
Raynald Barra Marcello, itu adalah nama yang dipilih ay dan Brian untuk menjadi nama putra mereka.
Saat ini bayi itu sedang di periksa secara keseluruhan oleh johan, pria itu takut ada masalah pada tubuh Ray.
sementara itu keluarga ay dan Brian menunggu dengan cemas di ruang VIP yang sudah Brian siapkan.
"Brian, jika terjadi masalah pada tubuh cucu daddy, daddy ingin kau mencari cara untuk mengobati cucu daddy ke manapun daddy tidak ingin cucu keluarga Allinsky di jelek-jelekkan" ujar daddy pada Brian.
Brian yang sejak tadi duduk sambil menggenggam tangan ay langsung menoleh pada daddy Brian.
"Pasti dad"
"itu tidak perlu daddy" johan tiba-tiba muncul bersama siren dan suster membawa troli yang berisi Raya di dalamnya. "Jagoan keluarga ini sangat sehat, hanya tadi kebanyakan minum air ketuban mommy nya, tadi hanya kekhawatiran ku saja, lebih baik mencegah bukan" tambah johan.
Ay yang memang sudah membuka matanya menatap siren yang sedang menggendong bayi nya.
"baby mau minum susu, apakah tidak apa banyak yang melihat?" tanya siren pada orang-orang yang ada dalam ruangan itu.
"Keluar semua!" perintah Brian pada orang-orang yang ada di dalam kamar itu.
"Daddy_" ucapan daddy Deon terpotong saat Al dengan mudahnya menggandeng tangan daddy nya itu.
"Daddy merasa cowok kan, ayo kita keluar" ujar Al sambil menyeret daddy Deon.
sekitar 5 menit berlalu dan hanya tersisa dokter Siren, seorang suster, mommy ara, oma, grandma dan Brian, hanya Brian sendiri pria yang ada di sana.
Ray asik menyedot susu dari sumbernya dengan lahap.
"ngomong-ngomong siapa namanya? jagoan kita ini?" tanya mommy ara.
Ara dan Brian saling tatap dan menjawab dengan serentak, "Raynald Barra Marcello, panggilannya bisa Ray atau barra".
"Ya ampun baby Ray ternyata, cocok kok" puji mommy ara.
"oeeekkk oeekkk" Tiba-tiba baby Ray menangis.
"ini kenapa mom?" tanya ay panik saat baby Ray berhenti menyusu dan malah menangis.
Siren mendekat kearah ay dan tersenyum, "itu susunya habis, sepertinya air susu nona ay kurang deras, coba pindah ke sebelahnya" ucap Siren.
mommy ara membantu putrinya itu memindahkan posisi Ray, tapi saat Ray menyusu, bayi itu kembali menangis membuat ay ingin menangis juga melihat putranya yang tidak berhenti menangis.
"mom~ ini kenapa lagi?" ay mulai terisak.
"aduhh, sepertinya perlu bantuan daddy nya ini" mommy ara menatap brian yang juga sedang panik biasa daddy baru.
"Brian?" telunjuk brian menunjuk dirinya sendiri.
"iya kamu, sana pergi ke kamar mandi dulu lakukan pemijatan dan isapan, biar keluar" ucap ara, semua wanita yang ada disana menunduk menahan tawa mereka.
"apanya yang di pijat dan isap mom?" tanya brian bingung.
"alah kayak kamu gak tau aja, itu sumber susu abang Ray" ujar oma menambahkan.
"hah? sekarang?" tanya brian sudah dengan muka yang bersemu merah.
mommy ara tertawa melihat wajah menantunya itu. "nanti aja pas abang ray udah tidur" kekeh mommy ara. Siren yang lebih dulu mendekat pada ay ingin melakukan sesuatu pada tubuh ay tapi langsung ditahan Brian.
"mau apa?" tanya brian cepat.
"Ray tidak mau menghisapnya kuat, saya akan membuat air susu nona ay keluar" ucap siren.
"tidak aku bisa melakukannya" brian dengan cepat menggendong Ay dan membawa istrinya itu menuju kamar mandi.
