My Little Girl

My Little Girl
S2 MLG 91. Berdebat



“kamu taukan daddy punya putri angkat bernama melani?” daddy george memulai ucapannya.


Ay mengambil nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan, dia semakin yakin jika daddy george akan mengatakan hal yang membuatnya tertekan. “dad boleh kah ay bertanya dulu sebelum daddy melanjutkan ucapan daddy” ucap ay cepat, memotong daddy george.


“Ya silahkan” ujar daddy george.


“kenapa daddy begitu menyayangi melani? Ay juga adalah putri daddy, ay saat ini sedang hamil, dan daddy tidak pernah sedikitpun mengucapkan selamat pada ay, melani yang sudah banyak melakukan kesalahan, tapi daddy terus saja membela gadis itu, apa daddy mencintai melani bukan sebagai anak tetapi sebagai kekasih?” tanya ay spontan dan tanpa rasa takut.


“kurang ajar! Kamu memang istri dari brian, tapi sebelum kamu hadir brian itu sudah daddy jodohkan dengan melani! Jika tidak ada kamu maka hidup melani tidak akan menjadi seperti ini! Brian akan bahagia bersama melani!” bentak daddy George emosi.


Ay tersenyum pada daddy george bukannya marah tapi gadis itu malah tersenyum membalas bentakkan daddy george. “15 tahun dad, waktu yang ay berikan pada melani untuk merebut brian dari ay, tapi gadis itu tidak mampu mengambil hati kak brian tapi malah hati daddy yang dia ambil, dia berpikir dengan paksaan daddy kak brian akan mau menerima itu semua, satu dua kali kak brian akan menuruti daddy, tapi tidak bisa selamanya kak brian melakukan itu, dia manusia dad, bukan robot atau boneka yang bisa daddy perintah, bisakah ay bertanya kapan ulang tahun kak brian? Apakah daddy mengingatnya?” tanya ay dengan santai, walau saat ini perutnya terasa sedikit sakit.


Daddy george terdiam, dia tidak ingat kapan ulang tahun putranya itu karena dia tidak pernah sekalipun merayakan ulang tahun Brian.


“tidak ingat bukan? Apakah kak brian hanya alat pembalas dendam bagi daddy? Atau kak brian hanya robot yang mengikuti perintah daddy? Pernahkah daddy melihat senyum suami ay, selain bersama ay?” tanya ay lagi.


Daddy george kembali diam, tapi dia berpikir kapan saat anaknya itu tersenyum, semua hanya karena ay, baru pria itu tersenyum.


“Sekarang apa yang daddy inginkan dari ay? Karena remot kontrol daddy sudah hilang, daddy datang kesini untuk meminta mengontrol gerakan kak brian bukan? Jadi apa yang daddy minta?” tanya Ay lagi, tangan gadis itu sudah berada diperutnya mengelus perut itu agar sakit yang dia rasakan menghilang.


Daddy george masih diam, namun janjinya pada Melani membuat nya kembali menengadahkan kepala menatap ay, sekarang dia sudah kehilangan istri, dan putranya, dia tidak mau kehilangan putrinya.


“daddy ingin kamu membujuk brian menikah dengan melani, dia hanya mau menjalani pengobatan jika__”


“Tuan besar! Tuan sudah keterlaluan!” bobby memotong ucapan daddy george.


Daddy george menatap Bobby dengan marah. “Biarkan aku bicara dulu, aku tidak mengatakan selamanya, melani akan menjadi istri brian, tapi hanya sampai gadis itu sembuh, setelah itu daddy akan memaksa melani untuk bercerai” ucap daddy george dengan nada dingin.


Ay memejamkan matanya merasakan perutnya semakin sakit, “benarkah akan bercerai dad? Janji daddy yang dulu-dulu saja tidak ada yang janji tepati, jika melani sembuh akan bercerai, apakah gadis itu mau melepaskan brian setelah dia mendapatkannya? Bisakah daddy menepati itu? Atau jangan-jangan setelah melani sembuh daddy akan menyingkirkan ay agar semua rencana daddy terlaksana” ucap ay.


