
Pagi itu Shasa bangun sangat terlambat, dia kesal sekali karena keluarganya tidak ada yang menghibur dirinya yang sedang sedih, sejak pertemuan pertama Shasa dengan Deon gadis itu mengalami kesulitan tidur, wajah Deon terus muncul dalam bayangannya, dia ingin menemui Deon sekali lagi.
"Kak! cepat bantu cuci baju!" Keluh adik perempuan Shasa, dia membuka pintu dengan sangat kasar.
"Berisik! gue capek!" Shasa membentak dan kembali membaringkan badannya ke tempat tidur.
"Ihh bunda! kakak aca malas malasan!" adiknya berlari mengadu pada orang tuanya.
"Sudah biarin aja kakak mu itu, kasian dia kecapekan, ini hari libur nya" terdengar suara bunda Shasa yang membela shasa. Diantara keempat anaknya shasa lah yang menjadi tumpuan tulang punggung keluarga, karena shasa lebih banyak memberikan uang kepada keluarga nya dari setiap lomba Olimpiade yang dia ikuti sementara abang laki-lakinya masih kuliah dan tidak terlalu banyak membantu keuangan keluarga.
"Andai gue bisa tinggal bareng Ara, gue bisa nikmati kehidupan mewahnya" bathin Shasa.
'Ceklek'
"Shasa sayang bangun yuk, kita sarapan, bunda ada buatin nasi goreng kesukaan Shasa".
" Iya iya, nanti Shasa bangun! bunda pergi sana" gerutu Shasa, dia mulai mencari ponselnya, ingin mencari berita tentang Allinsky Corporation, tapi nihil tidak ada berita dan foto yang menampilkan tentang Allinsky, pria tampan itu sangat low profile.
...π₯π₯π₯π₯π₯...
Pagi hari di restoran di hotel, keempat orang itu asik bercerita bersama.
Ternyata hotel tempat mereka menginap adalah milik Deon, dan ada beberapa pusat perbelanjaan yang menjadi milik Deon.
"Akito, berikan mereka uang cash" perintah Deon pada asistennya yang ada di Jepang.
Akito segera mengeluarkan beberapa uang cash dan memberikan masing-masing pada keempat remaja itu.
"Kakak gak ikut?" lirih Ara.
"Bersenang-senang lah sama temanmu ya, kakak masih ada meeting penting, jadi gak bisa ikut, nanti kalau kakak bisa nyusul, kakak pergi" Deon segera berdiri dari kursinya sambil mengelus puncak kepala Ara. "Kalian bertiga jaga ini anak kecil ya, kalau perlu tuntun kemanapun kalian pergi, kalau gak nanti dia nyasar".
"emang Ara anak kecil!" gerutu Ara kesal.
"Kamu memang anak kecil, kalian bertiga ingat pesan kakak" peringat Deon sekali lagi.
"Beres Kak" jawab serempak ketiga teman Ara.
...π£π£π£π£π£...
Ara dan teman-temannya tampak asik berbelanja
baju dan makanan jajanan pasar, walau ara berbelanja dengan pria, mereka tetap mau menemani Ara memilih pakaian, malah dengan kehadiran 3 cowok tampan itu Ara menjadi pusat perhatian.
"Ra, kok lu gak ajak si Shasa liburan juga?" Robi tiba-tiba teringat dengan Shasa, ssahabat perempuan satu satunya yang Ara miliki.
"Hmmm" Ara tampak berpikir sebentar, "Kalian jangan kasih tau orang lain ya, ini rahasia" Ara mencondongkan wajahnya kearah ketiga temannya agar mendekat pada mereka.
Ketiganya mengangguk dan mendekat juga kearah Ara. "Kak Deon alergi cewek, orang lain taunya kak Deon gak suka dekat dekat cewek, tapi yang sebenarnya terjadi jika ada cewek yang menyentuh kulitnya, dia akan gatal-gatal di seluruh badannya".
" Bohong lu ra, dari kemarin kami ketemu dia biasa aja sentuhan sama lu".
"Itu mah dia gak anggap gue cewek"
"Hah?!" ketiga pria itu melongo mendengar penuturan Ara.
"Lo cewek kan ra?" tanya Juan dengan Spontan.
"Enak aja! gue cewek tulen!" Kesal Ara.
πΌ bunyi ponsel Ara tiba-tiba mengejutkan mereka. Tadi sebelum pergi jalan-jalan Akito asisten Deon memberikan hospot masing masing pada keempat remaja itu.
"Siapa ra?" Tanya Leo penasaran.
