
'brak' terdengar bunyi pintu yang tertutup secara mendadak.
Deon memeluk tubuh Ara dengan kuat, "Gak, kakak gak akan berpisah darimu" kini tangan Deon memegang kedua pipi ara, menghapus setiap air mata yang mengalir dari mata indah itu. "Kakak tidak akan bisa jauh darimu".
" Kakak bohong" lirih Ara pelan.
Deon kembali memeluk gadis itu, "kakak tidak pernah bohong padamu".
" Tapi__" Ara tidak dapat melanjutkan ucapannya, karena sekarang bibirnya telah dibungkam oleh Deon dengan bibirnya.
"Aku mencintaimu Clara Shahnaz Zoya" bisik Deon setelah bibir mereka terpisah.
Akhirnya Deon mengungkapkan perasaannya pada ara, perasaan yang selama ini dia tahan karena mengingat gadisnya masih terlalu kecil untuk mengerti akan arti cinta, tapi akhirnya mulut Deon tidak sanggup untuk menahannya lagi.
Dia tidak ingin gadisnya lebih menjauh dari ini.
Ara masih membeku atas ucapan spontan yang baru Deon sampaikan.
'Cup' Deon kembali mengecup bibir ara sekilas.
"Kakak tau, kamu masih bingung, tapi bolehkan kakak tetap menyimpan rasa ini?"
'Cup' lagi dan lagi Deon mengecup sekilas bibir mungil ara agar gadis itu sadar dari lamunannya.
Ara mengangguk pelan, kini dia tertunduk malu.
"Hei, kenapa seperti itu?" tidak berniat untuk melihat kakak?" Dengan pelan Deon mengangkat dagu ara agar menatapnya.
"Kakak sebentar lagi akan menikah denga__"
"Tidak akan, kakak tidak akan menikah dengan wanita ular itu" potong Deon cepat.
"Tapi__" lagi lagi ara tidak dapat melanjutkan ucapannya, karena kini tangannya ditarik oleh Deon menuju tempat tidurnya. Deon duduk dan menarik ara untuk duduk dipangkuan nya.
"Kakak!" pekik ara gemas dengan perilaku Deon, saat ini pria itu menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Ara.
"Sebentar saja, lima menit, kakak butuh energi untuk menghadapi masalah yang ada".
Ara hanya bisa pasrah membiarkan pria dewasa itu menjadikannya sebuah boneka.
...🐤🐤🐤🐤🐤...
"Sekarang ceritakan semuanya, kenapa kakak melarang ara untuk bertemu shasa". tanya ara setelah Deon sudah terlihat mau berbicara.
"hmmm" Deon mendesah panjang, "Sebenarnya bukan maksud kakak melarang, kakak tidak ingin mulut wanita ular itu mengatakan hal-hal yang akan menyakitimu"
"Sejak kapan kakak kenal dengan Shasa?" tanya ara lagi.
Deon menatap manik mata ara lekat lekat, "Haruskah kakak jawab?"
Mendapat anggukan dari gadis kecilnya, Deon hanya bisa pasrah, dia mulai menceritakan tentang kedua temannya yang berencana akan melakukan penelitian pada dirinya, dan shasa adalah objek yang akan digunakan untuk penelitian itu.
"Gimana kalau kakak bisa menyentuh nya? apa kakak akan tertarik juga dengan Shasa?" suara Ara terdengar sendu, dia kini menunduk, tidak berani menatap mata Deon.
Tangan Deon meraih dagu ara, agar gadis itu mengangkat kepalanya dan menatap matanya. "kalaupun hal itu terjadi hati kakak tidak akan bergetar untuk dia, hanya kamu yang mampu".
Ara kembali menunduk bukan karena sedih, kini gadis itu malu untuk menatap wajah Deon. Pria itu kembali menggoda ara dengan ucapannya.
" tapi kakak akan menikah dengannya" lirih ara.
"Tidak akan" ujar Deon dengan singkat.
"bagaimana caranya?!" gerutu Ara, sambil menatap Deon dengan kedua matanya yang memicing.
"Kita menikah duluan" kata Deon dengan senyum jahilnya.
'Puk'
Ara memukul dada Deon pelan, "Ini bukan waktunya bercanda kakak!" Gerutu Ara lagi, entah kenapa Deon masih sempat-sempatnya menggoda Ara.
"Dari mana tau kakak akan di nikahkan dengan wanita itu?"
Deon mengangguk pasti, "Hanya sentuh tangan, dan tidak lebih karena alergi kakak langsung kambuh".
" Lalu kenapa Shasa trauma?"
"Dia bilang dia trauma?" tanya Deon sedikit terkejut.