“daddy tidak pernah berbohong! Janji daddy tidak bisa terlaksana karena kamu yang menghancurkan_” ucapan daddy george terhenti ketika ay mengisyaratkan tangannya kearah atas.


“maaf dad, ay tidak bisa ngabulkan permintaan daddy tolong pergi dari sini, ay _arrgghhh”


“nona! Apakah nona tidak apa?” tanya bobby cemas, dengan terpaksa dia memegang lengan ay, padahal dia sudah berjanji untuk tidak menyentuh ay di depan brian.


“tidak apa, bantu saja aku ke kamar” ujar ay pelan.


“kau mengusirku? Dirumah ku sendiri?” seru daddy George kesal.


Bobby hendak mengeluarkan suara tapi remasan tangan ay di lengannya membuat bobby kembali diam, “baik dad, jika daddy tidak mau pergi aku yang akan pergi, ayo om” ajak ay pada bobby.


.


Sudah sejak dinyatakan ay hamil, brian mulai memisahkan orang-orangnya dengan orang-orang daddy george, pria itu ingin melepas segala tali yang daddy george berikan padanya untuk mengikat pria itu, entah kapan pria itu akan melepaskan semua tali itu, tapi brian tau dia akan memutuskan hubungan anak dan daddy jika tali yang mengikatnya benar-benar terlepas.


“Nona, sebaiknya kita ke rumah sakit dulu” ujar bobby saat melihat keringat dingin mulai keluar dari pelipis nona mudanya itu.


Ay tidak menjawab hanya mengangguk pelan, mendapatkan jawaban itu bobby langsung menyuruh si supir untuk menuju rumah sakit, dia yakin brian akan mengamuk setelah mendengarkan semua rekaman yang dikirim bobby padanya, mungkin tidak sekarang karena bobby tau brian belum melihat rekaman itu.


.


“Ya ampun ay, kok bisa sampai seperti ini, bagaimana? Sudah tidak keram lagi kan?” tanya johan pada ay yang sedang berbaring di ranjang rumah sakit.


“iya om dokter jangan ribut, dedek bayinya lagi mau tidur ini” kekeh ay. Gadis itu tersenyum hangat pada Johan.


“brian dimana? Kenapa kamu bisa sampai keram perut seperti ini?” tanya johan pada Bobby yang setia menunggu johan dan dokter siren untuk memeriksa ay.


“tuan brian sedang meeting di singapura, tapi dia akan segera kembali, tuan muda tidak akan membiarkan nona ay sendirian” jawab bobby.


“aku sudah boleh pulang om?” tanya ay.


“setelah infus kamu habis baru kamu boleh pulang, untuk saja si dedek kuat, jangan terlalu banyak yang dipikirkan ya ay” ujar johan.


Ay mengangguk pelan tapi pikirannya melayang pada pertemuannya dengan daddy george tadi.


.


“Nona yakin akan ke apartemen tuan muda al?” tanya bobby sekali lagi pada ay.


Ay mengangguk, “itu bukan rumahku, nanti kalau kak brian pulang bilang saja aku di apartemen abang, dan aku tidak marah dengan kak brian, jemput saja aku di apartemen abang” ucap ay dengan lesu.


Bobby menghela nafas panjang, “baiklah nona” jawab bobby. Dia segera menyuruh si supir untuk mengantar ay menuju apartemen al.


.


‘Tok tok tok’ ay berkali-kali mengetok pintu apartemen al, gadis itu sudah tampak ingin marah, emosinya agak sulit diatur sekarang.


‘ceklek’ tanpa menunggu ucapan dari si pembuka pintu ay langsung masuk ke dalam apartemen itu, dan langsung masuk ke kamar Aurora.


“loh ay! Kamu_”


‘Brak’ ucapan Al terhenti karena bunyi pintu kamar yang ditutup secara kasar.


...🐺🐺🐺🐺🐺...