My Little Girl

My Little Girl
47. Buah tangan



Pukul 7 pagi Deon masuk ke dalam kamar Ara, dilihatnya gadis kecil itu masih menggunakan baju tidur tapi sudah selesai mandi terbukti dari rambut Ara yang basah, dan sekarang gadis itu sedang bermain ponsel dengan rambut yang masih basah.


"Nanti saja mainnya, kita sarapan dulu ke bawah".


" Akkhh Kak Deon! ngapa jalan gak napak lagi!! " pekik Ara terkejut.


"Ara, liat ke kaki kakak, ini kakak masih napak loh".


" Kakak kok jalannya gak bunyi, bikin Ara jantungan aja" Ara masih tidak terima dengan pembelaan Deon.


"Siapa suruh sibuk main terus, jadi gak sadar kan kalau kakak ada disini, itu rambut kenapa masih basah?"


Ara menggedik kan bahu acuh, "Nanti akan kering sendiri, hehehe".


" ckckck" Deon menggeleng sambil tertawa pelan, dia segera meraih hair dryer milik Ara, "Ra, sini" Deon menepuk kursi yang tadi dia ambil.


"Ngapain kak?" tanya Ara bingung tapi dia tetap berjalan untuk duduk di kursi yang diminta Deon.


"Ya keringin ini rambut, nanti masuk angin" Tangan Deon dengan cekatan mengeringkan rambut Ara.


Sedangkan Ara? gadis itu hanya pasrah dan tertawa senang, dia mendapatkan perhatian Deon. Mungkin karena kurang perhatian dari orang tua dan kakak kandungnya Ara jadi sangat suka dengan semua perhatian yang Deon berikan padanya.


Tangan Ara kini sibuk bermain game, sedangkan Deon sibuk mengeringkan rambut Ara.


"Nanti jadi belajar disini?" tanya Deon.


"Jadi kok" jawab Ara tangannya masih fokus bermain game.


"Jangan bawa kedalam kamar ya" Deon sedikit memberi peringatan.


"Loh kenapa kak?" Ara kini berhenti bermain dan berbalik menatap Deon, padahal tadi rencananya Ara ingin membawa teman-temannya belajar di sofa kamarnya.


"Ada cowok-cowok, kakak gak mau ada cowok yang masuk kedalam kamarmu, pokoknya tidak boleh ada cowok yang masuk ke dalam kamar ini" Deon berkata sambil mengusap puncak kepala Ara.


"Lalu Ara belajar dimana? Buku-buku pelajaran dan referensi ada di perpustakaan yang kakak buat" Ara menunjuk perpustakaan kecil yang dibuatkan oleh Deon.


"Minta bi Arin atau pembantu yang lain untuk membawakan buku buku yang diperlukan, dan mengenai tempat kamu bisa gunakan tempat mana saja, termasuk ruang kerja kakak, kecuali kamar pribadi, hanya itu yang tidak boleh di masuki".


Ara mengangguk "Baiklah, kalau gitu Ara boleh pakai gazebo samping rumah yang dekat kolam renang?"


"Boleh" Jawab Deon.


"Nah udah kering" Deon mematikan hair dryer yang dia gunakan.


"Makasih kak" ucap Ara senang. "Kakak udah rapi, kakak mau pergi?" Ara baru memperhatikan Deon dengan baik, keningnya sedikit berkerut bingung.


"Iya, ada beberapa meeting yang harus kakak hadiri, dan ada beberapa pekerjaan kakak yang harus dikerjakan, jadi baik-baik belajar di rumah, jangan makan-makanan junk food kalau pengen minta saja pada bi Arin, dia bisa membuat apa saja dan rasanya lebih enak dari junk food" Deon berkata sambil kembali mengusap puncak kepala Ara.


"Oke bos, kakak pergi kerja bukan karena menghindari teman perempuan Ara kan?" Tanya Ara penuh selidik.


"Bukan, jangan asal tuduh gitu, kamu tau kan kakak memang sibuk" bohong Deon, dia memang sengaja menghindari teman Ara, dia merasa sahabat ara itu memiliki maksud tertentu padanya, dan selagi Deon bisa menghindari maka dia akan menghindari wanita berbisa itu sejauh mungkin, melihatnya saja tubuh Deon sudah gatal-gatal apa lagi bersentuhan dengan wanita itu, bisa bisa jadi pingsan Deon karena ketakutan.


