My Little Girl

My Little Girl
27. Liburan



Ara begitu semangat pagi ini. Pukul 5.30 pagi dia sudah bangun lebih dulu. Matanya berbinar menatap wajah Deon yang masih tertidur. Mungkin Deon terlalu lelah karena banyak pekerjaan yang Deon kebut, agar bisa menemani Ara liburan di Jepang.


Tangan Ara mulai terarah pada pipi Deon. mengelus pipi itu dengan pelan.


"Udah puas pegang pegangnya?" Tiba-tiba saja Deon berbicara tanpa membuka matanya.


Tangan Ara yang tadi asik mengelus pipi Deon langsung terdiam.


"Ka-kakak bangun? sejak kapan? " gagap Ara.


"Sejak tangan Ara menyentuh pipi kakak, jam berapa ra?" ucap Deon lagi, tapi suaranya kini terdengar sedikit serak khas orang baru bangun tidur.


Ara melirik jam pada nakas tempat tidur. "enam" ucap Ara singkat, dia kembali menyembunyikan kepalanya pada dada bidang Deon.


Hal itu membuat mata Deon membulat sempurna, gadis kecilnya benar benar tidak pernah waspada pada pria seperti dirinya.


"Ra, bisa lepas gak tangannya?"


Bukannya melepas Ara hanya menggelengkan kepala dan semakin mempererat pelukannya.


"Gak mau, ini hari minggu ara masih mau tidur" ucap ara masih dalam posisi yang sama.


Deon segera menahan nafasnya, dia tidak bisa menahan sesuatu yang mungkin akan bangun jika ara terus seperti ini.


"Ra, nanti kakak cium, kalau gak mau lepas" gumam deon lagi.


Ara tertawa pelan tapi tetap tidak merubah posisinya. "emang bisa? kakak kan gak pernah anggap Ara cewek".


Pikiran gadis kecil itu cukup simpel, dia berpikir Deon tidak akan melakukan hal hal dewasa padanya, karena Ara tidak bisa membuat alergi Deon kambuh.


Mendapat tantangan dengan segala kekuatan, dia membalik posisi Ara, dan dengan cepat bibir Deon mencium bahkan sedikit ******* bibir itu.


"Masih bilang gak akan pernah?" Deon mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum nakal.


Mata lentik itu membulat sempurna, ketika Deon menciumnya, walau singkat tapi Ara tau apa yang barusan terjadi.


"Ci-ciuman pertama Ara!" pekik Ara tidak Terima, Deon telah mencuri ciuman pertama yang paling berharga darinya.


Deon kembali terkekeh, "Bagus, semua yang pertama akan kakak ambil".


'puk' Ara menepuk dada Deon dengan kuat, "Kembalikan ciuman pertama ara!"


Deon kembali mencium Ara, "Udah" balasnya singkat.


Tangan Ara kini menutup mulutnya setelah Deon melepaskan ciuman untuk kedua kalinya.


"Kakkk!!" pekik Ara kembali.


"Siapa tadi yang menantang dan menyuruh kembalikan?" Deon mencubit pelan pipi Ara. "masih mau?"


Ara menggeleng dengan tangan yang masih menutup bibir.


"Udah dibilangin jangan pernah membantah ucapan kakak, kakak selalu melakukan apa yang kakak ucapkan, sekarang cepat pergi ke kamar mandi, dan segera bersiap-siap untuk kepergian kita ke Jepang"


Tanpa menunggu peringatan kedua dari Deon, Ara segera berlari menuju kamar mandi.


'Buk' bunyi pintu yang ditutup secara kasar.


"Kak Deon nyebelin!" teriak Ara dari dalam kamar mandi.


Deon kembali tertawa dan merebahkan kembali badannya ke tempat tidur.


"Maaf little girl, aku harus melakukan itu agar kamu tidak tau apa yang sebenarnya terjadi".


Deon masih tertawa pelan, matanya melirik ke arah tubuh bagian bawahnya yang sudah memperlihatkan tonjolan.


" Andai kamu tau ra, tubuh cowok kalau bangun pagi itu seperti apa, kalau kamu sudah lulus sekolah sudah aku makan kamu ra" gumam Deon pelan.


Deon segera berdiri dari tempat tidur Ara, dia tidak mau gadis kecil itu mengetahui juniornya sudah berdiri tegak.


"Ahhh, harus mandi air dingin lagi" Desah Deon panjang.


...🐣🐣🐣🐣🐣...


Ara begitu semangat berlari menuruni tangga. Senyum gadis itu kembali muncul ketika melihat Deon yang duduk didekat meja makan sambil fokus melihat tablet di tangan nya.


