
Tidak sampai lima belas menit Deon telah sampai di pekarangan rumah nya, dengan tergesa-gesa Deon berlari masuk ke dalam rumah, tidak jauh dari pintu masuk, Deon melihat Ara yang meringkuk sendirian, dan tiga temannya yang hanya bisa berdiri tidak tau apa yang harus dilakukan.
"Apa yang terjadi?" tanya Deon pelan sambil menepuk pundak Leo.
"Tadi saat Dimas hendak memegang Ara, Ara langsung seperti itu kak" Jelas Leo.
Kini Deon bersimpuh satu langkah di depan Ara, gadis itu masih menyembunyikan wajahnya dan bergumam hal yang sama.
"Hei little girl, ini kak Deon".
Mendengar suara Deon Ara kini mengangkat kepalanya, matanya mengerjab menatap Deon.
"Kak Deon" panggil ara.
"iya ini kak Deon, sentuh tangan kakak, untuk memastikan" Deon menyodorkan sebelah tangan nya kearah Ara.
Bukannya menyentuh tangan Deon, Ara segera memeluk tubuh Deon.
"Kak, tadi Toni datang! dia mau ganggu Ara kak" gumam Ara disertai isakan kecil.
"Udah kakak usir, jadi jangan takut lagi ya" Deon hendak melepaskan pelukan Ara, tapi gadis itu tambah mengeratkan pelukannya. "Kakak disini Ara" ucap Deon lagi.
Deon mengangkat Ara seperti kera yang menggendong anaknya, dia memberi kode pada ketiga sahabat Ara untuk tetap di situ, sampai dia bisa menenangkan Ara.
...🐥🐥🐥🐥🐥...
Sekitar tiga puluh menit Deon baru turun ke lantai bawah, ke tempat tiga orang sahabat Ara.
"Ara sudah tidur kak?" tanya Robi.
Deon menggeleng pelan, "belum, kakak takut kalian menunggu lama, kakak tadi izin mau ambil makan malam untuk kakak dan Ara" Deon memanggil Bi arin meminta membawakan nampan berisikan makanan untuk dibawa ke kamar Ara, Setelah itu baru perhatian Deon teralih pada ketiga sahabat Ara.
"Jadi, jelaskan padaku dari awal kalian datang hingga Ara bisa menjadi seperti tadi"
.
Leo, Juan dan Robi saling berganti-ganti peran dalam bercerita, sesekali Deon meremas tangannya ketika mendengar cerita ketiga teman Ara.
.
"Jadi gitu kak"
"Kak, aku rasa Ara trauma sama pria yang bernama Toni itu" ujar Juan.
" Kalau dia trauma sama Toni, kenapa dengan Dimas trauma yang kambuh?"
"Mirip kak!" sahut Robi.
"Jika diperhatikan sekilas Dimas dan Toni hampir mirip, Toni versi Dimas yang agak dewasa dan tegas" Juan menjelaskan arti dari ucapan Robi.
Deon mengusap wajahnya dan menghembus kan nafas panjang, "Jika seperti ini, apa aku harus bersyukur atau malah harus sedih?" gumamnya pelan.
"Kenapa gitu kak?" Leo bertanya karena tidak mengerti maksud ucapan Deon.
"Ya, berarti pemicu trauma nya jika Dimas atau Toni berusaha menyentuh Ara, dengan begitu Ara tidak boleh mendekat dengan kedua pria itu, tapi aku tidak ingin Ara yang enerjik menjadi lemah seperti ini".
" Benar juga kak, dengan begini Ara tidak boleh berdekatan dengan Dimas, otomatis semakin jauh mereka semakin lupa lah Ara pada perasaannya" seru Juan dengan senang.
"iya tapi masalahnya, Ara tidak bisa seperti itu selamanya, bisa saja traumanya itu semakin besar, seperti aku sekarang" lirih deon
"apa!?" teriak ketiga teman Ara.
"Kakak trauma perempuan karena hal yang sama?" selidik Juan.
Deon menggeleng, "Sedikit berbeda, tapi hampir sama, saat itu umurku 15 tahun, ahhh sudah jangan membahas hal itu".
" Tuan-tuan muda" panggil Bi arin dengan langkah cepat.
"Ada apa bi?"
"Anu tadi Non Ara bilang gak mau makan kalau gak ada tuan" jelas bi arin.
"Baiklah, kalian segera pulang, jangan mengebut, santai saja, utamakan keselamatan" nasehat Deon sebelum berlalu menuju kamar Ara.
...🐤🐤🐤🐤🐤...
Di dalam perjalanan terdengar pertengkaran kecil oleh sepasang kekasih, yang wanita tampak kesal sambil mencaci maki si pria, begitu juga sebaliknya.
"Kamu itu yang terlalu agresif! mendekati pria kaya itu!" teriak si pria pada wanita.
"Kamu yang tidak punya inisiatif! seharusnya kamu mencari perhatian Ara! bukannya sibuk belajar!" pekik Shasa.
ya, sepasang kekasih itu adalah Shasa dan Dimas. ternyata kedua orang itu berpacaran dengan maksud masing-masing. Si Dimas berpacaran dengan Shasa untuk membuat ara kembali cemburu dan mendapatkan hati ara kembali, dan si wanita awalnya hanya untuk pamor terkenal disekolah, kini tujuan si wanita berubah setelah mengetahui Ara kenal dengan pria impiannya.
