
Deon menatap mata bunda nya dalam-dalam, dia mulai menceritakan siapa Ara sebenarnya.
"Ara saat ini berumur tujuh belas tahun, Sejak kecil hidupnya sendiri, kedua orang tuanya sibuk pergi keluar kota dan keluar negeri, dan Axel kakaknya sangat jarang ada untuknya, Axel lebih sering ikut bersama orang tuanya untuk belajar bisnis, di umur dia yang menginjak tujuh belas tahun, dia harus hidup sendirian, seperti tidak mempunyai keluarga padahal keluarganya masih lengkap, Deon beruntung memiliki bunda, karena bunda akan memberi tau Deon hal hal yang tidak boleh Deon lakukan dan bunda selalu ada setiap Deon membutuhkan Bunda, Sedangkan gadis itu, tidak ada orang dewasa yang berada disisinya, hanya para asisten rumah tangga yang selalu dia lihat setiap hari". Deon menjeda ucapannya sebentar.
"Di umur seperti itu dia mulai penasaran melakukan hal-hal yang menurut nya akan dapat menarik perhatian kakak dan kedua orang tua nya, dia mulai merokok, mabuk-mabukan, dan ikut balap luar, tapi yang ada hanya seorang asisten yang menemuinya untuk memberitahu jika hal yang dia lakukan itu salah, dia hanya melakukan semua itu untuk mencari perhatian bun, tidak lebih, dan pria yang dia rangkul adalah Sahabat-sahabatnya yang melindungi dia dari pria hidung belang diluar sana, dia terlihat nakal tapi gadis itu masih polos dan suci bun, tidak seperti cerita yang diucapkan oleh sahabat bunda".
Mitha merasa kasihan mendengar cerita Deon, tapi ucapan Acha tentang putra nya yang sudah dibayar dengan tubuh Ara terus mengusiknya, ucapan itu membuat Mitha tidak percaya seratus persen dengan ucapan Deon.
"Liat, bunda tidak percaya dengan ucapan Deon, apa ada lagi yang wanita ular itu ucapkan pada bunda selain menjelekkan Ara?"
Melihat bunda nya hanya termenung, Deon seolah dapat membaca, masih belum semua ucapan wanita ular itu dikatakan oleh bunda nya.
"Dia bilang kamu pasti di bayar dengan tubuhnya, makanya kamu membela dia" kata Mitha akhirnya dia mengatakan juga ucapan yang membuat hatinya sangat cemas.
"Hahahha" Deon tertawa keras, "Bunda percaya putra bunda ini akan mudah disuap dengan tubuh wanita? bunda ingin Deon melenceng ke penyakit seperti itu? bunda lupa karena penculikan Deon waktu itu hanya ada dua kemungkinan, pertama Deon akan menjadi maniak s**s atau hiper S**s dan yang kedua Deon akan memiliki penyakit Haphephobia, biasa dibilang tidak bisa bersentuhan dengan orang lain, dalam kasus Deon, yaitu wanita, jadi menurut bunda Deon seperti itu?"
Ingatan tentang penculikan Deon kembali muncul di otak Mitha, dia merasa sedih melihat putranya yang mulai mengatakan kembali masa lalunya.
"Tidak, tidak seperti itu, baiklah bunda percaya padamu, tapi izinkan bunda bertemu dengan wanita itu, bunda janji hanya sekali" pinta Mitha dengan sedikit memelas.
Deon menghembuskan nafas panjang, akhirnya dia mulai menceritakan tentang Ara yang dititipkan Axel dan kedua orang tuanya pada Deon. Dan Deon juga mengatakan Ara selama ini tinggal di rumahnya, dan selama bersama Deon Ara sudah tidak pernah merokok, mabuk-mabukan, serta balapan liar, dia juga tidak pernah membuat ulah lagi. semua itu Deon ceritakan agar bunda nya bisa percaya padanya dibanding kedua wanita ular itu.
Deon juga berpikir lebih baik bunda nya bertemu langsung dengan Ara, untuk mengetahui bagaimana Ara yang sebenarnya, dibanding ucapan yang tidak tentu benar atau bohong.
"Deon mohon, jangan jodohkan Deon dengan putri sahabat bunda itu, Deon tidak salah pilih bun, Deon mohon percaya sama pilihan Deon, jika bunda mau bertemu dengan Ara bunda bisa ke rumah Deon saat sore hari".
Mitha mengusap kepala putra kesayangannya, " Terima kasih ya, maaf bunda sudah meragukanmu" ujar bunda pelan.
...🐤🐤🐤🐤🐤...
Besok harinya bunda memang pergi ke rumah Deon, dia sangat penasaran dengan gadis yang berhasil mencuri isi hati putranya.
.
