
Ay tampak lahap makan dengan di suapi oleh suaminya, gadis itu bilang tidak punya tenaga untuk mengangkat tangannya, sebenarnya karena dia sedang manja aja, ini belum ada dedek bayi dalam perut ay, gadis itu sudah manja bagaimana jika sudah ada dedek bayi dalam perutnya? Bisa semakin manja istri si tuan mafia.
“Kakak gak makan?” tanya ay sambil terus mengunyah makanan dalam mulutnya, memang sejak tadi brian hanya sibuk menyuapi ay makan, sedangkan dia hanya menatap ay makan.
Brian menggeleng pelan, “nanti malam aja makannya” jawab brian.
Ay mengehla nafas panjang, “bukan makan aku! Ni makan buat isi perut sama tenaga” gerutu ay, sejak bisa nyobos otak brian hanya dipenuhi oleh makan istrinya aja.
“Iya ini makan” Brian menyuap nasi pada sendok yang dipakai ay, mereka terlihat sangat mesra dengan berbagi piring dan sendok.
“Tadi ada masalah ya kak?” tanya ay takut-takut, dia tidak sengaja mendengar suara tawa brian yang mengerikan sampai tempat nya.
“Kamu mendengar apa aja?” tanya Brian tenang, tidak terlihat emosi sedikitpun, dia masih bersikap lembut, terbukti dengan masih menyuapi istri kecilnya.
“Cuma ketawa menyeramkan kakak, bikin merinding” ucap ay spontan, bukannya dia takut, dia hanya penasaran, ay sudah terbiasa mendengar suara tawa seperti itu, dia terlalu sering dilatih agar tidak takut dengan hal-hal yang seperti itu.
“Gak ada masalah, Cuma daddy minta aku kembali untuk menjenguk melani yang sedang sekarat di rumah sakit” ungkap Brian, dia ingin melihat bagaimana reaksi istrinya ketika berkata seperti itu.
Ay menatap mata brian lekat, “Dia tidak mati?” tanya ay dengan tanpa ekspresi, dapat brian liat bahwa istrinya juga sama dengannya, punya sisi gelap yang mengerikan.
“Belum, bukankah kamu yang meminta untuk memaafkannya?” selidik Brian, dia tau bukan ay yang meminta, tapi brian akan berpura-pura tidak tau, dia ingin mengetahui isi pikiran gadisnya.
“mommy yang minta, aku tidak ingin memaafkan tante itu, apa kakak takut padaku? Aku tidak punya belas kasih pada tante itu” lirih ay dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca.
Brian dengan cepat menggeleng dan menarik ay ke dalam pangkuannya, “tidak apa sayang, kakak juga sama tidak ingin memaafkannya, dia sekarat itu juga berkat perintah kakak” ujar Brian sambil mengelus pipi istrinya itu.
“kakak tidak marah? Atau takut dengan ay yang seperti ini?” tanya ay sekali lagi.
Brian kembali menggelengkan kepalanya, “istri seorang ketua mafia memang harus seperti itu, tidak boleh mudah memberi ampun, jadi jika suatu saat aka nada yang menggoda kakak, kamu harus berani melemparkan para pelakor itu” kekeh Brian.
“Siapa yang masih berani mencoba mendekati suami ay?!” kata ay sedikit emosi.
“Jika nanti sayang, sekarang belum ada” kekeh brian.
“Jangan coba-coba mencari pelakor diluar sana kak! Akan ay potong lobak import kakak” ancam ay, sambil memperagakan tangannya sedang memotong sesuatu.
“jangan sayang kakak tidak akan mau ngelirik cewek lain” ucap brian cepat. “udah kenyang Yang?” tambah brian sambil menaik turunkan alisnya.
Melihta tatapan brian ay tau tujuan brian bertanya dirinya udah kenyang atau belum.
“Ay pengen jalan-jalan lihat pemandangan, buat dedeknya nanti malam aja ya” pinta gadis itu dengan menunjukkan wajah memelas.
“emang bisa jalan?” goda brian.
“Bisa dikit-dikit” ucap ay.