Ara mengangguk dan mulai menceritakan semua ucapan bunda Shasa saat ara ingin menjenguk Shasa.
"Bunda kakak sama bunda Shasa berteman, jadi bisa saja bunda kakak akan menikahkan kakak dengan Shasa" Ara kembali sendu, mengingat setiap ucapan bunda shasa.
"Tidak akan terjadi, kakak tidak pernah menyentuhnya, kakak tidak tau siapa yang melecehkan wanita itu tapi akan kakak cari tau" gumam Deon, dia kembali memeluk Ara dan membenamkan wajahnya di ceruk leher Ara, tempat itu kini sudah menjadi spot kesukaan nya.
"Besok ikut kakak ke rumah ya?" bisik Deon pelan.
Ara mengangguk, tidak ada yang dia takutkan lagi, Deon sudah mengatakan kepadanya berkali-kali tentang perasaannya, dan Deon juga tidak ingin jauh darinya, kedua hal itu cukup bagi ara untuk bertahan disisi Deon.
...🐣🐣🐣🐣🐣...
Ara menatap bingung rumah yang Deon maksud, saat ini mobil Deon berhenti di rumah yang berbeda, bukan rumah milik Deon.
"Kakak beli rumah baru?" ucap polos Ara.
Deon sedikit terkekeh geli, dia mencubit gemas pipi ara, "ini rumah orang tua kakak, ayo".
Aya menarik kembali tangannya yang ditarik Deon untuk keluar dari mobil.
" Kenapa?" tanya Deon dengan lembut.
"Orang tua kakak akan marah dengan ara" bibir mungil itu bergumam pelan.
"Tidak akan, kakak akan mengatakan pada orang tua kakak, hanya kamu yang bisa kakak sentuh"
"Tapi_"
'Cup' Deon kembali membuat ara tidak dapat melanjutkan ucapannya.
"Mau cepat keluar atau kakak lanjutkan dengan ciuman yang lebih panas" Goda Deon sambil tersenyum jahil pada Ara.
Dengan sedikit takut Ara bersembunyi dibelakang tubuh Deon, sesekali kepalanya sedikit mengintip ke depan melihat ke arah mana Deon membawanya.
"Deon! Siapa yang kamu bawa!" ucap sinis ayah Deon dari arah ruang tamu.
"Ara!" bukan Deon yang menjawab melainkan mitha yang mengucapkan nama ara lebih dulu.
"Ini ara yah, wanita yang ingin Deon nikahi, bukan shasa! Deon tidak pernah mencintai nya apa lagi menyentuh nya!"
"Berani kamu bilang seperti itu! kamu telah melecehkan shasa, dan kamu mau menikah dengan wanita itu! hebat kamu sekarang! hidup sesuka hatimu!" bentak tuan besar Allinsky sekali lagi.
Ara kembali menunduk takut melihat kemarahan Ayah Deon, dia memang sering dimarahi tapi tidak pernah menerima kemarahan seperti itu.
"Mas, tolong jangan seperti ini! kita bicarakan dulu semuanya, sebentar lagi keluarga Acha akan datang, mas yang tenang ya" mitha berusaha mengelus lengan suaminya agar dia tenang. "Deon suruh ara masuk dan menunggu ditempat lain, sekarang kita selesaikan dulu masalahmu dengan putri Acha".
Deon masih tegak menatap dingin ayahnya. "apa ayah pikir Deon pria bejat yang akan melakukan hal mengerikan itu pada Shasa?" tanya Deon dingin.
Deon menarik tangan ara agar wanita itu masuk dalam rangkulan nya, "Hanya wanita ini yah! hanya ara yang mampu membuat Deon menjadi gila, Deon ingin menyentuh nya lebih, tapi deon menahannya karena dia masih sekolah, Deon tidak ingin menghancurkan masa remaja gadis ini, apa ayah menganggap Deon akan sebejat itu setelah ayah melihat ini?"
Ayah Deon memijit kepalanya, "Sembunyikan saja dia dulu, kita akan bicara lagi setelah semuanya terungkap".
Deon segera menarik tangan ara, menuju kamar yang tidak jauh dari ruang tamu itu, " Disini sebentar ya, kakak akan selesaikan masalah wanita ular itu".
Sebelum Deon melangkah pergi Ara lebih dulu memeluk Deon, ini pertama kalinya gadis itu berinisiatif untuk memeluk Deon duluan.
"Kakak janji, tidak akan meninggalkan ara kan? " gumam pelan gadis itu.
"Kakak janji, kakak akan bongkar kebohongannya".
Sebelum pergi Deon mengecup kening ara dan mengelus puncak kepalanya, "tunggu sebentar ya".
...🐥🐥🐥🐥🐥...