Saat masuk kedalam rumah, Mitha tidak melihat Ara dimanapun, tapi ketika dia menuju dapur untuk bertemu dengan bi arin, dia mendengar suara gadis remaja yang sedang berbicara dengan bi Arin. "BI, habis dipotong apa lagi yang harus Ara lakuin".
Ara saat ini sedang bercanda gurau dan juga membantu bi arin untuk masak makan malam. Dia terlihat sangat sederhana, menggunakan celana kain biasa dan kaos yang kebesaran dibadanya, dia juga mengikat asal rambutnya.
"Mau buat apa?" tanya Mitha pelan.
"Ya ampun nyonya, maaf saya tidak menyambut nyonya" pekik bi arin dan beberapa asisten rumah tangga yang lain.
Ara masih bengong menantap wajah Mitha. Dia merasa canggung saat ini.
"Selamat sore tan" sapa Ara dengan pelan, kepalanya menunduk sedikit takut.
"Selamat sore cantik, sedang masak apa?" tanya Mitha sambil mencubit pelan pipi Ara, yang dikatakan Deon memang benar, ketika dia melihat Ara dia langsung jatuh hati melihat senyum ramah gadis itu, dan juga dia menjadi tertarik padanya, padahal dia baru saja melihat interkasi gadis itu bersama para pembantu.
"Ahh, i-ini mau masak gulai ayam, tan" jawab Ara masih terdengar gagap.
"Emang boleh?" Ara malah bertanya dengan mata berbinar.
"Boleh dong, ayo bunda ajari cara masaknya, gimana ganti aja jadi sup iga? bi ada iga didalam kulkas" Mitha bertanya pada bi arin.
"Ada kok nyonya" jawab bi arin cepat. Bi arin dulu bekerja dengan Mitha di rumah besar, tapi sejak Deon tinggal sendiri, bi arin dipekerjakan untuk membantu keperluan Deon di rumah barunya.
Jadi lah hari itu bunda Deon dan Ara memasak bersama di dapur dengn penuh canda tawa.
.
"Bun, Ara ke kamar bentar ya" izin Ara pada Mitha, dia sudah terlihat tidak canggung lagi pada Mitha.
"Iya, pasti mau hubungi Deon ya" ledek bunda.
"ihh bunda, suka banget ngeledek Ara" memang sejak tadi di dapur Ara kena bulli oleh Mitha dan asisten rumah tangga disana tentang hubungan Deon dan Ara.
.
Setelah Ara benar-benar pergi, Mitha segera bertanya pendapat para asisten rumah tangga di sana tentang Ara.
"Menurut bibi Ara itu orang yang bagaimana? bibi harus jawab jujur dengan saya" tegas Mitha.
"Non Ara itu baik, dia tidak pernah merendahkan kami sebagai pembantu nyonya, dia juga orang yang ceria, dan tau sopan santun terhadap orang yang lebih tua, dia juga suka berbagi dengan orang yang berada di bawahnya, selalu ingin tau, nyonya tau, nona Ara pernah penasaran seperti apa itu pasar tradisional, jadi saya menemaninya kesana, dan nona Ara tidak merasa jijik dengan kondisi pasar yang terlihat jorok, dia malah banyak bertanya -tanya kegunaan masing-masing makanan disana, seperti anak kecil" bukan hanya bi Arin, tapi asisten rumah tangga yang lain juga menceritakan kebaikan Ara di depan Mitha dengan sangat antusias.
"apa Ara pernah pulang dengan mabuk-mabukan bi?" tanya Mitha.
Bi arin menggeleng pelan, walau dia pernah melihat Ara pulang di gendong oleh Deon, tapi Deon memohon pada bi arin untuk merahasiakan itu, dengan cara menceritakan pada bi arin cerita sebenarnya.
"Tidak nyonya, nona Ara pulang pergi selalu di kawal oleh tuan muda, tuan muda tidak pernah membolehkan nona Ara keluar tanpa sepengetahuan tuan, nampak sekali tuan muda sangat menyayangi nona Ara" jelas bi arin.
Mitha mengganguk angguk, setelah mendengar cerita dari para pembantu nya.
"Sepertinya aku harus bicara pada Acha, lebih serius" batin Mitha.
"hmm bibi kenal dengan shasa?"
"Shasa? shasa sahabat non Ara maksud nyonya?"
"Iya shasa sahabat Ara".
" Kenal nyonya, anaknya angkuh sekali___"
Belum sempat bi Arin melanjutkan ucapannya, pembantu lain memotong ucapan Bi arin, "Iya nyonya, dia angkuh dan tidak sopan! dia memandang kami seperti manusia hina".
"dia juga suka memerintah dengan seenaknya, seperti tuan rumah disini, padahal dia kesini hanya karena belajar bersama nona Ara" sambung pembantu lainnya.
...🐣🐣🐣🐣🐣...