
"Ahhh!" pekik Angga tiba-tiba.
"Apa?" seru Deon, botak dan Andri berbarengan.
"Beberapa hari yang lalu gue ke hotel bareng MeiMei teman si wanita itu". Meimei adalah nama lain meli jika dia sedang keluar bersama orang yang membeli jasanya. "bisa saja meimei memakai ponselku untuk mencari kontakmu" lanjut Angga lagi.
"kau makai jasa tu anak berkali-kali?" Andri menatap jijik Angga.
"Bro, enak pakai yang masih muda gini bro! gue bakal tanya nanti tu cewek" nada suara Angga terdengar kesal diakhir kalimatnya.
"Sky lu gak marah kan?"
"bukannya gue marah, hanya saja gue berharap memang seperti itu yang terjadi, gue gak bisa bayangin jika Ara tau apa yang terjadi, gue takut gadis kecil itu marah" kata Deon dengan wajah lesu.
"Tenang aja bro, bakal gue cari tau yang sebenarnya terjadi" Angga tampak kasian melihat sahabatnya itu, ini pertama kalinya Deon memiliki wanita yang paling berharga disisinya.
"Thanks" ucap Deon singkat.
...🐤🐤🐤🐤🐤...
Pukul 7 malam para remaja yang sedang belajar itu akhirnya selesai belajar bersama.
"Ra mana kak Al, kok belum pulang juga?" tanya Shasa sambil celingukan kekanan dan kiri, mencari mungkin Deon bisa saja muncul di mana saja.
"Gak tau sha, gue mana tau kak al pulang jam berapa" Ara berusaha bersikap acuh tapi hatinya sedikit sakit setiap mendengar nama panggilan Shasa yang terdengar akrab.
"Ngapain sih lu sha! mau tau urusan orang aja! ngapain lu tanya tanya kak Deon!" gerutu Juan, pria itu sudah sangat emosi, sejak awal datang Shasa terus saja mencari Deon, nampak sekali gadis itu berusaha untuk mendekati Deon.
"Apaan sih, kalian ini negatif thingking terus sama gue, kita udah bertamu disini sangat lama, dan gue segan aja gak minta maaf pada pemilik rumah" Shasa balas menggerutu.
"Tuan rumah, noh! di depan lu, Clara Shahnaz Zoya, tidak ada kak Deon berarti dia tuan rumahnya saat ini!" Robi melipat tangannya dan menunjuk Ara dengan mulut yang di monyongin.
"Ara kan numpang disini, bukan Ara pemilik rumahnya, lagian aku pengen izin, boleh gak tidur disini bareng Ara, ya kan ra, kita udah lama banget gak tidur bareng" Shasa merangkul tangan Ara berusaha membujuk gadis itu untuk mau tidur bareng di rumah milik Deon.
"lu yang tidur, gue gak bisa" batin Ara.
"Maaf sya, gue gak bisa, kak Deon gak suka ada orang asing dirumahnya, jadi jangan berharap tidur disini" ucap Ara sesopan mungkin.
"Lu kan juga orang asing ra! kok lu boleh!" kesal Shasa, seperti nya gadis itu sudah mulai emosi karena semua permintaan nya tidak dikabulkan oleh Ara. "Lu berubah ra" ucap Shasa lagi.
"Wajar kalau Ara berubah, lu nya yang gak tau diri, menganggap Ara sahabat hanya saat ada yang lu mau! wajar ara berubah!" Leo akhirnya ikut berbicara.
"Orang asing? Kak Axel dan kak Deon itu seperti kita bestfriend forever! Ara adik kandung kak Axel, orang asing dari mana? jika dilihat-lihat lu yang orang asing! hanya status teman banyak mintanya, kalaupun kak Deon ada disini, dia yang akan mengusirmu pergi!" Juan ikut menyambung ucapan Leo.
Shasa begitu kesal, ketiga sahabat Ara terus saja merendahkannya. Tangan shasa sudah mengepal sempurna, jika sedikit saja dia menambah kekuatan kepalannya maka mungkin saja tangan lentik itu akan terluka.
"Udah, udah, jangan bertengkar seperti ini, Sha maaf ya, gue gak bisa ajak lu tidur bareng disini, seperti kata lu, gue kan cuma numpang disini, seharusnya gue tau diri mau ngajak teman menginap" sesal Ara.
