My Little Girl

My Little Girl
37. Sindiran untuk Shasa



Sudah dua jam berlalu Ara akhirnya Ara menyelesaikan semua soal yang diberikan, beberapa guru sudah memeriksa jawaban yang pertama diberikan Ara, betapa terkejutnya mereka semua jawaban yang di berikan Ara tidak ada kesalahan apapun. Ara berhasil menjawab semua soal tanpa salah, dan itu membuat mereka menunduk takut.


.


"Nak Ara, bapak minta maaf ya, bapak tidak tau kamu bisa sehebat ini" Bapak kepala sekolah yang pertama kali meminta maaf pada Ara, setelah tau bahwa Ara sangat mampu menjawab semua soal dengan benar tanpa kesalahan.


"hahahaha" Deon kembali tertawa sinis. "hanya itu? kalian membuat ara-ku menangis dan sedih, yang dia dapat hanya permintaan maaf dari kepala sekolah? Hebat sekali guru-guru yang ada disini" Sindir Deon dengan tatapan sinis pada para guru yang tadi menyalahkan Ara. "Tak, bagaimana menurut mu? apa perlu aku memecat mereka semua?" Lanjut Deon dengan nada mengancam.


"Tu-tuan saya mohon jangan pecat saya, saya mengaku bersalah" salah seorang guru duduk bersimpuh dihadapan Deon, dan diikuti dengan guru guru lain kecuali wali kelas dan guru BK, mereka berdua masih tetap diam walau sebenarnya hati mereka sangat resah dan ketakutan.


"Iya tuan maaf kan saya tuan, Nak Clara maaf kami ibu ya".


Ara terlihat kebingungan dia segera mensejajarkan badannya dengan guru-guru yang berlutut di hadapannya. Ara bingung kenapa guru-guru itu terlihat sangat takut hanya di ancam pemecatan oleh Deon.


" Ibu iya Ara udah maafkan kok, ibu sama bapak jangan seperti ini, ayo tegak, jangan kayak gini" Ara membantu mendirikan tubuh guru-guru nya yang tadi bersujud.


"Kak" lirih Ara menatap Deon yang masih diam tidak mengatakan apapun.


"Tidak ra, mereka udah nuduh tanpa bukti, dan sekarang mereka hanya minta maaf seperti itu, kakak masih belum bisa Terima".


" Tapi kak_"


Celengan kepala Deon membuat Ara tidak jadi melanjutkan ucapannya.


"Maaf sebelumnya Tuan Allinsky, saya mau bertanya apa hubungan anda dengan Clara, sampai anda mau melakukan ini semua?" Guru BK yang sejak tadi diam dan menggeram marah akhirnya bertanya juga, selama ini dia berusaha untuk mencari cara mendekati Deon, tapi tidak pernah berhasil, dia bekerja di sekolah milik Deon juga dengan tujuan lebih dekat dengan Deon, agar jika sewaktu waktu ada acara di sekolah dia bisa mendekati Deon jika Deon datang.


Deon merangkul Ara, "Calon istri saya, saat ini semua keluarga nya sedang ada diluar kota jadi dia dititipkan di rumah ibu saya" Deon sedikit memberikan bumbu dalam pernyataan nya karena takut nanti Ara akan di jelekkan.


Mendengar ucapan Deon barusan Ara segera beralih menatap wajah Deon dengan sedikit kerutan di kepalanya.


"Agar mereka tidak menjelekkan mu Ra" bisik Deon yang hanya dapat didengar oleh Ara.


"Tuan Allinsky maaf, bisakah anda memberikan kesempatan pada kami, guru-guru disini adalah guru-guru yang hebat, saya tau mereka sudah melakukan kesalahan tapi, bisakah mereka diberikan kesempatan tuan".


Deon sedikit termenung, " Bagaimana tak? apa yang harus saya lakukan agar mereka jera?"


"Bagaimana dengan surat permintaan maaf tuan, l tapi di tempel di mading sekolah, jadi nama baik nona Ara juga jadi bersih".


Botak selalu saja bisa memberikan ide yang membuat Deon senang.


" Hahaha bagus Tak, jadi tidak sia-sia kamu, aku bayar mahal" Deon berkata sambil menepuk bahu Botak. "Kalian lakukan sesuai yang botak katakan, maka aku tidak akan memecat kalian".


" Kalau saya tidak mau bagaimana tuan Allinsky?" protes Wali kelas itu, "Saya masih tidak yakin Clara tidak mencontek".


Deon menghembuskan nafas panjang, " Anda sudah melihat sendiri hasilnya, dan masih tidak mau percaya, terserah anda mau buat atau tidak, siap siap saja sampai besok jika saya tidak melihat surat yang kalian buat, kalian harus angkat kaki dari sekolah ini" putus Deon Akhirnya.


Deon segera keluar dari ruangan itu bersama Ara yang masih dia rangkul dan diikuti botak serta kepala sekolah dan wali kelas Ara.


"Tuan! tuan Allinsky!" panggil wali kelas itu sambil berteriak. Dia masih tidak mau mengakui kesalahannya pada Ara, dia masih terlalu gengsi dengan Ara.