"Baiklah, tapi kita sarapan bersama kan?"


Deon mengangguk mengiyakan, dan kedua pasangan itu turun sambil berangkulan menuju meja makan.


.


Dilantai bawah ternyata Botak telah berdiri didekat tangga menunggu kedatangan Deon.


"Kakak buru-buru?" Ara memperlihatkan ekspresi sedih.


" itu tuyul udah nongol" Ara menunjuk botak yang masih berdiri dengan tersenyum paksa.


"Udah berapa kali di bilang jangan panggil tuyul, masih juga panggil itu, untung kesayangan tuan muda kalau enggak udah gue jitak kepala ni anak kecil" batin Botak.


"Untuk sarapan bersama, dia bilang tadi kelaparan, jadi kakak ajak aja ke rumah makan disini" Deon memberi kode pada botak agar mengikuti alur yang dia buat.


"Iya nona, saya mau numpang makan" ucap Botak mengikuti alur yang Deon buat.


"Ihh kakak jahat, masak tuyul peliharaan kakak gak dikasih makan, ntar lari loh, kakak kan cari uang dengan menggunakan tuyul ini, yuk yul kita makan bareng nanti biar Ara yang memarahi kakak karena gak kasih makan tuyul peliharaan nya" Ara segera menarik tangan Botak menuju meja makan.


Deon hanya terkekeh melihat tingkah Ara, sejak kapan botak jadi tuyul benaran, emang dikata Deon menggunakan pesugihan tuyul.


...🐤🐤🐤🐤🐤...


Shasa begitu terperangah tidak percaya, rasa kekagumannya kepada Deon semakin besar ketika melihat rumah mewah milik Deon. Shasa pernah ke rumah ara, tapi rumah ini lebih besar dua kali lipat dari rumah Ara.


"Pantas Ara mau tinggal disini, ternyata rumahnya dua kali lebih besar dari rumah Ara, dim" bisik shasa pada Dimas.


Dimas hanya diam tidak menanggapi ucapan Shasa, dia akui, kekayaan kakak asuh Ara mengalahkan kekayaan yang keluarganya miliki, tapi dia sangat yakin, hati Ara masih ada untuknya dan Dimas akan mengambilnya kembali.


"Selamat datang tuan dan nona, silahkan ikuti saya, Teman-teman tuan dan nona sudah menunggu" ucap bi Arin ramah.


Shasa tersenyum senang ketika bi arin menunduk hormat padanya, pikirannya sudah melayang membayangkan ketika dia berhasil merebut hati Deon, maka semua yang ada pada rumah ini dan semua kekayaan Deon akan menjadi miliknya.


.


Shasa kembali terperangah tidak percaya ketika memasuki rumah dan mengikuti bi arin menuju gazebo, rumah itu luar biasa besar dan mewah, bukan hanya itu, halamannya juga luas.


Di dekat gazebo, Shasa dapat melihat Ara sedang tertawa bersama ketiga sahabat karib nya, ada tumpukan buku di meja mereka.


Juan tampak asik merendam kakinya pada kolam renang di dekat gazebo, tidak jauh dari kolam renang dan gazebo itu, ada lapangan basket yang sangat terawat.


"Kalian berdua lama banget sih?" kesal Juan, pria itu kini berdiri sambil mengambil handuk didekat kursi untuk mengelap kakinya yang basah.


"Maaf tadi aku sedikit terlambat karena membuat cemilan untuk kita" Shasa menunjukkan dua buah paper bag yang dia bawa.


"Gak perlu kok sha, tapi makasih ya" jawab Ara sambil mengambil paper bag itu. Tapi satu paper bag ditahan shasa.


"Ra, mana kak al? aku mau kasih ini untuknya, sebagai ucapan terima kasih sudah membolehkan kami berkunjung" ucap shasa cepat.


"Ohh kalau gitu berikan saja pada bi arin, kak Deon gak ada disini, dia pergi bekerja".


Dengan berat hati shasa memberikan satu paper bag nya pada bi Arin.


" kapan pulangnya ra? gak enak kalau ngasih hadiah pakai titip titip gini".


Ara mengedikkan bahu Acuh, "Gak tau, kak Deon kan bukan siswa kayak kita, dia sibuk bekerja".


...🐣🐣🐣🐣🐣...


Next???


makasih ya buat semua dukungannya, tetap like dan vote biar author semangat ngetik novel ini.


bye bye, bonus pict deh



❤❤❤❤❤❤