My Little Girl

My Little Girl
S2 MLG 103. Om Jin



Memasuki bulan ke lima ay semakin manja pada brian dan kedua orang tuanya yang sedang tinggal di mansion besar milik Brian.


Ay menatap bosan kearah taman, dia sedang menunggu mommy ara membawa cemilan buah-buahan padanya.


“kenapa kok kayaknya putri mommy ini bosan banget?” tanya Ara, wanita itu datang sambil membawa beberapa potongan buah ditangannya.


“mom, kalau ay ngidam pengen makan-makanan pinggir jalan boleh gak sih?” tanya ay dengan wajah memelas.


Ara meletakkan piring berisi buah didepan ay, “mau minta daddy pesankan?” tanya mommy ara dengan lembut.


Ay menggeleng, “ay pengen beli langsung, tapi masalahnya ay gak boleh keluar, ay pengen liat daddy kak brian sama abang al dan abang el yang jadi penjualnya” lirih ay.


Ara mengulum senyumnya jika yang diminta putrinya seperti itu pasti bakal mudah dilakukan. “bentar mommy minta om jin dulu” ara mengeluarkan ponselnya dari sakunya.


“om jin?” beo ay.


“Iya sebentar” mommy ara segera menghubungi suami ay.


📲“Hallo mom, ada masalah?” suara brian membuat ay sedikit memiringkan kepalanya bingung.


📲“Om jin, om jin, ini ay sedang ngidam pengen makan makanan pinggir jalan dan penjualnya brian daddy deon dan si kembar al dan el” ucap ara, ibu tiga anak itu sengaja mengeraskan suara ponselnya agar ay bisa mendengar juga.


Ay tertawa kecil mendengar ucapan mommy ara.


📲“om jin, apakah itu bisa dikabulkan?” tanya ara kini.


📲“dengan senang hati om jin kabulkan princess” jawab brian dengan senang.


Ay tersenyum saat brian menjawab permintaannya.


📲“tapi akan sedikit lama karena menunggu El untuk kesini ap aitu tidak masalah princess” tanya Brian, memang benar saat ini El kembali menjalani pendidikannya di luar kota.


📲“Abang el ganti jadi uncle Axel aja om jin, kasian abang capek pulang pergi ke sini” ucap ay.


📲“Baiklah silahkan menunggu princess” jawab brian, pria itu segera mematikan ponselnya, untuk mempersiapkan semua permintaan ay.


.


Tiga puluh menit berlalu setelah Ay dan ara menelpon Brian, di taman samping rumah terlihat sudah berjejer beberapa meja dan kursi yang sudah disiapkan brian.


“mom, kok banyak banget meja dan kursi yang disiapkan?” tanya ay pada mommy ara. Kedua orang itu melihat dari balkon bagaimana para maid menyiapkan meja dan kursi seperti di cafe-cafe.


“hmm, mungkin brian ingin memberikan kejutan buatmu” tebak ara, kedua wanita itu masih asik memperhatikan para maid sedang merapikan meja dan kursi.


.


Satu jam berlalu, meja dan kursi sudah tertata rapi, dari pintu depan mulai berdatangan keluarga dan kerabat dari keluarga Allinsky. Ay terkejut saat opa dan oma serta grandpa dan granma nya kembali ke mansion itu, bukan hanya kedua orang tua ara dan deon seluruh teman Deon dan ara juga hadir lagi, tapi minus kali ini adalah orang-orang yang dipilih ay tidak ada yang.


“Ay, ikut auntie yuk” ajak Jesica begitu melihat ay yang baru keluar dari lift.


“kemana?” tanya ay tapi dia membiarkan dirinya ditarik istri axel itu menuju taman yang tadi dirapikan para maid.


“ay duduk disini ya” ucap jesica, dia mendudukkan ay dan juga ara di meja yang terlihat sedikit lebih istimewa dari meja-meja yang lain.


.


Tiga puluh menit berlalu sejak taman itu dipenuhi oleh keluarga ay, mereka tampak sedikit bosan, namun kebosanan mereka menghilang begitu melihat satu persatu gerobak jualan yang biasanya berada dipinggir jalan mulai masuk satu persatu.


“TE, SATE!” Teriak AL, begitu memasuki taman samping. “TE SATE! ADA SATE KACANG SATE PADANG SATE KULIT SATE APA AJA ADA ASAL BISA DIMAKAN! AYO BELI SATE! SATE!” teriak Al, pria muda itu sudah berdandan layaknya seorang penjual sate dipinggir jalan, walau memakai pakaian biasa wajah tampannya tidak bisa membohongi jika dia adalah keturunan bangsawan.


