatuh lagi, setelah itu dia baru melepaskan pelukan ay darinya, deon menatap serius pada brian, “ay tidak bisa masak” ucap Deon.
“saya tau, dan saya bisa memasakkannya apapun, saya tidak butuh koki yang saya butuhkan hanya ay” jawab Brian.
“Ay juga sering buat ulah” ucap Deon.
“Saya tau, saya siap menerima semua kenakalan dari ay” jawab Brian lagi dengan tegas.
“Ay suka menghamburkan uang” deon mengatakan satu persatu kejelekan putrinya.
“Saya sangat kaya, melebihi anda tuan allinsky” balas Brian tegas, memang benar yang dikatakan Brian, kekayaannya melebihi kekayaan dari keluarga allinsky.
“Dia mudah sakit jika kelelahan, saat malam hari dia sering terbangun dan akan menangis jika tidak ada orang disekitarnya, dia juga suka lapar saat tengah malam” deon mengingat saat ay berumur 7 tahun, gadis kecil deon itu suka minta dimasakkan makanan tengah malam oleh deon.
Ara langsung memeluk tubuh suaminya itu yang saat ini sedang menahan tangisnya.
Semua orang yang ada disana berusaha menahan tawa mereka melihat Deon yang seperti itu.
...🙈🙈🙈🙈🙈...
maaf ya update nya lama dari siang kemarin masih review chapter 48 nya, belum kelar-kelar, semoga chapter ini banyak yg suka ya..