
Bonus untuk semuanya hari ini author kasih bonus 1 up lagi deh, Terima kasih untuk udah dukung author ya, jangan lupa like, vote sama hadiahnya ya
Terima kasih
...πΌπΌπΌπΌπΌ...
Siang itu ay pergi ke kamar kecil sendirian, dia tidak mau meminta aurora menemaninya, gadis itu lebih memilih pergi sendiri.
'ceklek' pintu kamar kecil itu terbuka dengan tiba-tiba dia orang wanita asing masuk ke dalam sana, begitu melihat wajah ay yang sedang membersihkan tangannya kedua wanita itu langsung menunduk hormat pada ay.
Sementara Ay mengerutkan keningnya melihat dua wanita asing itu.
"Nona kita harus menuju tempat aman, kami adalah bodyguard dari tuan Brian, saat ini tuan muda el sedang diserang, dan ditakutkan nona juga sedang diincar, jadi tolong ikuti kami nona" ujar salah satu wanita.
Ay melipat kedua tangannya di depan dada, "abang? diserang?" tanya ay tampak biasa saja, walau hatinya sedikit cemas tapi ay masih berusaha mengontrol emosinya agar tidak terbaca oleh dua orang asing itu.
"iya nona, kami sudah mengamankan tuan muda al, jadi sekarang hanya tinggal nona yang belum" ujar wanita itu lagi.
Ay mengangguk pelan, "kalian jalan duluan, aku akan mengikuti kalian dari belakang".
" tapi nona saat ini situasi sangat berbahaya, mohon bisa jalan di depan kami" bantah salah satu wanita yang belum ada berbicara.
Ay semakin mengerutkan keningnya, dan sedikit berdecak kesal, "aku tidak mau, kalau kalian tetap memaksa aku tidak mau ikut, aku bisa cari tempat aman sendiri" gerutu ay.
"i-itu no_" ucapan wanita itu terputus saat wanita yang pertama kali berbicara itu memegang lengannya.
"baik nona, silahkan ikuti kami menuju mobil" ucap wanita itu.
Ay sengaja berjalan sedikit lambat, dia melihat jalan yang diambil kedua wanita itu tampak sepi dan tidak ada satu pun orang.
Ay berpura-pura memegang telinganya padahal dia sedang menekan tombol darurat yang ada di anting yang dia kenakan.
"berhenti kalian!" muncul dua orang asing satu wanita satu pria mereka menghalangi jalan dua wanita asing yang tadi di ikuti Ay.
"nona mereka adalah penculik kami adalah penjaga sebenarnya" ucap pria itu.
"kami adalah penjaga nona Danaya! jika kalian penjaganya kenapa kalian menutupi wajah kalian!" seru dua bodyguard palsu itu.
Ay sedikit tersenyum mendengar dua wanita itu memanggilnya Danaya, hanya orang-orang yang tidak terlalu mengenalnya yang memanggil gadis itu Danaya. bahkan seluruh bodyguard daddy deon memanggil ay dengan panggilan nona ay atau nona aya.
"kita tanding aja yuk" suara ay akhirnya keluar.
"tanding apa maksud nya nona?" tanya kedua bodyguard palsu itu.
"kalian berdua bertarung melawanku, dan kalian berdua juga melawanku setelah aku melawan mereka" ay menunjuk dua orang yang baru datang dan dua orang wanita yang menyamar jadi bodyguard nya.
"na-nanti nona bisa terluka" ujar bodyguard palsu itu.
"tidak apa, jika kalian bodyguard ku kalian pasti akan bisa melindungi ku yang terluka, tapi jika kalian bukan bodyguard asliku maka bukannya itu keuntungan buat kalian bisa membawaku yang terluka, kalian hanya tinggal melawan dua orang asing itu" ucap ay santai.
kedua bodyguard palsu itu saling pandang lalu mengangguk setuju, "baiklah nona, nona tentukan mau ikut siapa, kami atau mereka"
perkelahian pun dimulai, kedua wanita itu tampak sengaja berpura-pura kalah, mereka membiarkan ay memukul mereka.
"no-nona bisakah berhenti, jika kami terus dilawan, kami tidak bisa melindungi nona lagi" lirih salah satu bodyguard palsu.
"baiklah, kalian" ay menunjuk dua orang yang masih menggunakan maskernya, "tangkap dua makhluk jadi-jadian ini" perintah Ay.
"nona! kami bodyguard asli nona!" pekik mereka yang sekarang sudah di kunci oleh penjaga bayangan ay.