‘Tok tok tok’ terdengar suara ketukan pentungan kayu, “BAKSO! BAKSO! Abang tukang bakso mari mari sini saya mau beli!” Axel masuk sambil mendorong gerobak bakso. “Neng baksonya neng enak loh, neng gelis ih abang berasa di surga gitu” goda axel pada istrinya jesica.


Jesica hanya bisa menggelengkan kepala melihat suami tampannya sedang ber cosplay menjadi pedagang kaki lima. Kedua orang tua axel tertawa melihat gaya axel yang terlihat sangat cocok.


‘tek tek tek’ terdengar suara ketukan lagi kali ini Deon masuk dengan membawa gerobak penjual mie tek tek bandung “Nasi goreng! Mie tek tek! Ayo dipesan!” teriak daddy Deon. “neng mau pesan satu neng? Kalau gak mau pesan abang pulang ni neng” goda deon begitu melewati Ara.


“Martabak martabak! Ada yang manis ada yang asin, kalau belum manis tinggal liat saya maka akan semakin manis dijamin enak!” pemeran utama dari cosplay itu pun muncul. Brian yang biasanya pendiam dan tidak terlalu banyak bicara harus bisa berbicara banyak untuk menggoda para pembeli, karena sekarang dia berperan sebagai pedagang.


Ay bersorak senang dan berloncat-loncat kecil begitu melihat Brian mulai muncul. Ay langsung mendatangi pedagang brian dengan cepat.


“Sabar bentar ya kakak cantik, ini kompornya mau di keluarkan dulu” ucap brian yang sedang mengeluarkan beberapa kompor untuk memasak.


Ay segera berbalik melihat keluarganya yang masih diam di tempat dan tertawa melihat para pedagang ganteng yang datang satu persatu.


“Ayo apa lagi! Ay hari ini traktir semuanya makan sampai puas! Pesan aja semuanya”


“Cihuiii dagangan saya laku keras! Sering-sering traktir neng!” pekik AL dengan tawa kerasnya. Pria muda itu mulai membakar sate sate nya satu per satu, karena sudah mulai banyak pembeli yang berdatangan ke tempatnya.


.


Ay meninggalkan tempat brian dia mendatangi tempat Deon yang sedang memasukkan bumbu pada mie tek tek bandung nya.


‘mau pesan apa neng? Nasi goreng? Mi tek tek kuah atau goreng?” tanya Deon.


“Mie tek tek goreng satu” ucap ay dengan senyum cantiknya.


“itu kakak cantiknya gak pesan? Enak loh masakan saya, di coba atuh neng” goda Deon pada ara yang berdiri disebelah ay.


“Abang penjualnya genit ihhh! Saya sudah punya suami bang, mau jadi yang kedua ?” kekeh Ara.


“Abang mah siap jadi yang ke berapa saja asal dengan neng, nanti abang singkirkan satu persatu pengganggunya” balas Deon.


“udah mom, ay gak mau punya daddy pedagang kaki lima” kekeh ay sambil menarik tangan Ara menuju tempat Axel.


“neng namanya ara ya?” tanya axel begitu melihat ara dan Ay.


“Iya kok abang kenal?” balas ara sambil terkikik geli.


“mirip sama adik saya, namanya ara juga, tapi ara adik saya itu sangat mengerikan, dan menyebalkan, kalau neng gak begitu kan?” sindir Axel. “itu adiknya ya neng, udah berapa bulan?” tunjuk axe pada Ay.


“lima bulan mau jalan 6 bang” jawab Ay sambil mengelus perutnya dengan pelan.


“Untuk adik-adik cantik abang gratiskan deh apalagi yang memberikan saya jodoh, gratis seumur hidup baksonya, jadi mau bakso apa neng? Ini ada berbagai macam bakso, neng mau yang mana?” tanya axel.


“bakso urat 2 bang”, ucap ay, gadis itu kembali berlalu melewati Axel, dan kini tibalah dia pada penjual pertama yang paling muda di antara ketiga pedagang lainnya.


“akhirnya datang juga, sate nya neng?” tawar Al.


“satenya dua bang!” kekeh ay, “kok abang masih muda sudah jualan?” sambung ay.


“biasa tuntutan ibu hamil, bentar ya neng, tunggu giliran udah banyak yang antri duluan soalnya” kekeh AL.


Ay kembali berbalik menuju tempat brian, untuk kembali memesan makanan.


...🐨🐨🐨🐨🐨...