My Little Girl

My Little Girl
85. Benaran dapat Jatah?



Ara sejak tadi terus meremas tangannya sejak sadar hukuman apa yang Deon maksudkan, otaknya terus mencari cara tentang bagaimana cara lepas dari hukuman yang sebentar lagi dia Terima.


Ara ingin mengatakan menolak tapi ucapan itu terus tersendat di kerongkongan nya, dia tidak mampu lagi menolak, dia tau dia harus siap sebagai istri, kapanpun suaminya ingin, ara tidak ingin egois lagi, selama ini semua keinginan nya selalu dikabulkan oleh Deon, dan pria itu selalu bersedia melakukan apapun permintaan ara, bahkan untuk hal-hal yang paling rumit.


.


Sampai di rumah Deon segera menarik ara menuju kamar mereka.


Dengan langkah pelan Ara mengikuti langkah pria itu.


Begitu sampai di dalam kamar mereka, tanpa pikir panjang, deon langsung meraup bibir Ara, pria itu membawa ara ke tempat tidur, dengan cara menggendong ara.


Deon terus menc*um dan m*lum*t bibir ara tanpa membiarkan gadis itu bernafas, lalu ciuman itu pindah pada leher ara, memeberikan sedikit tanda.


"Eeuuhhh" perbuatan deon membuat ara sedikit mendesah.


Setelah mendengar suara ara deon langsung menghentikan ciumannya. Dia duduk dan menatap ara yang masih terbaring ditempat tidur.


"Kak?" panggil ara pelan, otaknya langsung berpikir negative, tentang kenapa suaminya menghentikan aktifitas yang baru saja mereka lakukan.


Deon mengusap bibit ara yang tadi dia cium, "ayo kita makan benaran ara" Deon menarik tangan ara agar gadis itu cepat duduk.


Tapi bukannya duduk ara malah menangis.


"Ra, kenapa kok nangis?" Deon tampak panik karena melihat istrinya yang tiba-tiba menangis.


"Kakak gak sayang sama ara!" pekik ara masih dengan isikannya.


"Sayang kok, jangan nangis ya, kakak yang salah jangan nangis dong".


"Kenapa kakak berhenti?"


"berhenti?" beo Deon.


"Iya, apa karena tubuh ara kurang sexy, atau karena ara masih kecil dan tidak bisa memuaskan kakak?!"


Kepanikan Deon langsung menguap bersama tawanya yang mulai terdengar.


"sayang, bukan kakak gak mau melakukan itu, bukankah kamu belum siap?" ledek Deon.


"Ara udah siap" seru ara sambil menutup mukanya dengan tangan.


"Kamu yakin? kakak tidak bisa berhenti di tengah-tengah? bahkan mungkin kakak akan mengulang berkali-kali tentang apa yang akan kakak lakukan?" Deon ingin memastikan istrinya itu benar-benar siap untuk dia miliki.


Ara mengangguk pelan tangan kecil ara masih betah menutup mukanya, karena gadis itu saat ini sangat malu.


Mendapat lampu hijau dari Ara, Deon kembali mendekati ara, mengelus lengan gadisnya itu agar terbuka dan menatapnya, "Kalau gitu kakak tidak akan segan-segan lagi".


Deon memulai aksinya, malam pertama yang dia tunggu-tunggu akhirnya tercapai juga.


*Bulan puasa mari kita skip πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†*


Deon memang membuktikan ucapannya dia menghukum istri kecilnya dengan sangat lama, mungkin juga karena salah satu efek phobia yang dia miliki, Deon menjadi seperti itu.


...πŸ”πŸ”πŸ”πŸ”πŸ”...


Pukul setengah sepuluh malam Deon terbangun, dan segera menuju kamar mandi, setelah itu dia kembali ke tempat tidur.


Deon mengelus pipi istrinya yang sudah tertidur akibat perbuatan nya, Dia tersenyum mengingat aksinya kembali.


Mata ara perlahan terbuka, dia menatap Deon, yang masih betah tersenyum padanya, "Jam berapa kak" tanya ara dengan suara seraknya.


Deon melirik jam di meja samping tempat tidurnya. "10 malam" ungkapnya.


"Ara lapar" bibir ara berucap pelan.


Deon segera mengecup kening ara, "Bentar kakak siapkan, kamu disini saja".


Dengan pelan gadis itu mengangguk setuju, dia kembali menutup matanya, tubuhnya terasa sangat pegal, kaku, dan capek yang luar biasa, dia tidak menyangka ternyata suaminya sangat ganas saat di tempat tidur.


.


Secepat kilat Deon berganti baju lalu menuju dapur, mengambil beberapa makanan yang sudah disiapkan oleh asisten rumah tangganya dan memanaskan makanan yang ada.


Sejak tadi senyum di bibir pria itu tidak pernah hilang. Dia malah bersenandung senang, memang benar permintaan ara untuk tidak membiarkan suaminya itu sembuh, kegilaan Deon di ranjang semua juga karena phobia wanita yang dia terima, dokter pernah mengatakan, dia akan menjadi begitu maniak akan S**s atau membenci wanita dan lebih parahnya lagi bisa keduanya.


