My Little Girl

My Little Girl
13. Menghibur dan menyemangati



Selama perjalanan Ara masih diam menatap jalanan kota, dan Deon juga tidak ingin mengganggu suasana hati Ara yang sedang sedih.


Ara sedikit terkejut, karena Deon menghentikan mobilnya didepan sebuah cafe ice cream.


"ngapain kesini om?" tanya Ara bingung.


Deon melepaskan sefty belt nya, lalu pria itu menatap mata Ara, "Ra, selama ini aku diam aja dipanggil oom sama kamu, tapi sekarang aku mohon, panggil aku kakak atau mas atau yang lain jangan oom, aku takutnya orang lain akan berpikir aku adalah sugar baby kamu jika panggilan kamu tetap seperti itu padaku" jelas Deon dengan sangat lembut.


Ara mengangguk dan dan menundukkan wajahnya dia sangat malu saat ini mereka berdua berada dalam jarak yang sangat dekat dan ini pertama kalinya Deon berbicara panjang lebar sambil menatap mata Ara dengan waktu yang cukup lama.


Deon tersenyum senang dengan jawaban Ara "Baiklah sekarang kita beli keluar".


" Mau ngapain?" pertanyaan Ara membuat Deon terhenti.


"Tentu saja mengembalikan mood Ara" balas Deon dengan senyuman yang dapat membuat para perempuan menjerit terpesona.


'Deg deg' lagi lagi jantung Ara berdisko setelah mendapatkan perlakuan manis seperti itu.


'ceklek' pintu Ara terbuka, Ara menatap Deon yang membukakan pintu mobilnya.


"Ayo, kamu boleh membeli ice cream sebanyak apapun" Deon mengulurkan tangannya agar Ara dapat menggandeng tangannya, dan uluran itu disambut baik oleh Ara, gadis itu sangat terpesona dengan sikap Deon padanya. Selama ini dia tidak pernah diperlakukan seperti itu oleh Dimas, dan pria lainnya.


...🐥🐥🐥🐥🐥...


Ara memilih Ice cream yang sangat banyak, dia memilih rasa coklat, vanila, jeruk, dan rasa lainnya tanpa rasa Strawberry, bluberry dan berry berry an karena sebenarnya Ara mempunyai alergi dengan itu.


Ara juga memilih toping yang sangat banyak, dia sangat senang Deon tau bagaimana cara mengembalikan moodnya yang sedang down.


"Makasih om ehh kak, maaf kebiasaan" Ara terkekeh kecil sambil menatap raut muka Deon, pria itu terlihat biasa saja tidak marah dan malah balik tersenyum kearahnya.


"Apa wajahku terlihat tua?" Deon terlihat sedikit minder karena Ara sejak pertama bertemu memanggilnya dengan om.


Ara tertawa puas melihat raut wajah Deon yang terlihat sedih, bagi Ara semua pria yang memakai jas akan dia panggil om, tidak terkecuali Deon, Ara menatap wajah Deon lekat lekat, pria itu seumuran dengan abangnya tapi wajahnya terlihat lebih muda dari umurnya dan bisa bisanya Ara memanggil cowok tampan dan keren itu dengan sebutan om.


"Maaf om eh kak, Ara terbiasa memanggil orang yang menggunakan jas sebagai oom, jadi kebiasaan sampai sekarang" ujar Ara disela tawanya.


"Axel kan pakai jas".


" Abang axel beda dia pakai jas hanya disaat saat tertentu, dia lebih sering melepas jasnya" yang dikatakan Ara memang benar, Axel lebih memilih menggunakan kemeja atau kaos, pria itu sangat jarang menggunakan jas, katanya terlalu ribet dan gerah.


Deon mengangguk mengerti, dia ingat pertama kali pertemuan dia dengan Ara, Deon sedang menggunakan Jas, mungkin karena itu Deon dipanggil om oleh Ara.


Ara kembali makan ice creamnya dengan riang, Dia sangat senang Deon memanjakan dia dengan membelikan Ice cream.


"Mau jalan ke mall?"


Ara menatap Deon bingung, kenapa deon bertanya seperti itu padanya.


"Mau ngapain kak?"


"Biasanya cewek kalau sedang sedih dia shopping untuk menaikkan mood nya, Ara mau? kakak akan bayarkan apapun yang kamu minta"


"Berapa pun? semahal apapun?"


Deon mengangguk menyetujui pertanyaan Ara.


"Ara gak butuh kak, Ara dibawa ke sini aja udah senang banget" jawab Ara sambil menyuap kembali ice creamnya dengan senang.


Mata Deon terus memperhatikan tingkah Ara yang terlihat menggemaskan di matanya, ini pertama kalinya dia bisa berinteraksi dengan wanita, dan berhasil bersentuhan tanpa alergi kambuh, selain kedua ibunya, Deon tidak pernah bisa menyentuh wanita manapun, dan ini membuat nya takjub.


