My Little Girl

My Little Girl
84. Deon Dapat Jatah?



Tanpa di ketahui Deon ternyata ara berada di dalam mall yang sama, gadis itu baru saja keluar dari bioskop bersama teman-teman nya. Tapi matanya menangkap pemandangan violet dan suaminya duduk berhadap-hadapan.


Ara yang memang labil dan cemburuan langsung saja bergegas menuju tempat itu.


"Ra, sabar ra, nanti kak Deon ilfeel liat lu kayak gini" bujuk putri. Dia berhasil membuat ara berhenti, tapi mata ara masih menatap marah pada Deon.


"Gue tau lu marah, tapi setidaknya liat itu, selain suami lu, ada dua orang lagi disisi wanita itu, jadi suami lu gak sendiri kesana" jangan tanya kenapa putri tau bahwa Deon adalah suami Ara, semua itu karena mulut lemasnya si juan yang tidak sengaja mengatakan secara gamblang bahwa Deon adalah suami sah ara.


"Tapi kak Deon gak izin ke gue put, gue aja kalau pergi pasti izin".


Putri mencubit gemas pipi sahabat nya itu, " iya, lu bicarain baik-baik, kalau gak para pelakor itu makin senang liat hubungan kalian hancur, liat baik-baik, suami lu gak ada senyum-senyumnya ke wanita itu, buktikan bahwa ara dan kak Deon tidak akan terganggu apapun cobaan nya".


"Benar kata putri ra, sekarang kamu buat aja kak Deon mengejarmu, dan memohon ampun, kerjain kak Deon" tambah Leo, Kadang-kadang otak nakalnya berfungsi disaat yang tidak tepat.


"haaaa huuuuu" ara berusaha mengatur nafasnya, "Nanti saat aku pergi kalian jangan kejar ya, biar aja om genit itu yang mengejar, oke?"


"oke" balas semuanya serempak.


...🐀🐀🐀🐀🐀...


Ara berjalan santai menuju meja Deon, tapi saat Violet ingin menyentuh Deon, langkah kaki wanita itu langsung cepat.


"Penjelasan apa lagi tan! jangan pernah menyentuh suamiku!" Ara menepis kasar tangan Violet.


Dia segera pergi meninggalkan deon dan yang lain.


"Haiiisss sial! awas kalian berdua, bakal gue lakuin apa yang gue bilang tadi, Tak urus semua" Deon tidak bisa menunggu lama lagi, dia segera berdiri, dan berlari mengejar kemana istri kecilnya pergi.


.


"Suami" ulang violet, dia mendengar jelas kata-kata yang diucapkan Ara.


"Bisa kalian tutup mulut tentang ini, jika tidak saya harus menyelesaikan semua ini dengan sedikit kekerasan" Botak mulai memasang sarung tangannya.


Andri dan angga yang melihat itu langsung mengangkat kedua tangannya tanda menyerah, "100 persen aman dengan kami Tak" ucap keduanya serempak.


Botak beralih pada Violet, "dan anda nona violet?"


Bukannya menjawab, violet malah gantian bertanya pada botak, "kapan mereka menikah? bukannya gadis itu masih sekolah?"


"Beberapa bulan yang lalu, dan ya nona kami masih sekolah maka dari itu saya meminta anda bertiga untuk menjaga rahasia ini jika tidak ayo ikut saya keruangan hitam", ruangan hitam yang dimaksud botak adalah ruangan tempat penyiksaan yang dilakukan botak pada musuh-musuh Deon, ada sebagian yang keluar dari sana dalam keadaan tidak bernafas lagi, jika beruntung akan seperti orang bodoh dan Linglung setelah keluar dari sana.


"Apa aku sudah tidak punya kesempatan?"


"Tidak nona, nona liat sendiri, bagaimana tuan muda sangat mencintai istrinya, jadi ba__"


"Baiklah, aku tidak suka hukuman, tapi bukan berarti aku menyerah sepenuhnya, biarkan aku mencoba sampai hari pernikahanku terlaksana" pinta Violet untuk terakhir kalinya.


Sebenarnya violet terus mengejar-ngejar Deon untuk membatalkan acara pernikahannya dengan anak teman ayahnya, karena violet tidak pernah membawa Deon ke hadapan orang tuanya lama kelamaan kedua orang tuanya tidak percaya dengan apa yang di katakan violet, dan memutuskan sampai hari ulang tahunnya jika Deon tidak muncul di hadapannya maka Violet akan menikah dengan pria yang sudah orang tuanya pilihkan.


...🐣🐣🐣🐣🐣...


Deon berlari mengejar istri kecilnya, ketika sampai ditempat yang lumayan sepi, ara sengaja memperlambat langkahnya, ternyata gadis kecil itu bisa juga acting marah didepan Deon, tapi apakah dia benar-benar bisa menipu Deon?


'Hap' Deon menangkap tubuh kecil itu dan menguncinya di dinding.


