My Little Girl

My Little Girl
61. Sandiwara Shasa



Shasa dan Acha tampak sangat kesal mendapatkan pesan dari Mitha di mana Mitha mengatakan bahwa penilaian Acha pada menantunya itu salah, Ara bukanlah wanita malam seperti yang di bilang. dan hal ini membuat Acha menelpon Mitha untuk segera bertemu karena masalah penting, dan Acha menceritakan kebohongan lain yang telah Shasa ciptakan pada Mitha, jadilah pada hari sabtu mereka berjanji untuk bertemu di rumah Mitha.


.


"Lu yakin ra? mau bohong sama kak Deon lagi" tanya Robi yang sedang membonceng Ara.


"Habis dari kemarin gue minta izin, gue gak pernah dapat izin dari dia, kesal gue! masak cuma mau jenguk teman kagak boleh!" Gerutu Ara.


Saat ini Ara, juan, leo dan Robi sedang dalam perjalanan menuju rumah Shasa, rumah Shasa sedikit jauh dari sekolah jadi keempat remaja itu pergi menggunakan motor, Sejak pagi Ara sudah meminta izin dari Deon ingin jalan-jalan dengan ketiga temannya bukan menjenguk Shasa, karena setiap gadis itu izin menjenguk Shasa tidak pernah mendapatkan izin dari Deon.


Sampailah mereka didepan sebuah rumah sederhana, warna tembok rumah itu sudah tampak pudar dan rumahnya terlihat sangat biasa.


'Tok tok tok' saat ini Ara memberanikan dirinya untuk mengetok pintu rumah Shasa.


"Lu yakin ini rumahnya?" tanya Ara pada ketiga sahabatnya.


"Dari alamat yang dimas kasih sih ini" gumam Leo pelan.


'Tok tok tok' sekali lagi Ara berusaha mengetok pintu rumah Shasa.


tidak lama tampak seorang wanita paruh baya seumuran ibunya yang membuka pintu itu.


"Siapa ya?" tanya wanita itu dengan sedikit sinis.


"Maaf Bu, apakah benar ini rumah Shasa?" tanya Ara dengan sopan.


"Ya, kalian siapa?" suara ibu itu terdengar sedikit jutek.


Ara berusaha tersenyum manis dan membungkuk kan badannya, "Saya Ara, kami teman sekelasnya Shasa, apa Shasa nya ada bu?"


Ibu itu tiba-tiba membuka pintu lebih lebar, mukanya marah dan dia melipat kedua tangan nya di pinggang. "Ohh jadi kamu yang namanya Ara!" pekik wanita itu dengan nada tinggi.


"Ya??" Ara masih belum mengerti maksud wanita itu, dia belum pernah bertemu dengan wanita itu, dan tiba-tiba dia marah?


"Gara-gara kamu putri saya dilecehkan!" teriak ibu itu lagi tapi kini sambil menunjuk kearah Ara.


"Maksud ibu apa ya?" Ara berusaha tenang menjawab makian ibu itu.


"Bunda! jangan!" tiba-tiba Shasa keluar dari kamarnya dan berlari memeluk tubuh ibunya.


"Kamu liat sekarang! gara-gara kamu putriku trauma untuk bertemu orang luar! dia tidak bisa bersekolah gara-gara kamu! putriku dilecehkan semua gara-gara kamu!" Maki wanita itu lagi.


Tidak Terima sahabat nya dimaki, ketika trio itu segera maju, "Hei tante! sebaiknya anda hati-hati jika berbicara! bagaimana caranya Putri tante dilecehkan! Ara itu wanita! bagaimana caranya dia melecehkan putri tante!" balas Juan dengan nada suara yang tinggi juga.


"Bunda sudah, Shasa tidak apa, kita akan membicarakan semuanya besok kan" ucap shasa di sela isakannya.


"Bisa tolong jelaskan sha, apa maksud melecehkan ini?" tanya Ara.


"Kak Al, ra, kak Al melecehkan ku!"


'Deg Deg Deg'


Seketika itu Ara merasa tuli, dunia tiba-tiba berputar-putar di kepalanya, seperti ada bunyi serine kuat yang memekakkan telinganya, Ara tidak dapat menahan kakinya lagi, dia merasa lemas dan terduduk dilantai.


"Gara-gara kamu Allinsky tidak mau menikah dengan putriku!" pekik bunda Ara lagi, tapi itu sudah tidak dapat Ara dengar, telinganya seperti tertutup rapat saat ini.


"Ra, sadar ra, dia bohong, Kak Deon tidak mungkin melakukan itu ra" Leo mengguncang bahu Ara agar gadis itu sadar dari keterkejutan nya.


Berita kali ini entah kenapa lebih mengejutkan dari pernyataan Shasa mengenai perasaannya pada Dimas, berita kali ini lebih membuat Ara sesak nafas dan juga syok.


Ara berusaha menahan dadanya yang kini terasa berdenyut, detak jantungnya terasa seperti tepat berbunyi di telinganya.