"Jadi gimana sekarang?! aku sudah kehabisan akal untuk mendekati Ara! kau tidak membantuku sedikitpun!"
"Aku tau, tapi bukankah nanti justru Ara yang merasa risih jika aku mendekatinya!"
"Akkkhhh dasarnya bodoh! ini semua karena gengsi tinggi mu! pelihara saja gengsi mu itu! sampai Ara akan menghilangkan perasaan nya padamu sepenuhnya!" pekik Shasa geram.
"Lalu aku harus bagaimana? aku tidak pernah mendekati wanita, apa lagi Ara, pamorku pasti jatuh ketika aku berusaha bersikap seperti apa yang Ara lakukan padaku!"
"Maka jika kau seperti ini, bersiaplah untuk tidak pernah mendapatkan Ara" Shasa sudah tidak tau mau bicara apa, pria didepannya itu terlalu gengsi untuk bersikap perhatian pada Ara. "Bagaimana dulu Ara bisa menyukaimu?"
"Aku tidak tau, ketika sadar akan perasaan nya, dia sudah seperti cicak, terus menempel padaku".
" Aakhhh nanti saja aku pikir kan, masalah aku dengan pria impian ku saja belum selesai, sekarang aku harus menambah masalah baru, untuk sekarang pikiran rencana masing-masing, nanti kita akan buat rencana ulang untuk merebut target kita.
...🐣🐣🐣🐣🐣...
"Ra" panggil Deon pelan pada Ara yang asik bermain game didalam dekapan Deon.
"Haa? apa?" jawab Ara malas, tapi matanya masih fokus sama game yang dia mainkan.
"Mau gak besok temani kakak ke dokter psikolog?"
Permainan Ara seketika berhenti, matanya kini beralih menatap Deon antara bingung dan kesal itu lah perasaan yang saat ini disampaikan dari sorot mata Ara.
"Ara gak mau kenapa kak" lirih Ara.
"Temani kakak, biasanya tiap bulan kakak memang sering konsultasi ke sana".
" Ngapain kakak ke sana?" selidik Ara.
"konsultasi sama penyakit kakak".
" Kakak kan gak gila?!" ucap polos Ara.
Dengan gemas Deon mencubit pipi Ara sedikit keras sehingga gadis itu sedikit meringis kesakitan.
"Kan udah kakak bilang orang yang pergi kesana bukan hanya orang gila, bisa kesana karena sakit insomnia, bisa karena trauma seperti kakak" jelas Deon dengan pelan.
"Kakak trauma apa?"
"hmm untuk anak seumuran kamu belum boleh tau atau dengar, nanti ada saatnya kakak ceritakan semua trauma kakak sehingga kakak menjadi seperti sekarang, merasa jijik ketika kulit kakak bersentuhan dengan kulit wanita lain"
"Tidak boleh sekarang?" pinta ara.
"tidak bisa little girl, jadi mau ya temani kakak kesana?"
"Nanti kalau insomnia Ara sembuh, kakak gak bisa temani Ara tidur lagi" ucap Ara polos.
Deon terkekeh pelan, "bisa kok, tunggu aja waktunya".
Ara sedikit mengerutkan keningnya mendengar ucapan Deon.
" Ohh iya, dari kemarin kakak lupa, kapan hukuman yang pending dilanjutkan?"
"Harus dilanjutkan? Ara kan udah ngaku salah"
"No no no, kemarin kan utang, ingat hutang adalah janji, dan masih ada hutang lain yang belum dilunasi, selain hutang itu"
"Apaan? gak ada" elak Ara.
Deon menyentuh bibirnya lalu bibir Ara dengan jari yang tadi dia gunakan untuk menyentuh bibirnya, "Ada, coba ingat-ingat lagi" goda Deon sambil menaik turunkan alisnya.
"ihhh kakak nyebelin!" Ara segera menarik selimutnya untuk menutupi badan hingga kepala. dia telah ingat hutang apa yang di maksud Deon.
"Ra, Ara" panggil Deon dengan tawa yang ditahan.
"Ara udah tidur" ucap Ara dari balik selimut.
"Jangan tidur dulu ra, hutang hukuman masih belum dilakukan loh" ledek Deon lagi.
"nggooookkk ngoookkk" Ara menirukan suara orang yang sedang ngorok dalam tidurnya.
"Hahahaha ra, ya ampun kasian banget, kok bisa ada cewek yang ngorok kayak gini tidurnya" Deon sudah tidak bisa menahan tawanya lagi, di tertawa keras, hingga air matanya keluar karena terlalu kuat tertawa.
...🐥🐥🐥🐥🐥...
🌺 cuap cuap author 🌺
Hai semuanya, makasih banyak untuk semua dukungannya, berkat kalian author jadi semangat untuk ngetik novel ini, Terima kasih buat like dan votenya.
tetap terus dukung author ya, dengan cara like dan vote sebanyak-banyaknya.
Terima kasih semuanya ❤❤💞💞💞