My Little Girl

My Little Girl
28. Liburan 2



Ara dan Deon sedang bersantai, menonton televisi, keberangkatan mereka ke Jepang nanti sore, dan semua persiapan sudah di kerjakan asisten rumah tangga Deon.


"Ahh! iya!" Sontak Ara tiba-tiba.


Mata Deon segera beralih menatap Ara, "Kenapa?"


"Shasa, Ara boleh aja Shasa gak kak?" Ara tiba-tiba saja teringat dengan sahabat perempuan satu satunya itu.


Ara liburan bareng tiga temannya, tapi tidak mengajak Shasa, Shasa pasti marah jika tidak diajak.


Deon menggeleng, bukan dia tidak mau membayar kan Shasa atau mengeluarkan uang lebih banyak, tapi Deon takut ada wanita yang ikut bersama mereka.


Deon tau setiap wanita yang melihatnya tidak akan ada yang tidak terpesona padanya, dia sangat yakin, teman Ara itu akan berusaha mendekatinya, jika seperti itu bukannya liburan dia malah harus kesusahan.


"Kenapa? kan Shasa juga teman Ara, Ara aja yang bayar tiket sama semua belanjaan nya kak".


Deon kembali menggeleng, "Bukan masalah uang, ini masalah alergi kakak".


" Ara bisa bilang ke Shasa jangan dekat dekat kakak"


"Ra, please kakak mau tenang saat liburan, kakak tidak suka ada wanita yang tidak kakak kenal"


"Tapi Shasa teman Ara kak, dia pasti belum pernah liburan keluar negeri, keluarganya tidak seperti keluarga Ara kak, Ara ingin buat dia senang dengan liburan ini".


Deon segera menarik Ara dan mendudukkan gadis itu pada pangkuan nya, " maaf ya, keadaan kakak yang seperti ini jadi Ara gak bisa ngajak teman wanita Ara"


Mata Ara menatap manik mata Deon, Ara dapat melihat penyesalan dari mata itu, Ara menggeleng pelan dan memilih memeluk Deon membenamkan kepalanya pada dada Deon.


"Kakak gak salah".


Deon sedikit tersenyum, Ara telah masuk dalam perangkap nya, gadis ini jika ditolak terus akan terus membantah dan sulit membuat dia menerima keputusan orang lain.


" Nanti belikan aja oleh oleh untuk sahabatmu " gumam Deon masih dengan senyuman devil nya.


"Baiklah, Ara tidak akan memaksa lagi, Ara bisa membelikan Shasa oleh oleh saja".


Ara menegakkan punggung nya menatap Deon, kini pria itu kembali menunjukkan ekspresi sedih dan menyesal.


" Maaf ya kak tadi ara kepikiran seperti itu"


Deon mengangguk pelan dan kembali memeluk gadis itu, dengan senyuman devil nya.


...🐥🐥🐥🐥🐥...


Leo, Juan dan Robi berlari menuju bandara mereka telah terjebak macet dijalan.


Dengan buru-buru mereka bertiga berlari masuk kedalam bandara, tapi langkah ketiganya dihentikan dengan seorang pria berbadan besar, cukup tampan tapi botak.


"Tuan, apakah tuan teman Nona Ara?" tanya pria botak tersebut.


"Ya saya leo, ini juan dan Robi" Leo menunjuk dirinya lalu menunjuk Juan dan Robi.


"Baik, segera ikut saya".


Ketiga pria itu hanya menunduk mengikuti botak, berjalan menuju tempat sepi, tidak ada orang yang ada kearah situ.


" Kalian membawa koper?" tanya botak bingung karena setahu dia Deon sudah memperingatkan untuk tidak membawa banyak baju.


"Koper isinya dikit doang, biar gak perlu beli kooer disana" Jawab Robi.


"Baiklah, silahkan tuan" botak mempersilahkan ketiga orang itu masuk kedalam sebuah ruangan VIP.


Disana ada seorang pria yang duduk bersama seorang wanita, wanita itu menyandar dibahu si pria, dan si pria sepertinya sedang berbicara dengan teleponnya, merek tidak tau siapa kedua orang pasangan itu karena keduanya duduk dan menghadap depan.


"Permisi" ucap Juan pelan dan berusaha menatap wajah kedua orang itu.


"ssttttss" Deon memberi tanda untuk ketiga orang itu segera duduk tanpa bersuara, karena Ara, gadis kecilnya itu sedang tidur.


📲 "Ya lanjutkan" suara Deon yang masih berbicara dengan teleponnya.


.