.


Di kamar ara berusaha menggerakkan tubuhnya perlahan, dia meraih kaos Deon yang kebetulan tidak jauh diterbangkan oleh Deon, sementara pakaian sekolahnya sudah tidak dia lihat lagi dimana keberadaan pakaian itu.


"akkhhh!" ringis ara saat berusaha mendudukkan tubuhnya, dia benar-benar kewalahan menghadapi suaminya, benar yang Deon katakan, dia tidak bisa berhenti jika pria itu belum puas, dan tadi ara terus melakukan itu berkali-kali, ara sadar mungkin ada sesuatu yang robek dibawah sana, karena sejak tadi dia merasakan perih pada bagian bawahnya.


'Ceklek'


Deon masuk dengan membawa nampan yang berisi banyak makanan.


Ara hanya mengangguk pelan, dirinya benar-benar kelelahan dan kehabisan tenaga.


Bahkan untuk mengangkat sendoknya saja tangannya masih bergetar, sampai Deon sendiri yang membantu ara makan.


...πŸ¦…πŸ¦…πŸ¦…πŸ¦…πŸ¦…...


Meli memang mendatangi Club malam bersama kekasihnya, saat ini ada pesta oleh seorang pengusaha yang baru saja balik ke Indonesia, itu adalah pesta lajang pengusaha itu sebelum dia menikah.


Meli melihat keselilingnya untuk mencari kedua teman Deon, Andra dan angga.


Tidak lama mata meli melihat kedua pria itu sedang duduk bersama si tokoh utama pemilik pesta.


"Kak" panggil Meli.


Keduanya menoleh dan melihat meli, setelah itu meli mulai melancarkan aksinya, dia tidak peduli akan didengar orang lain, karena tempat itu bukan lah tempat yang baik, jadi semua yang ada disana bukan orang baik, jadi apa pedulinya.


Meli hanya ingin mendapatkan uangnya setelah itu dia akan kembali pada sugar daddynya.


.


"Tidak tertarik" kata andri dan angga serempak.


"Bagaimana jika bersama denganku saja? aku tertarik" ucap salah satu pria disana.


"tidak bisa, wanitanya cuma mau menawarkan pada kedua orang itu, kalau tidak mau ya sudah" Meli segera berdiri dan menghampiri sugar daddynya yang sedang menari di bawah lampu disko.


.


"Hei" sebuah tepukan halus di bahunya membuat meli segera mengalihkan pandangannya.


"Ya ada apa?" teriak meli agar pria yang tadi memanggilnya itu mendengar ucapannya.


pria itu mendekatkan bibirnya pada telinga Meli, "Bisa ikut aku sebentar?"


"Baiklah" meli menjawab sambil mengangguk, pria itu langsung membawa meli keruangan yang cukup hening walau masih terdengar tapi tidak seribut di tempat awal mereka berada.


"ada apa?" meli kembali mengulangi pertanyaan nya.


"Namaku dicky , aku pemeran utama dalam party ini, aku ingin membeli temanmu, sebelum aku menikah dengan wanita yang dijodohkan denganku". pria itu tampak tidak suka dengan wanita yang akan dia nikahi.


"tidak bisa kak, dia tidak mau" tolak meli.


"Walau aku membayarnya 500 juta?" ungkap pria itu.


"500 juta?" pekik meli, "apa anda yakin?"


"ya aku ingin merasakan wanita yang masih sekolah".


Meli masih berpikir sambil menatap ponselnya.


" Masih tidak percaya? 500 juta untuk dia dan 250 juta untuk kamu jika dia mau menerima".


"Baiklah akan aku tanyakan" seru meli cepat, tangannya dengan lincah mencari nomor Shasa, untuk bertanya pada gadis itu.


πŸ“² "Halo mel? ada apa?"


πŸ“² "aku sedang di klub saat ini".


πŸ“² "Apa? bagaimana? apa salah satu dari mereka menerimaku?"


πŸ“² "tidak ada yang mau, tapi disini ada pria tampan yang mau menerimanya__"


πŸ“² "sudah aku bilang aku tidak mau kan ak__"


Shasa tidak dapat melanjutkan ucapannya. karena meli balik memotong ucapannya.


πŸ“² "Walau dia menawarkan 500 juta?"


πŸ“² "apa?! 500 juta?!" pekik shasa.


...🐣🐣🐣🐣🐣...


🌺🌺🌺🌺


aduhh pasti banyak yang nungguin kehancurannya si Shasa, hayo~ siapa aja ya??


mau gak ya Shasa ditawar 500 juta??


Dan yang berharap Deon belum dapat jatah maaf ya, soalnya ceritanya udah mau akhir, jadi kita kasihkan aja Deon nya jatah, hehehe


Dan maaf jika upload nya gak banyak, author lagi banyak masalah, jadi belum bisa fokus ngetik novel.


makasih buat like, coment dan vote nya ya, tetap like coment dan vote terus ya, bye-nye❀❀❀