
πΊcuap cuap authorπΊ
makasih semua, author udah dapat kontrak dan ini janji author, author bakal up satu lagi, makasih untuk dukungannya, tetap like dan vote ya biar author semangat buat update baru
...β€β€β€β€β€πππππ...
Begitu bangun Ara segera menuju dapur, walau kepalanya sedikit pusing akibat pengaruh alkohol yang dia minum, tetap saja Ara melangkahkan kakinya untuk turun, disana ada bibi arin yang sedang menyiapkan makan malam.
"Bi" panggil Ara pelan.
"Ehh nona udah bangun? nona lapar? atau mau bibi buatkan sesuatu" tanya bi Arin.
Ara menggeleng pelan, "gak apa bi, Ara gak lapar" Ara menunduk sedikit takut, "Bi, kak Deon marah?"
"Ya ampun, jadi nona takut tuan Muda marah?"
"i-iya".
" Tuan agak sedikit marah, tuan juga berpesan nona dilarang melarikan diri dari rumah ini" ucap bi Arin dengan senyuman yang ditutupi.
Ara semakin mengambil nafas panjang, dia pernah melihat kemarahan Deon, dan itu sangat mengerikan, dia tidak ingin Deon marah padanya.
"Bi, kakak suka makan apa? boleh bantuin Ara buat makanan kesukaan kak Deon?" Tiba-tiba saja muncul ide licik Ara, mungkin dengan disodorkan makanan kesukaan nya Deon akan luluh dan tidak marah padanya.
"Tuan muda suka sup iga sama Tongseng sapi, nona mau membuatnya?"
"Mau bi, mau!" jawab Ara cepat dengan anggukan antusias.
...π£π£π£π£π£...
Pukul 7 malam Deon baru sampai di rumahnya, badannya sedikit letih karena mengejar beberapa pekerjaan dan menanyai trio bad boy.
"Selamat datang tuan muda" Sapa bi Arin.
"Ara mana Bi?"
"Non Ara habis masak, naik keatas buat mandi tuan, katanya gerah, apa perlu dipanggil tuan?".
" Gak usah, nanti aja, habis saya ganti baju" Deon segera melangkah menuju kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Ara.
.
Pada saat jam makan malam Ara masih juga tidak turun ke meja makan.
"Bi, Ara kemana bi?" tanya Deon lagi setelah dia duduk di meja makan.
Bi Arin melirik ke pintu kamar Ara yang tertutup, "A-anu tuan sepertinya nona Ara takut tuan marah padanya, ini saja semua makan malam dia yang masak katanya biar kak Deon gak marah sogokan gitu tuan".
Mendengar penjelasan bi Arin, Deon sedikit terkekeh, dia tadi memang berniat untuk memarahi gadis kecilnya itu, tapi sepertinya Ara sudah menyadari kesalahannya, "Panggilkan Ara, suruh dia cepat turun untuk makan, tadi siang dia ada makan bi?"
Mengingat kata makan Deon jadi teringat apakah gadis kecilnya sudah makan tadi siang.
"Tidak tuan, nona bangun sore, dan bibi tanya dia tidak mau makan".
" Cepat suruh dia turun bi"
Mendengar nada suara Deon yang sedikit tinggi, bi Arin segera berlari menuju kamar Ara, untuk memanggil gadis itu.
.
Lima menit kemudian Ara turun dengan wajah yang tertunduk, Deon sedikit menyunggingkan senyumnya melihat tingkah gadis kecil itu, tapi deon tetap berpura-pura marah dengan Ara.
"Ma-malam kak" sapa Ara dengan gugup.
"hmm" Deon hanya berdeham dan memandang kursi di depannya, menyuruh Ara untuk segera duduk.
Makan malam pun di mulai, tidak ada suara yang keluar dari Deon dan Ara mereka sama sama diam yang terdengar hanya suara dentingan sendok dan garpu.
"Ba-bagaimana makanannya kak?" tanya Ara lagi masih terdengar gugup.
"Enak, masakan bi Arin memang selalu enak" Deon berusaha menahan senyumnya, dia tau masakan itu adalah masakan Ara.
"Ta-tapi___" Ara tidak dapat melanjutkan ucapannya karena matanya bertatapan dengan mata Deon, gadis itu kembali menunduk dan menyendok nasi kedalam mulutnya.
"Bi, tambahkan sedikit nasi saya" Deon menyodorkan piringnya yang telah kosong pada Bi Arin.
"Baik tuan" Bi Arin dengan cepat mengambil piring Deon dan mengisinya.
