
Ara berjalan pelan mendekati Mitha, "Bun, ini ponselnya, makasih bun" Ara menyerahkan ponsel milik mitha, tadi Deon menelpon mitha dan bilang ingin bicara pada istri kecilnya.
"Ini kenapa mukanya kok cemberut gini" Mitha mencubit gemas pipi Ara.
Ara segera mengadu pada dua ibunya, "Kak Deon bun, masak dia bilang, dia sedang makan sama wanita yang menggodanya" gerutu ara.
"Siapa sih yang tadi bilang suaminya barang langka, jadi gak takut melenceng melenceng, sekarang malah cemburuan" ledek Shahnaz.
Ara memeluk lengan Mitha, "Bun, liat mami, putrinya sedang sedih, bukannya ditenangkan malah diejek" adu Ara pada mertuanya itu.
Mitha terkekeh kecil, dia gemas sekali dengan tingkah menantunya itu, untung saja Ara mendapatkan ibu mertua yang sangat baik, jadi ara tidak perlu menghadapi drama pembullian yang dilakukan oleh mertua.
"Iya nanti bunda jewer kak deon nya, masak istri cantik gini masih kasih kesempatan pada pelakor diluar sana, tenang saja ya sayang ada bunda" liatkan siapa yang tidak mau punya mertua seperti Mitha.
Ara semakin memeluk mertuanya itu dan mengucapkan terima kasih, "Bunda, mami, nanti kalau papi udah sehat dan mami udah pulang ke Indonesia, kita jalan-jalan seperti ini lagi ya" pinta ara dengan mata berbinar binar.
Shahnaz segera mengelus puncak kepala putri nya, "iya sayang, bentar lagi papi bakalan sembuh kok, kita akan adakan girls day tiap minggu"
"Benar itu, bunda juga sepi gak ada teman, kamu harus sering-sering kunjungin bunda ya".
Ara mengangguk dan mengiyakan permintaan bundanya.
...π₯π₯π₯π₯π₯...
Violet tampak gelisah di tempat duduk nya, sudah sekitar satu jam yang lalu dia berpisah dari Deon, axel dan tiga teman Ara.
Violet saat ini sedang berada di ruangan kerjanya, dia masih sibuk mencari bank eksklusif yang dimiliki oleh keluarga Allinsky pada notebook ditangannya.
Violet tidak sabar untuk menemukan bank itu dan dia akan membayar berapapun untuk mendapatkan hal yang dia inginkan.
Violet berasal dari keluarga yang kaya raya, sebenarnya keluarga violet adalah musuh bebuyutan keluarga Allinsky, tapi Violet tidak peduli, baginya mendapatkan Hati Deon lebih penting dibanding bermusuhan dengan keluarga Deon, sebenarnya tujuan Violet jauh-jauh bersekolah ke Amerika dan mendapatkan pengalaman di bidang psikolog hanya untuk menyembuhkan trauma yang Deon miliki, dia ingin mendapatkan hati dengan dengan cara mengobatinya.
"Sial, dari mana aku dapat nama bank itu" geram Violet kesal. Violet terus menggigiti tangannya kebiasaan yang tidak pernah bisa dia hilangkan jika dia sedang gelisah.
...π€π€π€π€π€...
Ara masuk kedalam ruangan papinya dengan tentengan yang sangat banyak, dia sangat puas telah belanja banyak hari ini.
"Kak Deon" Ara segera berlari kedalam pelukan suaminya, ketika sadar suaminya sedang duduk bersama abangnya di ruangan itu.
"Ampun deh dek, kok bisa bisanya Deon suka sama cewek kayak kamu dek" seru Axel dengan menggeleng. "Sky, dompet lu bisa menipis lama-lama kalau ngurusi anak kayak gini, liat aja tu belanjaan nya, banyak banget".
"Iri bilang bos" ara menjulurkan lidahnya pada Axel. kedua kakak beradik itu memang tidak pernah akur jika bertemu tapi akan saling merindukan jika berpisah.
"Siapa yang iri, orang abang kasian liat Deon harus jagain anak macan kayak kamu" ujar Axel.
Ara menarik dagu Deon untuk menatapnya, "kakak nyesal punya istri kayak ara".
Deon tertawa melihat tingkah istri kecilnya, " gak bakal pernah nyesal sayang" ucap Deon halus.
"wuueeeekkkk gue mual liat tingkah kalian berdua mending suami istri kayak kalian pergi dari sini sekarang juga!" Axel menunjuk pintu keluar, diikuti gayanya yang ingin muntah.
"Jangan kangen loh nanti kalau ara pergi" ledek ara lagi.
"Dek kembalikan semua ATM kakak, kamu sudah punya mesin ATM nya jadi balikan ATM kakak" ucap Axel dengan menengadahkan tangannya.
"Gak mau, ara mau koleksi"
"woii, di mana-mana koleksi itu jam tangan, baju, atau barang-barang lainnya bukan atm!"
