My Little Girl

My Little Girl
36. Kemarahan Deon



Para guru masih belum sadar dari keterkejutan mereka dari sosok Deon yang hadir, mereka tambah terkejut dengan kehadiran kepala sekolah yang terlihat ketakutan pada Deon.


"A-ada apa tuan Allinsky datang kesini?" tanya kepala sekolah itu dengan sedikit ketakutan.


Deon masih menatap Dingin semua guru yang ada disitu, sebelah tangannya masih sibuk mengelus kepala Ara, dan sebelahnya lagi sibuk mengusap punggung Ara.


"Kalian yang memanggilku kesini" Deon hanya menjawab singkat.


"A-apa tuan Deon adalah wali Clara?"


"Ya" jawab Deon lagi dengan singkat.


"Begini tuan Allinsky, Ara sejak tadi tidak mau mengaku bagaimana cara dia menyontek, kami sudah capek bertanya karena dia sejak tadi diam saja" Wali Kelas Ara akhirnya angkat bicara agar ketegangan itu hilang.


"Apa kalian punya bukti?"


Wali kelas dan guru BK serentak mengambil lembar ujian Ara dan Shasa dan menyodorkan pada Deon.


Bukannya mengambil Deon malah menoleh pada botak, hanya melihat mata Deon botak tau perintah yang diminta Deon dia segera meraih lembar ujian itu dan menyusun berdasarkan mata pelajaran di depan meja yang ada dihadapan Deon.


Deon melirik barisan lembar jawaban itu, lembar jawaban shasa tertulis nilai 97 untuk nilai matematika, sementara lembar jawaban Ara tertulis nilai 100 untuk nilai matematika. bukan hanya matematika tetapi hampir seluruh lembar jawaban Ara mendapatkan nilai sempurna dan mengalahkan nilai Shasa.


Melihat itu Deon tertawa sinis, "inikah bukti yang kalian katakan?"


"iya tuan" jawab wali kelas dan guru BK serentak.


"Ara adalah murid terbodoh dan ternakal di sekolah ini bagaimana mungkin hanya dalam beberapa bulan Ara bisa mengalahkan juara Umum di sekolah ini?" Guru wali kelas Ara kembali berucap.


"kenapa tidak mungkin? aku yang mengajarkan nya, kalian meremehkan kemampuan ku?" Sindir Deon dingin.


Berberapa guru sudah mulai keringat dingin menghadapi Deon, beberapa dari mereka bahkan berharap segera keluar dari ruangan itu, mereka tidak sanggup menghadapi sang penguasa Asia.


"Begini tuan, Shasa bukan hanya juara umum tapi dia sudah 2 kali memenangkan Olimpiade Nasional, Jadi kami yakin Ara mencontek dari shasa, apa lagi mereka teman baik, pasti Ara mengancam shasa untuk tidak memberitahu kami tentang kecurangan nya" jelas Wali kelas sedikit takut.


" Hahahaha" Deon kembali tertawa dingin, membuat semua orang yang ada disitu kembali membeku.


"Tak, coba liat nilai-nilai itu, bagaimana menurut mu?" perintah Deon tapi dengan nada datar, tidak dengan emosi.


Botak mengikuti perintah Deon, dan berkata "Tuan, menurut yang saya lihat, saya malah berpikir nona sha___"


"Jangan panggil nona, dia bukan atasanmu" Sebelum Botak melanjutkan perkataan nya Deon lebih dulu memotong.


"Saya pikir shasa yang mencontek pada nona Ara tuan". Botak segera meralat ucapannya ketika Deon memotongnya tadi.


" itu tidak mungkin!" bantah wali kelas tegas. "Shasa selalu menempati posisi satu, bagaimana mungkin dia mencontek".


" hahahaha " Deon kembali tertawa keras, dan menatap dingin wali kelas yang sejak tadi membela murid yang bernama shasa.


"Tak, apa kamu pernah menyontek?"


"Pernah tuan"


"Jika kamu mencontek apakah nilaimu di atas dilai yang kamu contek?" tanya Deon dengan nada menyindir.


"Itu bisa saja kebetulan, Ara mencontek semuanya dan ada beberapa yang kebetulan dia asal menjawab dan benar" Wali kelas Ara kembali beragumen.