Ay tertawa kecil sambil menunjukkan senyum horornya, "jika kalian benar-benar bodyguard ku kalian tidak akan mengalah padaku, karena selama aku bertarung melawan bodyguard daddy, mereka tidak pernah menunjukkan belas Kasih-Nya, aku habis babak belur mereka buat" ucap ay dengan santai dia duduk bersila di tanah, hari ini hari yang paling melelahkan baginya, sudah disuruh squat jum malah harus bertanding melawan bodyguard palsu.
"Ay!" pekik al, dia yang mendapatkan sinyal bahaya dari ay langsung mencari titik lokasi keberadaan ay, pria itu datang bersama Aurora yang juga tampak cemas seperti al. "kamu gak apa kan dek?"
"gak apa sih, tuh si penculik berpura-pura jadi bodyguard om brian" tunjuk ay pada dua orang yang sedang diikat itu.
"Baik kok, cuma capek aja" keluh gadis itu masih dengan gaya cowoknya, duduk bersila sambil geleng-geleng kepala.
"ay, anggun dikit dek" Al mengingat kan tingkah tomboy ay memang akan keluar jika dia baru saja bertarung melawan orang.
Gadis itu langsung merubah posisi duduknya menjadi anggun dan tersenyum anggun, "bang sakit tangan ay" ay menunjukkan tanganya yang memerah sedikit, hanya merah tapi sebenarnya tidak sakit.
Al geleng-geleng kepala adiknya itu mampu merubah ekspresi hanya dalam hitungan detik.
"mana yang sakit?" tanya Al sambil memegang kedua tangan Ay.
"keduanya" rengek ay dengan muka cemberut.
"yuk kita pulang, au gak papa kan gue antar adek gue ke tunangannya bentar?" tanya Al.
Aurora mengangguk cepat, "lagian siapa juga yang mau minta antar sama kamu, cepat antar ay sana, takut ada sakit yang lainnya" ucap aurora.
"aku antarin pokoknya, jangan pergi sendiri kesana" ucap Al bersikeras.
"bang.. gendong, ay udah gak kuat jalan" rengek ay.
Al langsung berjongkok membiarkan Ay untuk naik ke punggung nya, biasa nya jika ada el, dialah yang akan menggendong adiknya itu
"kalian benar penjaga ay dari om brian?" tanya Al pada dua orang bermasker itu.
"benar tuan muda, nama saya Fajri" ucap pria berbadan tegap itu sambil menunduk hormat.
"Nama saya Diah" ucap wanita itu.
"baik riri kamu urus mereka berdua, dan cari tau siapa yang berusaha menculik ay" perintah Al pada Fajri, seperti biasa dia selalu suka membuat nama baru untuk bodyguard nya.
"Saya tuan?" tunjuk Fajri pada dirinya.
"iya siapa lagi yang saya panggil, nama kamu riri kan"
"Fajri tuan" Fajri berusaha membetulkan ucapan Al.
"kan ada Ri nya sudah sana urus kedua orang itu jangan banyak protes, dan kamu Ah telepon om brian sekarang juga" Al menunjuk wanita yang bernama diah itu.
Diah hanya bisa menghela nafas, dia segera merogoh sakunya untuk mencari nomor ponsel Brian.
π² "apa yang terjadi? ay dalam bahaya?!" suara cemas Brian langsung terdengar dari dalam ponsel.
Al menengadahkan tangannya pada Diah, meminta ponsel itu.
π² "ay hampir diculik, aku akan membawa ay ke kantor oom, apa oom bersedia menjaga ay sebentar?" tanya Al.
π² "ya aku akan menjaganya, cepatlah kesini, apa perlu aku sediakan dokter?" tanya Brian cemas.
Al melirik adiknya yang tersenyum senang, ketika mendengar suara cemas Brian.
π² "tidak perlu, dia sehat kok, hanya sedikit kelelahan, siapkan saja makanan kesukaan dia mungkin dia kelaparan ketika sampai disana" ay memukul pelan bahu al.
"yang banyak bilang bang" bisik ay pada Al.
π² "yang banyak makanannya, karena dia sangat kelaparan habis bertarung" kekeh Al.
π² "baik, akan aku siapkan semuanya, kau tidak apakan al?" tanya brian lagi.
π² "aku baik, cemaskan saja ay, tidak perlu mencemaskan ku" ucap Al lembut.
...π―π―π―π―π―...