"Ara!" Shasa berlari kearah Ara, dan memeluk gadis itu. "Maafkan aku ra, kami melakukan hal itu, Kak Al mengatakan dia menyukaiku, dan aku terbuai akan rayuannya, maafkan aku ra" ujar Shasa tepat ditelinga Ara, sehingga gadis itu dapat mendengar jelas ucapan Shasa.


"Br*ngs**" maki Robi sambil mendorong tubuh Shasa menjauh dari Ara.


Bunda Ara segera meraih tubuh putrinya yang terjatuh, "Pergi kalian dari sini!" maki bunda Shasa lagi.


Ara dibantu ketiga temannya untuk berdiri, ketiganya menatap horor pada pasangan ibu dan anak itu, dua wanita ular yang berhasil menghancurkan kebahagiaan Ara sekali lagi.


Saat mereka berempat berbalik, bunda Shasa kembali berteriak, hingga membuat Ara dan ketiga sahabatnya berhenti melangkah.


"Sudah Shasa, jangan lagi bersahabat dengan wanita seperti itu, liat saja, terlalu hina, dia dipegang oleh banyak pria, untung saja bunda mengenal orang tua Allinsky, kalian akan segera menikah, bunda pastikan wanita malam itu tidak akan mengganggu hidupmu lagi, sahabat bunda pasti mengabulkan permintaan bunda, apa lagi kalian sudah mengalami malam indah bersama".


Robi dan juan hendak berbalik dan kembali memaki kedua wanita itu, tapi tidak jadi karena Ara lebih dulu menahan tangan mereka, gadis itu menggeleng pelan, air matanya masih jatuh membasahi pipi mulusnya.


"Aku ingin pulang, aku mohon" pinta Ara pelan.


Ketiga pria itu akhirnya mengangguk pasrah. Mereka membawa Ara pulang, tapi tidak kerumah Deon, karena Ara meminta diantar ke rumah nya sendiri, dia sedang ingin menenangkan dirinya.


...🐥🐥🐥🐥🐥...


"Ra, kamu yakin ingin disini? nanti kak Deon cariin gimana?" tanya Leo didepan rumah milik Ara.


Ara mengangguk pelan, dia sudah tidak menangis, tapi pikirannya masih kacau, dia sedang tidak ingin bertemu Deon, dia masih bingung kenapa Deon melarangnya ke rumah Shasa, apa karena hal tadi atau ada hal lain yang disembunyikan Deon darinya.


"Biarin gue nenangin diri gue ya" gumam Ara pelan.


"Ra, kita tau lu sedih dan sakit hati, tapi ra, kita mohon tolong lu percaya sama kak Deon, dia tidak mungkin melakukan hal seperti itu, kak Deon yang kita kenal tidak seperti itu ra"


"Iya gue akan memikirkannya dulu" ucap Ara pelan sambil mulai melangkah masuk kedalam rumahnya.


Para asisten rumah tangga Ara tampak terlihat terkejut, akan kedatangan Ara. Mereka banyak bertanya, tapi Ara hanya diam menuju kamarnya.


Ara berusaha menepis pikiran kak deon nya tidak mungkin melakukan itu, tapi apa orang tua deon akan percaya? di otak Ara sekarang bukan marah dengan Deon, tapi dia takut pria itu meninggalkan nya, Saat ini Deon sudah menempati tempat spesial di hatinya, Ara yakin Deon tidak melakukan itu, tapi Ara tidak yakin kedua orang tua deon akan percaya pada Deon.


Ara bingung harus seperti apa, dia tidak ingin jauh dari Deon, dia tidak ingin Deon meninggalkan nya, apa Ara sendiri yang harus menjauh agar rasa sakit yang dia rasakan tidak sesakit saat Deon yang meninggalkan nya.


Ara membenturkan kepalanya pada bantal kursi, tangisnya kembali pecah.


"Apa yang harus aku lakukan?" ucapnya pelan.


...🐤🐤🐤🐤🐤...


Sementara saat ini Deon masih belum tau Ara tidak ada dirumahnya, pasalnya Deon di panggil oleh ayahnya untuk segera pulang ke rumah besar, ayahnya mengatakan ada hal penting yang harus dibicarakan.


Dengan perasaan yang tiba-tiba tidak tenang Deon menuju rumah besarnya, otaknya entah kenapa teringat tentang Ara, dan saat ini jantung Deon terasa sakit setiap mengingat wajah Ara nya.


"apa terjadi sesuatu tuan" tanya botak dari kaca spion.


"Ntah lah Tak, aku merasa ada sesuatu yang salah, dan sedang terjadi pada Ara" gumam Deon dengan nada gelisah.


"Percepat mobil ini tak, setelah itu aku ingin secepatnya bertemu dengan Ara".


...🐣🐣🐣🐣🐣...


🌺 cuap cuap author 🌺


Hayo~ pada tegang gak?


mau lanjut atau tunggu besok aja lanjutannya?? hehehe..


tetap like dan vote ya, makasih banyak semuanya 💞💞❤❤