
Sehari sebelum keberangkatan ke Turki. Brian sudah menyuruh orang untuk menjemput El yang ada di jogja.
“Abang!” Ay langsung berlari memeluk El yang baru saja keluar dari dalam mobil. “Ay kangen” ujar gadis itu masih di dalam gendongan El, gadis itu menggelantung seperti monyet pada EL.
“Maaf ya om, tu anak kalau sama el udah kayak anak monyet ketemu emaknya” ujar AL.
Brian hanya tertawa sambil geleng-geleng kepala, apa boleh buat, gadis kedis kecilnya itu memiliki dua abang kembar yang sangat menyayangi dirinya, tidak akan ada yang bisa memisahkan ketiga saudara kembari itu walaupun ay akan menikah.
“Ay, kita berangkat lagi” panggil Brian dari jauh.
“Iya bentar” teriak ay untuk membalas panggilan Brian.
.
Ay turun dari gendongan EL, gadis itu bergelayut pada lengan EL.
“Om, benaran kan udah bujuk kakak cantik?” tanya Ay dengan wajah cemberutnya begitu dia sampai di hadapan brian, Al serta Au.
“Udah sayang, coba kamu tanya abang kamu, memang benar kakak cantik itu yang gak mau ikut” jelas Brian. Dia memang memohon pada Alexa untuk ikut bahkan pria itu datang sendiri ke Jogja sambil memohon pada alexa tapi gadis itu tidak mau ikut. Sebenarnya kedatangan Brian ke jogja sama sekali tidak diketahui EL, yang pria itu tau hanya brian mengirim anak buah untuk membujuk Alexa.
“Iyad ek, dia gak mau, dia tidak suka berada di negeri asing” sambut EL.
“Yahhh, abang jadi gak ada pasangannya dong” lirih ay.
“kalau gitu aku juga gak ikut aja ay, biar __”
“Gak boleh!” potong ay cepat saat Aurora hendak menawar tidak jadi pergi, karena dia sangat segan ikut liburan bareng keluarga konglomerat, sementara dirinya hanya orang biasa, apalagi Aurora akan bertemu dengan kedua orang tua Al, dia merasa sangat takut untuk bertatapan dengan orang tua AL.
“Dengar itu Ay itu keras kepala dia tidak akan membiarkan kamu lepas dari aku” ucap al dengan senyuman jahilnya.
Aurora hanya bisa menunduk mendengar ucapan Al.
“Ayo au kita berangkat! Go go” teriak ay senang. “Om, trio kwek kwek gak ikut?” tanya ay lagi pada brian.
“Trio kwek kwek? Siapa sayang?” tanya Brian.
“itu loh, Om jojo, om lele, dan om lala” jawab ay.
Brian terkekeh pelan, “ikut, tapi mereka akan menyusul, masih ada yang harus mereka urus disini” balas Brian dengan lembut.
Mereka semua berangkat menggunakan pesawat pribadi milik Brian, pria itu memang sengaja menyiapkan semua itu hanya untuk ay.
***
Selama di dalam pesawat ay tidak sebahagia saat dia berada di bandara, di karenakan gadis kecil itu sebenarnya sedikit cemas, daddy deon akan melarang dia untuk menikah, apa lagi Brian masih menjadi seorang mafia, Ay tau daddy nya sangat tidak menyukai seorang mafia. Gadis itu hanya sibuk menatap kearah luar dengan pandangan menerawang entah kemana.
Brian menyentuh tangan ay dengan pelan, membuat gadis itu sedikit tersadar dari lamunannya.
“Apa lagi yang kamu pikirkan?” Tanya brian.
Ay menolehkan pandangannya menatap brian yang duduk disebelahnya, Dia tidak menjawab hanya menggeleng pelan lalu menyandarkan kepalanya pada bahu Brian.
“katakana sayang, aku tau masih banyak benang kusut di kepala kecil ini” ucap brian sambil mengelus puncak kepala Ay.
Ay menghela nafas panjang, “Ay, memikirkan daddy om” jawab Ay sedikit lesu.
“Sayang, bukankah sudah aku katakana jangan panggil om lagi, semua orang akan menganggap aku seumuran daddy mu jika kamu terus memanggilku itu” ujar brian, tangan pria itu masih setia mengelus puncak kepala ay.
