
Deon tampak gelisah ditempat duduknya, sejak tadi pria it uterus meremas tangannya sendiri. Ara yang sejak tadi disamping deon mengetahui kegelisahan suaminya itu karena dia tau suaminya takut untuk menjalani pengobatannya.
Sudah hampir 3 bulan Deon mulai Kembali pengobatannya, tapi tetap tidak ada pengaruhnya, Deon makin takut berdekatan dengan perempuan, dan yang dia takutkan bertambah, jika Deon tetap seperti itu, dia takut dia akan tidak bisa menyentuh istrinya sendiri.
“Kak” Deon menoleh mendengar panggilan istrinya.
“Hmmm?” Pria itu hanya menjawab dengan dehaman.
Ara mengambil tangan deon yang sedang dia remas, dan diarahkan pada perutnya yang sudah terlihat membuncit. “Kakak tidak sendiri, ada ara dan ketiga anak kita”.
Mendengar ucapan istrinya deon tersenyum tulus, tangan ara yang menggenggamnya segera diarahkannya pada bibirnya sendiri, “Iya sayang, kakak akan melakukan apapun permintaanmu”.
“Setelah terapi pengobatan kakak, kita akan melihat keadaan si kembar dan mencari tau jenis kelamin mereka, ara sudah tidak sabar”
“Kakak juga” jawab Deon, Pria itu kini merangkul bahu ara. Mencium puncak kepala istrinya itu berkali-kali dengan begini kegugupannya mulai menghilang perlahan-lahan.
****
Deon dan ara memasuki ruangan dokter psikolog dengan bergandengan tangan. Deon merasa lebih rileks Ketika menggenggam tangan istrinya itu.
“Selamat siang Dok” sapa Ara dengan ramah.
“Selamat siang nyonya ara” salam balik dokter Fitra. Dokter itu sedang menggendong bayi perempuan yang sangat cantik.
“Bayi siapa doK?” tanya ara, sementara deon sejak tadi hanya diam mendengarkan interaksi istrinya dengan Dokter Fitra.
“Keponakan saya, kebetulan dia dititipkan dengan saya, ini juga bisa membantu dalam pengobatan Tuan Allinsky” Ujar dokter itu sambil melihat Deon. “Apa tuan Allinsky bersedia memegang tangan bayi ini?”
Deon terlihat takut, tapi dia berusaha memberanikan diri, mendekat kearah dokter fitra karena istrinya sejak tadi memberi harapan besar padanya melalui tatapan matanya.
“Tidak apa tuan allinsky, bayi ini masih kecil, dia tidak akan menyakiti tuan, cobalah pegang, tangannya sangat halus, berbeda dengan tangan wanita yang menyakiti tuan” Bujuk Dokter fitra dengan pelan.
Deon hanya melangkah dua Langkah, tapi tidak berani lagi mendekat, bukan karena takut dengan bayi itu melainkan Dokter Fitra, tiba-tiba saja wajah dokter fitra berubah menjadi gelap, wajahnya jadi tidak kelihatan lagi, suasana disekelilingnya juga mulai berubah menyeramkan, keringat dingin mulai keluar dari leher dan wajah deon.
“Kak” Panggilan ara dan tepukan pelan ara dipunggungnya membuat deon Kembali sadar dan suasana di ruangan itu Kembali bercahaya.
“Dokter, bolehkah aku yang menggendongnya? Kak deon tidak berani mendekat karena dokter yang memegang bayi itu”.
“Ahhh begitu rupanya, baiklah ini” Dokter Fitra menyerahkan bayi mungil itu ke tangan Ara. “Pelan-pelan nanti saat punya anak kamu harus terbiasa menggendong bayi” gurau dokter Fitra.
“Iya dok, saya akan belajar” ucap ara pelan. Setelah itu dia melangkah mendekati Deon.
“Kak coba pegang, dia sangat menggemaskan, jika anak kita lahir nanti apa dia semenggemaskan ini?” gumam ara sambil terus menatap mata bayi mungkil itu.
Perlahan deon menyentuh tangan bayi itu.
“Halus” gumam deon.
Ara tersenyum deon mulai berani menyentuh bayi itu.
“Dia menggemaskan” Deon juga mulai berani menyentuh pipi tembab bayi itu. Dan tidak ada reaksi yang terjadi padanya setalah 3 menit Deon menyentuh bayi itu, bahkan setelah lebih, deon masih terus menyentuh bayi itu.
Ara melirik dokter Fitra yang mendapatkan anggukan dari dokter Fitra, Sepertinya pengobatan terbaru ini mulai bisa menyembuhkan Deon, tapi dia masih tidak berani dengan perempuan dewasa.