"Shasa"
π² "Hai sha, kenapa ni kangen gue ya?" Ara menjawab telepon Shasa dengan semangat sementara ketiga temannya langsung cemberut.
"Ngapain lagi sih tu muka dua Telepon-telepon.
π² "hmm maaf sha gak bisa" gumam Ara pelan.
π² "Ngapa? penjaga lo gak bolehin lo keluar? kok lo mau sih Ra? lo hidup kayak di penjara, kok lo masih mau di kekang kayak gitu!" Shasa mulai emosi, dia berencana jalan bareng Ara karena ingin minta Ara untuk mentraktir dia belanja, biasanya Ara sering membelikan Shasa baju dan yang lainnya.
π² "Bukan itu, gue gak lagi di Indonesia sha"
π² "Apa?!" tanya Shasa sekali lagi.
π² "Gue gak lagi di rumah, gue gak ada di indonesia, gue lagi liburan ke Jepang"
π² "Apa? bukannya lo ditinggal sama keluarga lo sama orang asing? kok bisa lo liburan kesana emang boleh?"
Muka Ara yang tadinya bahagia berubah sedih, Robi yang melihat itu segera menarik ponsel Ara.
π² " Lo bisa gak sehari aja gak buat Ara sedih, emang gak boleh Ara jalan-jalan kalau gak ada keluarga nya?" Robi sedikit emosi pada Shasa.
π² "Kok bisa ada lu? Kalian liburan bareng?"
π² "Kami bertiga diajak liburan sama orang asing yang lu bilang itu, kami naik jet pribadi kesini!" bangga Robi, dia suka memanas manasi Shasa.
"Robi! kembalikan ponsel gue!" Ara berteriak meminta kembali ponselnya. "Siniin gak! nanti gue marah!"
Tidak mau Ara ngambek Robi segera mengembalikan ponsel milik Ara.
Dibelakang Ara robi, Juan dan Leo saling ber tos ria karena berhasil membuat panas Shasa.
π² "Sha maaf ya, gue gak bisa ajak lu, tenang aja gue bakal carikan oleh oleh buat lu".
π² " Gak apa Ra, lu kan gak pernah anggap gue sahabat, makanya gak ajak gue" sinis Shasa.
π² "Bukan gitu Sha, gue udah minta kak Deon untuk ajak lu, tapi dia gak suka dekat dekat cewek asing, karena bukan gue yang bayar dan punya jet pribadi itu, jadi gue segan maksa lu buat ikut, soalnya semua ini yang biayain kak Deon, maaf ya, nanti gue belikan oleh oleh".
π² " Terserah lu ra, gue gak maksa!" setelah berkata begitu Shasa segera mematikan teleponnya.
Ara menatap sinis ketiga temannya yang masih tertawa bahagia.
"Kan gara-gara kalian Shasa jadi marah sama gue!" gerutu Ara.
"Maaf ra, habisnya dia itu selalu iri aja liat kebahagiaan lu".
"Benar tu ra, kita cuma belain lu".
" Sesekali kita buat dia panas ra, gak apa itu".
Ketiga temannya bukannya merasa bersalah malah merasa senang telah membuat Shasa marah.
"Makan ice cream yuk Ra, katanya ice cream disana enak" Leo memilih mencari topik lain untuk membuat Ara Senang dan tidak kepikiran tentang Shasa.
...π€π€π€π€π€...
"Akkkkkhhhh!" Di tempat shasa, gadis itu berteriak sambil menutup mukanya dengan bantal. Dia kesal Ara membawa tiga teman gilanya itu untuk liburan ke Jepang, padahal Shasa adalah temannya juga tapi Ara tidak mengajaknya.
"Perempuan asing? dia kan juga perempuan asing! kenapa pria kaya itu mau mengajak Ara pergi jalan jalan! dia pasti belanja puas menggunakan uang pria itu! Akkhhhhh" Shasa benar-benar mengamuk di dalam kamarnya.
"Gue harus bisa dapatkan Allinsky, pria tampan dan kaya itu harus jadi milik gue!"
...π₯π₯π₯π₯π₯...
πΊπΊπΊcuap cuap AuthorπΊπΊπΊ
Hai Hai Hai masih pada baca kan, Terima kasih buat dukungannya, dan terus dukung ya biar author semangat dalam menulis setiap chapter terbaru.
Ngomong-ngomong pada setuju gak dengan visualnya? kalau gak bayangin aja dengan visual kalian ya π
Tetap dukung author dengan cara like dan vote nya makasih β€β€β€β€
Siapa yang setuju visual karakter diganti?? tolong komen ya.. hehhee