My Little Girl

My Little Girl
49. Misteri pemberi nomor



" Tapi bagaimana cara dia mendapatkan nomor ku?" Ucap Deon bingung. "Apa andri atau angga yang memberikan nomor ku padanya? atau memang Ara yang memberikan" gumam Deon lagi.


"Apa perlu saya memanggil Tuan Andri dan Tuan Angga, Tuan?" Botak bertanya sambil mengangkat ponselnya bersiap-siap untuk menghubungi kedua siluman buaya itu.


"Panggil segera mereka kesini, aku sepertinya perlu bicara pada mereka" perintah Deon.


Dengan cepat Botak menelpon dan menyuruh kedua siluman buaya itu untuk segera datang ke kantor Deon.


.


tiga puluh menit kemudian, Andri dan Angga datang. Keduanya langsung menghadap Deon yang terlihat marah.


"Kenapa panggil kami bro".


"Kalian ingat dengan wanita yang terakhir kali kalian jadikan bahan percobaan untukku?"


"yup kami ingat" serentak Andri dan Angga berbarengan.


"Jadi siapa diantara kalian yang memberikan nomor ku pada wanita itu?" Deon bertanya dengan wajah yang mengerikan.


Kedua orang itu saling pandang lalu serentak berucap "Bukan aku" pekik Andri.


"Bukan aku juga" Pekik Angga.


"Lalu bagaimana wanita itu bisa mendapatkan nomorku? cepat mengaku, jika tidak aku akan menarik semua investasi yang aku tanamkan ke perusahaan kalian" ancam Deon penuh intimidasi.


"Sky benaran aku tidak memberikan apapun, pernah sih beberapa minggu yang lalu dia menemui ku memohon meminta nomormu, tapi aku langsung menolaknya" ujar Angga cepat, pria itu lalu menceritakan pertemuan nya dengan Shasa, dan tawaran yang dia berikan, dari awal hingga akhir tanpa pengurangan dan tambahan. dia takut Deon akan mencari tahu sendiri apa dia jujur atau tidak.


"Kapan dia menghubungi mu Sky?" tanya Andri.


"Kira-kira dua atau satu hari yang lalu" Deon memperhatikan tanggal masuk nomor asing itu pada ponselnya.


"Aku sudah sekitar beberapa minggu, jadi tidak mungkin dari ku Sky, aku mohon percayalah" pinta Angga dengan wajah memelas.


"Dia bilang Ara yang memberikan nomorku, tapi aku tidak yakin itu Ara, karena gadis kecilku akan bertanya dulu jika ingin membuat keputusan".


" Cieeee cieee gadis kecilku" ledek Angga dan Andri berbarengan. Sempat-sempatnya dua manusia reptil itu meledek Deon padahal masih dalam keadaan genting.


"Bisa kita serius?!" Deon mulai dalam mode on nya.


"Oke" Andri dan Angga serentak duduk tegak dan bersikap formal, mereka berdua tidak berani dengan mode on Deon yang sedang marah.


"Beberapa hari yang lalu siapa yang menemui wanita itu?" kini giliran Botak yang bertanya.


Andri dan Angga tampak berpikir sejenak, banyak wanita yang mereka temui, tapi seingat mereka tidak ada shasa dalam list mereka.


"Ahhh!" pekik Angga tiba-tiba.


"Apa?" seru ketiga orang itu serentak sambil menatap Angga dengan intens.


...🐣🐣🐣🐣🐣...


Shasa kembali dibuat takjub ketika melihat kamar Ara, tadi dia bilang pengen melihat kamar Ara, karena Deon hanya melarang pria, jadi Ara membolehkan Shasa untuk melihat kamarnya.


Shasa kini telah meremas tangannya sendiri melihat jejeran tas branded yang Ara miliki, bukan hanya itu kamar ganti Ara penuh dengan barang-barang branded dari baju, aksesoris, sampai dalaman juga.


"Ra, ini tas cantik banget" Shasa menunjuk tas berwarna pink yang terjejer di rak.


"Makasih Sha" jawab Ara singkat, Shasa sedikit mengernyit kan dahinya, biasanya jika shasa bilang seperti itu, maka lanjutan ucapan Ara akan seperti ini.


'lu suka? kalau suka ambil aja, gue juga banyak yang kayak gitu' ini kata-kata yang selalu Ara ucapkan jika Shasa tampak iri pada kehidupan Ara.


