
"Kakek! kakek!' panggil Adnan terus, dia tidak sadar eric sudah mulai mendekat ke arahnya.
'Puk' Eric memukul tengkuk Adnan hingga pria itu pingsan.
" ahh akhirnya aku terbebas dari pria gila ini" keluh Eric sambil melihat kearah tiga orang pria tampan yang baru turun melalui tangga.
"Kau sudah bosan dengan dia Eric?" tanya Johan dengan tawa kecilnya.
"Dia sangat bodoh tuan, pria ini hanya kaki tangan dari kakeknya, bagai kerbau di cucuk hidung oleh kakeknya dia akan melakukan apapun atas perintah kakek nya namun sayang dia jatuh cinta pada putri musuhnya, yang membuat dia merubah segala rencana kakek tua itu, saya sudah lelah mengikuti dia tuan" keluh Eric.
Lars tertawa keras mendengar keluhan Eric, anak buahnya itu memang sering dijadikan mata-mata untuk mengawasi musuh, "sekarang bukannya tugas mu selesai, hanya tinggal mengikatnya di kursi dan kami akan bermain dengan cucu pak tua itu" perintah Lars.
"Baik tuan" Eric segera mengangkat Adnan bagaikan sebuah karung dan meletakkan pria itu di atas sebuah kursi hitam yang sudah disiapkan setelah itu Eric mengikat tangan serta kaki Adnan agar pria itu tidak bisa lari.
setelah tugasnya selesai Eric segera mendorong kursi yang terdapat Adnan kehadapan 3 orang pria berkuasa itu.
ketiganya tampak duduk santai di atas sofa single dengan gaya sombong mereka.
"kita apakan pria ini? apa perlu kita hubungi kakeknya?" kekeh Lars.
"Lala itu ide bagus!" seru johan senang.
Muka lars langsung berubah masam pasalnya pria itu baru saja di panggil lala oleh johan.
"my Name is Lars!" gerutu pria berwajah bule itu.
"hahahaha gak mau gue suka nama panggilan yang di buat oleh alien kecil itu" kekeh johan.
"ekkkhh" suara Adnan mulai keluar.
"Seperti nya dia sudah bangun, tidak perlu kita bangun kan" ucap leon dengan seringai mengerikannya.
Adnan mulai membuka matanya perlahan, pria itu sedikit terkejut melihat 3 orang tampan dan gagah duduk di kursi mereka masing-masing.
"Si-siapa kalian!" teriak Adnan begitu melihat wajah ketiga orang itu.
"hmm siapa ya?" Johan melipat tangan nya di depan dadanya dengan senyuman sinisnya.
"para bodyguard utama danaya, bagaimana jika aku mengatakan itu" ucap leon.
"Da-danaya! ka-kalian pelindung danaya! ma-maaf kan aku tuan, aku tidak bermaksud untuk menculiknya, maafkan aku tuan" ucap Adnan ketakutan.
"tidak bermaksud, wahh wahh tidak bermaksud tapi sudah menyiapkan sangkar emas untuk dia tinggal ya" ungkap Lars.
"a-aku ingin melindungi dia dari kekejaman kakek, setidaknya dia harus selamat jika keluarga nya akan dihabisi oleh kakek ku, makanya aku menyiapkan tempat perlindungan untuk danaya" jelas Adnan dengan suara begetar ketakutan.
"tapi sayangnya kau melindungi dengan cara yang salah, kau sudah berani mengejar kekasih Brian, kau pasti tau siapa George Brian Marcello, mafia nomor satu di dunia, siapa yang berani padanya sekarang?! tidak ada! dan kau sudah berani mencoba menculik milik pria itu hanya kau yang berani aku salut padamu" ucap Lars sambil menepuk tangannya.
"Ma-maaf kan aku tuan, aku ti-tidak akan mencoba melakukan itu lagi" ucap Adnan dengan suara yang masih bergetar.
"Sayang sekali, pria itu tidak punya ampun karena kamu sudah mengusik wanitanya, mungkin kamu akan dimaafkan jika kesalahan lain, tapi ini wanitanya, bagian utama dalam hidupnya maka kematian masih belum cukup untuk menghilangkan kemarahan pria kejam itu" ucap Lars.
"Ma-maaf kan aku tuan, aku mohon maaf" Adnan akhirnya menangis mendengar keputusan yang akan terjadi pada dirinya.