"Sebentar ya abang ganteng, daddy lagi memerah susu abang" seperti tau apa yang dikatakan oleh ara baby ray berhenti menangis.
Sekitar 10 menit Brian dan ay di dalam kamar mandi setelah itu Brian keluar sambil menggendong ay dengan wajah yang sudah bersemu merah.
"Brian ingat harus sering-sering di pijat ya" teriak mommy ara dengan tawanya.
Ay juga ikutan tertawa melihat suaminya yang tadi berusaha keras melakukan pemijatan yang di anjurkan oleh Siren.
...🐼🐼🐼🐼🐼...
"Leo! lepasin gue!" pekik Melani. Saat ini dirinya sedang diikat di kursi besi.
Leo yang dipanggil hanya melihat sekilas lalu kembali sibuk merakit alat siksaan pertamanya.
"Kau harusnya suka Mel, kau kan suka disiksa" Ujar lars sambil melipat Tangannya didepan dada.
Melani diam, memang benar yang dikatakan Lars buktinya gadis itu sudah mulai terangsang sekarang tapi dia tidak mau mengakuinya didepan teman-teman Brian, dia masih ingin menjaga image nya.
"Masih lama Leo?" tanya Jonny, dia memang ada disana, jonny bertugas untuk menjaga Melani tetap hidup sampai waktu penyiksaan sudah tidak ada lagi dan semua itu tergantung intruksi dari Brian.
"Nah cambuk listrik" Leo memberikan pada lars untuk menyuruh lars mencambuk Melani.
'plak plak'
"Akhhh~" desah Melani tertahan begitu cambuk itu dilayangkan oleh Lars.
"waahhh gila lo benar-benar perempuan gila, lo suka disiksa?" pekik Lars tidak percaya.
"bisakah aku tidak melihat ini aku jijik melihat wanita itu" ujar jonny sambil memejamkan mata.
"bisa tidak melihat tapi harus tetap disini untuk memastikan wanita ini tidak mati" ucap dingin Leo.
"Sakit Lars! aku tidak menyukainya!" elak Melani.
"benarkah?" 'plak plak' Lars kembali melayangkan cambukan tapi kini pada dada Melani hingga membuat baju Melani tersobek.
"Hen-ti_"
'plak plak' sekali lagi Lars melayangkan cambuk pada dada Melani dan membuat baju gadis itu sudah memperlihatkan dada nya yang ditutupi bra.
"ah~ terus" ucapan melani sudah berubah dari memohon menghentikan menjadi memohon tetap dilanjutkan.
"ihhh gue gak cocok menyiksa wanita gila ini" Lars melemparkan cambuk itu pada Leo. "dia bukannya tersiksa malah kesukaan di siksa!" pekik lars.
"mending suruh Leonardo untuk menyiksanya" usul Jonny.
"mati duluan nanti, kalau gitu ini aja" Leo mengambil martil yang ada didekatnya.
"tunggu lo mau apa? dia bisa mati langsung sekali getok" pekik lars.
“hancurkan kakinya, biar gak bisa berjalan lagi” jawab leo datar.
“masih bisa hidupkah?” lars menatap jonny.
“coba jari kakinya aja dulu” usul jonny, “namanya juga penelitian” kekeh jonny. Dan dimulailah penyiksaan Melani oleh ketiga pria psikopat itu.
.
Kedua orang tua melani saling berpelukan mendengar suara teriakan putri mereka, kedau orang itu sedang diikat dan dikurung di sebelah ruangan penyiksaan putri mereka, memang mereka tidak melihat tapi meraka merasa kasihan pada putrinya yang kembali disiksa oleh orang-orang yang mereka anggap jahat.
“Dad apa yang harus kita lakukan untuk selamat dari sini?” lirih mommy melani.
“tidak ada, Brian memang monster seharusnya kita tidak mendukung Menali untuk mendapatkan brian” lirih daddy melani.
“iya, seharunya kita jauhkan monster itu dari putri kita” tambah mommy melani lagi.
Kedua orang itu hanya bisa menyesal atas semua tindakannya mendukung keinginan melani karena berharap menjadi yang nomor satu mereka menjadi seperti itu.
...🐯🐯🐯🐯🐯...