Ay sedikit tertawa kecil, “maaf, ay kebiasaan, jadi ay panggil apa dong? Mau dipanggil tata atau nini?” kekeh Ay.
Ay menegakkan posisi duduknya yang tadi berbaring di bahu brian, “Iya Tata kepanjangannya cinta, atau nini kepanjangannya ai ni yang artinya sama cinta kamu” ucap ay dengan bersemangat.
“gak ada yang lebih keren sayang? Kenapa mesti di singkat-singkat, kamu ini kebiasaan buat nama orang jadi singkat, sudah bagus-bagus nama leon di jadikan lele, teman-teman aku jadi geleng geleng kepala dengan tingkah kamu” kekeh Brian.
Ay melipat kedua tangannya di depan dadanya, “hmmm, nama ay juga disingkat, danaya jadi ay, baiklah karena om special, ay akan rubah tapia pa dong?” ay memanyunkan bibirnya. “Ahh! Ada__”
“jangan oppa!” potong brian cepat.
Ay Kembali cemberut, “ihh om tau aja ay mau bilang apa, bukannya keren kalau di panggil oppa, biar miri poppa oppa kore aitu” kekeh ay.
“yang normal sayang, cinta, sayang, baby, kakak, atau honey, kan banyak itu” ujar brian sambil menyebutkan satu persatu panggilan sayangyang dia ingat.
“Love” ucap singkat ay.
‘DEG’ baru sekali ay mengatakan itu Jantung brian sudah berdetak tidak karuan. Bagaimana jika Ay memanggil dia seperti itu selamanya.
“Waaahhh liah ay rasanya aneh, ay juga merinding mengatakannya om” ucap ay lagi sambil mengelus-elus lengannya.
Brian tertawa pelan padahal tadi jantungnya berdetak kencang sekarang Kembali normal berkat ay, seperti sedang bermain roler coster.
Brian hanya bisa menggelengkan kepalanya, “terserah sayang, apapun asal jangan yang aku larang” pasrah Brian.
“ya udah kakak aja deh, masih bisa bibir ay mengucapkannya dengan normal” ucap ay.
...🐻🐻🐻🐻🐻...
Brian melirik El yang sejak masuk kedalam pesawat pria itu memilih duduk sendiri tanpa siapapun disebelahnya, dia hanya diam memegang buku ditangannya. Brian Kembali memperhatikan kekasih kecilnya yang sudah tertidur dengan menjadikan tangannya sebagai sandaran.
Perlahan Brian melepaskan tangannya yang di tiduri Ay, pria itu lalu melangkah mendekati abang iparnya itu.
“EL, sedang sibuk?” tanya Brian sambil duduk di kursi kosong sebelah EL.
El hanya melihat sekilas siapa yang datang lalu Kembali memfokuskan matanya pada buku.
“El, kamu menyukai alexa?” tanya brian lagi, dia ingin memastikan apa yang dikatakan ay adalah kebenaran atau bukan.
El berhenti membaca dia menutup buku yang dia baca dan menatap serius Brian.
“Om, mantan alexa? Kenapa bisa tau Namanya? Ay dan AL saja tidak tau nama gadis itu” cecar El dengan banyak pertanyaan pada Brian.
“Aku mengenalnya, tapi aku bukan mantannya, lebih tepatnya, dia adalah mantan tunangan sahabatku” ucap Brian. “mau tau tentang alexa?” tambah brian lagi, dia tidak terlalu tau bagaimana cara mendekati abang iparnya yang seperti es kutub itu, mungkin dengan cara membagikan cerita alexa dia akan dapat simpati dari EL.
“Apa bayarannya?” tanya EL to the point.
Brian menunjukkan senyuman manisnya, dia tau abang iparnya yang ini sangat to the point.
“Bantu aku mendapatkan Restu dari kedua orang tuamu, bagaimana?” tawar Brian kepada EL.
...🦊🦊🦊🦊🦊...
Jadi bagaimana ya? Apakah EL mau membantu brian atau malah sebaliknya?? Nantikan terus ya, terima kasih masih tetap membaca ini dukung author terus ya, dukungan hadiah, like dan vote kalian membuat author semakin bersemangat untuk menambah chapter selanjutnya.
bonus pict :