My Little Girl

My Little Girl
106. Hamil



Ara masih tampak tidur nyenyak di ranjangnya, ruangan ara sekarang sudah penuh dengan keluarga serta teman-temannya.


Teman-teman ara sudah mendengarkan cerita tentang kehamilan ara, saat melihat orang tua ara dan orang tua Deon datang ke rumah sakit.


Kedua pria dewasa yang tadi berbicara dengan dokter mulai menjelaskan keadaan ara.


"Papi gak boleh marah sama ara loh! nanti emosinya bisa down jika papi marah, ini loh yang harus papi marahi" Axel mengepit leher Deon dengan lengannya.


"Nasi sudah menjadi bubur, papi bisa apa? untung saja beberapa minggu lagi pengumuman kelulusan dan acara perpisahan sekolah, jadi tidak masalah mereka menyicil cucu lebih dulu untuk papi".


" Wahhh beruntung lu bro, mertua gak marah, lu udah ngehamili anaknya".


'Puk' pukulan mendarat pada kepala Axel, pelakunya adalah maminya sendiri. "Adik kamu udah nikah, jadi sah sah aja orang yang menghamili adik kamu adalah suaminya sendiri" geram maminya.


"Hehehe Vis mam, jangan marah-marah ntar cepat tua, kasian cucu mami nanti lahir liat neneknya tua banget dari kakeknya" Axel nyengir dan berlari menjauh dari jangkauan ibunya, agar tidak kena pukulan karena telah mengejek ibunya.


"Euhhhh" lenguhan ara membuat semua mata kini tertuju padanya, perlahan mata gadis itu terbuka.


Deon melangkah cepat menuju ranjang Ara. Dipegangnya tangan istrinya yang masih terasa dingin itu.


"Kak, Ara dimana?" ucap ara dengan pelan.


"Di rumah sakit, kamu pingsan tadi di sekolah" kata Deon.


"maaf, ara udah buat kakak khawatir" ucap ara lagi.


"Bagaimana perasaan mu sekarang dek?"


Ara menoleh mencari asal suara yang berbicara padanya, "Mami, papi, bunda, ayah, abang, kenapa semuanya ada disini?"


"Kami khawatir dengan kondisi kamu sayang, makanya mami dan papi kesini"


"Ara gak apa mi, cuma kelelahan persiapan pernikahan sama acara sekolah, itu aja kok" ujar ara menjelaskan.


"Kamu tau kenapa bisa kelelahan seperti itu?" tanya papi ara kali ini.


"Ara kurang nafsu makan akhir-akhir ini pi, makanya gak punya tenaga".


" Lain kali jangan gak makan ya sayang, kasian loh bayi-bayi kamu jadi gak ada energi kalau ibunya gak mau makan" bunda dan mami mendekat kearah ara.


"Bayi-bayi?" beo ara. Matanya beralih pada suaminya, "bayi-bayi siapa kak?"


Deon yang mendapatkan tatapan dari istri kecilnya langsung tersenyum hangat, "Kamu sedang mengandung sayang, disini ada Deon junior dan ara junior" Deon mengelus pelan perut ara.


mendengar itu ara melirik papinya dengan wajah yang ketakutan, "Pi, a-ara __"


Papi ara yang tau ketakutan putrinya segera mendekat dan mengelus pelan puncak kepala istrinya.


"Adek ngerasa sakit apa aja?"


"papi gak marah?" ungkap ara sedikit ketakutan.


"Ngapain papi marah, adek udah nikah, wajar adek hamil, yang gak wajar itu adek hamil belum nikah baru papi marah, sekarang gimana keadaan adek? apa yang sakit"


"Papi... " Ara segera memeluk tubuh papinya erat, papinya itu dengan sayang mengelus rambut ara, sepertinya kehamilan ara membuat gadis itu semakin melankolis.


"Jangan nangis dong, masak udah mau punya baby, maminya masih cengeng" ledek Axel.


"Pi! liat abang jahat sama ara!"


'Puk puk' Axel mendapatkan pukulan pelan dari mami Shahnaz dan bunda mitha.


"Tu liat udah mami dan bunda pukul" kata papi.


Ara tertawa melihat kakaknya yang memegangi kepalanya.


