
Leo sedikit berlari untuk mengejar kedua sahabatnya yang sudah berjalan beriringan dengan Deon dan Ara.
"Kak kita mau kemana?" tanya Juan penasaran.
Bukannya menjawab Deon malah menatap mata Ara sambil tersenyum.
"kak jawab dong" kali ini Ara yang berkata.
"kamu maunya kemana?" Deon malah balik bertanya pada Ara, "Kan kakak mau menghibur kamu".
Ara berpikir sebentar, kemudian kepalanya menggeleng, " Gak tau kak, taman bermain udah bosan, club gak boleh, balap juga hehehehe".
Deon tampak memikirkan sesuatu, "Mau balap?"
"Emang boleh?" Seru Ara bersemangat.
di belakang nya, juan, leo dan Robi juga tampak bersemangat, mereka sudah lama tidak pergi balapan.
"Tapi belum ada berita tentang balapan ra" komentar Leo, dia yang sangat tau kapan balapan liar diadakan.
"Iya ya" Ara kembali menunduk lesu.
"Emang siapa bilang balapan cuma ada balapan liar?"
Keempat remaja itu serentak menatap Deon dengan wajah yang kebingungan.
"Ada kok balapan yang legal, mau ke sana?" tawar Deon.
Ara dan teman-temannya serentak mengangguk senang.
"Kalau begitu kalian bertiga naik mobil botak, dan kakak bersama Ara"
Mereka segera masuk ke mobil masing masing. sebelum masuk kedalam mobilnya Deon membisikkan pada botak untuk memesan arena balap miliknya selama satu hari penuh.
...π€π€π€π€π€...
Wajak Ara dan ketiga teman-temannya serentak melongo menatap arena balapan yang biasanya hanya bisa dilihat di TV-TV sekarang dapat mereka liat secara langsung.
Deon membawa keempat remaja itu ke arena balap yang dia miliki, biasanya arena itu digunakan untuk latihan para pembalap Indonesia, tapi kali ini arena itu tampak kosong dan hanya terlihat karyawan-karyawan Deon yang berlalu lalang.
"Wuiiihh gila! ini milik kakak?" Robi bertanya sambil terus menatap ke kiri dan kanan.
"Iya" jawab singkat Deon.
.
Tidak berapa lama mereka masuk, mereka didatangi karyawan Deon, "Ikuti mereka dan ganti baju kalian dengan baju balapan yang sesungguhnya" Deon menunjuk karyawan yang tadi datang menghadapnya.
"Baik kak" ucap serentak keempat remaja itu.
...π£π£π£π£π£...
"Wuiiihhh gimana bro, gue udah kayak pembalap sesungguhnya belum?" Juan bergaya sambil menunjukkan tanda v pada Robi.
"Gila ni baju keren banget, gak habis pikir gue kak Deon bakal sekaya ini" Robi tidak menjawab malah berbicara pada dirinya sendiri.
Sementara Leo merasa sesuatu yang aneh pada dadanya ketika melihat pantulan dirinya di cermin. Sejak dulu Leo sangat suka melihat balapan yang ditampilkan di TV, dia malah bermimpi ingin seperti itu, makanya Leo sering ikut balapan liar.
.
Tiga pria tampan itu tampak senang dan berlari menuju Deon dan Ara yang sudah berganti pakaian juga.
"Kak kita gak bawa motor kita, gimana balapnya?"
"Tenang aja ikut kakak sekarang"
Mendengar itu mereka segera mengikuti Deon. Pria dewasa itu membawa Ara dan teman-temannya ke dalam sebuah ruangan besar yang berisi motor motor balap miliknya. disana ada berbagai macam jenis motor balap dan masih terjaga serta terlihat baru.
"Pilih mana yang kalian mau gunakan" Deon menunjuk semua motor yang ada.
Dengan senyum sumringah mereka berlari mencoba satu persatu motor dan mencari lagi yang lain hingga mereka menemukan pilihan mereka masing-masing.
"Sudah kak" Teriak Juan diatas motor berwarna merah miliknya.
"Aku juga udah kak" Robi memgelus elus motor berwarna Biru yang menjadi pilihannya.
"Ara juga udah" Ara memilih motor berwarna hitam mengkilap.
"Leo juga" Leo memilih motor berwarna putih.
.
"Tapi kurang seru jika gak ada hadiah" celetuk Juan yang segera mendapat tabokan dari Robi.
"Maaf kak, mulutnya gak bisa di rem".
Deon hanya terkekeh, "Kalian balapan yang menang bisa membawa motor yang kalian gunakan sekarang".