“Tuan Allinsky, apakah anda sadar sekarang anda memegang bayi itu lebih dari lima menit dan berarti anda bisa menyentuh bayi perempuan, jadi anda tidak perlu takut tidak bisa menyentuh bayi anda”.
“Terima kasih dok, apa aku boleh menggendongnya?” ujar Deon.
“Iya silahkan”.
Perlahan Ara menyerahkan bayi itu untuk masuk kedalam pelukan Deon. Awalnya Deon masih kaku dalam menggendong bayi tapi lama kelamaan Deon mulai terbiasa dan mulai bisa menyeimbangkan tangannya.
.
“Metode baru ini berhasil, kalau begitu bagaimana dengan mencoba anak balita? Apa kamu siap tuan”
“Baik saya siap” jawab deon dengan bersemangat.
.
Dokter fitra juga akan mencari metode baru untuk pengobatan yang akan dilakukan Deon, karena metode yang sekarang sudah tidak bisa digunakan lagi.
...🐣🐣🐣🐣🐣...
Selama perjalanan menuju rumah sakit, Deon terus menggenggam tangan istrinya.
“Sayang, gimana kalau kita hentikan pengobatan kakak?” tanya Deon tiba-tiba.
“Kenapa? Kalau dihentikan bisa bahaya gimana?”
“Gak bahaya, yang penting kakak bisa menyentuh anak kecil dan bayi, itu sudah cukup” ujar Deon.
“Baiklah, Jika kakak maunya seperti itu” Ara tidak akan memaksa Deon sembuh, sebenarnya dia juga masih memiliki sedikit ketakutan, jika suaminya sembuh, apakah suaminya benar-benar akan setia padanya? Apakah suaminya puas hanya dengan dirinya?
Pertanyaan -pertanyaan itu terus terngiang-ngiang dikepalanya.
“Apa kamu tidak marah pada kakak?”
Ara menggeleng, “Kenapa ara harus marah kak? Ara malah senang kakak sudah bisa seberani ini untuk memulai Kembali pengobatan kakak, jika memang tidak ada pengaruh dalam kehidupan kakak yang kedepannya, ara tidak masalah jika kakak berhenti”.
“Kita tanyakan saja nanti pada dokter pada pertemuan berikutnya” Ujar Deon untuk menghilangkan rasa khawatir pada ara.
...🐤🐤🐤🐤🐤...
“Selamat datang tuan dan Nyonya Allinsky” sapa dokter kandungan itu dengan ramah.
“Terima kasih dok” jawab Ara tidak kalah ramah.
“Baiklah bagaimana jika kita memulai pemeriksaannya” tanya Dokter itu.
Ara segera naik keatas ranjang, membiarkan dokter cantik itu mengangkat bajunya.
“Semuanya baik ya, mereka bertiga sehat sekali, ibunya pasti Bahagia, makanya bayi-bayinya sehat”
“Tidak ada kelainan kan Dok?” tanya Deon Cepat.
“Tidak ada, mereka sehat, apa kalian ingin melihat jenis kelamin mereka?”
“Iyad ok, saya sangat ingin mengetahui itu” balas ara cepat.
“Sebentar, kita lihat dulu yang ini” Dokter menyorot salah satu bayi Ara, dan melihatkan dilayar, “Wahh yang ini ada burungnya” Deon tersenyum mendengar ucapan dokter itu.
“bagaimana yang lain dok?”
“Sebentar ya, Yang ini sepertinya akan cantik seperti maminya, yang ini cewek, dan satu lagi cowok, selamat tuan dan nyonya dapat 2 cowok 1 cewek” Puji Dokter kandungan tersebut.
Ara dan Deon saling berpelukan dan tersenyum senang mendengar jenis kelamin ketiga anak mereka.
Baju ara sudah diturunkan, dan Dokter sudah Kembali ke meja kerjanya Bersama dua pasangan suami istri itu.
“Apa ada yang mau ditanyakan pada saya?”
“Apa saya bisa melahirkan mereka dengan normal dok?” tanya Ara.
Wajah dokter kandungan itu terlihat sendu, “Mohon maaf nyonya, pinggul anda terlalu kecil untuk melahirkan bayi-bayi anda secara norma, umur anda masih terlalu muda untuk melakukan itu, kita akan melakukan operasi, untuk kelahiran ketiga bayi nyonya”.
Deon tau ara sedih, dia hanya mampu merangkul bahu istrinya untuk menandar padanya, “Mereka semua bisa selamatkan dok?” tanya Deon, dia tidak peduli mau operasi ataupun normal, asal ara nya selamat, dan tidak terjadi apapun pada istri serta anaknya.
“Kami tidak bisa memastikan, tapi kami semua akan berusaha menyelamatkan ibu dan bayinya, jadi tuan allinsky tenang saja, semua akan baik-baik saja” jelas dokter itu.
...🐥🐥🐥🐥🐥...