"Tuan, semua makanan ini yang membuatnya adalah nona Ara tuan" ucap bi Arin saat mengantarkan nasi deon.
"Benarkah?" Sontak Deon berpura-pura terkejut.
Deon melirik Ara yang menatapnya dengan pandangan berbinar, sepertinya gadis kecil itu ingin mendapatkan pujian dari Deon.
Ara kembali tertunduk lesu, padahal dia sudah bersusah payah memasak, sampai-sampai tangannya tadi sempat teriris sedikit karena memotong sayuran.
"Kamu masih belum lepas dari kemarahan kakak, jangan pikir memasak ini akan membuat kakak luluh".
Ara semakin tertunduk lesu mendengar penuturan Deon.
"Nanti selesai makan datang ke ruang kerja kakak".
"iya" jawab Ara lesu, dia sudah tidak berselera lagi makan, padahal tadi perutnya terasa sangat lapar.
.
Lima belas menit berlalu dengan keheningan, Ara akhirnya menyelesaikan makannya, berbeda dengan Deon yang sudah siap dari tadi, pria itu hanya duduk dan menatap Ara dengan intens membuat gadis kecil itu tidak berani mengangkat kepalanya dari piring.
"Sudah siap?" tanya Deon.
Ara mengangguk pelan sambil menjawab iya.
"Ikuti kakak, ke ruangan kerja" perintah Deon.
Ara segera berjalan mengikuti Deon, sesekali kepala gadis itu menatap bi Arin bersama beberapa pembantu merapikan meja makan, niatnya untuk meminta pertolongan, tapi bukan pertolongan yang dia dapat, bi Arin mengangkat kedua tangannya dan bergumam tanpa suara "fighting!"
Ara mendengus pelan, "Fighting apaan, gue bakal mati bentar lagi" Batin Ara.
...π₯π₯π₯π₯π₯...
Sampai di ruang kerja Deon segera duduk di sofa panjang, saat Ara hendak duduk juga Deon segera melarang gadis itu.
"Tetap tegak disana"
Arab mengikuti perintah Deon dan tegak dihadapan Deon yang sedang berdiri.
"Angkat kaki satu dan jewer telinga sendiri" perintah Deon lagi.
"Hah?!" Ara terkejut, perintah apaan itu, seperti sedang di hukum saat telat datang ke sekolah.
"Lakukan Ara, atau mau hukuman lebih berat".
Gadis itu dengan cepat mengangkat sebelah kakinya dan menjewer dirinya sendiri.
"Kak sampai kapan Ara kayak gini?"
Deon melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 8 malam. "Sampai jam 10".
" Hah?!! pegal dong badan Ara kak".
"Gak boleh menolak atau kakak berikan hukuman yang lebih mengerikan dari ini!" Ancam Deon.
"Kakak nyebelin" gerutu ara tapi dia masih tetap menjalankan hukumannya.
.
"Kak, kak Deon gak bosan mainin ponsel terus?" tanya Ara masih dengan posisi yang sama, lima belas menit telah berlalu, Deon masih duduk di sofa sambil memainkan ponsel. "Ara gak perlu diawasi, Ara gak bakal turunin kaki kok".
Deon masih diam berpura-pura tidak mendengar gadis itu, dia tau Ara sudah mulai kelelahan, terbukti dengan gerakan badannya yang mulai bergoyang goyang.
"Kakak gak percaya kamu" celetuk Deon, matanya masih fokus pada ponsel, padahal dia melihat Ara, hanya saja menggunakan kamera ponselnya.
"Percaya deh, Ara tetap di posisi ini sampai jam 10 kok" Ara berusaha membujuk Deon agar mau pergi supaya dia bisa duduk dan bersantai.
"Kakak percaya kamu gak bakal bolos tapi kamu tetap bolos, perginya ke club lagi!" Sindir Deon.
Ara kini tidak berani menjawab lagi, tadi dia bersuara karena berpikir Deon sudah memaafkan dia perihal bolos yang dia lakukan.
"Kamu pegal?"
Dengan cepat gadis itu menurunkan kakinya dan mengangguk cepat.
"Siapa yang suruh berhenti? angkat lagi kakinya, hukuman kamu belum selesai"
"Tapi tadi kakak tanya ara"
"Cuma tanya ara, belum kakak suruh berhenti kok, cepat lakukan lagi hukuman mu" perintah Deon lagi.
Dengan berat hati Ara kembali mengangkat sebelah kakinya dan menjewer telinganya sambil menggerutu pelan.
Melihat itu Deon berusaha menahan tawanya, dia sangat suka melihat wajah kesal Ara yang seperti itu.
...π€π€π€π€π€...