Lima belas menit kemudian Deon berhenti menelepon, sepertinya pembahasan pria itu sudah selesai.


"Bisa kalian perkenalkan diri kalian?" ucap Deon Akhirnya karena tau ketiga teman Ara masih canggung padanya. "Panggil saja aku kak Deon, atau kak Sky terserah kalian".


"Aku Juan kak"


"Dan aku Robi"


Ketiga orang itu masih tampak canggung memperkenalkan diri mereka.


"Tidak usah terlalu canggung gitu padaku, asal kalian tidak berniat untuk merebut Ara dariku, kalian akan aku anggap seperti adikku sendiri".


" Hahahaha kak kami bertiga cuma anggap Ara seperti adik kakak tenang saja, walau cantik kami punya kriteria berbeda dari Ara" ujar Robi, dia sudah mulai merasa nyaman.


"Benar kak, kami cuma anggap Ara adik, kakak tenang saja, tapi ngomong-ngomong Ara sakit kak?" Leo menatap heran Ara yang masih pulas tertidur dibahu Deon, padahal mereka cukup berisik saat berbicara.


Deon menggeleng dan mengelus lengan Ara dengan lembut. "Dia terlalu bersemangat sehingga kecapekan".


" Kak kita tidak berangkat? nanti kita ketinggalan pesawat?"


"Kalian sudah siap? kalau sudah kita berangkat, kita pakai Jet pribadi milikku"


"Apa?!" Teriak Juan tidak percaya. Dia memang dari keluarga kaya, tapi belum pernah ke luar negeri menggunakan jet pribadi.


"Stss" peringat Deon, dia takut gadisnya terbangun, sekarang saja Deon dengan perlahan mengangkat badan Ara dalam gendongannya.


"Jangan sampai dia bangun" ancam Deon sekali lagi.


"Maaf kak" mereka bertiga segera mengekor dibelakang badan Deon.


...🐣🐣🐣🐣🐣...


"Jepang!! Ara yang imut telah hadir!!!" Ara berteriak keras ketika kakinya baru saja keluar dari jet pribadi milik Deon.


"Ampun deh ra! malu tau! gue gak mau kenal sama lu kalau kayak gini" gerutu Juan.


"Ya udah gak kenal aja, gue kenalnya ama Robi dan leo aja" Ara menggoyang-goyangkan gold card milik Deon ke arah Juan sambil menaik turunkan Alisnya. "Masih gak mau kenal gue? uang jalan-jalan ditangan gue".


" Udah ra, kita bertiga aja yang puas puas jalan dan shopping, dia gak ikut, hahahha" Robi ikutan meledek Juan.


"Gak ra! ara cantik, masak gue gak mau kenal sama cewek cantik kayak gini" Juan segera berlari mendekati Ara.


Sedang asik berdebat Ara langsung ditarik Deon untuk masuk dalam pelukan nya. "Itu uang kakak, jangan sombong" Deon ikutan dalam perdebatan para remaja itu.


Ara segera cemberut karena tidak mendapat dukungan dari Deon.


.


Seorang pria tinggi berlari kencang kearah Deon dan Ara "Maaf Pak saya telat".


"mana kunci kamar?" Deon tidak menggubris ucapan asisten nya.


Si asisten jangkung itu segera merogoh jas nya, "Pak mau berapa kamar?" tanya bingung.


"Kalian bertiga mau tidur pisah kamar atau satu kamar pisah tempat tidur?" Deon menatap ketiga teman Ara, tangannya masih merangkul Ara dengan lembut.


"Kami satu kamar aja kak, gak enak pisah-pisah kan sepi" ucao Leo.


"Berikan satu kamar pada mereka dan satu untukku" Perintah Deon.


Si asisten jangkung itu segera memberikan sebuah kamar VVIP pada Leo, dan sebuah kunci kamar juga pada Deon.


Tak lama Ara juga ikut menengadah kan tangan, "Ara mana?"


"Kamu sama kakak" putus Deon tanpa bantahan lagi Ara hanya mengangguk lemah, dia juga tidak bisa tidur tanpa pelukan Deon, jadi Ara hanya bisa pasrah.


Leo, Juan dan Robi saling pandang lalu menatap Deon dan Ara. mata mereka bertiga melotot sempurna, mendengar penuturan Deon. Tapi ketiganya tidak berani berkomentar atau menyanggah ucapan Deon karena Ara sendiri diam tidak melawan.


...🐤🐤🐤🐤🐤...


Bonus picture Om Deon yang baby face



Si cantik dan centil Ara, gadis kecil milik Deon.