My Little Girl

My Little Girl
69. Melamar Ara



Sejak dari kemarin terlalu sering marah-marah dan emosi karena shasa, mari kita naikkan suasana hati liat keromantisan Ara dan Deon 💞💞


Oke next kita lanjut ceritanya...


...🐥🐥🐥🐥🐥...


Shasa membanting ponselnya di kasur, dia sangat kesal melihat sosial media Ara yang sedang menampilkan foto dia dan kedua orang tua Deon sedang di dalam pesawat pribadi yang tampak sangat mewah, ada juga beberapa foto Juan, leo dan Robi yang tampak bahagia, jangan ditanya foto Deon, dia yang paling banyak difoto bersama Ara.


tadi malam Shasa juga baru diputuskan Dimas, karena Dimas merasa tidak memerlukan hubungan dengan Shasa lagi.


"Sial! Ara lagi Ara lagi! gimana cara gue jatuhin Ara!" pekik Shasa pada dirinya sendiri, dia sudah seperti orang gila berbicara sendirian.


Shasa sudah berusaha apapun, bahkan sampai menumpahkan kuah panas pada Ara agar kulit Ara melepuh jadi Deon akan jijik padanya, tapi yang ada dia menjadi iri pada Ara karena Deon mendatangkan langsung dokter kulit yang sangat ahli, sekarang kulit Ara malah tampak lebih bagus dibanding sebelum Shasa melukai Ara.


"Apa gue buat aja gosip tentang Ara yang kumpul kebo sama kak al, satu sekolah pasti akan memandang dia dengan jijik dengan begitu Ara akan pindah sekolah" Shasa bertanya sendiri dan menjawabnya sendiri, dia memang cocok untuk menjadi artis.


...🐥🐥🐥🐥🐥...


Begitu sampai di rumah sakit tempat ayahnya dirawat Ara langsung berlari menuju ruang inap ayahnya, disana sudah ada ibu, ayah serta kakak laki-laki Ara.


Ara memeluk ayah dan ibunya, tangis gadis itu akhirnya pecah, sudah lama dia tidak menangis, apa lagi didepan keluarganya, dia selalu berpura-pura kuat, ketika ditinggal ayah dan ibunya Ara juga tidak menangis, gadis itu sengaja berpura-pura kuat agar ayahnya fokus menjalani pengobatan.


"Liat tu mode manjanya muncul" Ledek Juan, dia sengaja mengejek Ara, agar suasananya sedikit tambah ceria.


"Mi lihat Juan, dia ngejek Ara" Ara beralih memeluk mommy nya, sudah lama dia tidak mengadu pada ibunya itu.


"Iya nanti biar Bang Axel yang pukul dia" kata ibu Ara sambil mengelus rambut putrinya itu.


Mereka semua hanya tertawa melihat tingkah kekanakan Ara.


.


Ruangan yang biasanya sunyi itu kini penuh canda tawa, Shahnaz menatap putrinya yang sekarang sudah tampak sangat dewasa.


"Ara sayang, kenapa ni kesini bawa mertua" ledek Papi Ara.


"Ihh papi apaan sih bercandaannya! gak lucu pi" gerutu Ara.


Papi Ara menatap Axel dalam-dalam, setelah itu Axel mengangguk pelan.


"Dek! temani abang yuk" ajak Axel pada Ara.


"Kemana?"


"Gak lapar? kita beli ayam popeye, adek kan suka ayam itu, ato burger, ayok lah" ajak Axel lagi. "Kalian bertiga juga ikut ya, buat jadi pengangkut makanan". Axel melirik pada tiga teman Ara seperti memberi kode untuk ikut.


"Oke bang, lagian kita mau jalan-jalan juga, yuk ra" Robi dan leo segera menarik tangan Ara untuk segera pergi.


"Ehhh ehh tunggu dulu gue pamit dulu" Ara segera mendekati kedua orang tuanya mencium mereka dan berpamitan, sedangkan hanya mencium tangan kedua orang tua Deon.


"Lohh kok kakak engak?" tanya Deon saat Ara melewatinya.


"Ada papi mami" Ara menjulurkan lidahnya pada Deon lalu segera berlari keluar ruangan itu.


"Ckckck" Deon hanya bisa tertawa kecil sambil menggeleng pelan.


"Bro, gue pergi dulu ya, ngajak calon istri lo jalan" ucap Axel sambil menepuk pundak Deon.


para orang tua di ruangan itu tertawa mendengar ucapan Axel.


.


Setelah Axel membawa para remaja pergi, suasana diruangan itu kini tampak hening dan tegang.


"Hemm hemm" Deon berusaha membasahi kerongkongan nya yang tiba-tiba terasa kering.


"Jadi nak Deon, ada apa kesini membawa kedua orang tuanya?" Papi Ara lebih dulu menyuarakan isi pikirannya dengan senyum simpul, senyum itu tampak sama dengan senyum Ara, memikirkan Ara, Deon kini mulai tenang.