"tenang sekarang belum saatnya kau mati, kita harus menghancurkan kakek tua itu baru setelah itu giliran mu, kau tunggu saja ya" ucap Johan dengan tawa lebarnya.
"Lele kau hubungi kakeknya, biar kita buat pria tua itu menangis cucu satu-satunya ada ditangan kita" ujar johan dengan tawa mengerikannya.
Leon tidak mau banyak berbicara, dia membiarkan saja panggilan yang ay buat disebut oleh Brian, pria itu terlalu malas berdebat.
...🐯🐯🐯🐯🐯...
Brian tersenyum begitu dia bangun tidur melihat wajah cantik gadis kecil yang sebentar lagi menjadi istri kecilnya.
Pria itu menyentuh pipi ay lalu turun ke bibir ay yang berwarna merah walau belum memakai lipstik.
perlahan mata ay terbuka karena ulah tangan Brian yang memegang wajahnya. ay tersenyum manis ketika matanya bertatapan dengan mata brian.
"Pagi om ganteng" sapa ay sambil mengelus pipi brian.
Brian balas tersenyum dan menggenggam tangan ay yang ada di pipi nya "pagi sayangku" ucap Brian, pria itu menggenggam tangan ay dan mencium tangan itu.
"om, ay lapar" lirih ay.
brian terkekeh pelan, "akan aku buatkan, tapi beri bayaran dulu dong".
" bayaran? apa bayarannya?" tanya ay dengan mengerutkan kening.
Brian memegang bibirnya sambil berkata, "kiss".
Wajah ay langsung berubah merah, gadis itu menarik selimut hingga menutupi wajahnya.
" Sayang ayolah... biar aku semangat buat sarapannya " ucap Brian.
Ay memperlihatkan hanya matanya saja, "Ay belum gosok gigi" ujar ay pelan.
"hahaha! tidak apa sayang, ayolah sekali aja" bujuk Brian.
"janji gak tergoda ya" ay mengarahkan pandangannya pada bagian bawah Brian yang tertutupi selimut.
Brian kembali tertawa sambil mengangguk, "janji, hanya tinggal menunggu 1 bulan lagi aku yakin bisa menahannya untuk bangun" kekeh Brian.
"Baiklah" jawab ay.
Mendengar jawaban yang di tunggu-tunggu Brian langsung menarik ay untuk mendekat ke arahnya, Bibir pria itu sudah menempel pada bibir ay bahkan lidahnya sudah menjelajah masuk ke dalam mulut ay, tangan Brian tidak sengaja menyentuh buah dada ay, mata pria itu langsung melotot dan melepaskan ciuman mereka berdua.
"Ay kamu tidak pakai itu kacamata" ucap Brian sedikit kaku. Brian tidak terlalu memperhatikan saat malam hari dia menemani ay tidur, dia baru sadar ketika dia tidak sengaja menyentuh dada ay.
"kacamata? ay gak sakit mata" ucap ay bingung, Tiba-tiba saja Brian melepaskan ciuman mereka.
"itu loh penutup dada" ujar Brian akhirnya.
Ay tersenyum dan mengangguk mengerti, "semua wanita kalau tidur harus melepas kacamata nya om, kalau gak sesak di kurung sepanjang hari" kekeh ay.
Brian langsung meneguk saliva nya begitu mendengar jawaban ay.
"ya u-udah aku buat makan dulu" ucap Brian cepat sambil duduk dikasur.
"udah ciumnya?" tanya ay dengan senyum menggoda.
'cup' Brian menempelkan sekilas bibirnya dengan bibir ay, "udah sayang, cepat mandi" setelah berkata begitu Brian segera pergi dari kamarnya.
'brak' bunyi pintu yang di tutup secara mendadak oleh Brian.
Diluar pintu Brian terduduk dilantai sambil melihat kearah bawahnya yang sudah berdiri tegak, "aakhhh sial masih satu bulan lagi baru bisa merasakan! sadar Brian jangan jadi harimau! hanya sebulan lagi sabar Brian!" gumam Brian pada dirinya sendiri.
sedangkan didalam kamar ay tertawa keras melihat tingkah Brian yang kelabakan dan langsung lari begitu mengetahui fakta tentang itu.
...🙈🙈🙈🙈🙈...
bonus pict