"Kak.. kata teman Ara mereka belum minta izin ke orang tua mereka, jadi mereka masih ragu untuk ikut".


" Berikan nama-nama orang tua mereka pada Botak, biar dia yang urus" Setelah berkata begitu Deon kembali fokus pada pekerjaan nya.


"hehehe makasih kak"


"hmm" Deon hanya berdeham untuk menjawab Ara.


"Kak, kita pergi berapa hari? biar Ara bilang sama teman-teman Ara, jadi kami bisa siapkan beberapa pakaian".


Deon kembali mengangkat kepalanya untuk menatap Ara. "Gak usah bawa terlalu banyak, kalian shopping aja disana, beli baju yang kalian ingin kan gaya harajuku atau gaya apapun kalian bebas membeli apapun, pulangnya saja kalian bawa banyak baju. jangan pas perginya".


" Maksudnya?" Ara masih belum mengerti dengan ucapan Deon.


"Bawa saja pakaian secukupnya, nanti kalian beli aja di Jepang, shopping kemanapun kalian mau, dan beli apapun".


"Benar ni kak?"


"Benar, cepat sana bilang teman-teman, jangan lupa bawa kartu yang kemarin kakak berikan, pakai itu untuk berbelanja".


Ara langsung berdiri dan memeluk tubuh Deon.


'cup' Ara mengecup pipi Deon dengan spontan.


"Makasih kak" ucapnya gembira, dia masih belum sadar dengan apa yang dia lakukan.


"Masih kurang" gumam Deon kini pria itu tersenyum nakal pada Ara.


Ara yang tadi bersorak gembira langsung berhenti.


"apanya yang kurang?"


"Bayaran kakak".


" Bayaran?" beo Ara.


Tangan Deon memegang pipi yang baru saja Ara cium, "Itu masih untuk satu pembayaran, tiket temanmu masih ada 3 lagi tiket yang belum dibayar" kali ini tangan Deon beralih memegang bibirnya.


Seolah sadar dengan apa yang baru saja terjadi, Ara segera melepas tangannya yang sejak tadi masih merangkul leher Deon. Wajah Ara kini bersemu merah, "Kok gitu! kok pakai bayaran sih".


" Harus dong, kakak bayar mahal loh, tiket, dan uang jalan-jalan Shopping" ujar Deon, dia baru saja mendapat kan ide seperti itu karena perlakuan Spontan Ara. "Kamu masih hutang tiga pembayaran lagi, tapi disini" Deon menunjuk bibirnya sendiri.


"Kakak nyebelin" gerutu Ara.


Deon kembali fokus menatap Tablet nya, "Emang" jawab singkat deon.


Tangan Ara segera menangkup kedua pipi Deon.


'Cup' Ara kini telah menempelkan bibirnya pada bibir Deon.


Mata Deon langsung terbelalak kaget, padahal tadi dia hanya berniat bercanda. Tapi Ara malah melakukan hal yang dia inginkan, walau hanya mengecup.


Gadis kecilnya masih belum mengerti dengan French kiss, Single lip kiss atau yang lainnya. Sepertinya hal hal dewasa itu harus Deon ajarkan nanti pada Ara.


"Satu bayaran udah, sisanya hutang" muka Ara sudah bersemu merah, menatap kedua mata Deon.


Ara segera berlari kembali ke kamarnya.


"Kapan pembayaran selanjutnya?" teriak Deon, karena Ara sudah mulai menjauh darinya.


"Ihh nyebelin" pekik Ara, dia tidak mau berbalik untuk melihat Deon, karena dia sangat malu saat ini, entah kenapa tubuhnya spontan melakukan hal seperti itu, bersama Dimas Ara tidak pernah berniat ingin menciumnya, karena kejadian tadi pagi Ara jadi kembali ingin merasakan bibir Deon.


.


Deon sudah tidak bisa fokus pada pekerjaan nya, dia terus saja tersenyum sambil memegang bibir yang baru saja dikecup Ara.


Dia kembali teringat dengan ciuman yang dia berikan pada Ara tadi pagi.


"Manis" gumam Deon pelan.


...🐀🐀🐀🐀🐀...


🌺🌺 cuap cuap author 🌺🌺


Maaf ya author cuma up satu satu, soalnya author belum dapat kontrak, nanti kalau author udah di kontrak baru deh author up banyak banyak


jadi jangan lupa share, like, favorit sama vote nya biar author cepat dapat kontrak dan semangat ketik novelnya.