"Iya, kami kesini mau melamar Ara untuk putra Kami, setidaknya jika lamaran ini diterima kami ingin segera mengadakan pertunangan dulu, setelah Ara lulus sekolah baru mereka menikah" lanjut ayah Deon.


Papi Ara menatap Deon dengan dalam, "Kemarilah nak" papi Ara meminta Deon lebih mendekat padanya.


"Iya om" Deon dengan cepat memindahkan tempat duduknya disamping papi Ara.


Tangan Deon tiba-tiba saja di ambil oleh papi Ara, "Kamu mencintai putriku?" tanya papi Ara dengan pelan. tangan itu tampak sedikit kurus ketika memegang tangan Deon.


"Iya om, Deon sangat mencintai Ara, Deon takut Ara diambil oleh orang lain, makanya Deon ingin segera mengikatnya menjadi milik Deon" Tegas Deon dengan mata yang sangat serius, walau Deon sangat gugup, dia berusaha menghilangkan kegugupan itu dari matanya.


"jangan panggil oom dan tante kalau gitu, panggil papi seperti Ara dan Axel, iya kan mi" Papi Ara meminta persetujuan istrinya juga.


"iya pi, mami setuju, Deon panggil papi dan mami juga ya".


" baik pi, mi" jawab Deon dengan sedikit menunduk.


"Jadi lamaran putraku diterima ni naz?" tanya Mitha dengan suara bahagia.


"iya, kami sudah mengenal Deon, dan berkatnya Ara banyak berubah, dia juga mendapatkan juara di sekolahnya, kalau dengan Deon kami percaya untuk menitipkan putri kami selamanya" Jawab shahnaz dengan senyuman hangat.


"Wahh kalau gitu kapan kira-kira pertunangan nya?" sorak Mitha lagi, dia sudah tidak sabar untuk menyiapkan acara pertunangan.


"Maaf, bisakah langsung menikah saja" sela papi Ara, semua kini fokus padanya.


"Pi, kok nikah?" tanya shahnaz bingung.


"Sayang, papi gak tau, hidup papi sampai kapan__"


Belum sempat papi Ara melanjutkan ucapannya Shahnaz lebih dulu memotong, "Kamu akan sembuh pi, percaya mami" isakan Shahnaz mulai terdengar.


"Dengarin dulu ucapan papi, bukan berarti papi menyerah dengan pengobatan ini, hanya saja papi ingin mengantarkan Ara, nikah rahasia saja dulu, hanya keluarga kita yang tau, tapi mereka sudah sah secara agama dan negara, setidaknya jika umur papi tidak panjang papi ingin mengantarkan putri papi ke altar pernikahan nya, papi akan berusaha sembuh mi, jika Ara sudah selesai sekolah baru kita rayakan besar-besaran, jadi mami jangan sedih dulu, papi gak menyerah kok, papi hanya ingin menambah motivasi papi untuk sembuh" jelas papi dengan panjang.


"Pi, Deon akan bantu cari dokter terbaik untuk menyembuhkan papi, papi harus janji berusaha untuk sembuh" Deon mengelus pelan lengan papi Ara.


"Iya papi janji, jadi bagaimana mi? mommy mau kan setuju dengan permintaan papi?"


Shahnaz hanya mengangguk pelan, dia tidak dapat menahan tangisnya lagi, Mitha sebagai sahabat segera memeluk tubuh lemah Shahnaz.


"Deon kamu mau kan menikah dengan putri om?"


"Kalau dia jangan ditanya lagi, pasti mau" ledek Ayah Deon.


Mereka tertawa serentak, mendengar penuturan Ayah Deon.


"Deon akan siapkan pernikahannya dalam waktu ini pi, jika papi setuju"


Papi Ara mengangguk pelan. "Papi setuju, kamu siapkan semuanya ya, maaf papi dan mami tidak bisa bantu".


"Pi, papi fokus aja dengan kesembuhan papi, masalah lainnya itu biar urusan Deon, kalau tentang perusahaan papi, papi tenang saja, Axel sangat bisa diandalkan, Deon juga akan bantu Axel jika dia kesulitan, jadi papi dan mami fokus untuk pengobatan ini ya".


Papi dan mommy Ara mengangguk setuju, mereka sangat senang Ara mendapatkan lelaki yang benar-benar akan menjaganya.


"Tapi, ingat Deon, jangan membuat Ara hamil dulu, papi tidak melarang kamu melakukan hal itu pada Ara, tapi ingat umurnya, dia masih terlalu muda untuk hamil, nanti setelah lulus kalian bisa merencanakan kehamilan" ancam papi Ara sebelum Deon melakukan hal lebih pada putrinya.


"Iya pi Deon usahakan" Ucap Deon dengan sedikit tidak yakin. Kalau udah sah gimana caranya Deon menahan diri? sekarang saja dia sudah sangat sulit menahan diri nah kalau udah nikah pasti langsung icip icip si Deon.


...🐤🐤🐤🐤🐤...


🌺 cuap cuap author 🌺


Makasih untuk dukungan semuanya, tatap like dan vote terus ya, biar author semangat ngetiknya.


Terima kasih semuanya ❤❤❤❤