
"Sialannnn! kenapa gatalnya tidak mau hilang!" umpat Deon, jas kerja nya sudah lepas dan terbang entah kemana, Kemejanya juga sudah tampak berantakan, salep dan obat yang dia minum masih belum mampu menghilangkan rasa gatal pada tubuhnya.
"Tak! percepat mobil ini! aku ingin segera mandi! tangan dia terasa seperti tangan wanita iblis itu! ahhkk sial!!!" teriak Deon pada botak yang sedang menyetir.
"Baik tuan" Botak segera mempercepat kecepatan mobilnya seperti permintaan Deon.
...🐣🐣🐣🐣🐣...
"Sha, sebaiknya kamu pulang dan bawa cek ini, ini memang milikmu, maafkan temanku, dan tolong jaga rahasia jika kau pernah bertemu dengan tuan muda Allinsky atau kau akan mendapatkan musibah diluar yang bisa kamu pikirkan" Ucap andri pelan.
"Kak bisakah saya minta nomor ponsel atau alamat rumah nya? saya ingin mengembalikan cek ini" ucap Shasa.
Andri menggeleng, "Anggap saja kamu sedang menang lotre, jangan pernah berpikir untuk mendapatkan sky, dia tidak akan pernah bisa dijangkau olehmu, dan itu tidak akan mungkin, jadi dengarkan saja yang aku ucapkan, pergi dan lupakan semuanya".
Shasa akhirnya mengangguk pasrah mendengar setiap perkataan yang diucapkan Andri. Gadis itu akhirnya melangkah pergi meninggalkan Meli dan temannya yang sudah mabuk.
.
Selama perjalanan pulang Shasa terus terpikirkan wajah Deon, wajah tampan yang sangat mempesona nya. wajah itu tidak mau hilang dari pikiran Shasa.
Begitu pula dengan sentuhan Deon, walau sangat sebentar tapi Shasa merasa tersengat listrik ketika tangan besar Deon menyentuh kulit tangannya. Sensasi itu masih bisa Shasa rasakan sampai sekarang.
Pikiran Shasa sudah terbayangkan tentang Deon yang tampan menjadi kekasihnya, pasti hidup Shasa akan sangat senang. bayangkan saja pria nomor satu di Asia akan menjadi miliknya dunia pasti akan gempar, akan banyak orang-orang iri padanya, tanpa uang pun Shasa rela melemparkan tubuhnya untuk Deon.
Walau umur mereka beda 10 tahun Shasa tidak peduli, ayah dan ibunya saja beda 9 tahun apa salahnya jika Shasa mendapatkan pria dengan selisih umur yang jauh.
"Anggap saja kamu sedang menang lotre, jangan pernah berpikir untuk mendapatkan sky, dia tidak akan pernah bisa dijangkau olehmu, dan itu tidak akan mungkin, jadi dengarkan saja yang aku ucapkan, pergi dan lupakan semuanya" perkataan Andri kembali terngiang di pikiran nya.
'Kenapa tidak bisa? tadi saja aku bisa bertemu dengannya, Pria itu menatapku intens pasti karena tertarik padaku' pikir Shasa.
Gadis itu memilih mengartikan sendiri seperti keinginannya agar dia masih tetap bisa bersama.
'Dia mendorong ku pasti karena malu, dia kan tidak pernah berdekatan dengan wanita, aku yang pertama untuknya itu hal wajar, dia saja memintaku untuk berhenti, pasti untuk melindungiku, uang yang dia berikan juga sangat banyak itu pasti karena dia suka juga denganku' bathin Shasa masih terus menghayal.
...🐤🐤🐤🐤🐤...
'Tok tok tok' ini sudah ke tiga kalinya Deon mengetuk pintu kamar Ara, tapi gadis itu masih tetap tidak mau membukakan pintu kamarnya.
Tadi begitu sampai rumah, Deon segera mandi dan mengganti baju dengan baju tidur, pria itu berniat masuk ke kamar Ara secara diam diam untuk mengejutkan nya, tapi yang ada, Deon yang terkejut dengan Ara yang mengkunci kamarnya.
"Ra.. buka dong pintunya" ucap Deon sambil terus menggedor pintu kamar Ara.
