My Little Girl

My Little Girl
S2 MLG 84. Saudara Kembar



Ay mengagguk pelan lalu menatap Brian dan johan secara bergantian, "tapi kalau ada yang tanya kenapa ay di rawat bilang aja ay kelelahan ya, ay gak mau buat daddy dan mommy khawatir" ujar ay.


Brian mengangguk dan mengusap puncak kepala istrinya itu, "beres sayang, jika itu yang kamu inginkan" ucap Brian.


Baru saja Ay mengatakan permintaan tentang saudara kembarnya, ponsel Brian langsung berbunyi nyaring.


Brian menunjukkan pada ay layer ponselnya yang tertera nama EL di sana.


“angkat aja, abang pasti mendapat telepati saudara kembar” ucap Ay, memang ketiga saudara kembar ini bisa tau jika salah satu dari mereka sakit parah, kadang jika salah satu dari mereka sakit, saudara yang tidak sakit juga ikut merasakan 10 persen rasa sakit itu.


“Halo abang EL” jawab Brian.


“Ay mana?!” bukannya menjawab ucapan salam Brian, El langsung bertanya dimana adiknya.


Brian menghela nafas panjang.


“Ay tidur” jawab jawab brian santai.


“Ay mana!?” sekali lagi EL mengabaikan ucapan brian dan kembali bertanya.


“Tidur” jawab brian lagi.


“Tidur di rumah sakit? Dia pingsan karena kamu! Atau kamu memukulnya?!” tanya El lagi kini nada bicara pria itu sedikit meninggi.


Ay sendiri menepuk jidatnya begitu mendengar suara abangnya, telepon itu memang sengaja di loudspeaker agar ay juga bisa dengar.Ay menunjuk anting, gelang, cincin dan kalung lalu dia mengatakan pada brian tanpa suara, ‘lokasiku diketahui oleh mereka dari ini’ ujar Ay tanpa suara sedikitpun hanya gerakan mulut yang pelan sekali.


“Dia kelelahan, makanya aku bawa ke rumah sakit” jawab brian.


“makanya kasihkan ponsel ini pada ay! Aku tau dia belum tidur!” ujar EL lagi.


Ay menghembuskan nafas panjang,” ya bang, kenapa?” suara ay akhirnya keluar, dia tidak berani tertalu lama berbohong pada EL.


“kamu gak apa dek? Perut kamu kenapa?” tanya El beruntun.


“perut?” Ay memegang perutnya dengan lembut. “Perut ay tidak kenapa-kenapa” sambung ay.


“Abang ngerasain perut bagian bawah abang sakit, tadi abang telepon Al juga begitu, dia merasa sakit perut saat malam menjelang pagi, apa terjadi sesuatu padamu dek?” tanya EL Khawatir.


“Gak apa bang, itu insting abang salah” ucap Ay akhirya, dia tidak tau lagi harus berbohong apa, EL sangat sulit untuk di tenangkan jika sudah seperti itu.


“yakin kamu? Apa mau abang bilang ke daddy?” ancam EL.


“benaran bang, besok juga ay pulang ke rumah” Jawab ay santai.


Mendengar ucapan Ay, El akhirnya sedikit bernafas lega.


“kenapa sampai besok? Tidak sekarang aja? Kalau memang tidak apa?” tanya EL kembali khawatir.


“gak tau nih suami ay lebay banget kak, dia nahan ay untuk pulang, cuma karena liat ay pucat dan gak mau makan seharian, jadi ay di infus” ucap ay asal.


“Kenapa gak mau makan sih dek? Abang dengar dari Al, kamu akhir-akhir ini sulit makan, kangen masakan mommy?” tanya EL.


“gak tau kak, mungkin bawaan dedek bayi kali” jawab ay spontan.


“Dedek bayi? Kamu hamil sayang?” seru abang EL.


“hehehe iya bang, baru tau pas dibawa kerumah sakit, soalnya kak brian khawatir ay gak mau makan terus” ay emang sengaja memberitahu pada EL bahwa dirinya berbadan dua.


“Mau abang masakin makanan? Abang pulang hari ini ke tempat kamu?” suara El terdengar lembut dan sayang.


“Gak perlu bang, abang fokus aja kuliahnya, dedek bayi cuma pengen liat foto abang bareng kakak cantik, itu aja”


“jadi ngidam ni dek? Nanti abang coba tanyain ya”


“iya bang”


“Ya udah, kamu istirahat aja biar abang yang kasih tau Al tentang ini”


“jangan kasih tau daddy dan mommy dulu ya, ay pengen buat kejutan” jawab ay.