...🐣🐣🐣🐣🐣...


"Tuan Allinsky!" Panggil Wali kelas lagi yang kini sudah bisa menyusul Ara dan Deon di depan kelas Ara.


"Ada apa lagi? sudah saya bilang syaratnya jika mau tetap bekerja disini segera buat surat permintaan maaf itu" Ketus Deon.


Beberapa murid begitu penasaran dengan apa yang terjadi tapi mereka tidak dapat bergerak mendekat hanya bisa duduk di kursi mereka sambil melihat kearah pintu luar kelas dimana Wali kelas mereka sedang marah pada pria tampan yang sedang merangkul Ara.


"Saya pemilik sekolah ini, kehilangan satu guru seperti anda saya tidak masalah rugi banyak, dan anda ingat ini, ketika Anda keluar dari sekolah ini maka tidak akan ada yang mau menerima anda, ingat itu baik-baik dalam otak anda, jadi putuskan tetap menahan gengsi tinggi anda itu atau kehilangan pekerjaan anda".


Wali kelas itu akhirnya tertunduk lemas, pekerjaan impiannya akan hilang untuk selamanya tapi dia masih tidak mau untuk merendahkan dirinya didepan Ara.


"Pak kepala sekolah, saya akan bawa Ara dan orang-orang dibarisan belakang itu" Deon menunjuk kursi Ara, dan teman-temannya.


Shasa yang merasa ditunjuk Deon Segera tegak dengan senyum yang merekah lebar.


"untuk apa tuan? ini masih jam sekolah".


" Untuk apa anda bilang? anda sudah membuat gadis kecilku sedih dan mood nya hancur, anda tidak tau bagaimana usahaku untuk membuat mood nya bagus, sangat sulit pak, dan berkat kalian saya harus meminjam murid-murid itu untuk membantu mengembalikan mood Ara".


"Tapi tuan__" Kepala sekolah itu tidak jadi melanjutkan ucapannya karena mendapatkan tatapan sinis dari Deon. "Baiklah tuan silahkan bawa mereka".


Shasa begitu senang mendengar kepala sekolah yang membolehkan dia pergi, dengan langkah riang dia mengambil tasnya dan mulai melangkah, tapi baru melangkah 3 langkah kakinya segera berhenti ketika Deon mengatakan hal yang membuat dia menjadi marah dan sedih.


"Leo, juan, dan robi, ambil tas kalian dan tas Ara, kita akan bersenang-senang" ucap Deon.


Leo, juan dan Roby dengan cepat meraih tasnya dan juga tas Ara, mereka senang nama shasa tidak disebutkan oleh Deon.


"Kenapa Shasa tidak ikut?" tanya salah seorang murid pada Deon.


"Dia kan MURID PINTAR, tidak mungkin dia mau ikut, iya kan murid pintar?" Sindir Deon dia masih tidak mau memanggil nama Shasa dari mulut nya sendiri.


"Saya mau kok menghibur sahabat saya kak" Ucap Shasa.


Deon beralih menatap mata Ara, "Bagaimana? apa kamu mau mengajak Shasa juga?"


Dari mata Deon kini mata Ara beralih menatap mata Shasa, semua kejadian tadi di ruangan BK kembali dalam ingatannya dan kota-kota Deon tentang pertemanan nya dengan Shasa yang salah kembali terngiang dalam otaknya.


Ara menggeleng pelan, "Ara sedang mau bersenang-senang bukan tambah pikiran" gumam Ara pelan.


"maaf murid pintar sebaiknya kamu belajar cara berteman yang baik dan menjaga kosakata yang benar, jadi saya tidak akan membawa anda MURID PINTAR" Sindir Deon sekali lagi.


.


Shasa mengepal kan tangannya dengan kuat, emosinya tidak mungkin dia tunjukkan untuk saat ini, walau dia merasa sangat marah, dia tidak bisa melakukan apapun.


"Hahaha kasian murid pintar" ledek Robi sambil berlalu dan dengan sengaja menyenggol bahu Shasa.


"Kami pergi dulu Murid pintar" Juan ikut-ikutan meledek Shasa.


"Maaf aku tidak bisa membantu, murid pintar. Kak Deon saja tidak mau memanggil namamu, jadi jangan bermimpi untuk mendapatkan bintang sedangkan kau hanya seonggok pasir tidak berharga" Bisik Leo sambil berlalu.


Ucapan ketiga orang itu membuat Shasa semakin menggeram kesal, sejak dulu Shasa tidak pernah bisa mempengaruhi tiga trio itu untuk membenci Ara, mereka selalu berada disisi Ara hal itu juga membuat Shasa semakin kesal, dulu dia yang selalu dilindungi para pria tapi sejak Ara hadir, semua perhatian pria jatuh pada Ara.


...πŸ₯πŸ₯πŸ₯πŸ₯πŸ₯...


Hei hei hei masih lanjut gak? pada kesal sama Shasa? hehehe sama author juga kesal😀😧😑😠


Makasih untuk dukungan semuanya tetap dukung terus ya, terima kasih.