"Biarin weeekkk!" ejek ara sambil bersembunyi dibelakang suaminya.
"benar-benar ya istri lu, Sky! gue pitak baru tau rasa dia!" Axel memperagakan gaya memukul didepan Deon.
"Hadapi gue dulu bang, baru bisa lawan istri gue".
" lu ya! sejak kapan gue angkat adik kayak lu" axel berkata seolah-olah lupa adiknya sudah menjadi istri Deon.
Axel menepuk keningnya pelan, "Oh iya gue lupa".
Kedua orang tua ara dan Deon hanya tertawa melihat pertengkaran adik dan kakak itu.
...π£π£π£π£π£...
" Vio, gue denger lu mau balik dan buka praktek di indonesia, kok bisa" tanya salah satu teman violet.
"Tujuan gue disini udah selesai, sekarang gue mau balik kesana, dan menyembuhkan sakit orang yang gue suka" jawab Violet, dia tampak sedang membereskan barang-barang nya.
"Siapa vi?" tanya temannya lagi karena penasaran.
"Ada deh, rahasia pasien gue" canda Violet, memang dia tidak berani menyebarkan penyakit yang dimiliki Deon.
Violet sudah belajar dan bekerja di Amerika selama 8 tahun, tujuannya hanya satu untuk menyembuhkan Deon, dan membuat Deon berhutang budi padanya, jika Deon tidak mau disembuhkan, dia bisa datang pada orang tua Deon dan mengatakan maksudnya yang ingin menyembuhkan putra mereka, tidak mungkinkan ada orang tua yang mau anaknya terus seperti itu.
"ihh lu main rahasia rahasia an sama gue, gue juga dokter vi, gak ada lagi dong teman gue yang dari Indonesia disini, apa gue juga balik ya ke indo?"
"masalahnya pasien gue ini orang berkuasa, gue kasih tau lu, lu bakal tau dan mungkin jual informasi ini ke orang lain".
" Ya deh, gak tanya-tanya lagi" pasrah temannya.
...π₯π₯π₯π₯π₯...
"Hiks hiks" Ara terus menangis begitu meninggalkan rumah sakit tempat ayahnya dirawat.
"Udah, nanti kalau ada hari libur kita kesini lagi, papi juga bentar lagi sembuh, jadi bisa ketemu papi di indo" Deon terus membujuk istri kecilnya itu agar tidak menangis lagi, karena istrinya terus saja menangis selama perjalanan menuju bandara.
"Ara udah mau tahan tapi air matanya nakal, terus aja keluar, hiks hiks" ucap ara dengan polosnya.
Ingin sekali Deon mengecup bibir istrinya itu, tapi dia sadar dia tidak sendiri di dalam mobil ada ketiga teman ara yang saat ini sedang menahan tawa karena ucapan polos ara.
"Mau jalan-jalan dulu sebelum ke bandara?" tawar Deon, dia tau cara menaikan mood ara dengan cara jalan-jalan.
Ara menggeleng pelan. "Pulang aja, nanti tambah lama nangisnya kalau kelamaan di sini, hiks hiks".
" Ya udah nangis aja biar nanti berhenti sendiri, kalau udah capek" Deon semakin mengeratkan pelukannya.
"lama capeknya, hiks hiks"
Deon hanya bisa menahan tawanya, Diam-diam dia meminta bundanya untuk membelikan ice cream vanilla dan coklat tanpa strawberry karena kedua orang tuanya menggunakan mobil yang berbeda dari Deon.
.
Terbukti tangis ara berhenti ketika bunda memberikan satu mangkuk besar ice cream padanya. Ara sibuk menghabiskan ice cream itu sendiri, memang dia sangat suka dengan yang manis manis.
Dan Deon senang, istri kecilnya tidak menangis lagi, Axel yang melihat itu juga senang, dia percaya Deon bisa membahagiakan adik kecilnya, Deon begitu telaten menjaga dan menghibur adiknya, Axel tau masih banyak hambatan yang akan terjadi di rumah tangga keduanya tapi Axel yakin, Deon akan menjaga adiknya dengan sebaik mungkin.
"Gue titip si kecil itu ya bro, tolong jangan pernah bosan padanya" pesan Axel pada Deon.
"Akan gue jaga, dan tidak akan pernah bosan padanya" jawab Deon dengan pasti.
...π€π€π€π€π€...
πΊπΊπΊπΊ
Makasih banyak untuk semua dukungannya, Terima kasih untuk setiap komentar nya, berkat kalian semua author semangat untuk melanjutkan novel ini, terima kasih ya.
untuk yang kesal karena tambah karakter jangan marah dulu, ini adalah sesuatu yang buat shasa dapat karma, melalui violet shasa dapat karmanya, tetap tungguin ya kelanjutan nya author seulmi mengucapkan Terima kasih πππ
tetap dukung author ya, like, vote dan komennya
Terima kasih β€β€β€β€ππππ