"Dengarin kakak, itu semua tidak seperti yang kamu bayangkan, kakak tidak tau kalau wanita itu ada disana, kakak mohon percaya ya".


Ara masih diam dia hanya menatap ujung sepatunya, sebenarnya bukan karena dia masih marah, tapi gadis itu sedang menyembunyikan senyumannya yang muncul, saat mendengar suara Deon yang memohon padanya, seperti nya Ara perlu belajar dari shasa tentang bagaimana caranya akting yang terlihat nyata.


"ara" Deon hendak mengangkat dagu ara, tapi tangannya ara tepis, ara sengaja melakukan itu, saat ini senyum gadis itu masih belum mau hilang.


"Maaf baby, kakak yang salah, kamu boleh marah, kamu boleh pukul kakak, tapi jangan diam seperti ini" Lirih Deon.


"Kakak gak sayang ara lagi, kakak mau sembuh ya, ara egois ya kak? maaf ara cuma takut kakak ninggalin ara hiks hiks" ara sudah bisa mengatur ekspresi nya menjadi sedih, makanya dia berani berbicara dan mengangkat wajahnya menatap Deon.


Didalam pelukan Deon, ara kembali tersenyum, untung aja dia gak marah mengerikan pada violet, mungkin akan lain cerita jika ara memarahi violet.


Deon melepaskan pelukan nya dan menatap wajah ara memberikan sebuah kecupan di kening ara.


"Kamu satu-satunya wanita kakak, mengerti" ucap Deon.


Ara merengut, "lalu shasa di kemanain? kan kakak ada main sama shasa" ara mengakhiri ucapannya dengan senyuman.


Disaat itulah Deon sadar gadis kecil itu sedang mengerjai nya.


"Baby, apakah seru membuat kakak spot jantung?"


"Siapa suruh ketemu cewek cantik gak izin sama ara" gerutu ara.


'Cup' kini Deon berani mengecup bibir istrinya itu.


"Biasanya kalau suami marah sama istri, istrinya harus dapat 'hukuman enak', sekarang kakak marah loh" Deon melepaskan tangannya yang tadi merangkul Ara.


"Hukuman apa kak? yang salah kan kakak, kok ara yang diberi hukuman" rengek ara.


"Makanya dinamakan 'hukuman enak'"


Ara sedikit berpikir, lalu dia ingat setiap merajuk Deon selalu memberinya makanan yang enak-enak.


"mau kak, ara mau Terima hukumannya" girang ara sambil sedikit berlonjak senang.


"Yakin mau Terima hukumannya?"


"Iya kakak mau ajak ara kemana?" Ara segera menarik tangan suaminya itu untuk menuju mobil. dia sudah tidak sabar menerima hukuman dari Deon.


"Awas kalau kamu menolak hukuman dari kakak" ancam Deon sebelum ara menolaknya.


"Gak akan kak, ara siap sedia menerima hukuman apapun dari kakak" Seru ara dengan percaya diri. "Jadi kita kemana kak?"


"Kita ke rumah pulang" Deon menggenggam tangan istrinya menuju mobil.


"Ohh kakak mau makan di rumah" ucap polos ara, gadis kecil itu bersenandung senang menuju mobil Deon, dia yakin Deon akan memasakkan makanan untuknya, semenjak ara meminta di masakkan oleh Deon, gadis itu jadi ketagihan masakan Deon, pria itu dapat membuat masakan apapun hanya dengan sekali lihat orang membuat masakan itu.


.


"Kamu senang dapat hukuman?" tanya Deon dengan smirk nakal.


"Senang, ara gak sabar pulang ke rumah" teriak ara lagi dengan bahagia. "Kita makan apa kak?" tanya ara sambil melirik Deon yang sedang menyetir.


"kakak yang makan, kamu nggak makan" jawab singkat Deon.


"Kok gitu? ara juga mau makan"


"Kamu boleh juga makan kok, kita saling makan" ucap Deon dengan senyuman yang sudah merekah lebar.


"Saling makan?" ulang ara, dia kemudian mengurutkan semua ucapan Deon, tidak lama kemudia otaknya baru loading, tentang maksud deon dengan saling makan.


"Ka-kakak makan ara?" tanya gadis itu pelan.


"iya, udah lama kakak puasa, sekarang saatnya istri kecil kakak kena hukuman, karena berani buat suaminya marah" jawab Deon lagi.


Ara melihat keselilingnya, memukul mulut nya sendiri yang bilang akan menerima semua hukuman, apakah ini saatnya Deon dapat jatah?"


...πŸ₯πŸ₯πŸ₯πŸ₯πŸ₯...


Hayo~~ ada yang senyum-senyum gak? jadi gimana ya kita kasih kesempatan gak buat Deon dapat jatah malam pertama?


tetap nantikan chapter selanjutnya ya, jangan lupa like dan vote nya πŸ˜„πŸ˜„ πŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸŒΈβ€β€β€