"Udah deh, kalian ini jelekin cewek gue mulu, ra kami pul__" ucapan Dimas tidak dia lanjutkan, tadi Dimas hendak mengusap puncak kepala Ara, tapi tangan Dimas segera ditepis Ara, dan sekarang wajah gadis itu seperti orang yang ketakutan. Ara perlahan memundurkan langkahnya, badan gadis itu sedikit bergetar.
"Lu kenapa ra?" Dimas yang khawatir semakin mendekatkan badannya ke arah Ara.
"Oke stopp! sebaiknya kalian berdua cepat pulang, kami ingat tadi kak Deon bilang kami harus menunggunya pulang" Leo segera menghalangi pandangan Dimas, pria itu tegak di antara Dimas dan Ara.
Robi dan Juan juga ikut membelakangi Ara, melindungi gadis itu yang sekarang tengah meringkuk dengan tubuh bergetar.
"Tapi, Ara kenapa? gue khawatir" Dimas berusaha menolak dorongan Juan.
"iya, Ara kenapa? kenapa kalian seperti ini!!" Shasa pun juga sama, dia penasaran kenapa Ara tiba-tiba saja terlihat seperti orang ketakutan.
"Ara gak kenapa-kenapa, sebaiknya kalian cepat keluar ya!" Leo juga ikut membantu kedua temannya untuk mendorong kedua orang itu untuk segera pergi.
"Bi! bantu kami" Teriak Juan. Setelah itu beberapa asisten rumah tangga Deon datang untuk membantu Robi, Juan dan Leo.
sepuluh menit waktu yang mereka butuhkan untuk mengusir kedua orang itu, satpam rumah Deon juga membantu menggiring kedua orang itu untuk segera keluar.
.
"Ahhh akhirnya berhasil" ketiga orang itu saling tos bersama asisten rumah tangga yang membantu mereka.
"Sekarang masalahnya tinggal Ara" lirih Leo sambil melihat Ara yang sudah duduk memeluk kedua lututnya.
Belum ada yang berani mendekati Gadis itu, karena melihat tubuh gadis itu yang bergetar, dan terdengar suara isakan tangisnya.
"Non!" panggil bi arin pelan.
"jangan sentuh!" pekik Ara, ketika bi arin memegang kedua bahunya.
Semua orang yang ada disana hanya bisa berdiri melihat Ara, gadis itu tidak bisa didekati apa lagi di sentuh, padahal tadi yang ingin menyentuh adalah bi Arin.
"Jangan sentuh! jangan mendekat!" hanya gumaman itu yang keluar dari bibir mungil milik Ara.
.
"Gimana ni?" Robi melirik Leo dan Juan bergantian, kedua orang itu hanya bisa menggeleng dan menunjukkan raut muka sedih, karena memang mereka tidak tau apa lagi yang bisa mereka lakukan.
"Hubungi kak Deon! mungkin kak Deon tau apa yang bisa dilakukan" ujar Leo setelah cukup lama berpikir.
Robi dengan cepat merogoh sakunya dan menelpon Deon.
Pada deringan kedua telepon itu sudah diangkat oleh Deon.
📲 "Ada apa kalian menelpon ku?" tanya Deon dari telepon.
📲 "Ara kak__"
📲 "Kenapa Ara?! bocah brengs*k itu kembali membuatnya menangis! " Potong Deon cepat, padahal dia belum mendengar semua cerita dari Robi.
📲 "Kakak sebaiknya cepat pulang, kami gak tau lagi harus bagaimana dengan Ara, dia tidak mau di dekati oleh siapapun, sepertinya ketakutan kakak terjadi" ucap Robi pelan.
📲 "Kalian tetap disitu! jangan pulang dulu! aku akan segera pulang!" ucap Deon, pria itu mematikan telepon secara sepihak.
"Bagaimana?" tanya Juan.
"Sebentar lagi kak Deon akan segera pulang" jawab Robi singkat, sekarang yang mereka bisa lakukan hanya menyuruh para asisten rumah tangga disana untuk kembali pada pekerjaan mereka masing-masing.
...🐣🐣🐣🐣🐣...