Ara gadis yang manis, cantik, dan menyenangkan, gadis itu juga tidak memanfaatkan dia dengan kekayaan yang dia miliki.


"Berapa tingkat bahagiamu sekarang?"


"hmmm..." Ara tampak berpikir sambil memggigit sendok ice cream ditangannya, "enam puluh persen?" lanjutnya kemudian.


Ara tersenyum senang pria didepannya ini sangat perhatian padanya.


"Kakak benaran mau buat Ara bahagia?"


Deon mengangguk mengiyakan.


"Kita ke taman bermain ya? kakak mau?"


Deon tertawa mendengar ucapan gadis kecil didepannya, wanita yang dia tau akan senang dengan barang barang mahal dan branded, tapi gadis kecil itu hanya dengan ice cream serta jalan-jalan dia akan merasa senang, tidak perlu barang barang mewah seperti yang biasa dia dengar dari teman temannya.


"Kalau gitu habiskan sekarang ice cream mu dan kita akan pergi setalah ice cream mu habis".


"Baik bos" ara bersikap hormat seperti yang dia lakukan pada bendera merah putih, setelah itu gadis itu tertawa dan Deon juga tertawa melihat tingkah menggemaskan Ara.


...🐣🐣🐣🐣🐣...


Ara berlari sangat riang kesana kemari, setiap wahana yang ada terus dicoba nya, Deon berjalan dibelakang Ara dengan memegang kembang gula, dan minuman soda, semua itu adalah milik Ara, Deon hanya bisa tersenyum pasrah ketika gadis itu memintanya membawakan makanan dan minuman itu.


"Kalau pria lain pasti memegang tas belanja ab yang sangat banyak, beda dengan Ara, aku di suruh memegang makanan dan minumannya" Gumam Deon pelan.


"Kak" Ara berlari mendekati Deon, gadis itu segera menarik lengan Deon untuk pergi dari tempat itu.


"Kenapa?" tanya Deon bingung.


Ara menunjuk kearah Deon berdiri tadi, beberapa saat kemudian beberapa wanita berjalan melewati tempat yang baru saja Deon tinggalkan.


"Nanti alergi kakak kambuh" ujar Ara dengan senyum menggemaskan nya.


"Terima Kasih ya" balas Deon.


🎼 ponsel Deon berbunyi nyaring tapi kedua tangannya masih penuh dengan makanan dan minuman Ara, dengan cepat Ara mengambil alih makanan dan minumannya, agar Deon bisa mengangkat teleponnya.


"Bentar ya" Deon mengelus halus puncak kepala Ara, dan hal itu membuat Ara tertunduk malu, sikap Deon seperti impian Ara selama ini, gadis itu berharap Dimas akan bersikap seperti itu dulu.


📲 "ada apa?"


📲 "maaf tuan muda, nyonya besar sedang ada disini, nyonya membawa seorang gadis cantik bersamanya".


Deon menghembuskan nafas panjang, ibu tirinya itu kembali menyodorkan wanita padanya, Deon tidak membenci ibu tirinya malah Deon menyayangi nya, ibu tiri Deon adalah bibi kembar dari ibu kandungnya yang menikah lagi dengan ayah Deon, karena permintaan ibu kandungnya yang meninggal karena sakit.


Ibu Deon memang sering menyodorkan wanita pada Deon, dia takut anaknya itu impoten, dia tau Deon selama ini alergi wanita tapi tetap saja menyodorkan wanita pada Deon, dia berharap salah satu wanita yang dia sodorkan dapat mengobati alergi anaknya.


📲 "Bilang padanya aku sudah menemukan wanitaku, tapi aku tidak bisa membawanya sekarang dia masih sekolah, suruh bunda untuk bersabar" ujar Deon dengan nada pelan agar Ara tidak mendengar perkataannya barusan.


📲 "Baik tuan akan segera saya sampaikan"


Deon berjalan mendekati Ara yang sedang asik memakan kembang gulanya yang tinggal sedikit.


"Udah kak?" tanya Ara, ketika Deon sudah berada dihadapannya.


"Udah, mau kemana lagi?"


"Kak Ara lapar pengen makan Spaghetti sama steak di restoran yang mewah" rengek Ara.


"Udah mainnya?"


Ara mengangguk cepat, "Sekarang baru terisi 80 persen" kekeh Ara.


"Baiklah makan siang berarti terisi full ya?" Balan Deon dengan candaan juga.


Ara menganggu senang dan dia segera mengandeng lengan Deon, gadis kecil itu sudah tampak nyaman berada di dekat Deon, dan hal itu memang yang Deon inginkan, dia ingin gadis itu bergantung padanya, dan membuat gadis itu tidak akan bisa jauh darinya.


...🐤🐤🐤🐤🐤...