" Benaran kak?" serentak ke empat remaja itu berkata.
Deon mengangguk cepat.
"Kak, kalau Ara gak menang, tetap jadi milik Ara ya ni motor, hehehehe?" Ara kali ini mencoba merayu tapi gagal karena Deon segera menggeleng.
"Tidak bisa, ini hanya untuk yang menang, kasian yang menang sama yang tidak menang hadiahnya sama, kalau mau nanti saat perayaan yang lain tapi tidak sekarang".
" Yaaahhhh, tapi gak apa Ara pasti menang".
"Enak aja gue yang bakal menang" ucap Robi tidak mau kalah.
"Kakak gak ikut?" tanya Juan, dia melihat Deon juga mengganti baju tapi kenapa Deon tidak memilih motornya.
"Tidak jadi kakak lelah, kalian saja, nanti hadiahnya jadi milik kakak kalian menangis" ledek Deon disertai tawa yang lain.
.
"Pertandingannya 16 lap, kalian cepat ke sana bersiap siap" Deon menunjuk beberapa orang yang sudah bersiap menunggu pembalap untuk menaiki motor mereka masing-masing.
'Deg deg Deg' Jantung Leo berdetak begitu cepat, dia tidak menyangka balapan liar dan balapan Yang sekarang dia lakukan sangat berbeda, perasaan Leo bercampur Aduk saat ini. Berkali-kali pria itu menahan dan menghembuskan nafasnya dengan panjang.
"Gila, rasanya sumpah beda banget" teriak Robi. Juan, Leo dan Ara mengangguk setuju. ternyata tidak hanya Leo yang merasakan perasaan yang campur aduk ketiga temannya juga begitu.
Sementara itu dibangku penonton Deon melihat dengan tersenyum senang, Deon ingin keempat remaja itu merasakan sensasi balapan asli, dibandingkan dengan balapan liar, Pria itu memiliki niat ingin mengubah sahabat sahabat Ara menjadi yang lebih baik. Agar mereka bisa menjaga Ara nya selama dia tidak ada.
...π₯π₯π₯π₯π₯...
Lampu menandakan balapan dimulai sudah di nyalakan, keempat remaja itu segera memacu motor mereka, mereka saling susul menyusul, posisi pertama saat ini ditempati oleh Robi, lalu tidak berapa lama Juan dan Leo mulai menyusul. Berganti gantian posisi itu di berganti.
Di kursi penonton banyak yang menonton juga balapan yang sedang dilakukan, bukan penonton bayaran melainkan para karyawan Deon yang bekerja di sana dan ada beberapa pengunjung yang ingin menyewa tempat itu tapi tidak jadi karena sudah dipesan Deon.
"Tuan apakah berniat menjadikan mereka pembalap milik tuan?" tanya botak pada Deon.
"Bukan tak, aku hanya ingin mengarahkan mereka menjadi yang lebih baik, setidaknya balapan yang sekarang lebih aman dibanding balap liar yang sering mereka ikuti, jika mereka suka dan ingin menjadi pembalap sebenarnya aku akan memberikan jalan itu pada mereka, dibanding mereka jadi pembalap liar, keamanan dan yang lainnya tidak terjamin, yang ada mati kasian kalau balapan asli seperti ini mereka akan mati dikenang" jelas Deon.
"Permisi tuan Allinsky" salah seorang penonton mendatangi Deon.
"Ya ada apa?"
"Apakah mereka anak didik tuan?"
Deon tersenyum mendengar pertanyaan itu, "Bukan, hanya saja mungkin akan menjadi anak didikku".
" Kalau begitu bolehkan saya menawarkan pada mereka untuk mau menjadi anak didikku?"
Deon mengangguk pelan, "Nanti akan saya sampaikan, jika mereka ingin menjadi pembalap sesungguhnya, saya akan menghubungi anda" Jawab Deon, matanya kembali fokus pada balapan yang terjadi, sekarang posisi Ara berada di posisi ketiga sementara Leo masih diposisi dua tidak terlalu jauh ketinggalan dengan posisi pertama yang ditempati oleh Robi.
...π€π€π€π€π€...
πΊcuap cuap AuthorπΊ
Next gak nih?
Gimana liat Deon? pantas aja Shasa klepek-klepek udah ganteng, baik dan kaya raya lagi. Makanya tu si Shasa berusaha mendapatkan Deon.
Makasih ya untuk dukungan semuanya, tetap dukung author terus, biar author tetap semangat ngetik novelnya.
makasih semuanya β€β€β€β€
bonus pict.
Baby face Deon
Si tomboy Ara