"Gue iri deh, gue pernah liat ini di internet, dan hanya ada 5 buah di dunia ini, dan sekarang ada dihadapan gue, hidup lu enak ya ra" ucap shasa lagi dia berusaha mengambil simpati Ara, "ini juga, ini tas limited edision ra, ini juga" Shasa menunjuk beberapa tas yang memang itu tas limited edision yang dibelikan oleh Deon.


"Ehh ra ngapain di ambil?" tanya Shasa yang mulai kegirangan. dia berpikir Ara akan memberikan padanya.


"Cuma mau liat, apanya sih yang buat cuma diproduksi 5 buah" ujar Ara sambil membalik-balikkan tas di depannya.


"Ahh gue pikir lu mau kasih gue, hehehe" lirih Shasa.


"Maaf sha, kalau barang-barang yang ada disini gak bisa aku kasih ke kamu, yang beli bukan aku, dan keluarga ku" gumam Ara pelan.


"Loh, kan Ara pernah bilang, kak al bilang semua barang-barang yang ada disini milik lu ra! boleh di buang atau diganti jika tidak suka" sindir Shasa, sepertinya gadis itu sangat berharap Ara memberikan tas itu untuknya.


"Memang sih, tapi aku segan aja, seperti uang kamu bilang, aku kan cuma numpang disini, jadi aku masih segan memberikan barang yang diberikan oleh kak Deon" Ara kembali membalikkan ucapan yang pernah Shasa lontarkan padanya.


"Ohh gitu, maaf ya Ra, gue terlalu suka minta-minta sama lu, gue janji gak bakal minta-minta lagi" kata shasa dengan nada selemah mungkin.


Ara melirik shasa dan tersenyum tulus, "gak apa, kemarin kan aku sudah belikan tas juga, dipakai ya".


Shasa mengangguk, " iya ra" jawab Shasa dengan sedikit ketus, dia sangat-sangat kesal, sekarang Ara mulai berubah padanya, Ara seperti mulai menjauh dan menganggap dia teman biasa. padahal dulu setiap ucapan Shasa pasti Ara berusaha mengabulkan, Ara seperti takut kehilangan sahabat perempuan satu satunya yang dia miliki. Semua perubahan itu terjadi sejak Ara di asuh oleh Allinsky, dan itu semakin membuat Shasa marah.


Pria yang dia mimpikan malah telah berada didalam gengaman Ara, kembali Ara merebut apa yang dia sukai.


"yuk kembali ke gazebo, mereka pasti menunggu kita" tawar Ara, shasa hanya mengangguk dan mengikuti Ara yang berjalan keluar dari kamarnya.


sesekali shasa menatap kamar Ara yang sudah tertutup.


"Suatu hari ini semua akan menjadi milikku, liat saja aku tidak akan tinggal diam" batin shasa.


.


"Kenapa kalian terlalu lama?" gerutu Juan saat melihat shasa dan Ara baru keluar.


"maaf gue terlalu mengagumi barang-barang milik ara__" ucap Shasa pelan.


"terus lu minta?" sindir Robi.


"gak kok!" seru Shasa cepat, dia tidak mau mengakui baru beberapa menit yang lalu dia berharap diberikan barang branded oleh Ara.


"Alah gak percaya gue" sindir Juan.


"Buktinya gue gak ada bawa barang apapun" pekik Shasa.


"udah deh jangan ganggu cewek gue terus" bela Dimas.


"Ciee ciee cewek Dimas" ledek Ara diikuti dengan tawa Ara dan ketiga temannya.


"jangan ngeledek gitu dong, kan jadi malu" gumam shasa sambil mendekat kearah Dimas.


"Ya udah deh kita menyerah hari ini gangguin shasa soalnya ada pawangnya" seru Juan di angguki dengan ke dua temannya.


"Ya udah lanjut belajar lagi" Ara kembali membuka buku yang berisi soal-soal. Juan, robi serta Leo segera mengikuti Ara membuka buku untuk kembali belajar.


...🐥🐥🐥🐥🐥...


🌺 cuap cuap author 🌺


Hayoo ada yang penasaran gak sama sambungannya, sabar ya, do'ain author banyak dapat like dan vote.


Mohon maaf ya hari ini cuma satu, author kecapekan kerja hehhee besok janji bakal up 2, makasih atas pengertiannya


untuk yang like dan vote makasih banyak ya, jangan lupa dukung author terus ya, biar author semangat ngetik novel ini, ada yang pengen bonus pict gak?? bilang ya mau bonus pict apa biar author masukkan hehehe.


bye bye ❤❤❤