"Jika saya mencontek, saya tidak tau mana jawaban yang benar dan salah, jikapun saya bisa kebetulan itu hanya 1 kali paling banyak 2 tapi yang kita lihat hampir semua lembar jawaban Ara mendapatkan skor lebih tinggi dari milik Shasa, itu tidak bisa menjadi acuan bu guru" Botak mulai menjelaskan argumennya.


"Ka-kalau begitu bisa saja Clara mencuri kunci jawaban" Wali kelas Ara masih berusaha menjatuhkan Ara.


"Hahahaha" Deon kembali tertawa dingin matanya menatap sinis para guru dan juga kepala sekolah. "Tadi kalian bilang mencontek dari wanita itu sekarang kalian bilang mencuri jawaban! kalian sebagai guru harusnya mendapatkan bukti yang jelas jangan mengira-ngira!" Bentak Deon sudah di ujung kesabaran.


"Tu-tuan Allinsky, maaf para guru seperti ini karena Ara bukanlah murid yang menonjol, dia selalu menempati posisi terakhir di sekolah, ja-jadi wajar para guru meragukan kemampuan Ara" kepala sekolah yang sejak tadi diam akhirnya memberanikan diri untuk berbicara.


"Be-benar tuan" ucap berberapa guru membenarkan.


Deon memejamkan matanya dan memijit keningnya pelan, "Tak bagaimana menurutmu?"


"Be__" baru saja botak mau mengungkapkan pikirannya sudah dipotong oleh wali kelas Ara kembali.


"Tuan, sudah jelas buktinya kenapa tuan masih_"


"Anda diam!" kali ini bentakan Deon yang membuat wali kelas itu berdiam, "Saya berbicara dengan asisten saya! bukan dengan anda!"


"Tak lanjutkan ucapanmu, jika ada yang memotong, pecat dia sekarang juga".


" Begini tuan, bagaimana jika guru-guru ini membuat soal baru untuk nona Ara, dan nona Ara harus menjawab soal itu di hadapan mereka langsung untuk membuktikan diri nona". Setelah berkata begitu, suasana hening tidak ada yang berani mengeluarkan suara.


"Bagaimana Pak kepala sekolah?" Deon berbicara sambil menyindir guru wali kelas Ara.


"Sa-saya setuju tuan, dengan begini kesalahpahaman akan terselesaikan, dan jika Clara benar, maka keraguan para guru bisa hilang darinya" Kepala sekolah itu mengangguk setuju.


"Hey little girl, lepas bentar ya" Deon memanggil Ara dengan lembut, sangat berbeda nada yang dia gunakan pada orang orang lain, pada Ara Deon akan lembut dan sangat ramah.


Ara menggeleng pelan dalam pelukan Deon, dia habis menangis, pasti matanya bengkak, jadi dia malu untuk memperlihatkan, jika Deon yang melihat Ara tidak masalah, tapi jika yang lainnya Ara tidak mau.


"Baby, hanya kakak yang melihat wajahmu, bentar aja"


Perlahan Ara mengangkat wajahnya dari dada bidang milik Deon, matanya terlihat bengkak, dan hidungnya berwarna merah.


Deon menengadah kan tangan nya pada botak, tanpa suara Botak memberikan beberapa lembar tisu pada Deon, dan Deon menggunakan tisu itu untuk menghapus air mata Ara yang masih menggenang.


"Udah jangan nangis lagi, ngapain nangis gara gara guru bodoh kayak gitu".


Para guru yang dibilang bodoh oleh Deon hanya bisa menarik nafas panjang, jika yang mengatakan itu adalah seorang yang tidak memiliki kuasa maka orang itu akan habis ditangan mereka, tapi ini yang mengatakan itu adalah Deon, jadi mereka hanya bisa pasrah menerima penghinaan, jika tidak Terima maka mereka akan dipecat.


"Kamu mau melakukan yang tadi Botak usulkan?" Tanya Deon pelan.


Ara mengangguk pelan masih tidak mau mengeluarkan suaranya.


Deon beralih menatap para guru yang ada, "Apa lagi yang kalian tunggu! cepat buat soalnya sekarang!" perintah Deon membuat mereka kocar kacir mencari pulpen dan kertas.


Deon seperti orang yang punya dua kepribadian jika dengan Ara dia akan berubah manis, lembut dan perhatian, jika di dengan orang lain maka akan dingin, menyebalkan dan kasar.


...🐤🐤🐤🐤🐤...