"iya, papi gak marah, tapi kenapa muka adek masih sedih gini?" papi ara mencubit gemas pipi putrinya.


"Ara takut omongan disekolah" gumam ara pelan.


"Gak apa, tenang aja ya, ayah sama bunda sudah menunjukkan pada publik surat nikah kalian berdua, jadi ara gak perlu takut lagi, sekarang ara hanya perlu fokus dengan kesembuhan ara" ayah Deon ikut berbicara.


"emangnya ara kenapa?"


"Rahim ara sangat lemah, karena umur Ara yang masih terlalu muda, dokter bilang ara gak boleh kelelahan, karena sangat beresiko keguguran, dan masih banyak lagi, jadi ara sekarang fokus dengan pemulihan ara, dan kesehatan, apa ara mengerti?" jelas bunda dan mami bersamaan.


Ara mengangguk pelan, "pi Ara lapaaar" rengek Ara sambil mengelus perutnya.


"ya ampun papi sampai lupa kalau dari siang kamu pingsan, Xel cepat panggil suster untuk siapkan makanan ara.


" Gak mau pi, ara gak mau makan makanan rumah sakit, ara mau makan masakan kak deon"


Semua mata kini tertuju pada Deon, bahkan bunda Deon tampak terkejut putranya bisa masak.


"Sayang, kakak sedang gak mau jauh dari kamu, Makan-makanan rumah sakit aja dulu ya, nanti kakak akan buatkan makanan untuk kamu"


"Gak mau!" tolak ara cepat, "Ayah, cucu ayah yang minta" ara beralih merengek pada ayah Deon.


'Puk' Deon mendapatkan pukulan dari ayahnya, "cepat buatkan makanan untuk menantu papi" perintah tuan besar Allinsky.


"Iya-iya pi, kamu mau makan apa sayang?" akhirnya Deon menyerah, dia mendapatkan tatapan dari para tetua, jadi mau tidak mau dia harus meninggalkan istrinya.


"Ara mau, cheese spageti, sup ayam, roti, nasi goreng sama nasi mentai" ucap ara, dia sudah ngiler membayangkan makanan-makanan itu.


"Sayang, itu kamu semua yang habiskan?" tanya Deon.


"Iya, cepatan ara lapar" gerutu ara.


"Kamu gunakan aja dapur rumah sakit, minta belikan bahan-bahan yang terbaik pada pihak rumah sakit, biar cepat makanan itu jadi dan bisa langsung diantar" perintah papi.


"Ara mau liat prosesnya" ucap ara cepat.


"gak bisa, kamu harus banyak istirahat di sini, gak boleh tegak"


ara merengut karena permintaannya yang ini tidak ada yang mau mendengarkan.


"Kak gimana kalau video call? kami yang pegangi kamera melihatkan kakak masak di dapur, ara tetap disini" Robi ikutan berbicara untuk. memberikan solusi, dia juga kasian melihat sahabatnya yang seperti itu.


"Kamu mau seperti itu dek?" tanya Axel.


Ara mengangguk cepat, asal dia bisa melihat Deon masak dia gak masalah.


"Baiklah, Sky kita ke dapur sekarang, biar aku yang memegangi kameranya, kalian berempat pulanglah, besok kembali lagi kesini jika kalian mau, ini sudah malam, tidak baik kalian pulang terlalu malam" perintah Axel pada keempat teman ara.


"Baiklah kak, ra kami pamit dulu ya, besok kami akan berkunjung kesini lagi" Putri memeluk ara sebelum keluar dari kamar ara.


"Iya makasih ya, udah nemani ara, Hati-hati di jalan, Leo antarkan Putri sampai rumahnya ya".


" Beres tuan putri" kekeh Leo. Setelah itu mereka semua pergi yang tinggal hanya para orang tua di kamar, mereka juga ikutan menonton Deon yang sedang memasak.


"Bunda tidak tau kalau putra bunda bisa masak" gumam bunda pelan.


"Kak Deon itu bisa apa aja bun, termasuk masak, dan makanannya sangat enak bun" puji ara.


"Syukur lah, kamu senang sayang" Bunda ara mengelus pelan puncak kepala ara.


...🐣🐣🐣🐣🐣...