“Ya udah ayo kita jalan” brian memutuskan mengalah, dia tidak mungkin memaksa istrinya untuk seharian berada di dalam kamar terus kan.
...🐻🐻🐻🐻🐻...
Brian tertawa melihat gaya jalan istrinya yang seperti pinguin, gadis itu terlihat sangat kesusahan dalam berjalan tapi masih memaksa untuk melihat pemandangan di pulau itu.
“Kakak jangan ketawa terus! Ay marah nih!” teriak ay pada brian yang hanya duduk sambil memperhatikan istri cantiknya memotret pemandangan.
“Ini gara-gara kakak juga loh” kata Ay mengingatkan itu adalah ulah dari brian yang membuat ay menjadi seperti itu.
“Awas kalau ketawa lagi ay gak mau buat dedek nanti malam” ancaman dari ay langsung membuat brian bungkam, pria itu langsung berhenti tertawa dan menatap ay dengan wajah serius.
“udah kakak gak ketawa sayang” ucap brian memperlihatkan wajahnya yang kaku.
“Awas kalau ketawa” ancam ay, dia kembali fokus mencari objek foto yang dia ingin foto.
Brian menatap ay dengan intens, tidak ernah menyangka dirinya akan menikah dan berkeluarga, dia pikir ay tidak akan menyukainya, tapi ternyata ay juga menunggu dirinya selama ini, brian tidak tau bahwa gadis kecil yang dulu dia temui memiliki perasaan yang sama dengannya.
Hanya satu yang brian takutkan terkait dirinya yang sekarang mempunyai kelemahan, yaitu ay, dia takut para saingannya akan mengejar ay untuk menghancurkan dia seperti daddy George, brian juga takut jika dia punya anak, dia takut akan mendidik anaknya seperti daddy George mendidik dirinya, semua ketakutan itu selalu muncul dalam dirinya, ingin rasanya brian hanya seperti hari ini, hidup di salah satu pulau miliknya tanpa masalah apapun.
“Mikirin apa kak?” tiba-tiba ay sudah berada disebelah brian menyadarkan lamunan pria itu.
Brian langsung menarik ay untuk duduk di pangkuannya, “Mikirin ide pose apa yang akan aku lakukan nanti malam” kekeh brian sambil mencubit gemas pipi Ay.
“huh mulai mesumnya, apa setiap mafia itu sama energinya seperi kakak?” tanya ay penasaran.
‘cup’ sempat-sempatnya brian mencium bibir ay sambil sedikit m*l*mat bibir gadis itu, “mungkin sama, tapi aku masih dalam tahap normal sayang” ucap brian.
“normal bisa sampai pagi? Gimana yang tidak normalnya?” pekik ay tidak percaya.
“Tidak normalnya seperti suami melani__”
“tante!” potong ay, dia tidak suka Brian mengucapkan nama sahabat kecilnya itu, terdengar sangat akrab di telinga ay.
Brian tertawa kecil, “iya-iya si tante, suaminya yang buat dia masuk rumah sakit” ungkap brian.
“tapi kakak bilang kakak yang menyebabkan tante itu seperti sekarang?” Ay mengulangi ucapan yang tadi dikatakan brian.
“Iya sayang, kakak suruh pria yang jadi suami tante itu untuk tidak segan-segan melampiaskan hobinya” jelas Brian.
“hobi? Hobi apa?”
Brian merapikan rambut istrinya yang sedikit tertiup angin pantai, “dia penderita sadistis, suka melakukan kekerasan saat melakukan hubungan intim, makanya kakak bilang jangan segan-segan untuk membunuh wanita itu, tapi sepertinya dia tidak sampai membunuhnya karena wanita itu sedang di rumah sakit sekarat” jelas brian.
“Jadi daddy George marah sama kakak karena kakak tau penyakit pria itu dan tidak bilang ke daddy George?” simpul ay atas percakapannya pada brian.
‘Cup cup cup’ brian mengecup wajah istrinya berkali kali, “benar, pintar banget sih istri brian” puji brian.
“ohh jelas pintar, anak daddy deon” kekeh ay.
...🦊🦊🦊🦊🦊...
Bonus pict