
Ara memang tidak di bully secara fisik, tapi akibat ucapan Shasa, Ara di bully secara verbal, setiap ara lewat mereka membicarakan ara secara terang terangan, bukan sembunyi-sembunyi lagi, seperti sekarang, saat jam olahraga tiba, yang kebetulan guru olahraga tidak ada, jadi mereka hanya berolahraga apa saja yang mereka suka.
Ara dan ketiga temannya tampak asik bermain game di ponsel mereka, ketimbang panas-panasan, mereka lebih suka bermain.
"Ihh cewek murahan, mainnya hanya dengan cowok" sindir salah satu wanita yang lewat di dekat ara dan ketiga temannya.
Juan yang memang sangat mudah terpancing emosi Langsung menatap sinis perempuan yang lewat dekat mereka, "Sia___"
Ucapan Juan terpotong, saat Ara menahan sebelah tangannya, "Udah Juan, gak usah di gubris ucapan mereka, mending lanjut main, biarin aja mereka" ucap Ara sebelah tangannya masih asik bermain game.
"Iya ngapain juga ngurusi mulut-mulut rendahan seperti itu, mending main aja" sambung Robi yang memang masih sibuk main.
"Gak tau malu banget ya, udah di hina habis habisan, tetap berani datang ke sekolah, emang gak punya malu" Kali ini Shasa yang menyindir Ara, sepertinya dia sudah kehabisan cara untuk menjatuhkan Ara.
"Iya, cewek murahan kayak dia, seharusnya gak sekolah bareng kita, hanya karena pemilik sekolah suka sama dia, dia bisa tetap bersekolah disini" sambung meli, dia ikut menghina ara juga.
"Biarlah anj*ng menggonggong, kapila tetap berlalu" ucap leo, ara dan kedua teman lainnya tertawa tapi masih fokus bermain.
"karena sifat aslinya sudah kebongkar, si siluman udah berani menghina didepan sekarang" Ledek Robi.
"Biarin aja, dia udah kehabisan akal itu, kak Deon gak bakal pernah tergapai olehnya, hahahaha" Juan akhirnya tidak emosi lagi, dia malah ikut dalam candaan ketiga temannya, Ara sudah menceritakan semua kejadian yang terjadi di rumah Allinsky kepada ketiga temannya, dan ara meminta ketiga temannya tidak menyebarkan kelakuan Shasa di sekolah, mau bagaimanapun dia adalah teman ara selama dua tahun ini, dan Ara masih menghargainya walau itu pertemanan secara sepihak, karena nyatanya Shasa hanya memanfaatkan dirinya.
Merasa tidak dapat melakukan apapun lagi Shasa segera pergi dari sana, dia takut Ara akan menyebarkan kelakuannya beberapa hari yang lalu.
...🐤🐤🐤🐤🐤...
'Prraaannnkkk'
Semua mata menuju asal suara, di sana nampak mangkuk bakso yang Ara pegang tumpah mengenai tangan dan sedikit baju Ara.
"sstttss panas" ringis Ara.
"Ya ampun ra, maaf gue gak sengaja, maaf ya ra" Shasa memulai acting nya. Karena sangat kesal Ara tampak cuek dengan ucapannya, Shasa akhirnya berpura-pura tidak sengaja menabrak ara sehingga mangkuk bakso yang sedang Ara bawa tumpah mengenai badannya.
"Shasa!" bentak Juan, "Ka___"
Lagi-lagi ucapan Juan terpotong karena Ara lebih dulu menahannya, "Udah gue gak papa". Ara sangat malas melawan Shasa bukannya dia takut, tapi dia hanya tidak mau masalah semakin besar. Ara tau jika dilawan maka Shasa akan terus bersandiwara, sedangkan disini yang membela Ara hanya beberapa orang, mau bagaimana pun Ara membela diri, dia akan tampak seperi orang yang bersalah.
" Gak papa kok sha, lain kali hati-hati jalannya__".
"Lu kok gitu sih ra!" Robi menyela ucapan ara.
"Udah, gue gak papa, telepon kan kak Deon dong, ponsel gue jatuh dan ke siram kuah bakso"
Mendengar Ara meminta bantuan dari Deon Shasa langsung histeris dan bersujud didepan Ara, sehingga tampak seperti orang yang sedang dimarahi oleh Ara.
"Ara maafin gue, jangan keluarin gue dari sekolah ini, hiks hiks" Dengan air mata buayanya dia menangis dan bersujud dihadapan Ara.