Ara masih tidak mau menjawab Deon, gadis itu masih marah karena Deon melarang nya pulang tengah malam, sementara Deon yang malah pulang tengah malam.
"Ra, kakak tau kamu belum tidur, buka ya pintunya my little girl" bujuk Deon lagi tapi kali ini dengan suara lembut.
"Ara udah tidur" Suara Ara terdengar pas di dekat pintu.
Deon menahan tawanya, dia tau gadis kecilnya sedang merajuk dan tidak mau membuka pintu.
"Orang tidur gak bisa jawab loh baby" ucap Deon masih menahan tawanya.
"Bisa!" Jawab Ara dengan pedenya, dia tidak mau terlalu malu.
"Little Girl, jangan marah dong, kakak minta maaf ya, tadi kerjaan kakak bannnyyaakkk banget, kakak mau selesaikan pekerjaan kakak untuk beberapa hari kedepan biar bisa liburan sama Ara, please buka pintunya ya" bujuk Deon Lagi.
Tidak lama terdengar bunyi pintu kamar yang dibuka, kepala Ara muncul dari celah pintu, dia masih belum membuka semua pintu kamarnya, hanya membuka sedikit celah di pintu nya untuk melihat Deon.
"Kerja kok badan bintitan gitu" gerutu Ara.
Deon menepuk jidatnya, kosakata Ara memang tidak dapat Deon perkirakan.
"Gak sengaja nabrak cewek pas kakak buru-buru pulang tadi" elak Deon.
"Kakak gak lagi bohong?"
Deon menggeleng dan tersenyum lebar, "Ngapain kakak bohong, bolehkan kakak masuk?" tanya Deon lagi, dia tau gadis kecilnya masih marah makanya Deon tidak menerobos masuk ketika pintunya dibuka.
Perlahan Ara melebarkan pintunya, "Ara capek, kakak lama pulangnya!" keluhan Ara mulai terdengar. Gadis kecil itu sudah masuk dalam pelukan Deon, dan Deon menerimanya sambil mengusap sayang kepala Ara.
"Iya, maaf ya, ayo kita segera tidur" Deon segera menuntun Ara menuju tempat tidurnya.
Begitu sampai, Ara langsung memeluk Deon dengan sangat erat dan lebih mendekatkan hidungnya pada dada bidang milik Deon, agar bisa lebih mencium aroma tubuh Deon yang membuat nya nyaman.
"Ara mau jalan-jalan ke Jepang gak?" Tanya Deon masih mengelus punggung dan kepala Ara.
"Jepang" Ara menatap wajah Deon, mencari kebohongan dari ucapan Deon.
"Kakak mau ke Jepang ada urusan pekerjaan besok, Ara kan liburan selama satu minggu ini, karena udah selesai ujian, jadi mau ikut kakak".
" Mau!" Jawab Ara cepat dengan rona wajah yang cerah, tapi beberapa detik kemudian berubah sedih. "Tapi gak enak liburan sendiri, kakak pasti sibuk kerja pasti cuma sesekali kakak temani Ara" lanjut Ara dengan nada sedih.
Deon kembali tertawa kecil, melihat ekspresi gadis kecilnya yang sedih.
"besok telepon tiga teman badboy mu bilang kitab berangkat ke Jepang sorenya".
" Apa?!" teriak Ara secara spontan.
Tangan Deon merapikan sedikit rambut Ara yang menutupi pipinya. "Kakak hari senin ada meeting penting, harus hadir secara langsung, masalah visa, uang pesawat dan lainnya itu urusan kakak, mereka hanya perlu mempersiapkan diri dan beberapa barang yang kakak tidak bisa kakak siapkan".
" Ini benaran? Ara diajak liburan ke Jepang?" Tanya ara sekali lagi karena masih tidak percaya dengan pernyataan Deon.
"Iya, besok kabari tiga badboy itu untuk siap siap karena kita akan berangkat sore hari" jawab Deon sambil mengelus pipi Ara dengan sayang.
"Asikk! liburan ke Jepang" sorak Ara bahagia.
Ara kembali memeluk Deon dan membenamkan kepalanya pada Deon.
Deon Hanya bisa menahan nafas lalu menghembus kan perlahan mendapat perlakuan seperti itu dari Ara.
...🐥🐥🐥🐥🐥...