“Iya, kamu harus dengarin kata kak brian, abang tutup dulu” setelah berkata begitu el menutup teleponnya. Ay menyerahkan ponsel itu pada brian yang masih setia di dekatnya.


“El dan Al punya telepati dengan kamu sayang?” brian penasaran sejak el bilang perutnya sakit.


Ay mengangguk pelan, “terkadang mereka berdua bisa tau ay kenapa-kenapa, begitu juga dengan ay, sesekali ay bisa merasakan yang abang rasakan jika sakitnya itu luar biasa sakit” jawab ay pelan.


“baiklah, sekarang kamu makan ya” ternyata saat ay asik menelepon EL, sarapan untuk ay sudah diantarkan oleh suster, dan brian memberi kode untuk meletakkan disamping ay tanpa suara.


“bisakah makan yang lainnya?” lirih ay menatap makanan didepannya.


Brian menatap sendu istrinya itu, ay kembali tidak mau makan apapun, coba saja jika ay hamilnya mual-mual mungkin Brian bisa waspada, tapi karena ay tidak ada mual-mual dan brian baru tau jika ibu hamil mood dan nafsu makannya juga akan terganggu.


Brian mengelus pipi ay dengan pelan, “ini dulu ya, kasian dedek bayi kalau kamu gak makan, ini sudah penuh gizi buat dedek bayinya, kakak suapi ya” bujuk Brian tangannya kini beralih mengelus perut rata istrinya, “dedek laparkan, jangan pilih-pilih dulu ya sayang, nanti daddy akan carikan makanan yang dedek mau, tapi makan ini dulu ya” brian berbicara pada perut ay seolah-olah yang ada di dalam sana mendengar apa yang brian katakan.


Ay tersenyum melihat apa yang brian lakukan pada perutnya, dia membiarkan brian memasukkan makanan pada mulutnya, dan berusaha menelan makanan itu, sebenarnya dia sangat tidak suka makanan yang masuk dalam mulutnya itu, tapi demi bayinya, ay akan berusaha buat menelan makanannya.


.


“pintarnya istriku” puju brian begitu ay menghabiskan sepiring bubur ditangannya, dia senang ay menghabiskan itu walau dia terlihat tidak suka, brian tau itu, tapi brian harus bisa memaksa makanan masuk dalam tubuh istrinya.


‘Brak’ pintu ruangan ay terbuka secara tiba-tiba.


Pelakunya adalah al, begitu mendapat panggilan dari El, al yang khawatir langsung pergi menuju rumah sakit lokasi dimana adiknya berada.


“Abang?!” pekik ay tidak percaya.


Al langsung berlari memeluk adiknya itu, setelah cukup dia langsung melihat wajah ay dari atas hingga bawah ingin mencari luka atau apapun, dia masih takut brian akan melakukan kekerasan pada adiknya.


“ay gak apa bang, Cuma kekurangan gizi aja” jawab ay berbohong.


Al menatap Brian dengan sinis, “kok gak bisa bujuk ay buat makan sampai harus masuk rumah sakit begini!” gerutu AL, abang ay yang satu ini sedikit lebih mirip dengan Daddy deon, khawatir berlebihan.


“jangan salahkan kak brian, dedek bayi yang memang gak mau makan” bela ay pada suaminya yang di marahi oleh al. ada-ada sajakan si al, beraninya dia memarahi seorang ketua mafia, tidak takut kepalanya ditebas atau kena hajar brian.


“Iya tapi tetap saja harus nya dia jadi suami siaga” gerutu al lagi.


“Al, ibu hamil itu ngidam dan keinginannya berbeda-beda, jika dipaksa makan, makanan yang dia tidak mau pasti dia akan memuntahkannya, jadi jangan menyalahkan kak brian” Aurora mulai berbicara dia tadi ikut al karena khawatir mendengar ay masuk rumah sakit.


“begitu ya, dek gak ngidam pengen makan apa gitu?” al mulai tenang begitu mendengar penjelasan dari aurora.


“Hmmm…” ay tampak berpikir, tiba-tiba otaknya memikirkan makanan yang ada di jepang sana, “tiba-tiba ay pengen makan okonomiyaki bang, karena abang bilang gitu”


“bentar sayang biar kakak carikan” ucap brian siaga.


“tapi di masak langsung didepan ay dan kokinya harus Yoshihiro murata” ucap ay polos. Dia mengetahui nama koki itu dari televisi saat koki itu sedang di wawancarai.


Brian sempat terdiam untuk beberapa saat lalu mengangguk pelan, “baik sayang, akan kakak pastikan membawa koki itu” jawab brian, dalam hati dia bertekat jika sang koki tidak mau datang, dia harus menculik dan mengancam koki itu.


...🐯🐯🐯🐯🐯...