"Ra! lu kejam banget sih, si shasa kan udah minta maaf! lu tega ngeluarin dia dari sekolah! kejam banget lu!" ucap salah seorang.
"iya kasian Shasa sampai bersujud gitu, cuma ketumpahan kuah bakso aja lebay nya minta ampun"
"Gila Ara kejam banget!"
"Kasian banget Shasa"
"Sok banget si Ara itu!"
"Sha, mending tegak deh, gue gak pernah main ngaduin lu, gue mau pulang, badan gue panas banget, ini tangan gue melepuh, gue kesini diantar tadi, gue harus izin dulu mau pulang, bukan mau ngaduin lu" ujar Ara sambil membersihkan sisa kuah di baju dan tangannya menggunakan tisu.
"Lu pasti bohong! ngapain harus izin-izin mau pulang, izin itu ke guru! maaf ra, jangan kaduin gue" Shasa masih duduk bersujud didapan Ara.
"Mending lu tegak deh, ara udah bilang dia gak akan melakukan itu, dia bukan lu yang suka bohong! jika lu di keluar kan berarti emang kelakuan ku yang hancur!"
tidak lama terdengar suara ambulans datang dan turun beberapa perawat dan dokter menuju kantin sekolah.
"Nona ara, ayo kami akan segera menangani nona" ujar salah satu dokter.
Ara menatap ketiga temannya satu persatu, dan saat melihat Juan yang nyengir sambil garuk-garuk tengkuk ara tau, Juan telah melaporkan hal itu pada Deon, sehingga dengan lebay nya pria berkuasa itu mendatangkan ambulans hanya dalam hitungan menit, memang sekolah mereka tidak terlalu jauh dengan rumah sakit milik keluarga Allinsky.
"Sha, gue janji lu gak bakal dikeluarkan, gue harus pergi, kalau gak, orang yang berkuasa itu akan datang dan gue gak tau lagi cara untuk menahannya mengeluarkan lu dari sekolah ini, sebaiknya lu menyingkir dan lepaskan kaki gue" pinta Ara dengan nada halus dan sopan.
Shasa dengan cepat melepaskan kaki Ara yang memang sejak tadi dia pegang saat dia bersujud tadi.
"Lu tenang aja" ucap Ara sebelum benar-benar pergi bersama dokter dan suster yang datang.
...🐣🐣🐣🐣🐣...
Dokter dan suster yang didatangkan Deon langsung menangani luka bakar Ara di sekolah, mereka takut jika lebih lama Ara mendapat penanganan maka tangan yang terkena air panas itu melepuh dan meninggalkan bekas.
.
Ditempat shasa dan teman-temannya, shasa masih diam menatap makanannya, dia merasa iri lagi dengan Ara, Deon sampai mendatangkan dokter dan suster langsung pada Ara, padahal hanya ketumpahan kuah panas.
"Gila ya si Ara, cuma hal kecil kayak gitu, tapi di tangani dengan dokter kulit yang paling ahli" Ella membuka pembicaraan.
"itu dokter kulit?" tanya meli, shasa juga ikut penasaran dengan apa yang dibicarakan Ella.
"iya, gue pernah mau periksa kulit dengan dokter itu, tapi gue harus tunggu 2 bulan baru bisa bertemu, bayarannya mahal lagi" jelas Ella.
"Benar yang dibilang Ella, gue bahkan sampai sekarang gak pernah bisa bertemu dengannya, gue dapat jadwalnya satu tahun lagi, ya males gue" sambung salah satu teman yang lain.
"Sha lu gak papa kan?" tanya ella, karena sejak tadi Shasa hanya diam, mereka tidak tau gadis itu diam karena iri dengan kemewahan yang diberikan oleh Deon untuk Ara.
"ahh, apa?"
"Lu tenang aja, kan ara sudah janji, gak bakal ngaduin lu sama tuan besar itu".
" Iya, gue cuma takut aja, Ara ingkar janji".
"udah lu harus tenang ya, kalau ara bohong kita siap untuk bantuin lu" ucap Ella, di iringi dengan anggukan yang lain.
...🐥🐥🐥🐥🐥...
🌺 Cuap-cuap author 🌺
Sebelumnya author mengucapkan terima kasih buat semua dukungannya, author sama sekali tidak menyangka novel ini akan disukai oleh banyak orang, padahal ini novel iseng yang author buat saat sedang senggang, Terima kasih banyak buat dukungannya, tetap dukung author ya
Terima kasih semuanya, jangan lupa vote dan like nya Terima kasih ya 💞💞💞💞